Sambungan Ayat Pertama Surat Al Fatihah

Allah artinya Allah. Bismillahi artinya Dengan Nama Allah

Ia adalah lafzu jalalah (lafaz keagungan) Dan merupakan urutan pertama dari nama2 Allah yang 99. Maka di dalamnya adalah tauhid. Jadi, kalau disebut Bismillah berarti memohon pertolongan HANYA kepada Allah , maka nanti di sebut Iyyaka Na’budu Wa Iyya Kanasta’in. kalau kita kaitkan Bismillah dengan ta’awudz, maka Bismillah memohon pertolongan kepada Allah untuk mendapat kebaikan. Kalau ta’awudz memohon pertolongan hanya kepada Allah untuk dijauhkan dari keburukan. Begitu belas kasih Allah kepada kita, tinggal kita menyadari atau tidak belas kasih Allah ini. Sayyid Quthub di dalam tafsirnya mengatakan, lafaz Bismillah ini adalah tanda Allah mengajarkan manusia agar beretika, beradab kepada Allah . Kalau segala sesuatu karena Allah, maka selayaknya memohon pertolongan kepada Allah. Kalau kemudian manusia melakukan sesuatu tapi tidak meminta pertolongan kepada Allah, berarti ia telah sombong. Seakan2 ia mampu menjalaninya sendiri tanpa bantuan Allah, padahal tidak ada sesuatupun yang berlaku melainkan dengan izin Allah .

Arrohman. Maha pengasih. Allah Arrohman, berarti Allah yang memberikan pemberian, yang pemberian itu memiliki kebaikan untuk orang yang menerimanya, kebaikan yang dari sisi Allah yang dididalamnya ada rahmat. Allah telah menciptakan 100 rahmat di alam semesta ini. Kemudian Allah turunkan 1 ke muka bumi dan 99 di tahan. 99 ini diberikan kalau di akhirat. Yang rahmat satu Allah turunkan ini diberikan baik kepada manusia juga hewan, sehingga merekapun berkasih sayang di muka bumi. Segala sesuatu dari tidak ada menjadi ada dengan rahmat Allah. Kemudian Segala sesuatu yang ada diuruskan menjadi lebih baik dengan rahmat Allah.

Contoh air adalah rahmat, Allah berikan pada orang beriman ataupun orang kafir. Tanpa air tiada kehidupan, ketika kemarau melanda, maka mohonlah pertolongan kepada Allah untuk menurunkan hujan, karena hujan itu adalah rohmat dari sisi Allah. Contoh lain pasangan hidup, anak, rezeki, ilmu pengetahuan, dll semuanya adalah rahmat dari sisi Allah, yang diberikan pada orang beriman ataupun orang kafir. Arrahman berarti rahmat yang diberikan di dunia saja.

Arrohiim. Penyayang. Merupakan rahmat juga, tetapi hanya untuk orang beriman. Contoh rahiim, yaitu penerimaan taubat hanya untuk orang beriman, sedangkan orang kafir tidak akan di terima. Contoh lain, Rasululullah. Meskipun Rasul adalah rahmatan lil ‘alamiin, namun hanya orang beriman yang menjadikannya Rasul, sehingga Rasul pun merupakan rahmat khusus yang Allah berikan pada orang beriman. Contoh lain termasuk pahala. Arrohim, berarti rahmat yang diberikan di dunia tapi juga berterusan hingga ke akhirat. Dan orang kafir tidak akan mendapatkannya.

“DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PENGASIH LAGI MAHA PENYAYANG”. Sebenarnya ayat ini hanya sepotong. Tapi di dalam al qur’an ia sudah sempurna, karena sudah satu ayat. Kalau untuk memahaminya sebagai satu ayat sebenarnya kita tak paham. Contoh “dengan pena yang bagus lagi mahal”, maka ia belum selesai, tapi kalau di tulis “saya menulis dengan pena yang bagus dan mahal”, maka baru sempurna kalimat ini. “DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PENGASIH LAGI MAHA PENYAYANG”, baru akan sempurna kalau kita tambahkan perbuatan2 di permulaannya. Saya akan makan “DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PENGASIH LAGI MAHA PENYAYANG”. Saya akan belajar “DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PENGASIH LAGI MAHA PENYAYANG”. Saya akan minum “DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PENGASIH LAGI MAHA PENYAYANG”. Tapi tidak Allah sebutkan di dalam awal surat, karena memang dimaklumi bahwa apapun perbuatan yang kita lakukan adalah “DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PENGASIH LAGI MAHA PENYAYANG”. Karena kalau disebut maka akan panjang di sebut keseluruhan perbuatan kita. Ini adalah ayat pertama yang mengajarkan bagaimana memulai suatu perbuatan yang didalamnya ada kebaikan bukan sebaliknya, melakukan keburukan tapi untuk menjadikannya baik di bacalah Bismillah. Ini adalah dosa bertingkat karena telah melakukan keburukan dan tidak menempatkan Bismillah pada tempatnya.

