“IAIN IMAM BONJOL, Nasibmu….”

Saya mendengar IAIN akan memilih rektor baru.
Terbersit harapan dalam hati agar institusi ini kembali kepada peran utamanya sebagaimana yang pernah saya dengar yaitu “Perguruan Tinggi Pencetak Ulama” bukan hanya “Penambah Jumlah Sarjana”.
Baru-baru ini, ada yang mengusung jargon tua dan muda bahkan sampai berani melabel dengan “Pemimpin Multi…..”.
Seperti baru turun dari langit saja jagoan ini. Ngeri-ngeri sedap juga mendengarkan puja puji yang entah sesuai ukuran badan entah tidak. Mudah-mudahan para ‘allamah (entah patut entah tidak istilah ini dipakaikan) di IAIN IB tidak lupa dengan firman Allah swt:
{لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوا وَّيُحِبُّونَ أَن يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُم بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ} [آل عمران : 188]
“Janganlah sekali-kali kamu menyangka, orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang belum mereka kerjakan ! Janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa bahkan untuk mereka siksa yang pedih”. (QS. Ali ‘Imran 3:188)

Anehnya, kritikan tajam kepada mantan Rektor bertubi-tubi tapi yang mengkritik bahkan ikuik manyoroangkan dan berebut jabatan bahkan menikmati semasa Rektor tersebut. Tersua juga rupanya pituah orang kampuang saya, “karambie kalau lah rabah, jo koncek koncek pandai mamanjek”.

Apakah obat persoalan IAIN adalah tua muda ? Apakah para jagoan yang “bak turun dari langit” itu. Kalau saya boleh menjawab, saya tidak ragu menjawabnya dengan kalimat “tidak”.

IAIN IB ini telah lama dicabik-cabik oleh persaingan kelompok yang membuat para ilmuan di dalam seperti tidak berilmu. Organisasi ekstra, monopoli jabatan berdasarkan pertimbangan almamater dan kelompok telah menjadikan setiap pemilihan rektor lebih galau dibandingkan pilkada. Sangat menyedihkan bila direnungkan suasana itu hadir di tengah institusi yang menghimpun para ulama. Tentu mereka tak akan lupa ayat-ayat dan hadits-hadits yang terkait dengan jabatan dan dunia ini. Bagaimana akan lupa ?! Jadi materi khutbah setiap jum’at untuk umat (mungkin bukan untuk khathib.. he he) !!!

Ilmu-ilmu dasar keulamaan semakin menipis dan anehnya pemikiran sekuler, pluralis dan liberalis semakin terasa kehadirannnya. Akhlaq keulamaan jauh dari jangkauan, berganti dengan balutan palsu cendikiawan yang tak jelas apakah ini bagi umat, kawan atau lawan ???

Orang-orang yang menentang derasnya pengaruh pemikiran merusak, akan segera dapat gelar tanpa wisuda. Gelarnya adalah “mainstream”, “fiqh oriented”, “fundamentalis”, “tradisional” dan lainnya. Gelaran yang baru muncul dari batu di tengah umat hasil produksi para cendikiawan.

Terkadang rasa tak percaya menyaksikan berbagai kemunafikan di tengah institusi yang sudah begitu lama berdiri. Kebathilan selama ini menjadi tontonan saja. Masing-masing mencari jalan selamat kecuali segelintir yang bisa dihitung dengan jari. Setelah sang penguasa tumbang, “rame-rame” mencari “kobokan” kotor untuk cuci tangan.

Pernah ada yang bertanya, apakah tidak kasihan melihat IAIN IB seperti sekarang ? Sudah letih badan karena kasihan namun IAIN IB “jatuah dek panjeknyo surang”.

Kalau memang tulus untuak membangkitkan kembali IAIN IB, tak perlu menggunakan jargon tua dan muda. Orang tua seperti Pak Amir Syarifuddin, perlu untuk ditanya dan diminta pendapat beliau. Belajarlah dari “Sirah Nabawiyyah” yang memperlihatkan perpaduan potensi tua dan muda.

Tempatkanlah orang-orang yang kafaah (oh ya bahasa kampusnya capable ya ?) tapi jangan jadikan gelar ukuran utama. Akhlak dan prinsip keulamaan yang harus di depan. Lupakanlah perseteruan M dan T, I dan H karena institusi ini milik umat bukan milik kelompok !
Jangan lupakan niat awal para pendiri karena itu amanah yang harus dipertanggung jawabkan di hadapan Allah swt !
Dan hindarilah para petualang jabatan yang memakai prinsip “dima tanduek ka makan”.

Salam maaf dari saya “mantan Dosen IAIN IB”

Tafsir Ayat ke-2 dari Surat Al Baqoroh

Disampaikan oleh Buya Guzrizal Gazahar. hanya resume, kalau ingin lebih jelas, silahkan dengar langsung rekaman ceramahnya

Dzaalikalkitaabu laa raibafiyhi. “Kitab itu tidak ada keraguan padanya”

Dzaalika yang berarti itu merupakan isim isyaroh lil ba’id. Kata penunjuk untuk jauh. Mengapa di pakai “itu” bukan “ini”? padahal Al Qur’an itu dekat dengan kita, jadi bukankah lebih tepat memakai kata haddza buka dzaalika. Sebagain kecil Mufassirin mengatakan “pemakaian itu memang tepat, karena sesungguhnya Al Qur’an yang di maksud adalah Al Qur’an yang berada di Lauh Mahfuz, bukan Al Qur’an yang ada di hadapan kita.

