“RAMALAN IQBAL KINI JADI KENYATAAN” Hal: 162

Majelis Permusyawaratan Rakyat Pakistan memutuskan bahwa anggota Ahmad Qadiyah bukan orang Islam.

Dr. Muhammad Iqbal (1876-1938) tahu betul apa dan siapa Mirza Ghulam Ahmad. Beliau dapat mengenalnya dari dekat karena beliau dan Mirza sama-sama berasal dari Punjab. Beliau pun mengetahui betul bagaimana besarnya bahaya bagi Islam dan muslimin apabila gerakan Ahmadiyah tidak dihadapi secara sungguh-sungguh.

Dalam harian stateman tanggal 10 Juni 1935 beliau membantai ucapan Nehru yang bertanya-tanya, mengapa orang Islam berusaha keras agar Qadaniyyah ( Ahmadiyah) dipisahkan dari Islam, padahal golongan itu adalah golongan Islam di antara golongan-golongan yang lain.

Iqbal menjelaskan, “ gerakan Qadiniyyah bermaksud mengubah bentuk sebagian umat Islam menjadi umat baru yang bernabi kepada nabi bangsa Hindi, dan gerakan itu bagi Islam sangat berbahaya daripada akidah Spinoza seorang filosof Yahudi yang memberontak kepada tata cara yang diatur oleh Yahudi.:

Sesungguhnya akidah “Khatamun Nabiyyin” ( nabi Muhammad saw. penutup para nabi) itu adalah line of demarcation (garis pemisah ) yang membedakan antara akidah Islam dengan agma-agama lain yang sama-sama bertuhan.

Iqbal berkeyakinan bahwa akidah  “Khatamun Nabiyyin”  itu adalah penjaga ( benteng) yang menjamin kelangsungan wujud masyarakat Islam dan kesatuannya.

Dikeroyok karena mengucapkan “Khatamun Nabiyyin”

Apa yang diucapkan Iqbal itu kini menjadi kenyataan. Pada tanggal 28 Mei 1974 di stasiun kereta api Rabwah, ketika mahasiswa-mahasiwa fakultas kedokteran Militan yang berdarmawisata melewati tempat itu meneriakkan kalimat syahadat bahwa “ tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan Muhammad itu adalah rasul Allah yang terakhir “; sewaktu kereta itu kembali melewati stasiun tersebut, mereka dicegat oleh ribuan pengikut Mirzaiyyah (Ahmadiyah Qadiyan) yang kemudian menyerbu dan menyerang mahasiswa-mahasiwa penumpangnya dengan menggunakan berbagai macam senjata. mahasiswa-mahasiwa itu disiksa, dilukai, dipotong-potong alat vitalnya, dan dibunuh dengan kejam. Pada waktu itu banyak korban berjatuhan.

Akidah Khatamun Nabiyyin, pemersatu umat Islam

Akidah Khatamun Nabiyyin, sebagai garis pemisah antara hak dan batil, sebagai line of demarcation , bila diperkosa, maka akibatnya Islam akan bercampur aduk; bukan bersatu padu, tetapi justru memecah-mecah; dan di kalangan penguasa akan berat sebelah, memihak kepada yang salah bila kekuasaan ada di pihak yang mengingkari akidah tersebut.

Sehubungan dengan peristiwa Rabwah, rakyat Pakistan dengan serentak menuntut kepada pemerintahannya supaya bertindak tegas terhadap orang-orang Ahmadiyah Qadiyan. Akan tetapi, usaha ini buntu, sulit untuk mendapatkan telinga, sebab banyak orang Qadiyan yang menjadi pejabat yang penting dalam pemerintahan; mereka telah bertindak berat sebelah, demi kemenangan pihaknya.

Akibatnya terjadilah pemogokan umum di seluruh negeri, dan di berbagai tempat pemerintah menyatakan keadaan daruruat militer. Akan tetapi, bukan hanya sulit mencari telinga yang mau mendengarkan keluhan umat Islam saja, melainkan sulit pula menemukan mulut yang dapat memberitakan kejadian-kejadian tersebut, sebab surat kabar-surat kabar dilarang memberitakan kenyataan-kenyataan yang telah terjadi itu.

