FSI dan Sejenisnya

Bahagianya Aku Juga Karenamu

Menjadi suatu kesyukuran atas nikmat Allah yang telah mempertemukan saya sekaligus mendapat kesempatan ikut turut serta mengenal lebih jauh dengan komunitas ini. komunitas yang awal perkenalannya muncul dari rasa simpati melihat tokoh nasionalnya yang rendah hati, kemudian membuat saya jatuh hati dan bahagia pun menjadi-jadi ketika akhirnya bisa melihat langsung keseharian pengikutnya yang ternyata tak banyak bersebrangan dengan keadaan diri. Sempurnakah mereka? Tentu saja tidak. Karena ini adalah kumpulan manusia yang sudah ditakdirkan memiliki sifat khilaf dan lupa, bukan malaikat yang senantiasa berada dalam ketaatan terhadap pemiliknya. Namun, Allah Sang Khalik menyayangi hamba-Nya, karena itu pintu taubat pun selalu terbuka ketika kita menyadari kekhilafan yang telah dilakukan.

Karena itu, sebisa mungkin perasaan benci tidak akan pernah bisa tumbuh disanubari ini, meskipun banyak makar yang dilakukan berbagai pihak agar orang banyak membenci komunitas ini. bagaimana ia bisa benci, padahal begitu banyak kebahagiaan tercipta, keharuan yang terukir serta ukhuwah yang terbina. Memiliki saudara seiman yang menganggap kita bagian dari tubuhnya juga, memiliki teman yang senantiasa mengingatkan kebaikan, memiliki rekan yang bisa dijadikan panutan dan aneka dinamika kehidupan yang tentunya atas izin Allah jua ia terjadi. Sungguh, ketika semua kebahagiaan yang di rasa harus dituliskan, maka berada dikomunitas ini termasuk dalam deretan top list my happiness.

Bahagiakah semua perjalanan kisah ketika menjadi bagiannya? Tentunya juga tidak. Karena fitrahnya hati juga tidak ingin berbagi ataupun dengan mudahnya memaafkan. Air mata pun tak terbendung lagi untuk mengalir ketika saudara kita merasa tak seiringan lagi langkah kakinya dengan kita, dan betapa beratnya suatu kata “maaf” untuk di ucap atau diberikan. Bahkan sikap berpaling dan menjauh tak jarang menghiasi setiap pertemuan yang secara tak sengaja tercipta. Namun itulah khazanah yang membuatnya kembali indah untuk dikenang. Bukankah kita pun tak pernah luput dari kesalahan? Malah tak jarang kita lah yang paling sering melukai hati saudara. Ketika ia mau mengalah untuk memaafkan khilaf yang telah kita perbuat, lalu kenapa kita malah mengunci rapat pintu hati. Toh, kita bukanlah sang hakim yang layak apalagi seenaknya menghakimi apalagi menghukum orang lain. Dan ketika dimintai fatwa dari sanubari pun ia masih jujur berbisik, “aku juga menyayangimu”.

Lalu kenapa masih mengingatnya? Toh ia juga hanya bagian dari kisah lalu. Ah, kata siapa ia hanya sebuah kisah lalu. Toh meski bernama cerita kisah klasik tentunya juga menjadi bagian dari masa depan. Dari sepotong kisah klasik lah ku mendapatkan banyak hal. Tentu saja bagi penggiat komunitas ini sadar bahwa banyak hal yang harus rela dikorbankan ketika memutuskan untuk ikut bergabung. Baik materi ataupun non materi. Kalau toh sekedar menyumbang tenaga dan pikiran, mungkin kelak akan memiliki korelasi dengan dunia pekerjaan yang akan dijajaki. Namun berkorban materi, oh no! kita ini mahasiswa, untuk kebutuhan sehari-hari saja harus berhemat, apa lagi harus berbagi. Tapi sadarkah kita, bahwa banyak hal malah yang langsung berkorelasi positif dengan budaya berbagi yang selalu digaungkan ini. mungkin tak banyak komunitas yang para anggotanya bersemangat untuk berbagi. Jangankan berfikiran untuk mendapat jatah atas jerih payahnya, tak jarang uang pribadi sering habis di luar jumlah yang dibebankan karena sadar bahwa sebenarnya harta yang dimiliki adalah yang telah kita berikan pada orang lain, bukan pada yang kita miliki wujudnya. Dari sepotong kisah klasik ini begitu mudah didapatkan prakteknya di masa sekarang. Tak sedikit alumni yang rela menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk membantu tetap eksisnya komunitas ini, walaupun mereka memiliki tanggungan material yang tak sedikit dan mereka tak mengaharapkan ucapan terima kasih dari manusia, karena balasan dari Sang Pemberi Rezeki lebih menggoda pastinya.

Masa sih! Of course honey, lihatlah lebih dekat. Dan perhatikan dengan seksama. Sungguh, kebahagiaan yang ku rasa tak ingin ku sendiri yang merasakannya, karena engkau pun berhak mendapatkannya. Lepaskanlah pakaian kebencianmu, maka engkau akan bisa melihat, ternyata masih ada saudara yang mau menerima mu apa adanya. Saudara yang rela memberikan bahunya ketika hatimu terluka. Sahabat yang turut bersedih atas derita yang kau alami, sahabat yang turut berbahagia ketika kau mendapkan nikmat dari-Nya. Karena ia pun tahu, engkau adalah bagian dari ruhnya. Kekurangan yang ada padamu bukanlah penghalang yang memisahkan kita, tapi menjadi jembatan untuk saling bertemunya hati-hati ini.

Maka kelak, ketika engkau merasa kesepian, ingatlah kembali bahwa engkau juga memiliki suatu ruang di relung hatimu yang mungkin sudah jarang engkau mengunjunginya kembali. Karena itu jangan pernah mengunci rapat pintu hatimu, kalaupun sesaat ingin menguncinya simpanlah ia dengan sebaik mungkin di jantungmu, agar ia tetap bisa mengalir dalam aliran darahmu. Sehingga ia tak pernah mati, tapi kan selalu menemani kemanapun engkau pergi.

Retorika belaku katamu? Baiklah, ku akan mulai menceritakan sederet kisah yang mungkin berguna bagimu.