Ini adalah lafal untuk memulai perbuatan. Kalau kita memulai tentunya kita akan mengakhirinya. Dan kitapun menyebut “alhamdulillahirobbil’alamin”. Inilah ayat kelanjutan dari bismillah.

 

Iklan

Bismillahirrohmaanirrohiim

HUD

Bi artinya Dengan. Bi disini artinya Ba Isti’anah, yaitu ba meminta meminta perlindungan. Kita memohon pertolongan

Seperti kita pergi ke suatu tempat dengan apa? Dengan mobil, maka dengan pertolongan mobil tsb meski rumah kita jauh kita tetap bisa sampai ke tempat yang kita tuju. Mobil dalam bhs arab yakni sayyarotun. Ketika kita meminta pertolongan dengan mobil yang kita tumpangi, maka lazimnya memakai kita menggunakan ba sebelum sayyarot. Contoh, saya pergi ke kota dengan mobil. Adzhabu ilal madiinah bissayyaroh. Contoh lain, kita menulis dengan pena, maknanya kita dapat menulis dengan bantuan pena (bilqolam).

Memohon pertolongan kepada Allah. Karena kita tidak punya daya dan kekuatan. “tiada daya dan upaya melainkan dari Allah”. Kita dapat duduk karena Allah memberi kekuatan kepada kita untuk dapat duduk dan berakaktivitas. Kalau Allah mencabut kekuatan pada kita untuk duduk, maka kita pun tidak akan dapat duduk. Begitu juga dengan berlayarnya kapal di laut. Kalau air cair, maka kapal dapat berlayar, tapi kalau Allah membekukan air tsb, tentunya kapal pun tidak akan dapat berlayar. Makanya dalam Surat Hud Ayat 41 Allah berfirman kepada nabi Nuh“ dan dia berkata, “naiklah kamu semua ke dalamnya (kapal) dengan (menyebut) nama Allah pada waktu berlayar dan berlabuhnya” (QS.11:41) (ayat ini termasuk Ayat IMALAH). Air ternyata tidak cukup untuk menggerakkan kapal, ada unsur lain yang membuatnya bisa bergerak, yaitu angin yang merupakan makhluk Allah. Angin pun tidak cukup, karena ada angin yang malah bisa menghancurkan, maka karena itu kita pun memohon pertolongan kepada Allah agar dengan ciptaannya tsb kita pun bisa selamat.

Contoh lain saat nabi Sulaiman mengirim surat kepada Ratu Bilqis yang saat itu musyrik. Nabi Sulaiman ingin agar ratu ini mengtauhidkan Allah, tapi perkara memberi petunjuk adalah ketentuan Allah, karena itu saat menulis surat pun nabi Sulaiman menuliskannya dengan meminta pertolongan kepada Allah. “sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, “Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha penyayang” (Q.S 27:30). Akhirnya Ratu Bilqis dan pembesarnya pun menyerahkan diri masuk Islam dengan pertolongan Allah.

al-naml30-31Dua ayat ini adalah amalan para nabi, yaitu nabi Nuh dan nabi Sulaiman. Maka membaca basmalah adalah amalan para nabi. Kalau amalan para nabi hendaklah kita mengikutinya. Karena para nabi adalah orang yang mendapat petunjuk. Mengikuti orang yang mendapat petunjuk akan membuat kita pun mendapat petunjuk.