Yang demikian itu adalah akibat adanya orang yang menyalahgunakan kekuasaan dan wewenang, menyalahgunakan apa yang diamanatkan kepadanya, bukan untuk memimpin umat, tetapi untuk memenangkan golongannya.

Pemerintah membentuk Panitia Samadani, dan ditugaskan bersama-sama dengan Majelis Nacional untuk menyampaikan laporan terakhir kepada pemerintah pada tanggal 7 September 1974.

Sementara itu Jemaat el Islami menyampaikan protes kepada pemerintah karena pemerintah tidak bekerja cepat. Pemerintah juga banyak melakukan penangkapan-penangkapan terhadap mahasiswa, ulama-ulama dan kaum pekerja serta memperlakukan mereka dengan buruk. Organisasi tersebut menuntut agar segera ada tindakan konstitusional terhadap Ahmadiyah Qadiyan, dan supaya pemerintah mengakhiri tindakan-tindakan yang tidak demoktaris. 

Makar Qadiyani

Sementara itu ketua Ahmadiyyah Bangladesh telah mengajukan surat permintaan agar sekjen PBB melakukan intervensi di Pakistan guna melindungi pengikut-pengikut Ahmadiyah Qadiyan.

Satu lembar fotokopi surat pernyataan dari Bangladesh tersebut disampaikan pula kepada menteri Negara Urusan Luar Negeri Pakistan, yaitu Khalilur Rahman Khadam.

Bersamaan dengan itu, di Pakistan telah tersiar pernyataan seorang wartawan yang membongkar makar Qadiyani terhadap pemerintah Ali Bhuto. Pemimpin redaksi majalah mingguan Chatan memberikan kesaksian di muka Panitia Samadani, bahwa di Rabwah (tempat perkotaan khusus kaum Ahmadiyah Qadiyani) pada tahun 1973 telah dilangsungkan rapat yang dipimpin oleh ketua Ahmadiyah Qadiyan yang memutuskan untuk menggulingkan pemerintah Ali Bhuto karena perdana menteri ini telah gagal menuruti kehendak mereka.

Pemimpin redaksi Chatan, Aga Shoris Kasmiri, menyatakan bahwa ia pernah membaca sendiri suatu laporan Badan Inteligen Pakistan mengenai hal itu. Selanjutnya ia menyatakan bahwa sewaktu Maresekal Udara Zafar Chowdhary dipecat dari jabantannya, maka kaum Qadiyani bertekad menggulingkan pemerintah Ali Bhuto, dan selanjutnya mempersiapkan suatu insiden di Rabwah tersebut sebagai suatu latihan gerakan untuk menguji kekuatan pemerintah.

Shoris juga menyerahkan dokumen kepada Panitia Samadani, yaitu berupa tulisan karya pujangga terkenal – Muhammad Iqbal- mengenai Ahmadiyah Qadiyani, berjudul penghianat-penghianat terhadap Islam.

Ahmadiyah Qadiyani Dinyatakan Minoritas Non-Islam

pada tanggal 7 September 1974 Majelis Dan Senat Negara Pakistan secara bulat telah mengesahkan resolusi yang menyatakan bahwa kaum Ahmadiyah ( baik dari aliran Qadiyani maupun Lahore) merupakan golongan minoritas non-Islam di negara tersebut.

Resolusi itu menetapkan menambah ayat baru pada undang-undang dasar Pakistan Pasal 260, sehingga 2 dari ayat menjadi 3 ayat. Pasal 260 itu termasuk dalam Bab 5: Interpretasi, yang menjelaskan dan menegaskan kedudukan berbagai jabatan dan pengertian kenegaraan serta perundang-undangan Pakistan.

Ayat ke-3 yang ditambahkan itu terjemahannya berbunyi sebagai berikut:

“Seseorang yang tidak percaya kepada kemutlakan dan kerasulan Muhammad saw. Sebagai nabi yang terakhir ; atau mengaku  dirinya sebagai seorang nabi, denga kata-kata atau penafsiaran yang bagaimanapun juga sesudah Muhammad saw. Atau mempercayai pengakuan tersebut sebagai seorang nabi atau seorang pembaharu agama, adalah bukan seorang muslim di hadapan Undang-Undang Dasar atau di hadapan umum.”