Pernahkah dirimu merasa begitu asing padahal orang-orang ramai di sekitarmu? Tak yakin pernah. Alhamdulillah. Karena tak sedikit juga orang  yang merasakan ini? lho, kok bisa, ini kan zaman canggih katamu? Tentu saja, karena tempat keramaian itu bukanlah rumahmu yang bisa dengan sepuasnya dirimu mondar-mandir melewati setiap jengkal ruangannya taupun tempat tongkrongan yang biasanya kau datangi bersama teman-temanmu yang lain. Tapi tempat ini bahkan lebih luas di banding rumahmu sendiri. Tak pernah ada tempat seperti dalam fikiranmu?  Bagaimanakah perasaanmu ketika awal pertama memasuki kampus ini agar kelak bisa merasakan lebih lanjut sensasi di sebut sebagai mahasiswa Unand?  saat mendapat berita tentang kelulusanmu di kampus “Markas Power Ranger” ini tentunya ada banyak rasa yang berkecamuk di batinmu terlebih engkau memang mengharapkannya. Rasa haru dan suka karena tak percaya bisa diberikan kesempatan menjadi warga Negara dari kampus yang meski tak mendunia tapi cukup dikenal luas secara nasional, apalagi di Fakultas Ekonomi, dan engkau mulai mengkhabarkan berita bahagia ini pada orang-orang yang engkau sayangi tanpa kenal henti.

Bersyukurlah kalau ternyata pada awalnya kampus ini bukanlah hal asing lagi bagimu, karena pernah mengikuti perlombaan yang bertempat di lokasi ini, pernah di ajak jalan-jalan kesana atau punya saudara lainnya yang membuatmu turut ikut mengetahui fisik kampus ini meski sekilas. lalu apakah semua mereka yang mendaftarkan diri di kampus ini merasakan keakraban yang sama? Tentu saja tidak. Karena yang mendaftarakan dirinya sebagai penghuni kampus ini bukan warga Padang saja, tapi siapapun ia, dari daerah atau Negara manapun ia berasal, agama apapun yang ia anut, selagi ia dinyatakan berkesempatan mengenyam pendidikan di kampus ini maka ia pun berhak menggunakan haknya tersebut untuk menjadi warga baru di kampus hijau ini. dengan latar belakang itulah tak jarang komunitas yang ku ikuti ini membuat rangkaian persiapan untuk menyambut warga baru agar langkah awalnya untuk mendapatkan “tiket” resmi sebagai mahasiswa Universitas Andalas sah ia miliki. Maka di buatlah program “Bimba”, Bimbingan Mahasiswa Baru, Yang tujuannya agar penghuni baru di “rumah” ini tidak merasa asing meski berada di keramaian. Dan ia memiliki kesempatan untuk di bantu ketika merasa membutuhkan bantuan. Ketika keluarga besar ikut menemani tak jaminan juga semua prosedur bisa dengan mudah dilewati, karena tak jarang juga keluarga besar ini tidak mengetahui semua lokasi yang akan didatangi,dan akhirnya semakin membuat banyak orang yang panic. karena itu bersyukur ada teman-teman yang mau meluangkan waktunya meski untuk menjadi pemandu bagi penghuni baru. Dan engkau tahu kawan, betapa bahagianya ketika kita bisa membantu. Apalagi kalau ternyata ia memang mengharapakan bantuan.

Sedikit kisah yang bisa diceritakan kembali saat dijadwalkannya pendaftaran ulang , mulai dari kesediaan teman-teman yang tergabung menjadi panitia hadir di depan Auditorium Unand beserta perlangkapan yang dibutuhkan (meja, kursi, tikar, ATK, dll), turut membantu meminjamkan pakaiannya karena ternyata adek-adek baru yang datang memakai kaos, tak jarang juga panitia meminjamkan sepatunya karena mereka tak tahu dilarang memakai sandal, tak asing lagi terkadang pagi-pagi buta panitia sudah menyiapkan roti atau makanan lainnya karena banyak juga adek yang daftar lupa sarapan pagi. Stock mimuman di sekre pun menjadi ludas dalam sekejap karena banyaknya manusia yang membutuhkannya. Padahal banyak prosedur yang harus dilewati, sehingga masih butuh energy ekstra agar bisa menyelesaikan semua prosedur sedangkan mau makan tak tahu dimana tempatnya. Dan kehadiran panitia ini memang terasa sekali bantuannya. Menunjukkan dimana tempat makan, dimana toilet yang juga menjadi salah satu tempat favorit yang dikunjungi, menunjukkan dimana bank lokasi pembayaran karena terkadang petugasnya tak cukup jelas menyampaikan, tempat foto kopi karena ternyata dokumen yang harus diserahkan masih kurang dan masih banyak informasi lain yang sering di minta dan panitia ini masih dengan senyumnya turut  membantu. Hingga menyediakan tempat menginap beserta transportasinya kalau ternyata masih harus kembali esok harinya, sedangkan mau pulang kampung jauh dan biaya tak cukup. Serta kisah-kisah lain yang mungkin belum terungkap karena ikhlasnya panitia membantu mereka. Sehingga mereka tak ingat lagi berbagai bentuk bantuan yang telah diberikan. Saranku cobalah datang saat pendaftaran mahasiswa baru di Universitas Andalas, dan lihatlah betapa banyak posko yang didirikan untuk membantu adek-adek baru saat daftar ulang. Dan FYI itu semua dibiayai dan atas inisiatif komunitas mahasiswa itu sendiri bukan arahan dari kampus.

Dan perlu engkau tahu kawan, biasanya momen ini berlangsung saat ujian mid semester atau ujian akhir. Di saat kampus di penuhi nuansa hitam putih, maka kedatangan warga baru ini tentunya menjadi Granada yang cukup sukses mewarnai atsmosfer yang ditimbulkan. Panitia dengan semangat ujian yang menyambutnya dan adek baru dengan kebahagiaan barunya. Semangat percaya diri menatap masa depan karena merasa telah sukses membuat langkah awal. Dan keberanian untuk mulai berbicara “Saya Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Andalas”. Kalau mau egois tentu saja panitia kecil ini tidak ada, karena toh menjadi hal yang lumrah pula di kampus kita kalau yang namanya ujian itu identik dengan kuliah tambahan dan tugas bertumpuk yang deadline pula. Sehingga sangat sedikit waktu untuk berleha, apa lagi untuk menolong sesama. Namun, itulah manfaat dari semangat berbagi. Ia tak rela melewatkan kesempatan yang sangat berharga ini. Meskipun dalam pandangan manusia nilainya tak signifikan, namun ketika kita bisa menghargai setiap bantuan orang lain kepada kita, maka kita pun akan berani berucap “betapa materialnya bantuanmu”. Dan lebih membahagiakan kembali kalau ternyata pendatang baru yang di tolong itu mengingat kita dengan cukup baik dan berujar “dulu kakak telah membantu saya saat daftar ulang”. Meski tanpa pamrih, tentunya ada sensasi beda ketika orang lain ternyata mengingat bantuan yang di dapat, padahal kita sendiri biasanya lupa dengan pihak mana saja yang pernah kita bantu.

