Anak muda yang berani

Tulisan Darwis Tere Liye

Kadangkala, acara kepenulisan yang saya hadiri adalah sekolah-sekolah kedinasan. Mulai dari STAN, sekolah tinggi statistik, perhubungan, dsbgnya, dsbgnya. Sebagian sekolah itu mahasiswanya dijamin masuk PNS, kalaupun harus test lagi, masih banyak yang ingin jadi PNS.

Bertemu dengan anak-anak muda seperti ini mengesankan. Mereka masih idealis, masuk sekolah dengan seleksi ketat, murni, dan punya cita-cita besar. Jika waktunya luang, saya sempat mengobrol ringan dengan panitia acara sebelum sesi saya dimulai, di ruang tunggu, di mobil jemputan. Sesekali saya melepas harapan besar, “Semoga kalian besok jadi PNS yang amanah.” Serempak mereka menjawab mantap, “Siap, Bang.” Tersenyum, saya menambahkan. “Jangan pernah coba-coba korupsi, Dek.” Mereka menjawab lebih mantap lagi, “Siap, Bang. Tidak akan.” Pun saya juga seringkali menyarankan, “Tulislah prinsip2 baik yang kalian yakini hari ini. 20-30 tahun lagi, saat sudah bekerja, masuk dalam sistem, kembali baca tulisan itu, maka insya Allah, kalian akan tahu, kalian semua pernah punya pemahaman sebaik itu.” Anak-anak muda ini mengangguk dengan wajah terang, tatapan mata elok.

Mengesankan sekali. Dan saya segera teringat masa-masa saat seusia mereka.

My dear, kalau mau jujur, kalian jauh lebih berani dibanding saya. Belasan tahun silam, saya juga diterima di salah-satu sekolah kedinasan, STAN. Masa-masa itu, lulusan STAN otomatis jadi PNS. Pagi buta saya tiba di Jakarta dari daerah, membawa tas butut dan berkas-berkas, naik metromini menuju kampus STAN, daftar ulang. Ijasah SMA saya ditahan sebagai jaminan. Tapi meski pengumumannya paling dulu, STAN adalah pilihan terakhir, saya tidak pernah berani meletakkannya di urutan atas. Saat pengumuman UMPTN, mengetahui diterima di kampus lain, saya bergegas ke gedung rektorat STAN, bilang saya berhenti, bahkan saat itu perkuliahan belum dimulai. Saya minta ijasah SMA saya dikembalikan. Kalaupun harus membayar denda, akan saya lakukan. Saya tidak mau sekolah di sini. Kenapa berhenti? Ya Allah, sejak SMA saya takut sekali jadi PNS. Saya ini bukan orang yang amanah, didikan semasa kecil membuat saya gentar menjadi PNS. Saya tidak mau jadi PNS. Dalam doa-doa saat masa-masa UMPTN, ikut test di mana2, menunggu pengumuman di mana2, tidak ada doa agar sy jadi PNS.

Maka, hari ini, saat bertemu dengan anak muda di sekolah kedinasan, yang yakin sekali pilihannya, yakin sekali dia akan menjadi PNS yang baik, itu sangat membanggakan hati. Kalianlah anak muda yang gagah berani. Di tangan kalianlah masa depan bangsa ini. Besok lusa, kalian akan menjadi pejabat. Dan jelas, jalan panjang itu sudah dirintis sejak sekolah kedinasan. Satu-dua, bahkan ada yang saat ditanya apa cita2nya, dengan gagah bilang, “Siap, Bang. Saya ingin menjadi Menteri.” Kenapa? “Siap, Bang. Karena saya ingin memperbaiki banyak hal. Melawan korupsi.” Saya tidak ingat detail jawaban mereka, tapi saya ingat bagaimana wajah-wajah itu begitu mengagumkan, dipenuhi pemahaman hidup yang baik.

Maka yakinlah, anak muda. Tidak lama lagi, 20, 30 tahun, generasi baru akan hadir di negeri ini. Tidak mudah menjadi orang jujur di sistem yang rusak-serusaknya. Tapi itulah tugas kita semua. Tuliskan pemahaman2 itu hari ini, baca lagi besok lusa sebagai tuntunan. Agar kita selalu ingat, kita pernah benci sekali melihat para koruptor. Kita pernah benci sekali melihat ketidakadilan. Kita pernah benci sekali melihat pengecut, pencuri, dan pengkhianat di negeri ini. Mari berlomba2 dalam kebaikan. Memerangi semua keburukan itu.

Juga di sekolah2 umum, saat datang di UGM, dalam acara kepemudaan, saya menemukan peserta dengan lantang bilang dia ingin menjadi Gubernur, agar bisa memajukan provinsi asalnya. Saat mengunjungi pesantren2, sekolah lainnya, mendatangi asrama mereka, satu ruangan isinya 8 hingga 16, sandal, tas, pakaian berantakan semua, bertanya ke anak2 muda ini, janji masa depan yang lebih baik itu masih ada, jelas lebih cerah dibanding asrama mereka yang berantakan. Mendatangi SMA-SMA umum, bertemu dengan murid2nya, guru2nya, bercakap-cakap tentang pemahaman hidup, negeri ini masih punya harapan besar di masa depan. Kita punya generasi itu.

Di page ini, saya tahu, sebagian dari kalian bete sekali saya merilis postingan tentang jangan menyontek saat ujian/sekolah. Ada yang bahkan komentar jengkel, meminta saya berhenti membahas tentang politik, korupsi dan sejenisnya. Tapi di luar komentar minor itu, ribuan dari kalian paham kenapa postingan itu harus dikeluarkan, ribuan diantara kalian mengerti apa yang harus dilakukan di masa depan.

Anak muda, saya hanya penulis, amunisi saya hanya tulisan2. Satu-dua tulisan itu menjadi benih, tumbuh subur di hati, kalianlah yang akan menjadi pendekar tangguh perubahan secara kongkret. Saya hanya penulis, dalam situasi tertentu saya ini penakut, cari aman saja, tapi di tangan kalian, perubahan besar bisa dimulai.

Anak muda yang berani!

  • Ana Zuhriatun Nisa Saya calon guru Maka di masa depan nanti, semaksimal mungkin akan saya berikan kemampuan dan pengabdian terbaik saya untuk pendidikan Indonesia Doakan ya bang
  • AsfiAsfiyana Aamiin. Semoga diberi kekuatan dan jiwa yang tangguh untuk meñjaga negeri yg indah ini. Indonesia
  • Verawati Meidiana karena satu peluru hanya mampu menembus satu kepala, namun satu tulisan mampu menembus ribuan bahkan jutaan kepala. terimakasih, Bang, untuk segala nasihat dan motuvasinya. jazakallah.
  • Seyhan Sey mengingatkan q.. seseorg yg melepaskan PNS nya,, dgn alasan yg sma.. n aq, smg bsa amanah,, aamiin
  • Maulydatul Ahdiya semangat terus dlm kebaikan bg. . .
  • Rusmiati RUsmiati saya seorang ibu dengan 2 putri, inshaa Allah saya akan menjadikan mereka generasi2 penerus bangsa yang hebat
Afida Adifa bacanya sampek merinding bang…termotivasi lagi
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s