“IAIN IMAM BONJOL, Nasibmu….”

Saya mendengar IAIN akan memilih rektor baru.
Terbersit harapan dalam hati agar institusi ini kembali kepada peran utamanya sebagaimana yang pernah saya dengar yaitu “Perguruan Tinggi Pencetak Ulama” bukan hanya “Penambah Jumlah Sarjana”.
Baru-baru ini, ada yang mengusung jargon tua dan muda bahkan sampai berani melabel dengan “Pemimpin Multi…..”.
Seperti baru turun dari langit saja jagoan ini. Ngeri-ngeri sedap juga mendengarkan puja puji yang entah sesuai ukuran badan entah tidak. Mudah-mudahan para ‘allamah (entah patut entah tidak istilah ini dipakaikan) di IAIN IB tidak lupa dengan firman Allah swt:
{لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوا وَّيُحِبُّونَ أَن يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُم بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ} [آل عمران : 188]
“Janganlah sekali-kali kamu menyangka, orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang belum mereka kerjakan ! Janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa bahkan untuk mereka siksa yang pedih”. (QS. Ali ‘Imran 3:188)

Anehnya, kritikan tajam kepada mantan Rektor bertubi-tubi tapi yang mengkritik bahkan ikuik manyoroangkan dan berebut jabatan bahkan menikmati semasa Rektor tersebut. Tersua juga rupanya pituah orang kampuang saya, “karambie kalau lah rabah, jo koncek koncek pandai mamanjek”.

Apakah obat persoalan IAIN adalah tua muda ? Apakah para jagoan yang “bak turun dari langit” itu. Kalau saya boleh menjawab, saya tidak ragu menjawabnya dengan kalimat “tidak”.

IAIN IB ini telah lama dicabik-cabik oleh persaingan kelompok yang membuat para ilmuan di dalam seperti tidak berilmu. Organisasi ekstra, monopoli jabatan berdasarkan pertimbangan almamater dan kelompok telah menjadikan setiap pemilihan rektor lebih galau dibandingkan pilkada. Sangat menyedihkan bila direnungkan suasana itu hadir di tengah institusi yang menghimpun para ulama. Tentu mereka tak akan lupa ayat-ayat dan hadits-hadits yang terkait dengan jabatan dan dunia ini. Bagaimana akan lupa ?! Jadi materi khutbah setiap jum’at untuk umat (mungkin bukan untuk khathib.. he he) !!!

Ilmu-ilmu dasar keulamaan semakin menipis dan anehnya pemikiran sekuler, pluralis dan liberalis semakin terasa kehadirannnya. Akhlaq keulamaan jauh dari jangkauan, berganti dengan balutan palsu cendikiawan yang tak jelas apakah ini bagi umat, kawan atau lawan ???

Orang-orang yang menentang derasnya pengaruh pemikiran merusak, akan segera dapat gelar tanpa wisuda. Gelarnya adalah “mainstream”, “fiqh oriented”, “fundamentalis”, “tradisional” dan lainnya. Gelaran yang baru muncul dari batu di tengah umat hasil produksi para cendikiawan.

Terkadang rasa tak percaya menyaksikan berbagai kemunafikan di tengah institusi yang sudah begitu lama berdiri. Kebathilan selama ini menjadi tontonan saja. Masing-masing mencari jalan selamat kecuali segelintir yang bisa dihitung dengan jari. Setelah sang penguasa tumbang, “rame-rame” mencari “kobokan” kotor untuk cuci tangan.

Pernah ada yang bertanya, apakah tidak kasihan melihat IAIN IB seperti sekarang ? Sudah letih badan karena kasihan namun IAIN IB “jatuah dek panjeknyo surang”.

Kalau memang tulus untuak membangkitkan kembali IAIN IB, tak perlu menggunakan jargon tua dan muda. Orang tua seperti Pak Amir Syarifuddin, perlu untuk ditanya dan diminta pendapat beliau. Belajarlah dari “Sirah Nabawiyyah” yang memperlihatkan perpaduan potensi tua dan muda.

Tempatkanlah orang-orang yang kafaah (oh ya bahasa kampusnya capable ya ?) tapi jangan jadikan gelar ukuran utama. Akhlak dan prinsip keulamaan yang harus di depan. Lupakanlah perseteruan M dan T, I dan H karena institusi ini milik umat bukan milik kelompok !
Jangan lupakan niat awal para pendiri karena itu amanah yang harus dipertanggung jawabkan di hadapan Allah swt !
Dan hindarilah para petualang jabatan yang memakai prinsip “dima tanduek ka makan”.

Salam maaf dari saya “mantan Dosen IAIN IB”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s