Sebagai mahasiswa ekonomi tentunya kami pun membuat perhitungan. Menjadi panitia itu harus mau datang pagi-pagi dan pulang petang hari. Atau kebalikan dari LIFO (Last In First Out). Panitia adalah yang First in Last Out (FILO) dan konsekuesnsinya tak jarang uang pribadi dalam jumlah material bagi mahasiswa harus rela dikorbankan untuk ongkos angkot karena bus Unand pagi sekali belum datang dan petang hari mulai menghilang. Belum lagi menyiapkan konsumsi untuk “tamu” yang datang, karena kita lah yang menjadi tuan rumah dan kita ingin meraih pahala dengan memuliakan tamu yang datang tersebut. Karena meski hanya tamu, namun Islam mengajarkan memuliakan tamu menjadi salah satu indicator siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Karenanya persiapan pun kudu dilakukan agar tamu yang datang puas dengan sambutan yang diberikan dan malaikat pun mendo’akan kita yang memuliakan tamu tersebut.

Terlalu mengada-ada bagimu? Baiklah, ku ingin bertanya kembali. Apakah engkau pelajar terbaik dari sekolahmu? Banyakkah teman-teman yang datang padamu? Ya, tentu saja, karena mereka butuh kepintaranmu. Tapi tahukah engkau, di kampus ini cenderung sulit menemukan teman yang mau sepertimu. Karena kebanyakan mereka masih menganggap kawan itu sebagai pesaing dalam meraih kesuksesan, malah yang merasa pintar itu terkadang berusaha menyikut kawan dan selalu tampil hebat agar dosen senantiasa mengingatnya. Salah satu budaya hedonis yang lumrah muncul saat ini meski dikalangan yang katanya intelektua, sehingga sangat sulit untuk  meminta kesediaan mereka agar mau turut membantu ketika engkau menemui kesukaran. Kalaupun mau membantu biasanya cenderung bosan karena engkau ternyata tak memahami penjelasannya yang terkadang lebih njelimet disbanding penjelasan dosen. Dan engkau tahu kawan, di komunitas ini begitu mudah ku mendapatkan akses informasi dan bantuan mengenai kesulitan ini. akan selalu ada saudara yang rela waktunya di bagi demi membagi sedikit ‘ilmu yang lebih dahulu ia kuasai untuk kemudian di transfer kepada saudaranya yang masih belum bisa mengerti. Masih tak mengerti dan waktunya di luar terbatas maka ia akan menwarkan, “silahkan datang ke rumahku kawan, engkau pun boleh menginap disana”. Dan ini menjadi cerita rutinku ketika menjelang ujian, karena tak jarang penjelasan dosen saat di kampus tak mudah ku pahami dan dengan bantuan saudara jualah ku bisa mempersiapakan diri melewati rutinitas semester di kampus-kampus lumrahnya .

Itu kan karena IQmu rendah makanya engkau memerlukan teman yang membantumu dalam belajar! Ya mungkin engkau berhak berucap demikian, karena memang demikianlah kenyataan yang kualami, dan aku tak menyesalinya. Kawan… tahukah engkau bagaimana zaman awal ku menjadi mahasiwa? Saat itu teknologi mulai marak berkembang, istilah Chatting, YM, email, termasuk dalam istilah yang baru mulai ku mengenalnya. Mengertilah kawan, aku ini termasuk kampungan soal teknologi baru, karena zaman itu HP pun masih menjadi barang yang mahal, karena itu memiliki saudara yang mau mengajari kita tentang aneka perangkat eloktronik adalah sesuatu yang menggembirakan. Mulai bisa mengoperasikan program Microsoft office, kenal dengan istilah surat elektronik, mulai bisa berkomunikasi dan mengirimkan data ke orang yang jauh disana. Apalagi menyimpan file ke disket karena tak semua mahasiswa memiliki computer, (apalagi laptop atan tablet seperti zaman sekarang) sehingga bukan hal yang aneh melihat maraknya mahasiswa nongkrong lama di tempat rental atau warnet, bahkan saling mengkabarkan tempat rental ataupun ngenet yang sesuai dengan kantong umumnya mahasiswa. Hingga kemudian mulai muncul flashdisk yang tentu saja awal kemunculannya dengan harga yang cukup mahal bagi mahasiswa saat itu. Karena itu sungguh aku merasa bahagia punya saudara yang tak mempermasalahkan katroku dan mau berbagi perkembangan teknolgi denganku, meskipun pada akhirnya ku harus mengulangi kembali mata kuliah TIK.

Yah, itu kan derita loe jadi anak kampungan. Kita-kita mah juga udah terbiasa kali ngikutin perkembangan teknologi. Ya, lagi-lagi engkau memang harus bersyukur karena tak mengalami yang ku alami. Namun kawan, tahukah engkau, dengan bantuan saudara jualah ku bisa merasakan berpergian ke banyak tempat. Apakah karena ia mengundangku hadir di rumahnya yang lagi ada pesta, lokasi rumahnya yang dekat dengan tempat wisata, karena kemalaman dan tak berani balik ke Padang, sekedar ingin liburan sejenak, dan yang membuat sedih mengunjungi rumahnya karena ujian yang menimpanya serta masih banyak lagi hal yang membuat kami semakin akrab. Karena komunitas ini bukanlah komunitas sukuisme, jadinya siapapun saudara seiman ia adalah saudara, dan dengannya kami pun menjalin silaturrahim. Berpergian bersama ke berbagai tempat wisata disekitar Padang, luar Padang hingga luar Sumatra. Itu semua kurasakan karena bergabung dengan komunitas ini dan memiliki saudara yang meski beda rahim namun satu ikatan jua. Dan engkau tahu kawan sungguh banyak lagi kisah yang engkau mungkin menggapangapnya tak berarti namun bagiku ia seperti harta benda yang akan selalu bernilai dan ku akan tetap memeliharanya.