Namun, sebagain besar Mufassirin mengatakan, “ pemakaian Dzaalika adalah bentuk pengangungan. Karena dzaalika selain berarti menunjukkan objek yang jauh, tapi juga digunakan untuk mengangungkan. Karena Al Qur’an itu tidak terjangkau oleh Raiba (keraguan atau syak). Jadi Al Qur’an itu bukan jauh dari kita, tapi Al Qur’an jauh dari keraguan, jauh dari persangkaan yang bisa timbul. Sehingga bisa di ambil hukum yang ada didalamnya untuk kita amalkan

  1. Al Qur’an itu perlu dihormati, karena Allah telah mengangungkan kalimatnya dengan menggunakan kalimat lit ta’zhiim untuk pengangungan. Jadi tidak tepat ketika meletakkan Al Qur’an sejajar dengan kaki, atau mencoretnya, atau menempeli dengan foto, dan berbagai kebiasaan lain yang itu semua bukanlah bentuk pengagungan terhadap Al Qur’an Allah sebagai pencipta telah mengagungan Al Qur’an, maka kita sebagai hamba sepatutnya lebih lagi dalam mengagungkannya. Seperti bersuci, menutup aurat, membacanya dengan tenang, itu semua di antara bentuk adab kita dengan Al Qur’an
  2. Membacanya harus dengan keyakinan bahwa ini adalah wahyu dari Allah, bukan syair dari penyair. Kalau tidak meyakininya, maka perumpamaannya sama dengan keledai yang membawa kitab. Semua yang ada dalam Al Qur’an adalah benar adanya, tidak ada keraguan sedikit pun didalamnya.

Laa roiba fiyhi artinya tidak ada keraguan didalamnya

Tingkatan orang dalam meyakini sesuatu ada beberapa tingkat

  1. Yakin, yaitu orang yang bisa mengalahkan segala keraguan terhadap segala sesuatu yang ia ketahui. Lawan dari yakin yaitu Syak, yaitu orang yang mempercayai sesuatu dalam kondisi seimbang atau taraddud (ragu atau roib). Di atas Ragu itu ada zhon, yaitu tingkat Keyakinan sudah lebih kuat tapi masih ragu, itulah yang menjadi zhon (persangkaan). Kalau keraguan sudah hilang inilah yang di sebut yakin.
  2. Karena itu yakinilah bahwa kitab yang Allah turunkan itu bisa menjadi huda (petunjuk). Tidak ada satupun keraguan yang bisa timbul didalamnya.

Laa kemudian diikuti dengan isim, dan di baca dengan mansub, dikenal dengan susunan dari laa dan isim laa, maka dikenal dengan laa nafiya lil jinsi, makaberarti menafikan segala sesuatu. Laa roiba berarti tidak ada sedikitpun keraguan.

Fiyhi di dalam kitab. Maka tidak ada keraguan sedikitpun didalam kitab ini.

Keraguan tentang apa?

keraguan bahwa turunnya dari Allah. Kitab ini berasal dari Allah, bukan karangan manusia. Tidak ada keraguan didalamnya bahwa kitab ini bukan buatan makhluk. Karena makhluk tidak akan pernah mampu mendatangkan seperti yang dengan yang ada di kitab ini. Kenapa Al Qur’an membuktikan bahwa ia adalah wahyu Allah? Karena dari cakupan maknanya sangat dalam. semakin lama ilmu manusia membuktikan keagungan Al Qur’an. Dahulu orang mengkritik banyak yang disampaikan dalam Al Qur’an adalah hal mustahil, namun pada zaman sekarang ditemukan pembuktian bahwa yang Allah sampaikan adalah benar. Bahkan masih banyak ilmu yang ada di dalam Al Qur’an yang masih belum diketahui manusia.

Dahulu orang mengkritik peristiwa Isra’ Mi’raj adalah mustahil, namun sekarang jarak jauh bisa ditempuh dalam waktu singkat. Ini hanya salah satu hal mustahil bagi orang dulu yang menolaknya namun sekarang bisa dibuktikan. Belum lagi kisah kejadian manusia, peristiwa kemenangan bangsa Romawi atas Persia yang bisa disaksikan langsung oleh para sahabat, ayat hukum yang sampai sekarang menjadi landasan hukum yang paling ampuh dalam menegakkan keadilan, dan berbagai kisah lainnya yang sekarang menjadi kajian para ahli sejarah.

