*Sajak Sebatang Lisong **W.S. Rendra, tahun 1977

  • recited from tere liye posting in facebook

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka

Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.

Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.

Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun.

Dan di langit;
para tekhnokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun;
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samodra.

Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.

Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.

**sudah sedikit generasi hari ini yang masih mengingat Rendra. tapi itu tidak masalah, jaman sudah berubah, semoga penulis-penulis berikutnya, bisa terus mewarisi semangatnya. selalu bisa kritis dengan situasi apapun.

Iklan

Silahkan bantah!

1. Nilai jual hasil pulau buatan di pantai utara Jakarta itu paling sial adalah 20 juta/meter. Ini angka sekarang, 10 tahun lagi, saat pulau2 itu siap, boleh jadi sudah 40 juta/meter. Ada total 50.000 hektare, dari puluhan pulau buatan. Itu total 50.000 x 10.000 meter persegi = alias 500 juta meter persegi. Belum lagi besok jika bangunannya bertingkat, maka itu bisa lebih banyak lagi. Berapa nilai reklamasi ini? Kita hitung saja paling simpel, 20 juta x 500 juta meter persegi = 10.000 trilyun rupiah.
2. Kenapa developer ngotot banget reklamasi? Dul, karena biayanya murah. Untuk mereklamasi pantai jadi pulau itu hanya butuh 2-3 juta/meter. Bandingin beli tanah di Jakarta, bisa 10-15 juta/meter. Developer itu pintar banget, ngapai beli tanah? Mending bikin pulau saja.
3. Untuk 500 juta meter persegi reklamasi, berapa tanah yang dibutuhkan? Milyaran kubik, coy. Dari mana itu tanah2 didatangkan? Gunung2 dipotong, pasir2 dikeruk, diambil dari mana saja, yang penting ada itu tanah. Dulu, kita ngamuk minta ampun saat Singapore mereklamasi pantainya, ambil pasir dari Riau. Sekarang? Kenapa kita tidak ngamuk. Singapore sih masuk akal dia maksa reklamasi, lah tanahnya sedikit. Jakarta? Masih segede gaban lahan yang bisa dikembangkan, naik pesawat sana, lihat, luas banget area pulau Jawa ini. Bukan kayak Singapore.
4. Dengan harga tanah yang bisa 40 juta/meter, siapa yang akan membeli pulau buatan ini? Apakah nelayan yang kismin? Apakah anak2 betawi asli macam si doel? Apakah rakyat banyak? Tidak! Itu hanya akan dinikmati oleh kurang dari 1% orang2 super kaya di Indonesia. Situ cuma penghasilan 10 juta/bulan saja cuma mimpi bisa beli properti di pulau buatan ini, apalagi yang dibawah itu.
5. Dengan nilai total 10.000 trilyun, siapa yang paling menikmati uang2nya? Apakah UMKM? Apakah koperasi? Apakah pengusaha kecil? Bukan, melainkan raksasa pemain properti, yang kita tahu sekali siapa mereka ini. Yang bahkan nyuap milyaran rupiah mereka bisa lakukan demi melicinkan bisnisnya. Pemiliknya akan super tajir, sementara buruh, pekerjanya, begitu2 saja nasibnya.
6. Berapa jumlah ikan, burung, hewan2 yang terusir dari reklamasi ini? Hitung sendiri sana.
7. Berapa jumlah para jomblo2, eh, ini mulai ngelantur…
Saya tahu, senjata pamungkas pembela reklamasi itu adalah: besok lusa Jakarta akan tenggelam, kita perlu benteng pulau2 luar biar menahan air laut. Hehehe… dduuhh, kalau situ mau bangun benteng, ngapain harus pulau juga keleus? Belanda saja tidak selebay itu, padahal negara mereka dibawah permukaan laut. Cuma negara api saja yang suka lebay dengan argumen.
Baiklah, terserah kalian mau bagaimana, yang mau tetap belain reklamasi silahkan. Saya ini penulis, sudah tugas saya membagikan visi masa depan. 20 tahun dari sekarang, saat pulau2 buatan ini sudah megah begitu indah, pastikan anak cucu kita tidak hanya jadi tukang sapu, tukang pel kaca di hotel2nya, mall, pusat bisnis di sana. Saya tahu, di luar sana, banyak yang bersedia membela habis2an logika reklamasi ini. Tapi pastikan dek, kalian dapat apa? Catat: Kalian dapat berapa sih dari belain reklamasi? Hehehe… jangan sampai dek, kalian mengotot, memaki orag lain, demi membela reklamasi ini, 20 tahun lagi, saat pulau2 buatan itu jadi, kalian mau menginap di hotelnya semalam saja tidak kuat bayar.
Sudah pernah ke Marina Bay Sand Singapore, yang hasil nimbun laut juga? Semalam harga hotelnya bisa 5-6 juta rupiah. Situ berbusa belain reklamasi, 20 tahun lagi, cuman pengin numpang lewat saja ke pulaunya saja tidak mampu bayar ntar. Nginep semalam di sana, setara gaji 2 bulan kita? Sakittt. Sementara yang punya, sudah semakin super tajir, menyuap sana-sini, membantu dana kampanye ini itu, dll, demi melancarkan bisnisnya.
*Tere Liye
**coy, saya tahu data resmi dari pemerintah soal reklamasi itu adalah 5.100 hektare. lantas kenapa di sini ditulis 50.000 hektare? ayolah, coy, lu tahu persis di negeri ini. Ijin developer 1 hektare, besok2 jadi 10 hektare. Ijin bikin gedung cuma 2 lantai, besok2 jadi 16 lantai. Catat baik2, nih coy, sekali reklamasi ini sukses gemilang, laku, dsbgnya, hanya soal waktu, pulau2 lain nyusul bermunculan di sana. Kalian yang masih mau ribet dengan angka2, tetap tidak bisa membantah berapa massifnya uang proyek ini. Tulisan ini masih hitung 1 lantai coy, jika di sana di bangun apartemen, condotel, hotel, perkantoran 40 lantai? “Luas lahan”-nya bukan cuma 50.000 hektare lagi, kalikan saja dengan jumlah lantainya, secara real bisa ratusan ribu hektare.
**yang dukung reklamasi, silahkan saja, sah-sah saja. nggak usah kebakaran jenggot pula baca catatan simpel begini. karena kalian marah2 di sini, menikmati duitnya yg trilyunan pun tidak, kan?