Kalau begitu mereka semua perfect dong? Tidak juga kawan, izinkan ku bercerita kembali. Engkau tahu teman, komunitas ini sangat gemar mengangkatkan acara sebagai bagian dari rangkaian rutinitasnya. Dan tak jarang hingga larut malam kami masih harus terjaga karena masih banyaknya persiapan yang belum selesai; spanduk yang harus segera di pasang, pamflet yang minta sesegara mungkin di tempel, piagam penghargaan untuk pembicara acara esok, surat izin peminjaman tempat atau alat, dan banyak lagi hal yang membuat kami juga harus bisa bergadang dan esok pagi harinya tak bisa langsung istirahat karena harus kuliah. Singgah sejenak di Pasar Baru untuk ngeprint dan turut serta dalam perjuangan mendapatkan bus kampus demi menghemat sunduk. Akhirnya sambil mengantuk duduk di ruang kuliah mendengar penjelasan dosen. Kalau dosennya tak terlalu mempermasalahkan mahasiswa yang tidur di kelas bolehlah, tapi bagi dosen yang merasa terganggu dengan ulah ini tentunya menyarankan agar keluar kelas mencari tempat tidur sebagai alternative mengantuknya.

Ikut hadir  kisah yang  menjadi kebiasaan buruk karena banyaknya acara yang diangkatkan ini menimbulkan selisih paham dan kedongkolan yang sering terjadi diantara sesama pengurus. Mungkin engkau boleh tahu juga kalau kami terlalu banyak rapat dalam prosedurnya, hingga akhirnya rapat dan rapat lagi adalah pekerjaan kami. Bayangkan dari subuh hingga maghrib tidaklah cukup bagi kami untuk mengadakan pembahasan mengenai acara-acara yang diselenggarakan. Tentu saja intensitas komunikasi sesama anggota pun menjadi tinggi. Tak jarang penyakit hati pun mulia mewarnai setiap pertemuan yang diadakan, dan setan memang jagonya untuk hal menyesatkan manusia. Akhirnya egoisme mulai menyalahkan saudarapun menjadi salah satu hobi buruk yang muncul dan anehnya ia menjadi paling laris untuk “diumumkan”. Si A yang ga amanah, si B yang sok sibuk, si C yang ga pernah konfirmasi balik, si D yang study oriented, si E yang ga ontime dan si E yang lupa-lupa mulu, si F yang tiap minggu pulang kampung padahal ga da yang berubah di kampungnya, si G yang ga mau berkorban, si H yang kalau datang rapat duduk diam tak pernah memberi masukan, si I yang kalau acara mabit ga mau bantu masak eh pas acara sambil ngantuk-ngantuk padahal aslinya gemar begadang dan si I yang ngidupin weker untuk tahajjud hingga subuh pun datang tapi ia tetap terlelap dalam tidurnya, si J yang doyan banget numpukin kain di kamar mandi, mana kamar mandi wisma kecil lagi, ga sensi banget deh, si K yang sering malas kalau lagi piket, dan masih banyak si si lainnya yang muncul. Ingat salah orang dan lupa salah kita.

Oow, kalau begitu menjengkelkan juga dong anggota komunitasmu? Ya begitulah sis, tak ada manusia yang sempurna meskipun engkau sangat menginginkannya. Dan teman-teman ku disana juga bukannya tak berusaha menjadi sempurna sepeti yang kau inginkan, namun keterbatasan itu memang lumrahnya hidup kita. Karena itu meskipun sempat kesal ataupun jengkel, pada akhirnya ukhuwah itu tetap terbina. Apalagi lewat acara rihlah yang biasanya menjadi program primadona bagi kami. Karena itu tak jarang setiap kepengurusan peserta acara ini rata-rata membludak melebihi kapasitas. Di tambah pula lokasi yang dituju adalah relative baru bagi banyak pengurus dan panoramanya yang memang indah juga tak membuat bosan anggota yang sudah pernah mengunjunginya. Jadilah tadabbur alam sambil berwisata ini pun selalu dipertanyakan kapan pelaksanaannya agar mereka semua bisa mengikutinya. Tak jarang karena keterbatasan dana akhirnya rencana yang rihlah keluar kota tak bisa dilaksanakan dan selalu Batu Busuak menjadi alternative yang muncul. Mulai berkenalan dengan bapak sopir pun lahir dari kebiasaan menggunakan bus Unand ini. dan dari perkenalan singkat inilah bapak sopir pun mau menyisihkan sedikit waktunya untuk memberhentikan bus meski di lokasi yang tak dibolehkan berhenti karena hafal dengan wajah kita, apalagi ketika kita berhenti di halte bus suara klakson dan senyuman pun mewarnai bibirnya. Meski penuh sesak ruang di belakang sopir pun tak masalah, atau kalau tak menganggu silahkan duduk di depan kaca mobil. Sungguh beruntungnya. Terima kasih yan pak sopir.