Itulah alasannya mengapa Allah meletakkan basmalah di ayat yang pertama di awal surat, sebab itulah ilmu pertama sebelum memulai suatu perbuatan. Ayat pertama yang turun pun juga meyuruh nabi agar meminta tolong kepada Tuhan yang telah menciptakanmu. Kalau kamu meminta pertolongan kepada Allah, maka yang mustahil pun bisa berlaku. Api yang membakar bisa sejuk, laut yang mengalir pun bisa terpelah, itulah dengan pertolongan Allah. Imam Syayuti Mengatakan, nabi bersabda “Siapa yang tidak memulai suat perbuatan dengan ucapan basmalah, maka perbuatannya itu sia-sia”

Ismi artinya Nama. Kenapa harus ada “nama” juga. Kita ada dzat Allah (satu) dan nama Allah (banyak). Contoh arrohman, arrohiim, al malik, al quds, dll. Kenapa meminta pertolongan harus dengan nama Allah? Karena meminta tolong itu harus dengan menyebut nama Allah. Contoh, ya rohman, ya rohiim, dll. Memohon pertolongan dengan menyeru Allah. Dengan memanggil Allah dengan namanya, maka Allah akan memberi pertolongannya.

Bismillah dan billah sebenarnya sama dalam hal makna. Tetapi dibismillah di pakai ismi untuk membedakan antara memohon pertolongan kepada Allah atau bersumpah dengan nama Allah. billah lebih digunakan untuk bersumpah. Salah satu huruf sumpah adalah bi, jadi untuk membedakan antara meminta pertolongan kepada Allah atau untuk bersumpah.

Dalam penulisan bismillah, sebenarnya adalah hamzah wasl (alif yang di tulis tapi tidak di lafalkan), tetapi tidak di tulis. Kenapa? Karena ia adalah ucapan yang selalu dilafalkan, selalu diamalkan, kasrotun isti’akmal maka tidak digunakan alif itu. tujuannya untuk memudahkan kita dalam penyebutan, tholaban lilhikfa. Seperti saat tidur kita membaca do’a ‘bismika Allahumma ahya wa amuut’. Jadi disini nampaklah kata bismillah ini penting dalam pekerjaan.

SURAT AL FATIHAH (PEMBUKAAN)

Sebelum membaca ayat Al Qur’an disunnahkan untuk membaca Al Al Isti’azah (memohon perlindungan kepada Allah). Sebelum kita membaca Al Qur’an hendaklah kita berlindung kepada Allah dari syaithon yang terkutuk. “A’udzubillahi minas syaitoonirrajiim”

A’udzu artinya aku berlindung. Billah artinya kepada Allah

A’udzu bermakna berlindung yaitu memohon perlindungan kepada yang bisa melindungi. Billah maksudnya kita pergi kepada Allah memohon perlindungan, dimana Allah adalah yang bisa mampu memberikan perlindungan kepada kita. Dalam Bahasa Arab ada dua makna A’udzu.

  1. A’udzu bermakna as satru (menutupi)
  2. A’udzu bermakna melekat atau bersama.

Apabila di sebut A’udzu, artinya adalah aku berlindung, maknanya adalah pergi untuk ditutupi. atau makna yang kedua pergi untuk dilekatkan bersama (dengan yang akan melindungi kita).

Contoh. Umpamanya panas matahari terik, karena matahari panas terasa membakar dan kita berada di padang pasir yang tidak ada apa-apa kecuali ada pohon rindang, maka kemana kita akan pergi? tentunya ketika kita akan pergi berlindung ke pohon tersebut dan hanya pohon tersebut yang bisa melindungi kita, maka di sebut kita meminta perlindungan dengan pohon itu. Karena pohon itu bisa memberikan perlindungan dengan daunnya yang bisa melindungi kita dari panas matahari.

Kita menjadi incaran musuh kita, yaitu syaithon. Syaithon itu mampu melihat kita, sedangkan kita tidak mampu untuk melihatnya. Karena itu mustahil kita yang tidak mampu melihat syaithon mampu melindungi diri sendiri dari syaithon. sedangkan syaithon selalu bersemangat untuk menganggu kita. Apalagi ketika kita ingin bersama dengan Allah membaca firman-firmannya. Tentunya syaithon akan lebih hebat lagi menganggu kita. Karena itulah kita meminta perlindungan. Kepada siapa kita meminta perlindungan? Tentu saja kepada yang mampu melihat syaithon yaitu Allah. Karena kita tidak mampu melihat syaithon sedangkan syaithon mampu melihat kita. Dan hanya yang mampu melihat syaithon itulah yang mampu melindungi kita dari syaithon. Berselindung kepada Allah dari syaithon yang tidak mampu melihat Allah, tapi Allah mampu melihat syaithon. Sepatutnya kita memang meminta perlindungan kepada Allah yang mampu melihat perbuatan ataupun tindak tanduk syaithon, sedangkan syaithon itu tidak mampu melihat Allah. Dan hanya Allah lah yang mampu melindungi kita dari syaithon, karena manusia tak kan mampu melindungi kita dari syaithon.

