SURAT AL FATIHAH (PEMBUKAAN)

Sebelum membaca ayat Al Qur’an disunnahkan untuk membaca Al Al Isti’azah (memohon perlindungan kepada Allah). Sebelum kita membaca Al Qur’an hendaklah kita berlindung kepada Allah dari syaithon yang terkutuk. “A’udzubillahi minas syaitoonirrajiim”

A’udzu artinya aku berlindung. Billah artinya kepada Allah

A’udzu bermakna berlindung yaitu memohon perlindungan kepada yang bisa melindungi. Billah maksudnya kita pergi kepada Allah memohon perlindungan, dimana Allah adalah yang bisa mampu memberikan perlindungan kepada kita. Dalam Bahasa Arab ada dua makna A’udzu.

  1. A’udzu bermakna as satru (menutupi)
  2. A’udzu bermakna melekat atau bersama.

Apabila di sebut A’udzu, artinya adalah aku berlindung, maknanya adalah pergi untuk ditutupi. atau makna yang kedua pergi untuk dilekatkan bersama (dengan yang akan melindungi kita).

Contoh. Umpamanya panas matahari terik, karena matahari panas terasa membakar dan kita berada di padang pasir yang tidak ada apa-apa kecuali ada pohon rindang, maka kemana kita akan pergi? tentunya ketika kita akan pergi berlindung ke pohon tersebut dan hanya pohon tersebut yang bisa melindungi kita, maka di sebut kita meminta perlindungan dengan pohon itu. Karena pohon itu bisa memberikan perlindungan dengan daunnya yang bisa melindungi kita dari panas matahari.

Kita menjadi incaran musuh kita, yaitu syaithon. Syaithon itu mampu melihat kita, sedangkan kita tidak mampu untuk melihatnya. Karena itu mustahil kita yang tidak mampu melihat syaithon mampu melindungi diri sendiri dari syaithon. sedangkan syaithon selalu bersemangat untuk menganggu kita. Apalagi ketika kita ingin bersama dengan Allah membaca firman-firmannya. Tentunya syaithon akan lebih hebat lagi menganggu kita. Karena itulah kita meminta perlindungan. Kepada siapa kita meminta perlindungan? Tentu saja kepada yang mampu melihat syaithon yaitu Allah. Karena kita tidak mampu melihat syaithon sedangkan syaithon mampu melihat kita. Dan hanya yang mampu melihat syaithon itulah yang mampu melindungi kita dari syaithon. Berselindung kepada Allah dari syaithon yang tidak mampu melihat Allah, tapi Allah mampu melihat syaithon. Sepatutnya kita memang meminta perlindungan kepada Allah yang mampu melihat perbuatan ataupun tindak tanduk syaithon, sedangkan syaithon itu tidak mampu melihat Allah. Dan hanya Allah lah yang mampu melindungi kita dari syaithon, karena manusia tak kan mampu melindungi kita dari syaithon.

Sebagian besar ulama mengatakan bahwa membaca Al Al Isti’azah sebelum membaca Al Qur’an adalah mustahabbah (dianjurkan/diperintahkan), sebagian yang lain mengatakan bahwa membaca Al Al Isti’azah sebelum membaca Al Qur’an adalah wajib, karena dikatakan dalam Al Qur’an, “apabila kamu membaca Al Qur’an, maka berlindunglah kepada Allah”. Berlindunglah merupakan kata kerja bentuk perintah, dan apabila kata kerja bentuk perintah, maka ia menjadi wajib.

Imam Ibnu Jarir mengatakan tentang ayat yang ditururunkan sebelum Al Alaq sebenarnya adalah Al Isti’azah . Imam ibnu katsir menukilkan dalam tafsirnya dan Imam ibnu katsir menyatakan lemah. Maka ini menguatkan betapa pentingnya mengucapkan Al Isti’azah ini.

Syaikh syahrowi mengatakan, meskipun Al Isti’azah tidak dituliskan dalam permulaan al qur’an, namun sebenarnya Al Isti’azah itu sudah ada. disebutkan di dua surat terakhir dalam Al Qur’an yaitu surat Al Falaq dan An Nas. Al Qur’an itu satu kesatuan, tidak ada pangkal dan ujungnya, seperti rantai kalung yang tiada ujungnya. Jadi Al Fatihah itu bukan yang pangkal dan An Nas bukanlah yang ujung. Karena ketika kita mulai membaca Al Fatihah , hingga An Nas kita akan membaca Al Fatihah , al baqoroh, dst hingga An Nas kembali begitu seterusnya. Dan kalaupun kita tidak membaca al Al Isti’azah , maka sebelumnya kita telah membaca Al Isti’azah tersebut di surat al falaq dan an nas.