*Sajak Tuan Tanah

Alkisah
Dulu Tuan Tanah dari jauh datang ke negeri kaya
Mereka petak-petak itu negeri seenak perutnya sendiri
Ini gunung buat saya, jadilah perkebunan teh
Itu lembah buat kamu, itu kawasan buat dia
Semua dibagi-bagi, kemudian mereka tertawa bahak
Saat kita tahu tipu-tipu mereka
Kita usir itu Tuan Tanah, terbirit pulang mereka
Tapi sial, saat mereka pergi, kita sendiri justeru melahirkan
Tuan Tanah-Tuan Tanah baru yang lebih ganas dan buas
Pulau-pulau dipotong dibagi2kan menjadi konsesi kebun sawit
Pengap berjuta anak negeri karena asap, siapa peduli?
Tanah-tanah dilubangi untuk konsesi tambang
Hancur lebur semuanya, bodo amat?
Tuan Tanah baru telah tiba, mereka mencekik siapa saja
Tidak cukup tanah
Mereka sekarang mengincar lautan
Dikavling2 itu lautan, kemudian ditimbun
Ini pulau buat kamu, ini pulau buat aku, ini pulau buat dia
Kemudian mereka tertawa bahak bersulang arak
Dulu kita mengusir Tuan Tanah ini
Tapi sekarang? Bagaimana mengusirnya?
Mereka dilindungi oleh penguasa dan undang-undang buatannya
Duduk mereka di atas menara2 tinggi
Sementara penjilat, menunduk2 penuh hormat
Rela menjadi martir, membela tutup mata
Inilah sajak Tuan Tanah
Lupa sudah siapa pemilik negeri kaya ini
250 juta penduduknya, atau hanya 0,1% kapitalis
Yang mereka bisa mengatur semuanya.
*Tere Liye

Apa kabar, Bung?

