Fiqh muamalah oleh DR. ERWANDI TARMIZI

Rukun jual beli

  1. Orang yang berakad
  2. Akad
  3. Objek akad

Jual beli yaitu tukar menukar harta dengan memberikan harta yang kita miliki pada orang yang juga memberikan kepemilikannya. Agama tidak menjadi kriteria orang yang berakad. Selama dalam akad tersebut tidak bertentangan dengan syariat. Jadi boleh berakad ataupun bersyarikat dengan non muslim.

Warning. Menghitung zakat harta yang kita miliki selama setahun adalah berdasarkan bulan hijrah, bukan masehi. Karena terdapat selisih 11 hari antara qomariah dengan syamsiah. Karena itu berhati-hatilah dalam menghitungnya. Kalau tidak bisa menghitung dengan bulan hijrah, maka zakat yang kita keluarkan sebesar 2,57 %.

  • Orang yang berakad. Syarat orang yang berakad, yaitu
  1. Batas baligh bagi laki-laki mimpi basah, bagi perempuan haid. Selain itu juga di lihat dari umur. Kalau umurnya sudah 15 tahun menurut tahun hijrah, maka ia pun sudah bisa dikatakan baligh.
  2. Menguji anak sudah berakal atau belum yaitu kalau ia sudah mampu memutar uangnya ketika ia berdagang, kalau masih rugi berarti anak tersebut belum mampu diberikan kepemilikan arta. untuk anak2 yang belum baligh, maka kita boleh memberikannya uang untuk transakasi jual beli selama uang itu untuk kebutuhan seusiannya, bukan uintuk membeli motor, mobil apalagi rumah J, karena tentunya transakasi itu di luar kebiasaan anak-anak.
  3. Tidak terpaksa. Tidak di paksa oleh pihak lain agar ia harus menjual atau orang lain harus membeli. Pemaksaan oleh pemerintah boleh asalkan untuk maslahat umum, dan pemerintah memberikan ganti rugi yang adil dan tidak menunda pembayaran ganti ruginya.

“Sesungguhnya darah, dan harta kalian orang muslim haram untuk di ambil, sekalipun untuk nama kepentingan umum” ustadnya tidak menyebutkan riwayat siapa hadits ini.

Pengecualian lain untuk terpaksa yaitu, orang yang di paksa pihak pengadilan agar menjual hartanya demi menutupi hutang2nya pada pihak lain.

  • Persyaratan akad yaitu Ijab (penyerahan barang) dan Kabul (menerima barang). Ijab Kabul bisa dengan kata2, dan bisa juga dengan sistem labeling yang banyak kita lihat di super market. Tapi madzhab syafi’I menolak sistem labeling ini. Tapi menurut jumhur utama, tulisan di label ini adalah bentuk keredhoan kita akan transakasi yang mungkin terjadi.
  • Objek, barang yang diperjualbelikan

Syaratnya

  1. Barang harus suci tidak najis. Jadi tidak boleh memperjualbelikan barang najis. Di antara najis seperti, kotoran manusia (tinja atau seni). Sedot tinja boleh, karena ia adalah jasa membuang najis. Tapi kalau nanti kotoran yang di sedot itu akan diperjualbelikan, maka ia dilarang. Tapi untuk kotoran hewan yang dijadikan sebagai pupuk kandang, atau air seni unta untuk pengobatan, sebagian ulama memperbolehkannya. Rokok ada yang mengatakan tidak najis, tapi diharamkan bukan karena najisnya, tetapi karena kegunaan atau manfaatnya adalah merusak ketika di konsumsi, dan dilarang kegunaannya, maka memperjualbelikan rokok adalah haram. Termasuk memperjualkan buku-buku tentang sihir, sulap, filsafat, buku2 penyimpangan aqidah dan yang sejenisnya, ini semua juga haram.
  2. Dilarang meperjualbelikan barang yang bukan kita miliki. Dan ini paling banyak. Bagaimana barang dimiliki? Dengan akad membeli, atau akad wakalah. Setelah di beli di terima, baru boleh di jual. Contoh Tidak boleh menjual barang yang kita tidak miliki : A menjual buku, lalu datang pembeli B yang ingin membeli uku yang tidak dimiliki A. A punya teman D yang menjual buku yang diminta B, lalu ia mengambil buku D tanpa ada akad. Apakah akad jual beli atau pinjam meminjam. Maka buku yang di rampas A dari D untuk di jual pada B adalah barang yang bukan ia miliki. Maka jual beli ini haram. Agar menjadi halal, maka saat A datang pada toko D ia harus menjelaskan akad buku tersebut. Apakah ia beli atau ia pinjam saat ia membawanya pada pembeli B.

BERSAMBUNG