SURAT AL BAQOROH (SAPI BETINA)

Pembukaan yang disampaikan oleh Buya Gusrizal Gazahar

Surat ini terletak pada urutan kedua dalam urutan surat2 al qur’anul kariim. Merupakan salah satu surat yang popular. Diantara surat2nya ada yang turun di Makkah dan ada juga yang turun di Madinah. Dinamakan surat Al Baqoroh, karena didalamnya terdapat kisah tentang sapi betina. Kasus ini terjadi ketika terjadi pembunuhan pada masa Nabi Musa ‘Alaihis Salam. Bani Israil menyembunyikan kasus itu dan mereka bertanya pada Musa bukun untuk ingin mengetahui, melainkan hanya sekedar menguji nabi mereka, sedangkan orang yang berbuat tidak mau mengakui kesalahannya. Mereka datang kepada Musa, dan nabi Musa menyampaikan perintah Allah untuk menyembelih sapi betina sebagai petunjuk. Tapi watak mereka bukanlah orang yang patuh pada rasul Allah, medorong mereka untuk berkilah dan mengelak pada nabi mereka. Dengan cara bertanya dan bertanya, dan akhirnya mereka menginginkan agar terlepas dari tuntutan itu. Bukan bertanya untuk tahu melainkan bertanya agar lepas dari apa yang di suruh. Di saat Allah memerintahkan mereka untuk menyembelih sapi betina, mereka malah menjawabnya dengan “apakah nabi Musa menjadikan mereka sebagai cemoohan”. Nabi Musa pun menjawab bahwa ia bukanlah orang yang bodoh. Dan mereka tentang sapi yang berapa umurnya, warnanya dan jenisnya. selalu bertanya dan bertanya yang akhirnya menyusahkan mereka sendiri dalam mencarinya.

Mengapa dinamakan surat Al Baqoroh (Sapi Betina)? padahal ada banyak kisah lain dalam surat ini. Dia antara jawabannya selain karena tauqif (begitulah yang dinamakan pada rasulullah), peristiwa penyembelihan sapi betina ini merupakan peristiwa penting. Karena ada orang yang mendengar tapi tidak mau patuh. Mereka mendengar tapi mereka melanggar. Tatkala nabi Musa datang membawa penjelasan, mereka malah menjadikan sapi sebagai sesembahan. dan kedalam hati mereka itu telah menyelusup keingkaran dan penyucian terhadap makhluk, yaitu anak sapi. Sehingga mereka menjauh dari petunjuk Allah, dan Cuma berbasa-basi dengan rasul. Mendengar tapi melanggar.

Surat ini terletak di awal, ia sekaligus sebagai pelajaran bagi umat agar ketika mempelajari Al Qur’an kita pun tau agar tidak mengikuti sikap bani israil ini; membaca, mendengar tapi tidak mau patuh. Orang Bani Israil saja mendengar tapi tidak mau taat Allah kecam, apalagi kalau ada orang yang tidak mau mendengar apatah lagi akan taat. Dan kondisi ini banyak kita temukan zaman sekarang.

AYAT 1.

Karena yang di Tafaqquh Streaming rekamannya rusak, jadi memakai yang disampaikan oleh buya Gusrizal Gazahar.

Alif laam Miim

Beberapa surat dalam Al Qur’an juga di mulai dengan huruf-huruf seperti ini. Di dalam ‘ulumul qur’an, dinamakan juga dengan huruf muqoto’ah (huruf terputus-putus), karena membacanya satu per satu seperti pelafalannya saat kita membaca huruf2 hijaiyah dan tidak di beri baris sehingga membacanya tidak boleh di sambung . Jumhur mufassirin memaknainya dengan “Allah yang lebih tahu dengan maksud”. Tapi sebagian ulama ada yang mencoba menelisik huruf-huruf ini. Tapi sebagian ulama menolak analisa2 ini, karena tidak ada dalam tuntunan syariat. Namun dari tujuannya bisa untuk littanbih, yaitu menarik perhatian agar focus pada Al Qur’an. Dan membaca huruf2 itu memberi nuansa yang berbeda saat membacanya. Karena itu sepakat para ulama untuk memasukkannya ke dalam ayat mutasyabihat, yaitu ayat yang tidak diketahui maksudnya melainkan dengan perhatian, pendalaman dan ilmu yang cukup. Beda dengan ayat muhkamat yang tidak ada pertentangan didalamnya karena dimaklumi maksud dari ayat tsb. Ayat Al Qur’an berdasarkan kejelasan dan ketidakjelasan maknanya dibedakan menjadi ayat muhkamat dan mutasyabihat. Contoh ayat mutasyabihat yang lain yaitu kalimat “tangan Allah”, “Allah bersemayam”. Bagaimana bentuk tangan Allah dan cara Allah bersemayam, maka kita tidak memiliki ilmu untuk menakwilkannya. Allahu a’lam.