Ada sebuah rumah, dengan harga 4 milyar. Berapa banyak sih orang bisa membelinya? Berapa gaji kita sekarang? 10 juta per bulan? Tetap impossible membeli rumah tersebut. Mari saya hitungkan. Gaji 10 juta x 12 bulan = 120 juta/tahun. Butuh berapa tahun untuk dapat 4 milyar? 33 tahun. Baru terkumpul uangnya, itupun berarti kita tidak makan, minum, dsbgnya, karena seluruh gaji ditabung. Sialnya, persis di tahun ke-33, pas uangnya terkumpul, rumah itu harganya sudah 10 milyar!
Hanya orang2 kaya lah yang bisa membeli rumah ini. Orang2 yang punya uang banyak, dan jelas, mereka memang membutuhkan tempat tinggal yang “aman”. Kenapa komplek2 elit di kota2 kalian tertutup? Ada gerbang di depannya, dijaga penuh oleh satpam? Silahkan jawab sendiri. Tidak cukup dengan komplek2 elit, muncul ide brilian, kenapa kita tidak bikin pulau terpisah saja? Ewow, itu akan menarik sekali. Kelompok super elit akan terbentuk di sana. “Tinggal angkat jembatannya”, siapapun tidak bisa lagi masuk dengan mudah. 3 Milyar adalah harga paling murah rumah setapak di pulau reklamasi.
Sesederhana itu faktanya, Bung.
Maka, ijinkan saya bertanya, Bung yang selama ini berteriak soal keadilan sosial, kenapa Bung tidak tergerak hatinya berdiri di depan sana protes keberatan? Pulau2 buatan ini akan dikeduk, dibangun, dengan milyaran kubik pasir yang diambil dari milik rakyat. Lombok, Banyuwangi, Jawa, Sumatera, Sulawesi, milyaran kubik pasir akan diangkut kapal2 besar, menunggu apakah pemerintah setempat setuju atau tidak daerahnya jadi tambang pasir. Bung, bukankah Anda dulu marah besar saat Singapore mengangkut milyaran kubik pasir dari Riau? 25 kapal lebih bolak-balik membawa pasir, menimbun pulau2 reklamasi, yang sekarang di atasnya berdiri hotel2 super mewah, yang harganya tak terjangkau kalangan proletar. Atau definisi keadilan sosial milik Bung hanya abal2 saja? KW2?
Saya, tidak anti 100% reklamasi. Tidak. Dalam beberapa kasus, untuk pembangunan bandara, pembangunan pelabuhan, demi kepentingan umum, reklamasi itu masuk akal. Tapi untuk membangun mall, hotel, apartemen, kondotel, komplek super elit? Wah, itu membuat kesenjangan sosial semakin parah, Bung. Kita bahkan belum bicara soal dampak lingkungan. Omong kosong jika reklamasi itu tidak berdampak pada lingkungan. Itu sama dengan orang yang bilang: merokok baik untuk kesehatan. Sekecil apapun, reklamasi pantai membawa dampak pada ikan, burung, bahkan para jomblo–eh, lagi2 saya ngelantur.
Masalahnya sekarang, apakah kita bisa menahan soal reklamasi ini? Saya sudah menulis soal ini sejak puluhan tahun lalu, silahkan keduk friendster, blog2 yang telah mati. Dulu, saya pesimis, bagaimana kita akan menahan Tuan Tanah dari bangsa sendiri? Bagaimana mungkin kita bisa mencegah godaan uang ratusan milyar? Itu susah. Produk pulau super elit ini jelas punya pembeli, uangnya ada, ada demand-nya, maka susah menolaknya. Dalam kasus tertentu saya bahkan pernah berpikir, baiklah, silahkan saja reklamasi, tapi seluruh pulaunya milik rakyat/pemerintah. Yang mau beli di sana cuma nyewa. Itu ide bagus juga.
Tapi hari ini, setelah saya pikir2 kembali, saya kembali optimis. Kita bisa menghentikan reklamasi ini! Bisa. Sepanjang ada kemauan dari penguasa. Sekali kita punya pemimpin yang berani, yang mau memihak pada rakyat banyak, kita bisa membuat aturan main monumental, menghentikan total reklamasi. Ini jaman sudah berubah, ketika sebuah isu bisa dibicarakan dengan cepat, tambahkan kasus tertangkapnya bos developer oleh KPK, wah, itu seharusnya membuka mata semua orang, betapa “jeleknya” permainan pulau2 indah ini.
Bung, tanah Indonesia itu luasnya masih segaban-gaban. Jakarta misalnya, kata siapa lahannya sudah sempit? Kita bukan Singapore, bukan Hong Kong. Negeri ini diberkahi lahan yang luas. Suruh itu developer mengembangkannya. Gelontorkan uang ribuan trilyun itu di darat, lah. Berhentilah bangun itu pulau2. Ini jadinya anti thesis loh, Bung, Presiden sudah suruh itu blok Masela di darat, bukan di laut sana, kenapa sekarang di Jakarta hobinya bangun perumahan justeru jauh2 dari darat? Demi kemakmuran bersama, ayo tarik ke daratan Jakarta pembangunannya.
Itu akan jauh lebih baik. Minimal, jika di darat sini, biar kelompok super elit ini bisa bergaul dikit dengan rakyat banyak. Mereka tidak perlu jauh2 bikin pulau sendiri. Tenang saja, wahai kelompok super elit, dengan komunikasi yang baik, saling menghargai, kaum proletar itu adalah tetangga yang oke punya.
*Tere Liye