Sebagian besar ulama mengatakan bahwa membaca Al Al Isti’azah sebelum membaca Al Qur’an adalah mustahabbah (dianjurkan/diperintahkan), sebagian yang lain mengatakan bahwa membaca Al Al Isti’azah sebelum membaca Al Qur’an adalah wajib, karena dikatakan dalam Al Qur’an, “apabila kamu membaca Al Qur’an, maka berlindunglah kepada Allah”. Berlindunglah merupakan kata kerja bentuk perintah, dan apabila kata kerja bentuk perintah, maka ia menjadi wajib.

Imam Ibnu Jarir mengatakan tentang ayat yang ditururunkan sebelum Al Alaq sebenarnya adalah Al Isti’azah . Imam ibnu katsir menukilkan dalam tafsirnya dan Imam ibnu katsir menyatakan lemah. Maka ini menguatkan betapa pentingnya mengucapkan Al Isti’azah ini.

Syaikh syahrowi mengatakan, meskipun Al Isti’azah tidak dituliskan dalam permulaan al qur’an, namun sebenarnya Al Isti’azah itu sudah ada. disebutkan di dua surat terakhir dalam Al Qur’an yaitu surat Al Falaq dan An Nas. Al Qur’an itu satu kesatuan, tidak ada pangkal dan ujungnya, seperti rantai kalung yang tiada ujungnya. Jadi Al Fatihah itu bukan yang pangkal dan An Nas bukanlah yang ujung. Karena ketika kita mulai membaca Al Fatihah , hingga An Nas kita akan membaca Al Fatihah , al baqoroh, dst hingga An Nas kembali begitu seterusnya. Dan kalaupun kita tidak membaca al Al Isti’azah , maka sebelumnya kita telah membaca Al Isti’azah tersebut di surat al falaq dan an nas.

Arti kedua dari a’udzu yaitu melekat. Contoh, melekatnya daging yang di dalam tubuh kita pada tulang. Daging itu lembut, sedangkan tulang keras. Kalau daging itu tidak melekat pada tulang, maka ia tak kan terlindungi. Ia akan mudah terkena bahaya. Maka kalau ia melekat pada tulang maka ia akan terlindungi. Maka, apabila hamba itu melekat dengan Allah, maka syaithon tidak akan mampu menganggunya. Karena itu, ketika kita membaca al Al Isti’azah , maka kita akan bersama dengan Allah dan syaithon akan menjauh dari kita. Ingat, syaithon itu telah bersumpah untuk menganggu kita. mungkin saja kita akan membaca al qur’an, namun baru sebaris syaithon membuat mata kita mengantuk saat membacanya. Bisa saja kita membaca berlembar2 ayat Allah, namun saat membacanya pikiran kita sibuk dengan hal lain, bukan dengan apa yang kita baca. Bisa saja kita tahu apa yang kita baca, namun ternyata syaithon pun memperdaya kita agar mencari apa yang ia kehendaki sesuai nafsu, bukan seperti yang Allah kehendaki. Karena itu berlindunglah kepada Allah dari syaithon.

A’udzu, maknanya adalah aku berlindung kepada Allah, bukan kepada yang lain. Di dalam Al Qur’an disebutkan ada manusia yang meminta perlindungan kepada selain Allah, yaitu kepada jin. “Maka bertambahlah kedurhakaan mereka itu” yang bermakna telah menyekutukan Allah. Dan di dalam Al Al Isti’azah ini ada tauhid, yaitu mengesakan Allah, memuliakan Allah dengan memperakui bahwa Allah lah yang maha kuasa dan dan di waktu yang sama kita menyatakan bahwa kita tidak berkuasa berhadapan dengan syaithon. Syaithon saja memperakui kekuasaan Allah, “dengan keperkasaan darimu ya Allah, akan kusesatkan semua manusia itu” syaithon menyesatkan kita bukan dengan kekuatan yang ada pada dirinya tapi juga meminta kepada Allah. Keperkasaan itu adalah milik Allah, dan tidak semua hamba bisa syaithon sesatkan karena syaithon pun mengakui bahwa “kecuali hamba Allah yang mukhlisin”, maka ia tak akan mampu memperdayanya