Tulisan Buya Gusrizal Gazahar

Peristiwa yang berulang untuk ke sekian kalinya. Hanya dengan mendengar belum lagi mengkaji, orang merasa sudah begitu patut menilai ini yang kuat dan ini yang lemah. Ketika ditanya apa ukuran untuk menimbang kuat dan lemahnya suatu ijtihad atau ushul al-fiqh apa yang digunakan, bukannya pertanyaan yang dijawab tapi malah situs internet yang ditunjukkan.
Masya Allah !!! Apakah sudah seremeh inikah ilmu agama di mata umat ?!! Dengan membaca situs internet begitu seseorang sudah menjadi seorang ‘alim yang bisa menentukan pendapat yang kuat dan yang lemah ??? Kalau begitu adanya, tak perlu lagi pesantren, tak perlu lagi belajar bahasa Arab, ushul a-tafsir, ushul al-hadits, ushul al-fiqh dan aqidah tauhid serta tak perlu lagi jauh-jauh ke Mesir dan Saudi untuk menuntut ilmu karena internet sudah cukup menjadi guru. Ketahuilah , belum tentu semua yang didengar dan dibaca itu bisa dijadikan ilmu. Ilmu itu didapat dengan kesungguhan dan pengorbanan, begitu nasehat yang disampaiakn oleh al-Imam al-Syafi’i :
اصبر على مرّ الجفا من معلّم…فإنّ رسوب العلم في نفراته
و من لم يذق مرّ التعلّم ساعة…تجرّع ذلّ الجهل طول حياته
و من فاته التعليم وقت شبابه…فكبّر عليه أربعا لوفاته
ذات الفتى و الله بالعلم و التقى…و إذا لم يكونا لا اعتبار لذاته
Bersabarlah atas pahitnya sikap kurang mengenakkan dari guru
Karena sesungguhnya endapan ilmu adalah dengan menyertainya
Siapa yang belum merasakan pahitnya belajar meski sesaat
Maka akan menanggung hinanya kebodohan sepanjang hidupnya
Barangsiapa yang tidak belajar di waktu mudanya
Bertakbirlah 4x atas kematiannya
Eksistensi seorang pemuda –demi Allah- adalah dengan ilmu dan ketaqwaan
Jika keduanya tidak ada padanya, maka tidak ada jati diri padanya”.

Kalau hanya sekedar mendengar belum lagi mengkaji, bersabarlah untuk menahan diri bersikap seoerti orang yang begitu mendalam dan mampu menimbang dalil. Ingatlah pesan Nabi saw:
عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“dari Hafsh bin Ashim, dia berkata, Rasulullah saw bersabda: Cukuplah seseorang (dianggap) berbohong apabila dia menceritakan semua yang dia dengarkan” (HR. Muslim)

Jika Rasul saw mengingatkan para shahabat dalam hal ini, padahal mereka adalah pembawa sunnah, nah… coba renungkan tentang diri kita yang baru mendengar tanpa ilmu alat yang cukup.
Para ulama menasehati kita dengan nasehat berharga:
لأن ليس كل ما تسمع صحيحاً ، فكيف تنطلق بين الناس تحدث بكل شيء تسمع؟ بل و كيف تبدي آراءً و تحلل أزمات بناءً على ما سمعت لا ما بحثت و استقصيت و دريت؟
“Karena sesungguhnya tidak semua yang engkau dengar itu benar. Maka bagaimana engkau akan berkecimpung di tengah manusia menceritakan setiap apa yang pernah engkau dengar ?! Bahkan bagaimana engkau akan mengurai berbagai kasus berdasarkan apa yang engkau dengar, bukan berdasarkan apa yang yang telah engkau bahas, engkau dalami dan engkau kaji ?!!!”.

Karena itu wahai kaum muslimin, beradablah kepada orang-orang yang belajar agama apalagi kepada para ulama karena perjalanan mereka adalah jihad, keberadaan mereka dalam naungan malaikat bahkan ikan di air pun ikut memintakan ampun buat mereka sebagaimana yang dikatakan Rasulullah saw:
عن أبى دردائ قال سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَبْتَغِي فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضَاءً لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْمَاءِ وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ.
“Abu Darda’ berkata, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Siapa yang menempuh jalan mencari ilmu, akan dimudahkan Allah jalan untuknya ke sorga. Seungguhnya Malaikat menghamparkan sayapnya karena senang kepada pencari ilmu. Sesungguhnya pencari ilmu dimintakan ampun oleh yang ada di langit dan bumi, bahkan ikan yang ada dalam air. Keutamaan orang berilmu dari orang yang beribadah adalah bagaikan kelebihan bulan malam purnama dari semua bintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris Nabi. Nabi tidak mewariskan emas dan perak, tetapi ilmu. Siapa yang mencari ilmu hendaklah ia cari sebanyak-banyaknya”. (HR. al-Tirmidziy dan Abu Daud)

Hormatilah mereka (para ulama) karena ilmu dan amal yang mereka bawa ! Hormatilah dengan sikap ketaatan dalam ketaatan kepada Allah swt dan Rasul saw. Jangan hargai mereka dengan sebatas amplop yang diberikan !!!

“Kami Harus Bicara, Investasi Itu adalah Selubung Pemurtadan”

Oleh: Buya Gusrizal Gazahar

Jangan lanjutkan investasi rumah sakit kristen siloam, sekolah kristen pelita harapan dan apapun proyek superblock lippo group !!!!!!!!!!

Ini sekelumit alasan kami !
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله و على آله و أصحابه و من والاه

Semangat mencari investor yang didorong oleh mushibah gempa 30 Sept merupakan sesuatu yang sangat beralasan karena kebutuhan daerah. Hanya saja jangan pernah dilupakan bahwa di saat umat ini bersimbah darah memikul mushibah, ketika air mata belum lagi kering di pipi, kita umat Islam ditusuk dari belakang dengan penyebaran missionaris kristen di berbagai daerah terutama di Pariaman. Bukan hanya bible yang mereka bagikan tapi juga komik-komik berisi ajakan untuk masuk agama mereka juga mereka bagikan kepada anak-anak kita. Karena itulah MUI Sumbar pada waktu itu mengeluarkan petunjuk dengan menyususn buku kecil agar mushibah kehancuran fisik jangan sampai menjadi mushibah yang lebih besar yaitu mushibah kehancuran aqidah.
Bukan hanya itu ! Bantuan berbendera Israel pun masuk. MUI Sumbar bergerak ke Rumah Sakit Pariaman dan setelah musyawarah dengan ulama di Pariaman, kami menolak. Alhamdulillah ! Keputusan MUI itu, tidak membuat terkendalanya pelayanan karena ditahannya obat-obatan itu oleh RSUD Pariaman.