Berisik

awak soto lo maheboh bg, buliah tambah rami

Di tengah berisiknya semua pimpinan KPK yang akan dijadika tersangka oleh Bareskrim, “Yang Terhormat Presiden Republik Indonesia Bapak Jokowi” (saya tulis sesuai surat edaran Mendagri; biar tidak keliru, nanti kena sanksi), ternyata pergi ke Malaysia dengan salah-satu agendanya adalah penanda-tanganan MOU soal mobil nasional, bekerjasama dengan Proton Malaysia.

Kerjasama tersebut ditandatangani oleh Chief Executive Officer Proton Holdings Bhd Datuk Abdul Harith Abdullah dan CEO Adiperkasa Citra Lestari AM Hendropriyono di Proton Centre of Exellence, Jumat kemarin. Turut menyaksikan acara itu di antaranya Perdana Menteri Datuk Seri Najib Tun Razak, Pemimpin Proton Tun Dr Mahathir Mohamad, serta Yang Mulia Bapak Presiden Joko Widodo

Saya setuju betul soal mobil nasional ini. Karena sudah terlalu lama, jutaan mobil berkeliaran di jalan raya, yang kaya bukan kita, melainkan negara produsennya seperti Jepang, Korea, sementara negara kita habis2an hanya ketimpa getah memberikan subsidi BBM. Tapi di tengah setuju itu, dukungan tersebut, situasi ini benar2 menjadi anti klimaks, seperti orang nonton bola, lagi seru-serunya 3-3, tiba2 lampu stadion mati. Jadi lesu, malas.

Terkait hal itu, maka ijinkan saya menambahkan berisik, biar tambah berisik, ada tiga pertanyaan besar:

1. Kenapa harus perusahaan milik Hendropriyono

Kenapa? Apakah tidak ada lagi pengusaha lain yang lebih baik? Why wahai “Yang Terhormat Presiden Republik Indonesia Bapak Jokowi”? Whyyy? Bukankah banyak perusahaan milik anak muda yang bebas kepentingan, bukan kroni, kolega, kerabat, orang dekat. Sensitif sedikitlah soal ini.

