Kepribadian anak tidak di lihat dari sekolah tempat ia belajar

sekolah tidak bisa dijadikan patokan dalam melihat kepribadian anak. Meskipun anak disekolahkan di sekolah agama, ternyata itu tidak berbanding dengan kepribadian mereka sehari-hari. Karena sekolah bukanlah faktor utama pembentuk kepribadian anak.

Anak adalah peniru ulung. Mereka berhasil dalam memantau apa yang biasa terjadi di sekitar mereka untuk kemudian mereka tiru dalam keseharian. Dan orang tua termasuk phak yang paling sering mereka perhatikan. Ketika di rumah mereka melihat orang tuanya tidak sholat, maka meski di sekolah anak di ajar untuk sholat, tetap saja di rumah ia pun tidak sholat. Karena memang di rumha ia tidak biasa melihat pemandangan sholat. Meski di sekolah ia rajin sholat, tentu lain kasusu. Karena di sekolah ada guru yang memantau, ada teman-teman yang juga melakukan hal yang sama, jadinya ia melakukan hanya karena ikut-ikutan.

Lain halnya kalau memang kebiasaan tersebut tumbuh dari keluarga. Meski anak tidak disekolahkan di sekolah agama, ataupun di sekolah ia tidak menemukan teman yang sholat, namun karena di rumah selalu ditekankan arti pentingnya sholat, kesadaran anak pun akan tumbuh meski di lingkungan yang tak mengajarkannya.

Karena itu, naif sekali orang tua yang mengharapkan anak menjadi anak baik, sedangkan di rumah kebiasaan itu tidak ditanamkan. Saat ini sangat banyak berdiri sekolah islam terpadu. Sekolah ini sering menjadi favorit, karena kebanyakan orang tua berharap banyak agar sekolah membantu mereka dalam mendidik anaknya. Di akui, banyak orang tua berharap penuh pada sekolah, sehingga menurut mereka dengan bersekolah di sekolah agama, maka itu sudah cukup dalam mendidik anaknya. Padahal anggapan itu salah, karena sejatinya anak-anak tetap anak-anak. Guru tidak selalu bersama dengan murid, dan satu guru bukanlah untuk satu anak. Sehingga pendidikan utam itu tetap kembali pada orang tua.

Tulisan ini sebagai bentuk rasa kecewa ama karena banyak sepupu yang sedari kecil di sekolahkan di sekolah agama, ternyata ketika lepas dari orang tua mereka seolah lupa dengan ajaran di sekolah. Bahkan meski ikut mondok di pesantren tidak menjamin anak akan tetap menjaga sholatnya. Ini sangat banyak buktinya. Mulai dari adek, sepupu, hingga tetangga yang dulunya pesantren, tetap aja susah untuk di suruh sholat. Bahkan aurat lelaki yang hanya hingga selutut pun sekarang sulit di jaga. Sangat gemar bercelana pendek ketika keluar rumah atau berpergian.

Unek-unek ini kadang bikin ama kesal sendiri. Ama ga bisa menegur saudara yang tak sholat, karena orang tua mereka sendiri tak peduli dengan ibadah anaknya. Capek ngomong n bikin kesal. Jadinya, ya hanya lihat tanpa ada partisipasi memperbaiki.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s