Tak punya dana, mungkin inilah sedikit alasan penyebab tidak bisanya semua pengurus mengikuti acara. karena tak jarang acara yang diangkatkan itu harus dengan kerelaan hati mengalokasikan uang sakunya. Apakah untuk ongkos ke sana ke sini menjemput dan mengantarkan barang, beli barang bazaar yang tak tahan lama, ke rumah Pembina untuk meminta tanda tangan sebagai bukti diizinkannya acara, naik angkot karena bus Unand terlalu lama, ngeprint aneka surat beserta proposal ke pihak terkait, serta aneka kelengkapan administrasi yang bayar uang di muka dulu dan panitia tak bisa menyebutkan jangka waktu menggantinya, dan banyak factor lain yang membuat uang saku kita secara fisiknya berkurang.  Bukan mau pamer, tapi begitulah kondisinya. Acara-acara yang diangkatkan memang banyak berasal dari kantong anggota. Berusaha minta ke pihak kampus prosesnya cenderung panjang dan berbelit-belit. Plus ceramah lainnya yang terkadang tak banyak faedah, namun akhirnya yang menjadi hak kita pun tetap tak kita terima. Akhirnya belajar untuk ikhlas berbagi selalu diingatkan kepada anggota yang menjadi panitia. Mau acaranya di sekitar kampus atau di luar kampus, janganlah sungkan untuk menginfakkan hartanya ketika di rasa perlu.  Apalagi kalau ternyata sangat diperlukan. Karena pernah sejarah terukir rugi yang di tanggung panitia itu jutaan, di luar uang saku panitia yang terpakai. Akhirnya kreatiflah panitia yang akhawatnya membuat souvenir yang bisa di jual demi tertutupinya hutang tersebut. Dan ketika panitia yang bekerja ekstra itu di minta menyebutkan kisah itu kembali mungkin ia pun menjadi terharu. Dan lebih tak terlupakannya acara ini menyisakan sedikit luka pada tubuh sang ketua yang menyebabkannya tak bisa ikut ujian karena sakitnya anggota tubuh ini. dan saat ia mengajukan permohonan ujian susulan beserta bukti anggota badannya yang belum bisa di gunakan seperti halnya ketika ia dalam kondisi sehat ternyata tak diizinkan pihak jurusan. Dan ia pun dengan ikhlas menerima semua ungkapan yang terucap tentang “deritanya” yang harus mengulangi kembali semester yang ia belum dizinkan menyelesaikannya. Semoga amal yang telah dilakukan panitia zaman lalu menjadi amal jariyah bagi para panitia yang tak bisa disebutkan jati dirinya satu-persatu.

Keasyikan bercerita, maka tak mengapa engkau pun tau sekelumit cerita masa lampau. Enaknya zaman dulu itu para penanggung jawab komunitas ini memang diberikan semacam “tugas” untuk mengenal lebih dekat muyul/kecenderungan penggurus baru. Sehingga istilah buffer team pun marak muncul pada setiap bidang. Ketika yang bersangkutan di rasa matching dengan bidang percobaan tersebut maka ia pun dipersilahkan memperpanjang masa pengabdiannya, namun ketika ia memutuskan untuk berkecimpung di luar bidang percobaannya maka itupun tak masalah. Dan jenjang kaderisasi yang di sarankan pun mengikuti kecenderungannya tersebut meskipun terkadang kebutuhan mewacanakan yang lain. Yang ingin aktif di dakwah melanjutkan kebiasaannya sejak masih SMA lebih condong bergabung di forum, dan ia pun dipersilahkan aktif disana, yang semangat dengan nuansa politik dan merasa “terkukung” dengan aturan forum tapi masih ingin berdakwah ia pun diarahkan untuk bergabung dengan BEM. Sehingga kader yang lahir saat itu lebih terkonsentrasi. Abang A adalah aktivis BEM, uni W adalah aktivis BEM, begitu juga kader yang aktifnya di forum. Meskipun berbeda nantinya rangkaian acara yang akan dilewatinya, namun karena memang itulah spesialisnya kami pun bisa menentukan kepada siapa akan bertanya terkait isu-isu yang berkembang meski pada kenyataannya wawasan senior tersebut lebih luas dari perkiraan semula. Wah, lagi musim pemira neh, pengin tau tentang student state ah, maka langsung menghubungi senior A. Eh, FKI Rabbani buka pendaftaran panitia acara Z, maka senior fulan menjadi narasumbernya. Merasa butuh taujih ruhiyah neh, maka ikut kajian tasqifnya da’wiy, pengin tau lebih lanjut tentang Negara mahasiswa ne, maka liqo’ siyasi pun menjadi solusi. Meski terkesan terkotak-kotak, namun informasi yang didapatkan tidaklah terkotak-kotak. Karena itulah salah satu peranan penting wisma, apapun wajihah yang di pilih atau diikuti jangan terpaku dengan informasi terkait langsung dengan wajihahnya. Selagi merasa anggota komunitas ini maka ia pun berhak mengetahui semua agenda yang akan dilaksanakan. Mo ‘ilmi, mo siyasi, mo dak’wi apapun pilihannya semuanya masih di bawah satu bendera kader. Karenanya aku merasa nyaman di komunitas ini. ga kuper n kegiatan kuliah yang cenderung monoton pun menjadi terwarnai. Ah, indahnya masa lalu J.

Beda wajihah tentunya beda kesibukan. Akibatnya tak semua kami memiliki jadwal sibuk yang sama selain aktivitas kuliah yang memang menjadi bagian tak terpisahkan dari yang namanya mahasiswa. Ketika mo acara BEM maka yang jadi pengurus BEM menjadi akan sangat sibuk, berpisah ketika kuliah berakhir dan tentunya sudah tau kemana ia akan pergi kalo tak lain ke sekre BEM. Kalo ternyata ada PR yang harus diselesaikan ia pun akan mulai beranalisa tentang situasi yang dihadapi. Kalo semua alat kelengkapan yang dibutuhkan di rasa memadai di wisma, maka anggota wisma pun akan bergotong royong membantu pekerjaan yang aktif di BEM ini. kalau ternyata di wisma ga memadai atau ternyata belum kondusif pelaksanaannya maka istilah “khuruj” pun menjadi akrab. Karena memang terkadang ada hal-hal tertentu yang meskipun ia kader komunitas ini tapi di rasa belum saatnya yang tak diamanahi untuk tau lebih jauh. Hingga muncul pula kata-kata “amniyah” menjawab kenapa sibuknya M ga boleh diketahui. Bagi yang ga tak terlalu pengin tau biasanya sudah cukup dengan jawaban rahasia ini. namun yang doyan banget ngorek informasi hingga sedetailnya biasanya sudah menyiapkan beragam amunisi untuk menjawab keingintahuannya. Kalo yang di Tanya bijak biasanya ga timbul masalah, tapi ga senang privasinya terganggu akhirnya muncul lagi clash sesama saudara. Ketika giliran yang satunya lagi mendapat azimat amniyah, maka ia pun usil membalas kepada saudara yang dulu juga pernah mendapatkannya. Hadeuh, masalah amniyah saja sering dipermasalahkan, padahal toh itu juga haknya saudara kalo ia ga pengin orang lain tau tentang aktivitasnya, meskipun tak salah juga kalau saudara yang perhatian pengin tau juga apa saja yang ia lakukan.