2. Kenapa harus dengan Proton Malaysia

Saya sih tidak sentimen dengan Malaysia-nya. Saya punya teman di sana, pembaca2 saya juga banyak di sana. Saya pastikan, siapapun yang menghina Malaysia di page ini, pasti ditendang. Pertanyaan ini simpel tentang: teknologi terdepan mobil itu terus terang tidak di Malaysia. Hingga hari ini saja, Proton itu masih belum full memproduksi sendiri (mesin terutama), masa’ kita harus merujuk ke sana? Whyyy? Konsesi apa yang kita terima? Keuntungan apa yang kita dapat?

3. Lantas, bagaimana dengan ESEMKA?

Media masih mencatat dengan baik semua kalimat2 Anda dulu, wahai “Yang Terhormat Presiden Republik Indonesia Bapak Jokowi”, silakan buka internet, google, lantas setelah Anda sudah menjadi orang nomor satu di negeri ini, kenapa malah lain sekali jadinya? Atau jangan2 kami saja yang GR, salah simpul.

Entahlah. Tiga pertanyaan ini saya susah mencari jawabnya. Bahkan sekarang, saya lagi mikir: jangan2 sayalah yang terlalu berisik. Seperti anak nakal di kelas, yg kerjanya berisiiikkk terus. Mengganggu pelajaran, mengganggu kesenangan seluruh kelas. Maafkan saya jika demikian. Baiklah, mungkin saya harus dihukum berdiri di pojok kelas, kaki diangkat satu, tangan hormat ke tiang bendera. Silakan lanjutan semua pesta pora kalian.

Yuliza Zha Inka Amelia Sempat baca bang, katanya Perusahaan itu konon tidak ada, alamat yg diberikan itu adalah kantor notaris, bukan perusahaan yang dimaksud.

Like dah

Sangat ‘epic’ ketika ada pejabat yang ‘ceramah’: “Apa yang kalian berikan untuk negara? Lantas apa yang telah negara berikan kepada kalian?”

Modifikasi quote dari John F Kennedy ini, please, jangan jadi retoris belaka. Jangan cuma buat bersilat lidah.

Karena eh karena: “Kami sih tidak tahu apa yang telah kami berikan ke negara, Pak, Ibu. Tapi kami tahu persis, apa yang telah negara berikan ke Bapak2 sekalian. Gaji untuk bapak, tunjangan, fasilitas, kekuasaan, pakaian, kendaraan, rumah, uang sekolah anak-anak Bapak, kemudahan2. Nah, dengan semua itu, lantas apa sih yang Pak pejabat berikan kepada negara?

Kami sih memang tidak bisa ngasih apapun buat negara ini, Pak Pejabat. Nyadar dirilah, apa sih kami ini, rakyat kecil, bodoh pula. Tapi minimal, kami tidak hidup digaji oleh negara, untuk kemudian banyak ngeluh, marah2, bahkan korup pula.”

*Tere Liye, murid berisik di kelas

Jokowi bilang: Ini bukan proyek mobil nasional.
Hendropriyono bilang: Ini bukan proyek mobil nasional.

Lantas saya jadi bingung, kenapa itu di foto spanduk background tertulis besar-besar: Indonesia National Car.

Nasib jadi rakyat kecil, nggak paham bahasa inggris, nggak paham istilah akademik, pun dibilang demagog pula.

*Tere Liye, murid berisik di kelas

**foto diambil dengan penuh respek dari Detik.com

Jokowi bilang: Ini bukan proyek mobil nasional.
Hendropriyono bilang: Ini bukan proyek mobil nasional.

Lantas saya jadi bingung, kenapa itu di foto spanduk background tertulis besar-besar: Indonesia National Car. 

Nasib jadi rakyat kecil, nggak paham bahasa inggris, nggak paham istilah akademik, pun dibilang demagog pula. 

*Tere Liye, murid berisik di kelas

**foto diambil dengan penuh respek dari Detik.com

*Polisi? Hehehe….