Dari berbagai pengalaman pahit seperti itu lah MUI mengambil sikap dan menghimbau umat serta para pemimpin di Ranah Minang ini agar investasi apapun yang akan diterima dinegeri ini jangan sampai menggoyahkan sendi-sendi keimanan serta nilai-nilai mulia ABS-SBK-SMAM (Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah, Syarak Mangato Adat Mamakai).

Bisa jadi ada yang berkata dengan kecemasan serta ketakutan akan menjadi miskin, “bagaimana investasi akan masuk, bagaimana negeri akan dibangun bila dibatas-batasi begitu !”.
Padahal bisa jadi, ketakutan itu adalah akibat dari bisikan syaithan sebagaimana dalam firman Allah swt:
﴿٢٦٨﴾ ٱلشَّيْطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِٱلْفَحْشَآءِ ۖ وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ
“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan dariNya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui”. (QS. al-Baqarah 2:268)

Ulama tentu menjawab dengan petunjuk syari’at sebelum berbicara tentang usaha, tekhnis dan mekanisme.
Kita patut bercermin dengan ketakutan penduduk Makkah ketika kaum musyrikin tidak diizinkan lagi untuk masuk ke tanah haram. Ketakutan itu dijawab oleh Allah swt dengan firmanNYA:

﴿٢٨﴾… ۚ وَإِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦٓ إِن شَآءَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
“Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah akan membuat kamu sekalian berkecukupan dengan karunia-Nya jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. al-Taubah 9:28)

Ingatlah, kita tidak menghalangi secara total non muslim untuk masuk negeri ini karena memang negeri ini bukan “Tanah Haram” dan bahkan sudah begitu banyak investasi non muslim di ranah Minang ini tapi MUI mengingatkan kita semua bahwa kita harus selektif dalam menerima investasi. Jangan sampai karena mengejar kemegahan duniawi dengan menjual akhirat karena itu akan membawa kepada kebinasaan sebagaimana sabda Rasulullah saw:

Ini dilakukan MUI karena menjalankan tugas serta peran ulama sebagai waratsatul anbiya’ yang bergerak kepada sembilan orientasi di antaranya
Irsyadiyyah (memberikan petunjuk) baik kepada umat maupun pemimpin umat. Ada pula orientasi istijabiyyah (responsif) atau memberikan jawaban terhadap berbagai persoalan yang menimpa umat.
Adapun peran MUI di tengah umat, disamping sebagai waratsat al-anbiya’ (pewaris para Nabi) dan mufti(pemberi fatwa) juga sebagai penegak amar ma’ruf nahiy mungkar.

Tugas yang dibebankan ke pundak MUI itu lah yang sekarang dijalankan dengan segala keterbatasan. Walaupun tidak semua himbauan dan peringatan yang disampaikan selama ini mendapat jawaban baik dari umat dan para pemimpin umat namun MUI tidak akan pernah putus asa dalam menyampaikan risalah Islam karena ini bukan hanya tugas keorganisasian tapi juga amanah dari Allah swt dan Rasulullah saw. Walaupun terkadang pesan itu berbentuaran dengan kekerasan kepala dan hati tapi karena rasa sayang kepada umat, MUI tetap bersemangat berjalan dalam tugas ini sebagaimana perumpamaan Rasulullah saw:

إِنَّمَا مَثَلِي وَمَثَلُ أُمَّتِي كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَوْقَدَ نَارًا فَجَعَلَتِ الدَّوَابُّ وَالْفَرَاشُ يَقَعْنَ فِيهِ فَأَنَا آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ وَأَنْتُمْ تَقَحَّمُونَ فِيهِ
“Sesungguhnya perumpamaan aku & umatku laksana seorang lelaki yang menghidupkan api, lalu rayap dan serangga berjatuhan ke dalamnya. Aku lah yang memegang sabuk pinggang kamu sekalian tapi kamu malah kalian menceburkan diri masuk ke dalamnya”. (HR. Muttafaq ‘alaihi dari Abi Hurairah ra)

Sebenarnya banyak alasan kenapa ulama dan ninik mamak di ranah ini menolak ivestasi siloam lippo group ini, di antaranya:

1. Alasan aqidah.
Ini misi kristenisasi yang dibungkus dengan investasi karena mereka bergerak dalam tiga modus: a. pelayanan publik dan bantuan rescue b. Pendidikan c. Penyebaran kependudukan melalui pengusaha mereka yang bergerak di bidang properti.
Indikatornya: James T Riyadi adalah penginjil dari aliran kristen radikal. Dia terang-terangan hendak mengkristenkan desa-desa miskin di Indonesia.
Karena itu, ia tidak bisa diperlakukan dengan beralasan firman Allah swt:
﴿٨﴾ لَّا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. (QS. al-Mumtahanah 60:8)

