*Substance over form

Ada seorang anak muda, naik motor, lantas kemudian motor ini kecelakaan. Pihak asuransi melakukan penyelidikan, apakah si anak muda ini punya SIM atau tidak? Melanggar peraturan atau tidak? Setelah dilakukan penyelidikan, kesimpulannya, si anak muda ini punya SIM, kendaraanya oke, tidak melanggar peraturan. Secara “form”, secara “bentuk”, maka genap sudah, anak muda ini oke. Tapi pertanyaannya, bagaimana kalau si anak muda ini dapat SIM-nya lewat cara nembak? Bukankah secara substansi, jelas sekali dia telah melakukan kesalahan yang sangat serius. Mengemudi dengan SIM yang diperoleh tidak sah? Rentetannya panjang sekali. Nah, di negeri kita ini, terkait asuransi, kalau semua keadilan di lihat dari sisi substansinya, maka jangan-jangan, hanya 10% saja klaim asuransi yang bisa dibayarkan. Karena semua peraturan toh sudah diterabas semua.

Contoh berikutnya, ada seorang pejabat, mengeluarkan surat ijin untuk membangun rumah (IMB). Secara bentuk, dia pejabat yang memang tepat posisinya, hak dan kewajibannya memang mengeluarkan IMB. Sah semua. Tapi secara subtansi, apakah IMB yang dia keluarkan jadi benar, ketika hampir sebagian besar harus ada tips, amplop, dsbgnya? Nah, lebih sial lagi, apakah secara substansi jadi benar, ketika pejabat ini bahkan waktu SMA, kuliah, semua nilai2 yang dia peroleh hasil nyontek. Masuk jadi PNS lewat nyuap, dan sekarang berkuasa. Bagaimana surat2 ijin ini jadi sah, ketika yang mengeluarkan adalah orang yang tidak sah berada di posisi tersebut.

Bicara moralitas di negeri ini seperti loophole. Seperti ular yang menelan ekornya sendiri. Penuh dengan paradoks dan ironi. Saya misalnya (ini misal), waktu mau bikin surat pengantar menikah, diminta uang 50 ribu. Ngamuk, marah, apa hasilnya? Nggak dikasih itu surat pengantar. Mau ngadu ke mana-mana, sudah terlambat. Bisa batal semua rencana pernikahan dua minggu lagi? Terjepit sudah situasinya. Lantas kemudian ketika saya mengalah kasih 50 ribu, jadi menikah, saya tahu sekali, pernikahan ini harus berdiri di atas sogokan 50 ribu ke kelurahan. Bagaimana dengan keturunan saya kelak? Sesuatu yang suci dimulai dari nista menyogok. Apakah saya ini sudah jadi pendosa? Pusing, kan?

Hari ini, mau kalian mengakuinya atau tidak, kita mungkin tidak punya sisi yang benar-benar jujur lagi. Mulai dari bikin KTP, hingga ijin2 lain yag lebih rumit, semua sudah dikontaminasi. Ketika orang2 terdesak, tidak punya pilihan. Ketika kita sudah malas untuk memperbaiki banyak hal, yang penting urusan saya beres. Ketika orang2 yang berusaha mati2an lurus sekalipun, harus tumbang oleh situasi seperti ini.

Entahlah besok lusa.

Kita benar-benar membutuhkan generasi penerus yang sejak awal dididik dengan baik. Mulai membangun sistem yang benar2 mencegah terjadinya ketidakjujuran tersebut. Hanya dengan cara itulah kita bisa menatap masa depan yang lebih baik. Sehingga, besok lusa, kita bisa dengan tenang melihat semuanya. Baik secara “bentuk”, maupun secara “substansi”, semua urusan memang berjalan sama baiknya. Sistem telah mencegah kecurangan, pun orang-orangnya juga telah siap.

Saya terus percaya masa-masa itu akan datang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s