Ada tetangga kalian, lapor penipuan umroh, uangnya puluhan juta raib dibawa travel abal-abal, bertahun-tahun, polisi malas menindaklanjuti. Ada tetangga kalian, lapor penipuan jual beli tanah, sertifikat palsu, bertahun-tahun lapor polisi, jalan ditempat, tidak ada tindaklanjutnya. Ribuan hal serupa terjadi di polsek, polres, polda. Kasus-kasus laporan yang mangkrak. Kita tahu sama tahu situasinya. Lah, bahkan minta surat keterangan hilang saja dimintain uang, sudah hilang dompet, masih diminta uang?

Tapi sebaliknya, lihatlah, ironisnya, penanganan kasus pimpinan KPK? Wuih, cepat sekali, ada yang melapor, hanya butuh hitungan jam malah, sudah bergerak bisa diselidiki, hingga hitungan hari kemudian, sudah ditangkap tersangkanya.

Tanyakan ke anak SD, apa tugas polisi di jalan raya, Nak? Maka saya tidak terkejut jika jawabannya: “Minta uang.” Suram sekali citra kepolisian di negeri ini. Lantas yg salah siapa? Anak SD ini? Yang menjawab polos?

Saya percaya, masih ada polisi2 yang jujur. Saya punya teman polisi, intel malah, orangnya jujur dan lurus, jangan coba-coba menyuapnya, dia akan marah semarah2nya. Dulu, kalau hang out bareng, tampilannya persis seperti anak muda lain, tidak terlihat dia intel polisi. Dan ribuan polisi2 jujur lainnya. Masih ada. Tapi mereka terbenam dalam organisasi suram tersebut. Tidak bisa bicara bebas, tidak bisa bergerak bebas.

Maka, wahai pemimpin negeri ini, yang ditangannya diletakkan mandat berkuasa, mari serius berbenah. Belajarlah dari negara lain. Georgia misalnya, berserakan tulisan tentang keberhasilan negara ini me-reformasi polisinya. Ketika presidennya berani memecat 30.000 polisi (total polisi di sana 40rb, jadi 75% dipecat). Mereka merekrut ulang anak2 muda yang jujur, gaji polisi dinaikkan berkali2, berkali2. Hari ini, masyarakat kehilangan kucing pun lapor polisi, karena mereka nyaman sekali. Silakan baca, ada banyak liputan, studi, tentang reformasi polisi negara Georgia ini.

Di Georgia, 3 bulan nyaris tanpa polisi. Awalnya, polisi mereka hanya mikir Presiden bluffing (omong besar), tapi ketika 30ribu benar2 dipecat, mau apa? Apakah 3 bulan itu negara mereka jadi chaos? Tidak sama sekali. Tentara bisa diturunkan. Kemudian mereka merekrut orang2 baru, dan 3 bulan selesai, semua kembali normal. Kemana 30ribu polisi lamanya? Entahlah. Mungkin pengangguran sekarang.

Juga silakan buka kasus di negara2 lain, sering nonton film kan? Kasus narkoba di Amerika misalnya, NYPD, LAPD, mereka berani memecat banyak polisi jika ketahuan terlibat narkoba. Jadikan tontonan itu sebagai teladan, bukan cuma hiburan sekilas.

Bagaimana membenahi polisi? Jika tidak berani memecat 75% anggotanya, maka jalan terbaik adalah dengan mulai meletakkan pimpinan atas2nya polisi yang jujur. Mak, masih banyak sekali bintang 1 atau 2 yg jujur, mereka bahkan bisa dijadikan bintang 4 dalam semalam kalau Presiden mau. Itu hak penuh Presiden. Bukan malah mengotooooot menjadikan tersangka transaksi haram 58 milyar. Apalagi malah meletakkan orang yang semangat sekali menghabisi KPK, untuk kemudian berlindung dibalik argumen: proses hukum. Hukum itu akal sehat, jika orang banyak saja tidak paham lagi arahnya, bagaimana dia akan bisa didefinisikan hukum? Rakyat kebanyakan itu tidak bego-bego banget.

Lakukanlah, agar besok lusa, orang-orang akan mengenang kalian sebagai pemimpin yang berani.

*Tere Liye