Tapi harus disikapi dengan firman Allah swt:
﴿١٠٩﴾ وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّنۢ بَعْدِ إِيمَٰنِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ ٱلْحَقُّ ۖ فَٱعْفُوا۟ وَٱصْفَحُوا۟ حَتَّىٰ يَأْتِىَ ٱللَّهُ بِأَمْرِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
“Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. al-Baqarah 2:109)

dan firman Allah swt:

﴿١٢٠﴾ وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ ٱلْيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ ٱتَّبَعْتَ أَهْوَآءَهُم بَعْدَ ٱلَّذِى جَآءَكَ مِنَ ٱلْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِىٍّ وَلَا نَصِيرٍ
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. (QS. al-Baqarah 2:120)

Sikap yang bertitik tolak dari petunjuk al-Qur’an tersebut diambil karena data yang bisa dipercaya yang menyatakan bahwa james t riyadi adalah pengikut kristen avangelis yang memalsukan tugas penginjilan untuk melakukan kristenisasi sebagaimana pernyataannya yang dimuat oleh majalah “the Asia Mag” edisi 17 Mar tahun 2009 bahwa dia akan membangun sekolah-sekolah di desa-desa miskin di seluruh wilayah Indonesia dan melakukan pemurtadan terhadap penduduk di sana menjadi kristen.

Dan itu konsisten dia lakukan melalui perusahaan-perusahaan yang ia jalankan walaupun pada mulanya ia masuk dengan janji-janji murni bisnis. Itu telah dikonfirmasi oleh ormas-ormas Islam dan bahkan telah dilakukan investigasi terhadap informasi yang didapat. Janji murni bisnis tidak bertahan cukup lama. Di Palembang hanya bertahan tiga tahun tapi kemudian terjadi kebaktian masal di tengah lingkungan mereka.

Karena masalah aqidah adalah masalah paling penting bagi umat Islam dan merupakan jati diri masyarakat Minangkabau maka tidak perlu menunggu perusahaan itu melakukan pemurtadan karena pemurtadan yang telah terjadi selama ini, cukup bisa menjadi alasan. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa sudah cukup banyak orang yang berasal dari Sumatera Barat dimurtadkan.
Maka menutup jalan masuknya pemurtadan berselubung investasi seperti investasi rumah sakit kristen siloam dan sekolah kristen pelita harapan yang akan dibangun di padang ini adalah keharusan berdasarkan “sadd al-dzari’ah”.

2. Alasan ekonomi.
Tidak ada kebutuhan terhadap jenis investasi seperti ini baik dalam bentuk Mall, Hotel, rumah sakit dan sekolah kristen. Karena kondisi usaha/bisniss sejenis di kota padang dalam kondisi yang tidak menguntungkan. Sehingga terbukanya lapangan kerja setingkat buruh bisa berefek kepada hilangnya peluang kerja yang lain. Contohnya rumah sakit yang ada saja, tidak sampai tingkat keterhuniaannya 50 %(Info dari pemda kota Padang ketika dialog di Kesbangpol Sumbar). Begitu pula dengan sekolah kristen bila dibandingkan dengan jumlah penduduk yang beragama kristen di kota Padang ini, sudah lebih dari cukup.
Secara ekonomis, pembangunan bisnis dalam bentuk mall dan pelayanan publik bila dikaitkan dengan perekonomian Kota Padang bahkan Sumbar hanya akan menghimpun capital flight(modal yang terbang keluar) karena hanya dalam bentuk jasa dan mall yang menjual produk luar.
kalaupun mengharapkan tenaga kerja level buruh, itu pun harus mengorbankan peluang kerja yang lain karena adanya rumah sakit yang akan tutup dan juga dampat yang akan dirasakan oleh pedagang-pedagang kecil di pasar-pasar tradisional.

3. Hukum.
Secara hukum, izin masih belum ada , amdal tidak ada, RTRW kota padang tidak dipedulikan karena daerah itu peruntukannya adalah untuk perkantoran (dialog dg Pemda Kota Padang di Kesbangpol Sumbar). Bahkan ketika dialog di Polda Sumbar, dikatakan bahwa amdalnya baru di urus padahal proyek ini sudah sekian bulan ditekan tombol peletakan batu pertamanya oleh para pemimpin dan tokoh Sumbar.

4. Sosbud : bertolak belakang dengan ABS-SBK-SMAM (Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah, Syara’ Mangato adat Mamakai). Karena itulah makanya para tokoh adat (LKAAM, MTKAAM, Paga Nagari dll) juga bersikap sama dengan para ulama karena komitmen dengan tugas “maminteh sabalun anyuik, mancari sabalun hilang” dan kearifan yang didapat dari “ingek di rantiang nan kamancucuak, ingek di dahan nan kamainpok”. Bahkan memaksakan kelanjutan investasi ini di bumi Minangkabau akan membuat kondisi sosial di daerah ini akan menjadi tidak stabil. Inilah yang terbaca oleh perwakilan umat-umat berbagai agama di Sumatera Barat yang terhimpun dalam FKUB Sumbar sehingga mereka dengan tegas menolak pembangunan proyek siloam lippo group ini.
Saudara-saudara ! Semoga kita lebih mengedepankan rasa cinta kita kepada keimanan dan keislaman kita serta kepada ranah Minang dengan jati diri ABS-SBK-SMAM yang selama ini kita dendangkan. Dengan itulah kita bisa memahami alasan-alasan di atas sehingga bisa satu barisan dengan para ulama dan tokoh-tokoh adat di Ranah Minang tercinta ini.
Wallahu a’lam.