Selain itu majelis juga menetapkan tambahan kalimat pada Pasal 106 ayat ke-3 yang menguraikan masalah perwakilan bagi golongan minoritas dalam lembaga-lembaga perwakilan propinsi. Maka kalimatnya yang baru menjadi (terjemahan) sebagai berikut:

“Haruslah di dalam lembaga-lembaga (maksudnya lembaga-lembaga perwakilan propinsi di Balushistan, Punjab, Wilayah Barat Laut dan Sind) kursi-kursi tambahan bagi golongan-golongan dengan perincian di belakang disediakan untuk wakil-wakil dari golongan Kristen, Hindu, Sikh, Budha dan masyarakat Persia atau golongan-golonganlain yang ditetapkan:, dan wakil-wakil dari golongan Qadiyan atau golongan Lahore ( yang menamakan diri mereka “kaum Ahmadiyah)

Selanjutnya juga diberi suatu tafsiaran tambahan kepada bagian 295-A dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Pakistan, yaitu sebagai berikut:

“Penjelasan: seorang muslim yang memeluk keyakinan menjalankan atau mempropagandakan sesuatu yang bertentangan dengan keyakinan bahwa Muhammad saw. Adalah nabi yang terakhir sebagaimana diterangkan dalam Ayat 3 Pasal 268 Undang-Undang Pemilihan Umum Tahun 1974.”

Demikian keputusan-keputusan resmi yang disahkan dalam Majelis Nasional dan Senat Pakistan tersebut telah mengkahiri suatu masalah keagamaan yang pelik di negeri tersebut khususnya dan bagi umat Islam pada umumnya. Setelah berdirinya Pakistan sebagai Negara yang berdaulat, kaum Ahmadiyah Qadiyani mendirikan kota tertutup tersendiri bagi golongannya di Rabwah, di daerah Punjab.

Maka keputusan yang telah diambil oleh Pakistan sekarang adalah sejalan dengan resolusi yang disahkan oleh Konperensi Organisasi-Organisasi Islam Internasionaldi Mekah pada bulan April 1974 yang diprakarsai oleh Rabithah Alam Islami.

Sekjen Rabithah, Syekh Muhammad Saleh Al-Gazzaz, telah menyambut keputusan Majelis Nasional Pakistan yang bersejarah tersebut dengan penuh kegembiraan dan rasa syukur.

Sesuai Dengan Kepercayaan Mereka

Ahmadiyah atau Mirzaiyah dinyatakan non-Islam itu sesuai dengan pernyataan-pernyataan mereka sendiri. Mereka mengaku bukan seorang muslim seperikita. khalifah mereka (khalifah Qadiyani) dalam Harian Al-Fardlel tanggal 12 Agustus 1927 dengan judul “Beberapa Nasihat Buat Para Mahasiswa” menerangkan :

Telah berkata Almasih Mau’ud (nabi mereka, yaitu Mirza Ghulam Ahmad), “Sesungguhnya Islam mereka (non-Ahmadiyah) bukan Islam kita. Tuhan mereka (non-Ahmadiyah) berlainan dengan tuhan kita. Ibadah haji mereka bukan cara ibadah haji kita. Dan demikianlah, kita bertentangan dengan meerka (berlainan) dalam segala sesuatunya.”(Kalimatul; Fasli:79)

Dalam kitab Anwarul Khilafah karangan al-Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad halamn 89 diterangkan:

Di antara kewajiban kita, jangan memandang orang yang bukan Ahmadiyah sebagai orang Islam, dan jangan bermakmum kepada mereka. ( Al-Qadaniyah:36)

Pengarang buku tersebut menegaskan:

Sesungguhnya semua orang Islam yang tidak turut dalam membaiah Al-Masih Mau’ud, mereka kafir, keluar dari lingkaran Islam walaupun mereka tidak mendengar nama Al-Masih Mau’ud ( Al-Qadaniyah:74)

Dalam buku karangan miza, yaitu syahadatul qur’an halaman 3, ia mengaku:

“diantara agama saya yang saya nyatakan kepada orang-orang berulang kali sesungguhnya Islam itu terbagi atas dua bagian: yang pertama, harus taat kepada Allah: dan yang kedua, kita harus taat kepada pemerintah yang telah menyebarkan keamanan dan melindungi kita dari tangan-tangan orang zalim.”

