Pentingnya Ilmu Agar Bisa Berlapang Dada

Selagi Ama di Pendopo dan hari tidak hujan, insya allah selalu hadir di pengajian bulanan yang diadakan Badan Kontak Majelisnya Field 2 Pertamina Pendopo. Selain lokasinya masih dekat rumah, snacknya juga lumayan enak dan rata-rata ustadz yang di undang mempang penyampaiannya netral untuk semua golongan. Mengingat fanatik golongan tidak hanya terjadi di Sumbar, tapi juga ada di daerah tengah hutan ne, jadi masalah pembicara memang sering memicu konflik di antara jamaah.

Bersyukur pernah kuliah dan hidup sesaat di Padang. Jadi ketika merantau dan ketemu sama situasi yang kondisinya ga jauh beda dengan yang ditemuin di Padang Ama udah bisa memiliki pendapat sendiri. Konflik jamaah ini udah mulai bisa terbaca sejak tahun lalu. Habisnya aneh aja melihat kondisi Masjid Muhammadiyah yang lokasinya di pasar, tapi sepi dari acara, ga banyak syiarnya. Ternyata memang ada konflik di antara jama’ahnya. Heran deh… hari gini masih bertengkar karena masalah khilafiyat. Umat udah makin jauh dari syariat, masih aja debat hal yang di agama boleh berselisih pendapat.

Masalah isbal lah, qunut lah, jahar atau sirr basmalah lah. Hadeuh, beginilah kalau baru punya ilmu sepotong dan merasa udah kayak pakar. Sering muncul kayak gini. Baru mulai ngaji udah mulai main fatwa sendiri. Heeeeelllllllooooooooooo… situ ga da kerjaan apa. Masyarakat yang belum sholat masih banyak, cowok yang make celana di atas lutut berserak, cewek yang belum berjilbab kiri kanan nampak. Mereka yang seharusnya didakwahi, bukan malah orang yang sudah berusaha menjemput hidayah di bikin lari karena konflik yang sebenarnya ga perlu terjadi.

Kali ini Ama mau nulis, karena pemateri malam tadi adalah Sekjen MUI, Bapak Tengku Zulkarnain. Subhanallah, orang berilmu itu emang keliatan berilmu pas udah  ngomong. Bapak ne jeli melihat audiensi. Waktu pengajian malam hari di Masjid Al Falah Komplek Pertamina ba’da Isya, kebanyakan tamu yang datang adalah masyarakat awam. Datang ke pengajian lebih karena segan. Segan sama pimpinan, segan sama karyawan, segan sama ini dan itu. Makanya lebih baik datang. Dan dari semua pengajian bulanan yang Ama ikuti, malam inilah yang penyampaiannya bisa masuk ke semua golongan. Tidak terkesan menggurui, malah lebih terkesan kayak ngobrol biasa di banding ceramah. Durasi ceramahnya pun paling panjang di antara pemateri yang lain. 2 jam teng, dan sepertinya semua nikmati penyampaian materi. Bahkan yang anak-anak pun ikut tertawa bersama orang tuanya karena begitu tingginya humor bapak ne.

Sumpah, Bapak ne benar-benar menguasai hadirin yang datang. Ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak, semuanya tertawa di sela-sela penyampaian bapak tu tentang “Seseorang Mati Sesuai Dengan Kebiasaannya”. Padahal materinya berat. Berkali-kali nyinggung tentang rokok, tapi kayaknya yang ngerokok ga merasa di paksa untuk bertobat dari kecanduan mereka. Kadang juga ngoreksi stigma yang selama ini melekat di masyarakat kita, seperti kalimat “percuma pakai jilbab, kelakuan masih gitu”, “percuma ibadah kamu, tobat saat ramadlan saja”, dan kalimat-kalimat lain yang karena mungkin sudah terbiasa kita dengar kita pun sepaham dengan yang menyampaikan. Padahal ternyata subhanallah. Tidak ada yang percuma dalam Islam. Setiap Amal kebaikan walaupun sebiji dzarroh akan tetap di catat. Begitu pula keburukan, meskipun sebiji dzarroh malaikat ga akan alpa menghitungnya.