Pembagian Zakat dan Shadaqah (Kemiskinan Bukanlah Tontonan)

Oleh : Buya Gusrizal Gazahar

A. Muqaddimah
Sudah menjadi sunnatullah dalam kehidupan ini, adanya keragaman dalam berbagai hal termasuk rizqi yang dianugerahkan Allah awj kepada hambaNYA. Itu dimaksudkanNYA untuk menjaga keseimbangan gerak alur kehidupan manusia sebagaimana isyarat ayat berikut ini:

وَلَو بَسَطَ اللَّهُ الرِّزقَ لِعِبادِهِ لَبَغَوا فِى الأَرضِ وَلٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ ما يَشاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبادِهِ خَبيرٌ بَصيرٌ
“Dan jikalau Allah mengulurkan rizqi kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan dengan ukuran sesuai kehendakNYA. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat”(QS. al-Syura 42:27)

Namun, di antara manusia ada yang lupa hikmah perbedaan tersebut sehingga kemiskinan dan kefaqiran dipandang sebagai tempat berlabuhnya penghinaan serta pelecehan. Padahal, hina dan mulia pada hakikatnya tidak identik dengan miskin dan kaya. Betapa banyak orang kaya yang hina dan tidak sedikit orang miskin yang mulia. Dalam ajaran agama Islam, kemuliaan tidak diukur dari jumlah harta kekayaan seseorang tapi ketaqwaanlah yang menjadi ukuran utama di sisi Allah swt sebagaimana firmanNYA:

يٰأَيُّهَا النّاسُ إِنّا خَلَقنٰكُم مِن ذَكَرٍ وَأُنثىٰ وَجَعَلنٰكُم شُعوبًا وَقَبائِلَ لِتَعارَفوا ۚ إِنَّ أَكرَمَكُم عِندَ اللَّهِ أَتقىٰكُم ۚ إِنَّ اللَّهَ عَليمٌ خَبيرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”(QS. al-Hujurat 49:13)

Kenapa harta tidak jadi ukuran ? Karena ia merupakan sesuatu yang mudah datang dan lenyap dari sisi manusia dan Allah swt yang telah memberikan kemuliaan kepada anak cucu adam mrlalui fithrahnya, sepertinya tidak menginginkan kemuliaan itu dipertaruhkan dengan sesuatu yang sementara. Bukankah apa saja yang ada di tangan manusia itu akan berujung dengan habis ? Sebagaimana pernyataan Rabb al-‘izzah:

ما عِندَكُم يَنفَدُ ۖ وَما عِندَ اللَّهِ باقٍ ۗ وَلَنَجزِيَنَّ الَّذينَ صَبَروا أَجرَهُم بِأَحسَنِ ما كانوا يَعمَلونَ
“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”(QS. al-Nahl 16:96)

Jadi, harta tidak akan mencukupkan manusia dari segalanya. Kalau ada yang berpandangan demikian, itu tak lebih dari pengharapan yang tak akn berwujud sebagaimana dinyatakan Allah swt dalam firmanNYA:

يَحسَبُ أَنَّ مالَهُ أَخلَدَهُ • كَلّا ۖ لَيُنبَذَنَّ فِى الحُطَمَةِ
“dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya(3) sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah(4)” (QS. al-Humazah 104:3-4)

B. Sejukkan Ketamakan Dengan Shadaqah
Thabi’at kecintaan terhadap harta yang dimiliki manusia, walau merupakan perhiasan dasar kejadian manusia sebagaimana diisyaratkan oleh Allah awj dalam kitabNYA:

زُيِّنَ لِلنّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّساءِ وَالبَنينَ وَالقَنٰطيرِ المُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالفِضَّةِ وَالخَيلِ المُسَوَّمَةِ وَالأَنعٰمِ وَالحَرثِ ۗ ذٰلِكَ مَتٰعُ الحَيوٰةِ الدُّنيا ۖ وَاللَّهُ عِندَهُ حُسنُ المَـٔابِ “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik” (QS. Ali ‘Imran 3:14)

tak bisa dibiarkan membara sehingga membakar manusia itu sendiri. Ia perlu disejukkan dengan kerelaan melepaskan sebagian yang telah tergenggam di tangan mereka. Untuk itulah guna shadaqah baik yang wajib maupun yang sunat. Penulis melihat, ini adalah salah satu yang bisa difahami dari kalimat “tuthahhiruhum wa tuzakkyhim” dalam firman Allah awj:

خُذ مِن أَموٰلِهِم صَدَقَةً تُطَهِّرُهُم وَتُزَكّيهِم بِها وَصَلِّ عَلَيهِم ۖ إِنَّ صَلوٰتَكَ سَكَنٌ لَهُم ۗ وَاللَّهُ سَميعٌ عَليمٌ
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”(QS. al-Taubah 9:103)