Arti kedua dari a’udzu yaitu melekat. Contoh, melekatnya daging yang di dalam tubuh kita pada tulang. Daging itu lembut, sedangkan tulang keras. Kalau daging itu tidak melekat pada tulang, maka ia tak kan terlindungi. Ia akan mudah terkena bahaya. Maka kalau ia melekat pada tulang maka ia akan terlindungi. Maka, apabila hamba itu melekat dengan Allah, maka syaithon tidak akan mampu menganggunya. Karena itu, ketika kita membaca al Al Isti’azah , maka kita akan bersama dengan Allah dan syaithon akan menjauh dari kita. Ingat, syaithon itu telah bersumpah untuk menganggu kita. mungkin saja kita akan membaca al qur’an, namun baru sebaris syaithon membuat mata kita mengantuk saat membacanya. Bisa saja kita membaca berlembar2 ayat Allah, namun saat membacanya pikiran kita sibuk dengan hal lain, bukan dengan apa yang kita baca. Bisa saja kita tahu apa yang kita baca, namun ternyata syaithon pun memperdaya kita agar mencari apa yang ia kehendaki sesuai nafsu, bukan seperti yang Allah kehendaki. Karena itu berlindunglah kepada Allah dari syaithon.

A’udzu, maknanya adalah aku berlindung kepada Allah, bukan kepada yang lain. Di dalam Al Qur’an disebutkan ada manusia yang meminta perlindungan kepada selain Allah, yaitu kepada jin. “Maka bertambahlah kedurhakaan mereka itu” yang bermakna telah menyekutukan Allah. Dan di dalam Al Al Isti’azah ini ada tauhid, yaitu mengesakan Allah, memuliakan Allah dengan memperakui bahwa Allah lah yang maha kuasa dan dan di waktu yang sama kita menyatakan bahwa kita tidak berkuasa berhadapan dengan syaithon. Syaithon saja memperakui kekuasaan Allah, “dengan keperkasaan darimu ya Allah, akan kusesatkan semua manusia itu” syaithon menyesatkan kita bukan dengan kekuatan yang ada pada dirinya tapi juga meminta kepada Allah. Keperkasaan itu adalah milik Allah, dan tidak semua hamba bisa syaithon sesatkan karena syaithon pun mengakui bahwa “kecuali hamba Allah yang mukhlisin”, maka ia tak akan mampu memperdayanya

Min artinya Dari

As syaithon artinya syaithon. Syaithon biasa disebutkan kepada iblis. Berarti datuk iblis adalah syaithon. Seperti Adam adalah moyangnya manusia Dan syaithon ini juga dipakaian pada keturunan iblis, ataupun manusia yang perangainya sama dengan syaithon (QS.114). maka kalau kita meminta perlindungan kepada Allah dari gangguan syaithon, maka ia bermakna meminta perlindungan dari gangguan syaithona apakah dari keturunan iblis, ataupun manusia, ataupun hewan yang telah di kutuk Allah yang juga menganggu kita (menurut sebagian ulama). perkataan Syaithon berasal dari kata Satona, yang berarti jauh. Syaithon dinamakan jauh, karena ia jauh dari rahmat Allah. Kenapa jauh dari rahmat? Karena ia dilaknat oleh Allah. Saat Allah memerintahkannya untuk bersujud kepada Adam,ia menyombongkkan diri. Karena itu ia terlaknat.

Ar rajiim artinya yang terkutuk. Makna Rojam yaitu melempar. Sama dengan makna yang umum kita dengar kalau mendengar seseorang melakukan zina, maka hukum yang ditetapkan atasnya adalah hukum Rojam. Syaithon yang di lempar, maksudnya yang di lempar dari surga. Kemana di lempar? Ke dunia. Itu makna pertama. Makna lain dari lempar, yaitu di lempar dengan awan yang tebal. Karena syaithon itu awal wahyu akan turun, ia mencuri berita wahyu yang akan diturunkan. Sebelum wahyu diturunkan ke bumi, saat di langit pertama, ia pun mencuri berita untuk membuat ragu manusia dengan wahyu yang akan Rasulullah sampaikan. Namun Allah melempar syaithon dengan awan yang tebal. Karena itu terpeliharalah wahyu yang akan turun, dan Rasulullah yang akan menerima wahyu dan manusia yang akan menerima wahyu tsb.

Ada tiga kompenen dalam ayat ini. Kita adalah yang berlindung, Allah adalah yang kita tuju dalam perlindungan, syaithon adalah yang mencoba mencelakakan kita. Dan kita baru terselamat dari tipu daya syaithon kalau Allah menyelamatkan kita. Dan syaithon itu sudah menghendaki diri menjadi musuh bagi kita, dan Allah pun menghendaki agar kita menjadikan syaithon itu musuh bagi kita. Agar kemudian permusuhan kita dengan syaithon itu dapat kita menangkan dan syaithon menjadi pihak yang terkalah. Ingat tidak hanya kita yang di goda oleh syaithon, bahkan nabi yang mendapat pelindungan dari Allah pun mendapat gangguan dari syaithon. Tapi usaha syaithon tidak berhasil karena nabi mendapat perlindungan dari Allah. Dan kita pun akan mendapat perlindungan dari Allah kalau kita juga mengikuti jejak para nabi yaitu bersama dengan Allah.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s