Selingan guyonan bapak tu dalam ceramahnya sangat banyak. Seperti penyampaian, Ada orang yang berbuat dosa menganggap malaikat ga ngerti bahasa mereka. Penyampainnya pake bahasa Jawa, jadi ya ora mudeng diriku. Ringkasnya gini. Ada pemuda yang berbuat dosa ngobrol dengan temannya tentang perbuatan mereka. Ngobrolnya mereka pakai bahasa Jawa, jadi mereka menyangka malaikat hanya mengerti dengan Bahasa Indonesia atau Arab, ga ngerti kalau pake Bahasa Jawa. Ya enggak lah, malaikat kan ga perlu kursus banyak bahasa untuk mencatat perbuatan setiap hamba.

Waktu 2 jam ceramah benar-benar ga bikin capek. Kan pake pembukaan dulu sebelum penyampaian materi, lebih kurang 20 menit lah pembukaannya. Padahal habis Isya Ama udah ngantuk, karena bangunnya cepat tapi ga sempat tidur lagi sebelum subuh. Siang juga ga tidur, jadi efek kelamaan safar masih terasa sebenarnya. Tapi suasana ngaji yang benar2 heppi bikin mata ga jadi mau melek dini. Alhasil anak-anak pun ga ngantuk dengar ceramah ini.

Dan di sesi tanya jawab, bagi pemateri yang jeli tentu langsung ngerti dengan kondisi yang terjadi di asyarakat. Lha, setiap penceramah yang datang pasti selalu muncul pertanyaan tentang bid’ah yang ga lakang dek paneh dak lapuak dek hujan. Hikshikshiks…. Miris deh. Kenapa banyak kali orang-orang yang baru ngaji itu punya pemikiran sempit lagi mini. Doyan banget liat umat tu berpecah, ga cukup apa Islam itu sebagai pemersatu kita. Berbeda di hal yang khilafiyah itu bukan hal yang baru. Banyak baca dunk biar ga baper mulu. Dikit dikit bid’ah, dikit dikit neraka. Di Riau ternyata juga ga jauh beda. Ust Abdul Somad aja di hina. Ya Allah, padahal itu ulama. Ga ngerti deh kenapa bisa saklek gitu pemahaman orang ne. Ama juga sering kok dengar ceramah di Yufid Tv. Ustadz Khalid Basalamah yang doktor aja heran dengan pernyataan orang-orang yang baru ngaji. Itulah ulama yang benar-benar berilmu. Bisa menyikapi perbedaan yang ada dengan jawaban yang bijaksana. Bukan seperti  anak bawang yang baru ngaji. Kalo nyari kesalahan aja kerjaan mereka mah, pastilah ilmu mereka itu ga berkah.

Dan saat ceramah subuh di Masjid Muttaqin bapak ne akhirnya menyampaikan kegundahan hatinya melihat perpecahan di masyarakat. Majelis Ulama Indonesia sebagai penjaga agama Islam di Indonesia aja di cerca, padahal di pundak merekalah Amanat umat Islam ditumpukkan. Kalau MUI aja ga di dengar, lalu masyarakat berpedoman pada yang mana. Buya Gusrizal Gazahar ketua MUI Sumbar juga menyampaikan kegundahan yang sama, Ustadz Abdul Somad, anggota MUI Riau juga cerita desas desus yang muncul di kalangan jamaah masjid, bapak Tengku Zulkarnain Sekjen MUI juga menyampaikan hal yang sama. Berarti dimana-mana merata kasus perpecahan umat ini. Pliss, berIslamlah dengan sederhana. Wish someday we’ll see Islam is our proud, not our party.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s