Min artinya Dari

As syaithon artinya syaithon. Syaithon biasa disebutkan kepada iblis. Berarti datuk iblis adalah syaithon. Seperti Adam adalah moyangnya manusia Dan syaithon ini juga dipakaian pada keturunan iblis, ataupun manusia yang perangainya sama dengan syaithon (QS.114). maka kalau kita meminta perlindungan kepada Allah dari gangguan syaithon, maka ia bermakna meminta perlindungan dari gangguan syaithona apakah dari keturunan iblis, ataupun manusia, ataupun hewan yang telah di kutuk Allah yang juga menganggu kita (menurut sebagian ulama). perkataan Syaithon berasal dari kata Satona, yang berarti jauh. Syaithon dinamakan jauh, karena ia jauh dari rahmat Allah. Kenapa jauh dari rahmat? Karena ia dilaknat oleh Allah. Saat Allah memerintahkannya untuk bersujud kepada Adam,ia menyombongkkan diri. Karena itu ia terlaknat.

Ar rajiim artinya yang terkutuk. Makna Rojam yaitu melempar. Sama dengan makna yang umum kita dengar kalau mendengar seseorang melakukan zina, maka hukum yang ditetapkan atasnya adalah hukum Rojam. Syaithon yang di lempar, maksudnya yang di lempar dari surga. Kemana di lempar? Ke dunia. Itu makna pertama. Makna lain dari lempar, yaitu di lempar dengan awan yang tebal. Karena syaithon itu awal wahyu akan turun, ia mencuri berita wahyu yang akan diturunkan. Sebelum wahyu diturunkan ke bumi, saat di langit pertama, ia pun mencuri berita untuk membuat ragu manusia dengan wahyu yang akan Rasulullah sampaikan. Namun Allah melempar syaithon dengan awan yang tebal. Karena itu terpeliharalah wahyu yang akan turun, dan Rasulullah yang akan menerima wahyu dan manusia yang akan menerima wahyu tsb.

Ada tiga kompenen dalam ayat ini. Kita adalah yang berlindung, Allah adalah yang kita tuju dalam perlindungan, syaithon adalah yang mencoba mencelakakan kita. Dan kita baru terselamat dari tipu daya syaithon kalau Allah menyelamatkan kita. Dan syaithon itu sudah menghendaki diri menjadi musuh bagi kita, dan Allah pun menghendaki agar kita menjadikan syaithon itu musuh bagi kita. Agar kemudian permusuhan kita dengan syaithon itu dapat kita menangkan dan syaithon menjadi pihak yang terkalah. Ingat tidak hanya kita yang di goda oleh syaithon, bahkan nabi yang mendapat pelindungan dari Allah pun mendapat gangguan dari syaithon. Tapi usaha syaithon tidak berhasil karena nabi mendapat perlindungan dari Allah. Dan kita pun akan mendapat perlindungan dari Allah kalau kita juga mengikuti jejak para nabi yaitu bersama dengan Allah.

 

TASFIR MA’RIFAH

Oleh ustadz Mustafa Umar. Berikut profilnya atau bisa juga di lihat di web http://www.musthafaumar.org/sample-page/

Al-Faqiir Ilaa Rabbih Dr. Musthafa Umar, Lc. MA dilahirkan di Riau, Indonesia pada tahun 1967 dan mendapatkan pendidikan awal di kampung kelahiran. Kemudian melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor, Ponorogo Jawa Timur, Indonesia dan tamat pada tahun 1987. Selanjutnya, mendapatkan gelar Sarjana Muda dari Universitas Al-Azhar, Mesir pada Fakultas Ushuluddin jurusan Dakwah tahun 1994. Setelah memperoleh gelar S1, Musthafa Umar melanjutkan pendidikan S2 ke Universitas Islam Antar Bangsa Malaysia dan memperoleh ijazah Master jurusan Dakwah pada tahun 2000. Gelar Doktoral diperoleh di jurusan Al-Quran dan Hadits, Akademi Pengajian Islam Universitas Malaya Malaysia tahun 2009 dengan judul thesis “Metode ‘Aqliyyah Ijtima’iyyah: Kajian Terhadap Tafsir Al-Sya’rawi”.