C. Zakat Bukan Belas Kasihan Orang Kaya
Bila shadaqah termasuk zakat berfungsi pembersihan dan penyucian mereka yang diberikan rezki oleh Allah awj maka bisa dipastikan bahwa shadaqah maupun zakat bukan belas kasihan si kaya terhadap si miskin. Di samping alasan kembalinya akibat dari shadaqah maupun zakat kepada mereka yang menunaikannya, Allah awj berulang-ulang menegaskan bahwa bagian harta yang ditunaikan itu adalah hak mereka yang menerima dan kewajiban mereka yang mengeluarkannya. Penegasan Allah swt tersebut bisa dilihat dalam firmanNYA:

وَفى أَموٰلِهِم حَقٌّ لِلسّائِلِ وَالمَحرومِ
“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian”(QS. al-Dzariyat 51:19)

Hakikat ini yang harus dihadirkan dalam qalbu setiap orang yang berzakat! Yang mereka berikan adalah kewajiban mereka dan hak orang-orang yang berhak. Itu semua bukan belas kasihan dan bukan pula bantuan kemanusiaan. Yang diambil oleh fuqara’, masakin dan yang berhak lainnya adalah hak yang diberikan oleh Allah awj dan kewajiban yang diletakkan di atas pundak orang yang kaya. Maka bisa dikatakan bahwa si kayalah yang butuh si miskin guna membersihkan dirinya dari bahaya tamak dan semangat menghalalkan segala cara dalam mencari kekayaan. Inilah hakikat yang diisyaratkan oleh hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan Imam al-Bukhary dalam kitah shahihnya:

عن حارثةَ بنَ وَهبٍ –رضي الله عنه- قال: سمعتُ النبيَّ -صلى الله عليه وسلم- يقول: “تَصدَّقوا، فإِنه يأتي عليكم زمانٌ يَمشي الرجلُ بصدَقتِه فلا يَجِدُ من يقبَلُها، يقولُ الرجلُ: لو جئتَ بها بالأمسِ لَقبِلْتُها، فأمَّا اليومَ فلا حاجةَ لي بها”
“dari Haritsah Ibn Wahab ra, dia berkata: saya mendengar Rasulullah saw bersabda; bersedekahlah kamu sekalian ! Maka sesungguhnya akan datang suatu zaman kepada kamu sekalian dimana seseorang berjalan membawa shadaqahnya namun ia tidak menemukan orang yang menerimanya bahkan orang yang berkata kepadanya; kalau engkau datang membawa sedekah itu kemarin, tentu aku terima. Adapun hari ini, saya tidak lagi membutuhkannya.”

D. Jangan Hina Mereka !
Subhanallah ! Kalau hakikat shadaqah seperti itu adanya maka apakah pantas orang-orang miskin itu dibariskan di depan rumah menadahkan tangan? Apakah pantas membiarkan mereka berebutan saling injak menginjak satu sama lain untuk memperebutkan apa yang sebenarnya menjadi hak mereka ? Dan apakah patut seorang yang diberi kelebihan rezki oleh Allah awj tersenyum memandang mereka saling dorong bahkan ada yang meninggal untuk memperebutkan sekedar makan satu hari? Kalau ada yang menganggap itu suatu kepantasan maka sudah saatnya dia memperingatkan dirinya dengan firman Allah awj:

يٰأَيُّهَا الَّذينَ ءامَنوا لا تُبطِلوا صَدَقٰتِكُم بِالمَنِّ وَالأَذىٰ كَالَّذى يُنفِقُ مالَهُ رِئاءَ النّاسِ وَلا يُؤمِنُ بِاللَّهِ وَاليَومِ الءاخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفوانٍ عَلَيهِ تُرابٌ فَأَصابَهُ وابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلدًا ۖ لا يَقدِرونَ عَلىٰ شَيءٍ مِمّا كَسَبوا ۗ وَاللَّهُ لا يَهدِى القَومَ الكٰفِرينَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih tak berbekas. Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan dan Allah tidak memberi hidayah kepada orang-orang yang kafir”(QS. al-Baqarah 2:264)

E. Khitam
Sudah saatnya pemandangan dan berita bergerombolnya fakir miskin di tempat pembagian shadaqah dan zakat tidak lagi menghiasi media negeri ini. Perilaku meminta-minta dan mengundang fakir miskin menadahkan tangan adalah perilaku yang tidak diridhai oleh Allah swt. Setiap hati yang berisi belas kasih anugerah Allah swt, bisa merasakan alangkah tidak pantasnya perbuatan tersebut. Sayangnya, perbuatan itu terus berlanjut walaupun peringatan dari Allah swt dan Rasulullah saw lebih dari cukup sebagai peringatan agar menjauhi perbuatan tersebut. Bahkan lembaga-lembaga zakatpun menjadi contoh dalam mempertontonkan kemiskinan dan tidak bertanggung jawabnya para ‘amil dalam pengelolaan amanah yang ada di pundak mereka. Mudah-mudahan perubahan yang diredhai Allah awj segera datang! Wallahu al-musta’an.
Padang: 15 Ramadhan 1434 H

— di Masjid Nurul Iman.