“ dan pemerintah ini adalah pemerintah Britania (Inggris).”

Anggota Ahmadiyah Qadiyan dilarang memasuki Suadi Arabia

Para calon jemaah haji Ahmadiyah Qadiyan pada musim haji tahun ini dikenakan larangan untuk memasuki wilayah Saudí Arabia.

Sehubungan dengan hal itu, Kepala Dirjen Urusan Haji Dalam Radiogramnya/Monitoring No. 268/1974 tanggal 5 November yang ditujukan kepada para Gubernur/Koordinator Urusan Haji Se-Indonesia dan Ketua Badan Koordinator Urusan Haji ABRI Departemen Hankam Jakarta agar memerintahkan kepada segenap petugas jemaat haji untuk meneliti semua jemaah haji dan melarangnya kalau terdapat anggota Ahmadiyah Qadiyan.

Larangan ini baru pertama kalinya dilakukan di Indonesia. Diperoleh keterangan bahwa 7 orang anggota Ahmadiyah Qadiyan dari Tasikmalaya secara resmi telah memiliki paspor untuk memasuki negara Saudi Arabia sebagai calon jemaah haji.

Sumber-sumber di Kedubes Saudi Arabia menjelaskan, larangan ini tidak ada sangkut pautnya dengan masalah politik. Dalam pada itu, Konperensi Islam sedunia ( Rabithtah Alam Islamy) yang berlangsung pada tanggal 6-10 April 1974 di Mekah Al-Mukarramah memutuskan antara lain sebagai berikut:

“golongan Ahmadiyah Qadiyan telah keluar dari Islam dan di anggap sebagai minoritas non-muslim.”

Aliran ini mengakui masih ada nabi setelah nabi Muhammad saw. Yaitu Mirza Ghulam Ahmad yang pernah hidup di Pakistan beberapa puluh tahun yang lalu; dan keyakinan ini ditentang oleh Islam.

 

 