Tidak hanya di BEM, di forum pun juga sering muncul fenomena ini. tak ada agenda apapun, tiba-tiba si N sudah sibuk sejak malamnya. Ngafal surat tertentu, ngetik sesuatu yang rahasia gitu, paginya saat yang lain ga punya kesibukan berarti dianya sudah stand by mo pergi. Nah, mulai lagi penyakit hati timbul. Si N pergi kemana? Ikut acara apa? Kok yang lain ga tau n ga ikut juga ya? Kalo ternyata saat itu yang jadi petugas piket adalah si N, maka yang ga tau pun mulai bersiap dengan list “iqob yang akan disampaikan pada si N. tidak piket kebersihan sekian ribu rupiah, tidak piket nyupir sekian ribu rupiah, tidak piket masak sekian ribu rupiah. Jadinya pas si N pulang ia pun sudah di sambut dengan tagihan hutang yang harus ia bayar. Hehehe, kok bisa? Ya ealah, terkadang ketika merasa jadwalnya pada hari normal cenderung padat, biasanya kami memilih jadwal piket pada hari yang di rasa kosong, eh, ternyata tak di duga dapat instruksi harus menghadiri acara blablabla di tempat blablabla, ga datang sanksinya blablabla. Lebih menakutkan sanksi yang blablabla disbanding hutang rupiah, akhirnya terpaksa alokasi biaya tak terduga pun menjadi bertambah.

Sibuk banget yach ternyata tinggal di wisma! Ho oh, lebih sibuk dibanding kuliah. Bangun pagi terkadang di awali dengan sama-sama tahajud, bagi yang ternyata habis sholat tertidur maka saudara yang lain akan membangunkannya saat waktu subuh dah masuk. Siap sholat berjamaah mulai mengatur posisi untuk mengikuti program. Mulailah petugas mencatat siapa yang datang program n tidak datang beserta penanggung jawab program pagi ni. Absen ini penting lho, karena lagi-lagi rupiah akan terkuras kalo ternyata berdasarkan absen kita tidak berada di majelis. Bagi yang lagi ga diwisma alias khuruj tentunya emang ghoib di program wisma, tapi yang jasadnya ada di wisma, tapi fisiknya ga muncul di mejelis, so ikhlaslah menerima ‘iqob yang telah ditentukan. Ternyata lagi, tak semua yang duduk di majelis menyimak apa-apa yang telah terjadi, ya biasalah, untuk yang namanya ibadah itu kadang berat, jadinya sambil ngantuk-ngantuk duduk di lingkaran. Apalagi kalo ternyata jadwalnya pembacaan shiroh, wah makin banyak ne yang terlelap dengan alunan kisah yang dibacakan. Yang ga ngantuk tapi merasa berburu waktu maka jam di dinding pun selalu memanggilnya, ketika tepat pukul 6 teng ia pun akan bersorak, “dah jam 6”, yang berarti majelis pun mulai di tutup. Hehehe, lucunya kami saat itu. Yang masih ngantuk dan tidak punya agenda mendesak paginya tentunya masih berlanjut dengan FLP (forum lalok pagi) yang menjadi suatu fenomena tersendiri juga. Padahal dah pada tau kalo kebiasaan tidur bis subuh itu sebisa mungkin jangan, tetap aja hamparan kapun memanggil-memanggil untuk datang kembali.

Wah, unik juga ya peraturanmu di wisma, dikit-dikit kena ‘iqob. Iya honey, aku pun sering mengalaminya. Karena yang menjadi penanggung jawab ini suaranya harus vocal, jadi jarang yang selamat dari aturan ini. Biz makan or minum perkakas ga diberesin langsung muncul teriakan “niama, ‘iqob seribu gelas tarok sembarangan”, padahal terkadang beranjak itu karena lagi nelpon ato pergi ke kamar yang lain bentar. Pulang ke wisma hujan-hujan ga pake payung, masuk rumah lupa bawa langsung sepatunya ke rak sepatu, lagi-lagi ditulisin, “niama, narok sepatu tidak pada tempatnya”. Hari hujan jemuran belum kering n dari pada bau tentunya di jemur lagi. Eh, ternyata tidak ada tempat dan akhirnya menjemurlah pada tempat yang forbidden, dan lagi-lagi kena ‘iqob. Gubrak!  Banyak banget sob peraturan yang ‘iqobnya rupiah. Berkurang deh porsi jajananku L.

Nah, kalo cerita jajanan maka tentunya warga wisma taka sing lagi dengan konsinyasi yang sering dipraktekkan mahasiswa. Apalagi yang hobinya berdagang, tentunya wisma menjadi salah satu prospek yang menjanjikan. Secara yang namanya kita-kita doyan ngemil (apalagi kalo ternyata tak ada bahan untuk memasak) maka aneka jajanan yang ditawarkan menjadi alternative awal untuk mengatasi permasalahan timur tengah. Mulai dari aneka kerupuk, roti, beragam cake, nutrijel, hingga kebutuhan rutin lainnya. Tak jarang barang yang di titip habis, tapi pas ngitung duitnya kok ga sesuai dengan jumlah yang dititipkan ya. Tidak hanya kurang dikit, kurang banyak juga sering terjadi. Sekali dua kali rutin terjadi, akhirnya keputusan pahit pun di ambil. STOP KONSINYASI!. Keputusan berat memang, tapi mo gimana lagi, dah terlalu sering diumumkan “bagi yang mengambil barang yang di jual harap langsung membayar saat itu juga harga barang yang di beli” dan ternyata tak cukup berpengaruh. Akhirnya terpaksalah yang doyan ngemil untuk keluar wisma membeli aneka cemilan menggiurkan. Kalo ternyata lagi males keluar (dan ini yang paling sering terjadi) walhasil menanyakan siapa saja yang masih di luar wisma dan kemungkinan besar akan segera pulang menjadi sasaran terkahir untuk dimintai tolong membelikan aneka titipan. Mulai dari sambal, mie, buah, kue ringan lainnya, dll. So HP harus stand by agar yang di rumah ga kecewa menunggu kedatangan yang di nanti.