Saat ini Dr. Musthafa Umar, Lc. MA aktif berdakwah di Riau, Malaysia serta berbagai kota di Indonesia, dan membina kelompok belajar Tafaqquh di Pekanbaru, Riau. Beberapa karya tulis telah diterbitkan, diantaranya: Tafsir Al-Quran Al-Ma’rifah (3 juz), Sifat Dua Puluh, Asmaul Husna, Sunnatullah (3 jilid), 30 Perkara Penting Dalam Hidup, Cara Mudah Belajar Bahasa Arab, Himpunan Zikir Daripada Al-Quran dan Hadits, Perjalanan Hidup Manusia, Sihir dan Cara Rawatannya Menurut Al-Quran dan Hadits, Hakikat Mati, Iktibar Daripada Perang Bosnia dan beberapa buku lainnya. Disamping itu, Dr. Musthafa juga ikut menyampaikan makalah di berbagai seminar, baik di Malaysia ataupun di Indonesia serta telah menerbitkan berbagai kajian dalam bentuk Mp3, CD, dan DVD. Saat ini telah berumah tangga dan sudah dikaruniai 4 orang anak.

Biodata Lengkap:

  • Nama: Musthafa Umar
  • Tanggal lahir: 13-05-1967
  • Tempat lahir: Pekanbaru – Riau – Indonesia.
  • Pendidikan :
  1. Sekolah Rendah (1974-1980)
  2. Sekolah Menengah (1980-1983)
  3. Pondok Pesantren Modern Gontor (1983-1987)
  4. Universiti Al-Azhar – Mesir (1989-1993) [BA]
  5. Universiti Islam Antara Bangsa Malaysia (1995-1999) [MA]. Tajuk Thesis : Usaha-Usaha Organisasi Islam di Indonesia dalam Berda’wah ke Suku Asli (dalam Bahasa Arab) (Suku Sakai di Propinsi Riau sebagai kajian: 1986-1996).
  6. Universiti Malaya (Program Ph.D) (2009). Tajuk Thesis: Metodologi Syekh Asy-Sya’rawy dalam Menafsirkan Al-Quran.
  • Profesi yang pernah dijalani :
  1. Pengajar di beberapa masjid di Kuala Lumpur sejak tahun 1995.
  2. Pengajar Kajian Tafsir di Masjid Agung Annur Provinsi Riau sejak 2009.
  • Buku yang telah diterbitkan :
  1. Asas-asas Ekonomi Islam : (1994)
  2. Iktibar Perang Bosnia dan Herzegovina (terjemahan dari B.Arab) : (1994)
  3. Zaadul Ma’ad (terjemahan dari B. Arab) : (1995)
  4. Hakikat Mati (terjemahan dari B.Arab) : (1997)
  5. Tata Bahasa Arab Peringkat Asas : (1997)
  6. Tata Bahasa Arab Peringkat Menengah : (2002)
  7. Tata Bahasa Arab Peringkat Tinggi : (2003)
  8. Percakapan Bahasa Arab : (1997)
  9. Perjalanan Hidup Manusia : (1998)
  10. Tafsir Al-Quran (Tafsir Al-Ma’rifah) Juz Pertama : (2000)
  11. Tafsir Al-Quran (Tafsir Al-Ma’rifah) Juz Kedua : (2002)
  12. Tafsir Al-Quran (Tafsir Al-Ma’rifah) Juz Ketiga : (2005)
  13. Tafsir Al-Quran (Tafsir Al-Ma’rifah) Juz Keempat : (2012)
  14. Mengenal Allah Melalui Asmaul-Husna : (2002)
  15. Mengenal Allah Melalui Sunnatullah (3 jilid) : (2003)
  16. Sihir dan Cara Rawatannya Menurut Al-Quran dan As-Sunnah : (2004)
  17. Himpunan Zikir Daripada Al-Quran Al-Hadith : (2005)
  18. Mengenal Allah Melalui Sifat Dua Puluh : (2005)
  19. 30 Perkara Penting Dalam Hidup (Tahun Pertama) : (2007).

 

Selain dari ustadz Dr. Musthafa Umar, Lc. MA, juga ada ceramah yang disampaikan oleh Buya Gusrizal Gazahar. Buya asal Solok, Minangkabau yang juga termasuk ke dalam anggota MUI Sumbar, sekaligus menjadi dosen di IAIN Imam Bonjol, Padang. Karena beberapa rekaman yang disampaikan oleh ustadz Mustafa Umar rusak, sehingga tidak bisa di putar. Profil singkat Buya GusrizalGazahar

Ketua Bidang FatwaMUI Sumbar, Padang, Indonesia
Dosen Fak. Syari’ah IAIN Imam Bonjol
pendidikan S1: Al-Azhar University Cairo MesirS2 & IAIN “IB” Padang