Mengaji

Dulu kegiatan ini merupakan aktivitas rutin bagi kami anak-anak setiap hari Ahad. Mau tinggal dekat masjid atau jauh dari masjid, selagi disanalah tempat mengaji, maka kesanalah kami akan menuju. Seingatku tiga kali sudah tempat yang kudatangi untuk pergi mengaji. Yang paling jauh di El Hakim, lalu pindah ke surau di Lubuak, dan terakhir baru di masjid Lokuak.

Yang pertama di El Hakim. Untuk di El Hakim jadwal ngajinya mulai dari siang karena lokasinya yang jauh dari rumah sehingga kalau jadwalnya malam, tentunya akan kesulitan bagi kami untuk pulang. Maklum, yang namanya di kampung hewan2 liar masih bebas berkeliaran, apalagi penerangan lampu jalan tidak hanya, jadi cukup berisiko bagi kami yang masih anak-anak. Namun demikian, mengaji di El Hakim inilah yang membuat kami sangat puas bermain.

Lokasinya yang berada di ketinggian, dan dekat dengan hutan membuat kami merasakan beginilah suasana pedesaan. Manjat pohon Jambu Monyet di gerbang awal masuk pendakian, yang kalau lagi matangnya sering kami ambil tanpa tahu siapa yang punya pohon ne, namanya juga tumbuh di jalan, tidak tahu siapa yang punya tanaman. ada buah Karamuntiang yang tumbuh di sekitaran masjid yang kalau lagi berbuah maka bisa kami makan sepuasnya (lagi2 tanpa izin karena tidak tahu siapa yang nanam), ada Kantung Semar di belakang masjid yang kami temukan saat bermain seluncuran tanah merah,dan kalau lagi dalam kondisi tertutup mencoba langsung rasa airnya atau keinginan bermain di hutan yang meski tidak rimba, namun untuk kami tentulah di larang mendatanginya.

Setiap Ahad, lepas mengaji didikan subuh, biasanya kami tidak pada langsung pulang. Mampir sejenak di rumah teman yang sudah punya antene parabola. Cukup membeli produk es yang mereka jual, maka kita akan diizinkan menonton hingga siang. Film Power Ranger, Kura-Kura Ninja adalah contoh film yang dahulu kami saksikan bersama sambil menumpang di rumah tetangga yang jaraknya cukup jauh dari rumah kami semua.

Begitulah, mengaji judulnya tapi tetap bisa bermain sepuasnya. Tanpa takut baju kena getah, bekas tanahnya sulit dihilangkan, tangan kaki yang terluka karena kena dahan, atau kali lelah karena langkah yang jauh. Mengaji judulnya, tapi kami tetap punya tontonan yang kami andalkan. Memang anak-anak seumuran kami dahulu lebih kuat fisiknya daripada anak-anak sekarang. Karena kami dahulu kemana-mana lebih sering jalan kaki dari pada berkendara. Ke sawah jalan kaki, ke lading jalan kaki, ke sungai jalan kaki, pergi mengaji pun jalan kaki. Lebih banyak jarak yang kami tempuh adalah dengan berjalan dari pada berkendara. Lain hal dengan anak sekarang yang pergi sekolah bermotor, ke rumah teman bermotor, apalagi mejeng juga di motor. Beda zaman beda kisah.

Itu suasana saat mengaji di El Hakim. Tidak tahu alasannya akhirnya kami yang rumahnya di daerah Lokuak pun pindah ngaji ke Lubuak. Di surau yang persis berada di sebelah pemandian umum untuk lelaki. Mengajinya mulai dari Maghrib hingga Isya. Dan habis ngaji meski sudah malam, lagi-lagi tidak langsung pulang. Mampir lagi ke rumah teman yang sudah turut punya antene parabola juga untuk menyaksikan film Songoku. Meski harus naik turun tangga, namun bagi anak-anak rute jalan bukanlah penghalang. Selagi bisa bermain, maka mereka akan lupa dengan lelah.

Tidak lagi ingat, entah kenapa sekarang kami bisa mengaji di masjid. Dengan jadwal yang sama, mulai dari Maghrib berjamaah hingga selesai sholat Isya. Dan saat ngaji di masjid ini ama punya film kartun favorit, yaitu Mojako.

Mojako berputar

Dan berkeliling

Indah dilihat mata

Hatipun berdebar rasanya.

Lupa ding lirik pastinya

Untuk ulasan lebih tentang film-film kesayangan dahulu, sepertinya tidak jauh bereda dengan yang di tulis di link berikut http://www.top10indo.com/2013/04/10-lagu-kartun-tahun-90an-terbaik.html

Ah, masa kecil lagi-lagi sungguh sangat indah.

Di masjid jugalah akhirnya kami sangat rutin mengikuti acara didikan subuh. Meski mulainya pas sudah subuh, namanya anak-anak, subuh itu biasanya masih tidur. Jadilah dari masjid para guru TPA akan menyiarkan lewat mix masjid agar para orang tua segera membangunkan anaknya untuk kemudian bisa mengikuti acara. Tidak bisa mengelak, karena memang para orang tua pun juga bersemangat untuk menyruh anaknya segera ke masjid. Jadilah disana kami pun belajar untuk melatih keberanian diri. lewat menjadi petugas acara yang setiap minggunya di ganti, maka tampil ke depan di hadapan teman-teman sambil membacakan ayat atau hafalan lain yang kita pelajari.

Dan saat ku pindah ke Kerinci, ternyata tradisi didikan subuh ini juga berlaku. Jadilah kami semua memiliki pengalaman yang sama dalam mengaji. Meski si bungsu jadwal mengajinya sore. Karena malam adalah waktu pengajian bagi orang tua mereka. Sehingga perlu di pisah agar anak-anak yang mengaji tidak membuat keributan pula saat orang tua mereka mengaji. Namanya juga anak-anak, bermain, berkelahi, membuat keributan adalah dunia mereka. Maklumi saja, toh waktu kanak-kanak pun kita juga demikian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s