Tafsir Ayat ke-2 dari Surat Al Baqoroh

Disampaikan oleh Buya Guzrizal Gazahar. hanya resume, kalau ingin lebih jelas, silahkan dengar langsung rekaman ceramahnya

Dzaalikalkitaabu laa raibafiyhi. “Kitab itu tidak ada keraguan padanya”

Dzaalika yang berarti itu merupakan isim isyaroh lil ba’id. Kata penunjuk untuk jauh. Mengapa di pakai “itu” bukan “ini”? padahal Al Qur’an itu dekat dengan kita, jadi bukankah lebih tepat memakai kata haddza buka dzaalika. Sebagain kecil Mufassirin mengatakan “pemakaian itu memang tepat, karena sesungguhnya Al Qur’an yang di maksud adalah Al Qur’an yang berada di Lauh Mahfuz, bukan Al Qur’an yang ada di hadapan kita.

Namun, sebagain besar Mufassirin mengatakan, “ pemakaian Dzaalika adalah bentuk pengangungan. Karena dzaalika selain berarti menunjukkan objek yang jauh, tapi juga digunakan untuk mengangungkan. Karena Al Qur’an itu tidak terjangkau oleh Raiba (keraguan atau syak). Jadi Al Qur’an itu bukan jauh dari kita, tapi Al Qur’an jauh dari keraguan, jauh dari persangkaan yang bisa timbul. Sehingga bisa di ambil hukum yang ada didalamnya untuk kita amalkan

  1. Al Qur’an itu perlu dihormati, karena Allah telah mengangungkan kalimatnya dengan menggunakan kalimat lit ta’zhiim untuk pengangungan. Jadi tidak tepat ketika meletakkan Al Qur’an sejajar dengan kaki, atau mencoretnya, atau menempeli dengan foto, dan berbagai kebiasaan lain yang itu semua bukanlah bentuk pengagungan terhadap Al Qur’an Allah sebagai pencipta telah mengagungan Al Qur’an, maka kita sebagai hamba sepatutnya lebih lagi dalam mengagungkannya. Seperti bersuci, menutup aurat, membacanya dengan tenang, itu semua di antara bentuk adab kita dengan Al Qur’an
  2. Membacanya harus dengan keyakinan bahwa ini adalah wahyu dari Allah, bukan syair dari penyair. Kalau tidak meyakininya, maka perumpamaannya sama dengan keledai yang membawa kitab. Semua yang ada dalam Al Qur’an adalah benar adanya, tidak ada keraguan sedikit pun didalamnya.

Laa roiba fiyhi artinya tidak ada keraguan didalamnya

Tingkatan orang dalam meyakini sesuatu ada beberapa tingkat

  1. Yakin, yaitu orang yang bisa mengalahkan segala keraguan terhadap segala sesuatu yang ia ketahui. Lawan dari yakin yaitu Syak, yaitu orang yang mempercayai sesuatu dalam kondisi seimbang atau taraddud (ragu atau roib). Di atas Ragu itu ada zhon, yaitu tingkat Keyakinan sudah lebih kuat tapi masih ragu, itulah yang menjadi zhon (persangkaan). Kalau keraguan sudah hilang inilah yang di sebut yakin.
  2. Karena itu yakinilah bahwa kitab yang Allah turunkan itu bisa menjadi huda (petunjuk). Tidak ada satupun keraguan yang bisa timbul didalamnya.

Laa kemudian diikuti dengan isim, dan di baca dengan mansub, dikenal dengan susunan dari laa dan isim laa, maka dikenal dengan laa nafiya lil jinsi, makaberarti menafikan segala sesuatu. Laa roiba berarti tidak ada sedikitpun keraguan.

Fiyhi di dalam kitab. Maka tidak ada keraguan sedikitpun didalam kitab ini.

Keraguan tentang apa?

keraguan bahwa turunnya dari Allah. Kitab ini berasal dari Allah, bukan karangan manusia. Tidak ada keraguan didalamnya bahwa kitab ini bukan buatan makhluk. Karena makhluk tidak akan pernah mampu mendatangkan seperti yang dengan yang ada di kitab ini. Kenapa Al Qur’an membuktikan bahwa ia adalah wahyu Allah? Karena dari cakupan maknanya sangat dalam. semakin lama ilmu manusia membuktikan keagungan Al Qur’an. Dahulu orang mengkritik banyak yang disampaikan dalam Al Qur’an adalah hal mustahil, namun pada zaman sekarang ditemukan pembuktian bahwa yang Allah sampaikan adalah benar. Bahkan masih banyak ilmu yang ada di dalam Al Qur’an yang masih belum diketahui manusia.

Dahulu orang mengkritik peristiwa Isra’ Mi’raj adalah mustahil, namun sekarang jarak jauh bisa ditempuh dalam waktu singkat. Ini hanya salah satu hal mustahil bagi orang dulu yang menolaknya namun sekarang bisa dibuktikan. Belum lagi kisah kejadian manusia, peristiwa kemenangan bangsa Romawi atas Persia yang bisa disaksikan langsung oleh para sahabat, ayat hukum yang sampai sekarang menjadi landasan hukum yang paling ampuh dalam menegakkan keadilan, dan berbagai kisah lainnya yang sekarang menjadi kajian para ahli sejarah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s