Masih terkait dengan makanan. Bagi yang tinggal di wisma serta sebagian saudara di forum itu tau kalo ama doyan makan. Mo makan di wisma ato di luar wisma tentunya silih berganti. Terkadang kasihan juga dengan saudara yang kalo makannya itu agak lama (kan ngunyah yang dianjurkan itu 33 kali), bukan maksud menzholimi, tapi emang jangka waktu yang ama habiskan untuk makan itu emang singkat. Kalo makan pagi ga papa deh dia makannya lama, soalnya jatah sarapannya utuh di piring yang ia pake, tapi kalo makan malam mana bisa. Padahal kondisi anggota wisma rata-rata sudah di bisa di tebak “lapar tingkat tinggi”, sedangkan kita makan malamnya bersama dengan talam komplit nasi, lauk dan sayur yang juga di jatah. Terkadang ama sudah disuapan ketiga ia masih disuapan pertama, ama udah ngabisin banyak porsi, ia masih berkutat dengan kunyahan di dalam mulutnya. jadi terkadang sebelum pulang sempetin dulu makan di luar biar ntar saat nyampe di rumah tidak dalam kondisi lapar tingkat tinggi. Ah, nostalgia makan bersama di dalam memang tak kan bersudahan.

Sering deh bermacam penyakit hati ini menghampiri.  Ketika forum punya agenda yang padat sauadara tapi yang di BEM juga tidak serta merta berlepas tangan, pun halnya ketika forum ataupun BEM lagi sibuk, maka semua yang merasa terpanggil pun akan membantu sebisanya meski secara de yure tak tercatat sebagai pengurus. Karena kebiasaan bekerja sama ini jualah rasa persaudaraan itu semakin kuat. Biar penghuni wisma atau non wisma tak ada bedanya. Malah di wisma lebih terasa lagi ikatan di antara penghuninya. Tak jarang (berarti bukan hanya sekali lho) kewajiban kita pribadi pun digantikan oleh saudara. Gantiin piket masak, piket nyupir hingga piket kebersihan. Dan bantuan tak di sangka lainnya yaitu mencucikan pakaian saudara. Ketika melihat tumpukan kain Y di kamar mandi yang sangat tinggi, berkorelasi dengan jam terbangnya yang juga tinggi, “malaikat” penolong biasanya muncul membersihkan pemandangan yang menggangu ini. pun ketika ia di uji dengan sakit yang membuatnya tak leluasa beraktivitas, dan ini yerjadinya bukan by request, si penolong pun tak pernah menyebutkan identitasnya, jadilah perasaan hutang budi pun tak tau harus di balas pada siapa.  Ha, sumpeh lo! Ho oh sweety, karena aku sendiri pernah di tolong oleh “malaikat” yang meski tak meninggalkan pesan namun aku tahu siapa dia. Sehingga muncul guyonon agar malaikat itu selalu datang saat yang lain juga mengalami hal yang sama.

Bernostalgia tentang wisma memang tak kan berkesudahan. Memori yang tersimpan tak cukup besar untuk merekam semua peristiwa yang tercipta. Namun demikian ku akan mencoba mengingat sebisa yang ku mampu.

Merasa tak puas dengan keputusan rolling kamar adalah salah satu hal yang sering juga terjadi. Alasannya pun beraneka. Diantaranya, tak cocok dengan penghuni baru, suasana kamar yang tak sama, dah pewe dengan yang sekarang, dekat dengan tempat sampah, terlalu berisik tetangga sebelahnya, dan alasan lain yang namanya juga alasan. Jadinya, harus bijaklah penanggung jawab wisma menyelesaikan konflik yang bisa dan telah muncul itu. Jadi capek dan mengeluh juga cerita lama yang dialami setiap penanggung jawab wisma. Betapa hati itu memang tidak bisa di paksa menjadi dekat meski fisiknya mereka berdekatan. Jadi tak salah juga kalu timbul kondisi yang meski sekamar ternyata tak tahu kondisi kamarnya. Karena itu masalah menyatukan hati adalah salah satu do’a yang sering dipanjatkan agar memang hati yang berkumpul dalam satu komunitas apalagi satu rumah ini memang saling bertaut. Ah, kalau di kenang memang tak mudah menjadi pemimpin dan yang di pimpin, harus legowo menerima setiap masukan dan mau netral dalam menentukan sikap. Praktek kepemimpinan ini tentunya tak semua yang belajar manajemen mengalaminya. Karenanya beruntunglah pernah tinggal di wisma (bukan berarti yang tak di wisma merugi yach J).

Lain orang tentu lain karakternya. Apalagi kita sebelumnya turut membawa budaya yang telah di anut. Tak jarang konflik kecil menghiasi akibat berbedanya budaya ini. Yang tak terbiasa rapi harus rela “diomeli” oleh yang rapi, yang sering telat bangun harus berbesar hati menerima kekesalan saudaranya yang rutin membangunkan, yang sering lupa-lupa mulu harus belajar untuk membuat catatan kecil, yang jadwalnya sering berantakan harus belajar manajemen waktu, yang malas datang pengajian mulai di sindir keterasingannya, yang kalo piket ga sampai tuntas, yang doyan nonton ato main game mulai mengurangi kebiasaannya, yang kalo pulang kampung jangan kupa oleh-oleh (yang di ingat oleh-oleh lho, bukan kabar saudaranya), yang milad jangan lupa traktirannya (ga bisa pake acara ga ingat, coz catatan pengingat akan ramai muncul ketika saatnya), yang doyan makan jajananan jangan lupa langsung bayar jajananannya (seringnya lupa seh untuk membayar, akibatnya kas wisma selalu berkurang untuk menombok kerugian penjual), yang dah tamat di tunggu acara syukurannya, eh kok banyak banget. Ga rinci yach? Oke siapkan cemilan untuk melanjutkannya. Laper neh.

Awal tinggal di wisma tentunya aku merasa asing dengan suasana baru ini. secara kita akan tinggal bersama dengan banyakorang dan terikat dengan peraturan yang telah di buat. Setuju atau tidak dengan semua peraturan  itu tentunya bukan menjadi soal bagi yang bertanggung hawab dengan keberadaan wisma. Setuju ya monggo menjadikan ini sebagai rumah barunya, yang tak setuju pun dipersilahkan mencari hunian yang dikehendaki.

