Lagi-lagi ku hanya bisa menyaksikannya

Lagi-lagi ku hanya bisa menyaksikannya

hampir dua tahun ku tinggal di Pendopo, namun sore menjelang maghrib pada tanggal 7 januari 2015, adalah perdana kali melihat pemulung yang kakinya pincang, badannya kurus, dan salah salah satu pergelangan atau jarinya cacat karena ia menyembunyikan tanggannya tersebut ke dalam saku, dan meski Ko Aling memberinya uang ia tetap menerima tersebut dengan tangan kirinya dan tak mau menerima apalagi mengeluarkan tangan kanannya tersebut.

Aku tidak tahu, pemuda ini warga daerah Talang Ubi juga atau kebetulan saja ia mencari barang-barang bekas di sekitar sini. Karena memang sebelumnya aku belum pernah melihatnya. Secara ia membawa gerobak sebagai tempat membawa barang rongsongannya, kalaulah ia warga sini tentu ada kemungkinan beberapa kali atau sebelumnya sosok pemuda ini muncul sejak sebelumnya.

Dan Lagi-lagi ku hanya bisa menyaksikannya. Menyaksikan kemiskinan yang memang sengaja dipertahankan miskin. Sudah tak terhitung lagi unek2 tentang potensi daerah ini ama tulis di blog dan tetap saja unek2 tersebut hanya sebatas unek2. Tak bisa membri solusi apalagi menentramkan hati. Apa kurangnya potensi daerah ini. BERLIMPAH RUAH HINGGA TAK BOSAN-BOSANNYA PIHAK LAIN MENJARAH. LALU WARGA SEKITAR MENDAPATKAN APA?

Sama saja di daerah manapun kondisinya tak jauh berbeda. Hasil alam yang melimpah hanya diperuntukkan bagi segelintir oknum, dan ketika alam pun rusak, maka warga sekitarlah yang perdana merasakan dampaknya. Tak sepatutnya daerah yang melimpah dengan hasil alam memiliki rakyat miskin seperti sosok pemuda yang baru kutemui ini. Tak hanya pemuda ini, sangat banyak warga miskin di sekitar tempat tinggalku ini. Namun, apa dayaku Lagi-lagi ku hanya bisa menyaksikannya.

Tapi ku merasa senang atas usaha pemuda ini. Setidaknya meski fisiknya cacat tapi ia masih berjuang untuk mencari nafkah. Padahal disini sangat banyak peminta-minta yang mayoritas mereka tidak ada cacat fisik seperti pemuda ini. Meski ada satu orang yang buta, tapi bukankah yang membimbing si buta ini untuk meminta lebih layak dan kuat untuk bekerja? Dari pada hanya kulur kilir nemani si buta meminta-minta, bahkan hingga seringnya mereka meminta, aku pun sekarang menjadi malas memberi mereka uang.

Beda dengan pemuda cacat ini. Ia rela memulung plastic bekas atau barang bekas lainnya untuk mendapatkan rupiah yang ia butuhkan. Tidak mau hanya mengharap belas kasihan orang lain. Malah karena kegigihannya berusaha ini membuat orang lain pun mau memberi kepadanya.

Yup, zaman sekarang sangat mudah berputus asa. Nyari kerja susah lah, fisik ga normal lah, kebutuhan mendesak kah, untuk berbagai alasan sangat banyak bisa ditemukan. Namun, memang kembali ke individu yang bersangkutan. Kalah dengan persaingan dan pasrah dengan keadaan. Tanpa mau mencoba apalagi berusaha. Begitulah, tipikal warga sini memang bukan tipikal pekerja keras. Jadilah maling, nodong, membunuh menjadi profesi favorit mereka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s