Iklan

Recik-recik Dakwah

Biografi penulis “RECIK-RECIK DAKWAH” karya K. H. E. ABDURRAHMAN, Penerbit SINAR BARU ALGESINDO K. H. E. ABDURRAHMAN, lahir di Cianjur 12 Juni 1912, putra Bapak Ghazali dan Ibu Hafsah. Pada usia 7 tahun beliau sudah khatam Al-Qur’an, kemudian melanjutkan pendidikan di Madrasah Nahdatul Ulama Al-Lanah Cinajur. Setelah selesai dari studinya, beliau membaktikan diri di dunia pendidikan, yaitu menjadi guru agama Madrasah Al-Lanah, HIS, MULO, Kweek School Bndung. Kemudian mendirikan Majelis Pendidikan Diniyah Islamiyah. Tahun 1934 beliau bergabung dengan K. H. Mohammad Nasir dalam Pendis ( Pendidikan Islam). Sejak itulah ia tertarik kepada paham Ahmad Hasan Bangil, guru Persatuan Islam, bahkan beliau menjadi murid Bapak A. Hassan yang terdekat (selalu menjadi pendampingnya dalam berbagai kegiatan). Tahun 1957 beliau terjun ke arena politik, menjadi anggota Konstituante Republik Indonesia dari Fraksi Masyumi hingga dibubarkan oleh Presiden Soekarno. Tahun 1959 diangkat menjadi dosen UNISBA, sementara pada tahun 1967 menjadi dosen FKIT IKIP Bandung. Profesi pengajar dan pendidik adalah profesi yang paling cocok baginya, tidak kurang 40 tahun lamanya beliau membina dan memimpin Pesantren Persatuan Islam Bandung hingga akhir hayatnya. Ulama besar ini kini sudah tiada. Beliau wafat pada hari Kamis 21 April 1983, pukul 02.30 WIB dalam usia 73 tahun. Sekalipun sudah tiada di tengah-tengah kita, tetap karya dan dakwahnya masih tetap bergema melalui tulisan dan lisan para pengikutnya. Buku ini merupakan salah satu dari sekian banyak buah penanya. Biografi penulis “RECIK-RECIK DAKWAH” karya K. H. E. ABDURRAHMAN, Penerbit SINAR BARU ALGESINDO K. H. E. ABDURRAHMAN, lahir di Cianjur 12 Juni 1912, putra Bapak Ghazali dan Ibu Hafsah. Pada usia 7 tahun beliau sudah khatam Al-Qur’an, kemudian melanjutkan pendidikan di Madrasah Nahdatul Ulama Al-Lanah Cinajur. Setelah selesai dari studinya, beliau membaktikan diri di dunia pendidikan, yaitu menjadi guru agama Madrasah Al-Lanah, HIS, MULO, Kweek School Bndung. Kemudian mendirikan Majelis Pendidikan Diniyah Islamiyah. Tahun 1934 beliau bergabung dengan K. H. Mohammad Nasir dalam Pendis ( Pendidikan Islam). Sejak itulah ia tertarik kepada paham Ahmad Hasan Bangil, guru Persatuan Islam, bahkan beliau menjadi murid Bapak A. Hassan yang terdekat (selalu menjadi pendampingnya dalam berbagai kegiatan). Tahun 1957 beliau terjun ke arena politik, menjadi anggota Konstituante Republik Indonesia dari Fraksi Masyumi hingga dibubarkan oleh Presiden Soekarno. Tahun 1959 diangkat menjadi dosen UNISBA, sementara pada tahun 1967 menjadi dosen FKIT IKIP Bandung. Profesi pengajar dan pendidik adalah profesi yang paling cocok baginya, tidak kurang 40 tahun lamanya beliau membina dan memimpin Pesantren Persatuan Islam Bandung hingga akhir hayatnya. Ulama besar ini kini sudah tiada. Beliau wafat pada hari Kamis 21 April 1983, pukul 02.30 WIB dalam usia 73 tahun. Sekalipun sudah tiada di tengah-tengah kita, tetap karya dan dakwahnya masih tetap bergema melalui tulisan dan lisan para pengikutnya. Buku ini merupakan salah satu dari sekian banyak buah penanya. Biografi penulis “RECIK-RECIK DAKWAH” karya K. H. E. ABDURRAHMAN, Penerbit SINAR BARU ALGESINDO K. H. E. ABDURRAHMAN, lahir di Cianjur 12 Juni 1912, putra Bapak Ghazali dan Ibu Hafsah. Pada usia 7 tahun beliau sudah khatam Al-Qur’an, kemudian melanjutkan pendidikan di Madrasah Nahdatul Ulama Al-Lanah Cinajur. Setelah selesai dari studinya, beliau membaktikan diri di dunia pendidikan, yaitu menjadi guru agama Madrasah Al-Lanah, HIS, MULO, Kweek School Bndung. Kemudian mendirikan Majelis Pendidikan Diniyah Islamiyah. Tahun 1934 beliau bergabung dengan K. H. Mohammad Nasir dalam Pendis ( Pendidikan Islam). Sejak itulah ia tertarik kepada paham Ahmad Hasan Bangil, guru Persatuan Islam, bahkan beliau menjadi murid Bapak A. Hassan yang terdekat (selalu menjadi pendampingnya dalam berbagai kegiatan). Tahun 1957 beliau terjun ke arena politik, menjadi anggota Konstituante Republik Indonesia dari Fraksi Masyumi hingga dibubarkan oleh Presiden Soekarno. Tahun 1959 diangkat menjadi dosen UNISBA, sementara pada tahun 1967 menjadi dosen FKIT IKIP Bandung. Profesi pengajar dan pendidik adalah profesi yang paling cocok baginya, tidak kurang 40 tahun lamanya beliau membina dan memimpin Pesantren Persatuan Islam Bandung hingga akhir hayatnya. Ulama besar ini kini sudah tiada. Beliau wafat pada hari Kamis 21 April 1983, pukul 02.30 WIB dalam usia 73 tahun. Sekalipun sudah tiada di tengah-tengah kita, tetap karya dan dakwahnya masih tetap bergema melalui tulisan dan lisan para pengikutnya. Buku ini merupakan salah satu dari sekian banyak buah penanya.