Termasuk khilafnya kami yaitu berterima kasih kepada bagian konsumsi saat acara-acara diangkatkan, apalagi yang sampai seminggu pelaksanaannya. Jasa mereka yang telah membantu menyiapakan makanan yang enak dan murah pun menjadi terlupakan. Padahal meskipun menjadi pekerja di belakang layar, sangat penting peran yang ia mainkan. Ketika ia tak ada semua orang sibuk mencarinya, namun ketika ia telah hadir seringkali orang tak menyadari jerih payahnya. Padahal kalau mau tahu capeknya mereka bekerja, sedari pagi sudah ke pasar raya membeli segala macam kebutuhan untuk snack dan makan peserta dan panitia. Pulang ke kos sambil membawa tentengan, nyampe di rumah langsung berkutat dengan pisau dan kompor, terkadang kompornya tak bersumbu. Minyak tanah lagi langka, panitia lain selalu menanyakan berita, tak tahu mereka pun telah berupaya, hingga malam semakin larut pun mereka masih harus berkutat di dapur karena makan malam panitia yang menjadi petugas ronda saat itu. Dan ini menjadi cerita rutin, karena acara pemilihan raya minimal diadakan dua kali dalam setahun, dan saat itu bidang kreativitas dan konsumsi adalah dua bidang yang termasuk paling sering bergadang untuk membuat dan menempelkan berbagai pamphlet terkait calon yang diangkatkan. Ku mau bercerita tentang sibuknya kami dalam acara ini. mulai dari menentukan siapa saja calon yang di usung, analisis SWOT, merumuskan visi misi semua calon yang dianggap mampu, persiapan tim sukses, menyebar spy di berbagai tempat, membekali calon yang terpilih dan tentu juga konsumsi selama acara ini berlangsung. Itu baru acara rutin dari BEM, sedangkan dari forum juga tak kalah sibuknya. SEE, PESTA, IMT, adalah contoh beberapa acara yang memang dari pagi sampai malam panitia itu akan di buat sibuk. Manjemen waktu adalah hal yang sering diingatkan, karena acara yang di buat bukanlah sekedar acara semata, namun kita berharap memang banyak manfaat yang bisa dirasakan oleh berbagai pihak terkait acara yang di susun. Karena itu memang sering kali budaya tausiah sering diingatkan terkait semangat yang memang kadang naik kadang turun. Malahan kuliah pun rela dikesampingkan sesaat agar pelaksanaan acara bisa sesuai dengan yang diharapkan. Sambil kuliah ke kampus nyempatin diri mampir sejenak di rental untuk memprint surat yang dibutuhkan, habis itu nyari yang berweanag untuk membubuhkan tanda tangannya, saling komunikasi tanya dimanakah keberadaan stempel, saling Tanya lagi tentang keberadaan bapak bagian kemahasiswaan, masih berkutat dengan handphone mamastikan siapakah yang akan meneruskan perjuangan selembar kertas ini. itu baru surat. Yang lain juga pusing mikirin siapakan yang akan di undang, bagaimana menghubunginya, bahan apa yang perlu dipersiapkan ketika harus bertemu atau memulai komunikasi, banyak hal yang dilakukan banyak pihak. Di seberang sana sang ketua pun sibuk menghubungi para anggotanya, menanyakan apakah amanah yang diembankan bisa dilaksanakan, apakah pihak yang diharapkan bantuannya dapat membantu, apakah tempat yang diinginkan bisa di pakai, apakah transportasi yang diperlukan bisa tersedia, apakah kondisi dana se sehat panitianya, apakah semuanya mau bekerja sama, dll. Dan itulah bukti bahwa pekerjaan berat itu terasa ringan kalau dilakukan bersama-sama. Terkadang ada yang mengeluh menyampaikan permasalahannya, merasa bekerja sendirian, merasa saudara tak lagi perhatian, merasa capek, merasa berbagai perasaan lainnya yang kalau terlalu lama di pendam akhirnya semakin membuatnya sakit. Sakit hati, sakit badan tapi semoga tidak sakit jiwa. Terkadang saudara yang menjadi tumpahan perasaannya mau mengerti dan bersedia membantunya, namun tak jarang mereka lebih memilih mendam sendiri permasalahannya karena tak ingin merepotkan saudaranya. Ya, ukhuwah itu tak melulu mengharapkan bantuan saudara, namun ia pun juga malu ketika merasa merepotkan saudaranya. Karena itu ia begitu manis terasa, karena tidak ada niat untuk menganggu saudara, apalagi kalau ternyata menyusahkannya.

Ah, sepertinya engkau memang ragu pada penjelasanku. Ku sarankan agar engkau mau membaca tulisan berbagai pihak yang membenci komunitas ini. sangat mudah menemukannya sob, baik dalam bentuk buku ataupun berupa tulisan di blog. Karena penyampaian dari orang yang membencinya akan sangat rinci penjelasannya hingga pada pembahasan yang tak pernah kau duga. Dan mungkin dari penjelasan orang-orang yang membenci komunitas inilah engkau lebih percaya. Tak mengapa, karena toh saat ini banyak orang yang dulunya pernah menyukai komunitas ini pun pada akhirnya membencinya dengan benci yang bersangatan. Mungkin disinilah perbedaan kita mulai muncul. Namun kawan, segencar apapun media ataupun engkau memberitakan tentang keburukan komunitas ini, percayalah ku tak mudah percaya. Karena ku pernah berada di dalamnya dan apa-apa yang menurutku baik ku akan mengambilnya dan yang bagiku tak perlu dipertahankan jua akan ku lupakan. Karenanya jangan salahkan aku jika kisah yang ku tulis tak kan membuatmu puas. Karena kami di ajar untuk melupakan kebaikan yang telah dilakukan pada orang lain namun sebaliknya ingatlah selalu kebaikan orang padamu.

Selamat mencari kawan, semoga engkau mendapatkan komunitas yang sempurna. Komunitas yang bisa memuaskan semua keinginan anggotanya, komunitas yang tak di benci orang lain, komunitas yang bisa memberikan semua yang engkau butuhkan, komunitas yang akan mau menghargaimu meskipun engkau bersebrangan. Kelak ketika kau menemukannya ku harap engkau pun mau berbagi kisah denganku, agar bisa juga ku belajar mempraktekkannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s