DPR Outsourcing

Berapa besar rumah kalian? Mayoritas penduduk Indonesia paling mentok hanya punya rumah ukuran 40 meter persegi. Maka bagaimana rasanya jika ada sebuah kamar, ukurannya 40 meter persegi? Satu kamar saja ukurannya setara dengan satu rumah. Kamar ini memiliki kasur super empuk, bantal terbaik, bahkan kamar mandinya, besar sekali. Bisa berendam, bisa bersantai, enak. Kamar ini berada di sebuah hotel bintang lima, dengan tarif satu malam 2 juta rupiah. Aduh, jika UMP hanya 2,8 juta, (banyak di daerah yang UMP hanya 1 koma sekian juta); itu berarti butuh bekerja selama sebulanan baru bisa menginap di hotel bintang lima ini.

Itulah standar hotel yang digunakan partai2 politik ketika mereka Munas. Berkumpul ribuan orang di satu tempat, menyewa ribuan kamar hotel selama 3-4 malam. Penuh dengan kemewahan. Penuh dengan makanan lezat, penuh dengan semua hal wah-wah dan wah lainnya. Lantas kemudian, saat rapat, mereka akan sibuk membahas tentang rakyat? Tentang mereka peduli rakyat? Mau membela wong cilik? Itu sungguh lelucon terbaik yang ada di negeri ini. Contoh paling mutakhir adalah Munas parpol di Nusa Dua Bali kemarin. Itu Munas di tempat paling top kemewahan seluruh Indonesia, secara matematis, tidak kurang 10 milyar hanya untuk biaya sewa kamar hotel saja. Belum tiket pesawat, belum uang saku.

Tapi kan kalau mereka punya uangnya ya terserah, dong? Memangnya situ miskin, yang mau nge-kost 300 ribu sebulan saja nggak ada duit? Iya, itu betul, memang terserah mereka.

Yang menjadi masalahnya adalah: partai politik itu milik siapa? Milik publik? Atau milik perorangan? Di negeri ini, tidak jelas transparansi dan akuntabilitas sebuah partai. Kita tidak pernah ada audit secara menyeluruh dari mana itu partai dapat duit? Dari sumbangan kader. Baik. Lantas darimana kader2 itu dapat duitnya? Kita tahu sama tahulah, kadang erat kaitannya korupsi, bagi2 proyek, dsbgnya dengan sumber pendanaan partai. Saking eratnya, tengok saja pesakitan KPK, bendahara, Ketum partai, masuk penjara mereka.

Dan lebih serius lagi pertanyaan: partai politik itu sebenarnya memperjuangkan apa? Kekuasaan individual atau kesejahteraan rakyat? Semua partai pasti buncah bilang demi rakyat. Lantas kenapa ketika mereka Munas, jauh sekali dari realitas tersebut? Bahkan rapat kecil, konferensi pers, pakai hotel mewah, dikit-dikit ditempat keren nan kinclong. Saya tidak paham situasi ini. Apalagi kalau sampai membahas tampilan mereka, apanya yang akan membicarakan wong cilik kalau jam tangan mereka saja nyaris 100 juta? Jas yang mereka kenakan 10 juta? Wong cilik mana sih yang sekeren itu?

Dari dulu saya selalu bertanya hal simpel ini: siapa sih yang paling diuntungkan dengan adanya partai politik? Entahlah. Karena jangan2 terlalu banyak yang diberikan negara ini untuk partai politik, tapi sedikit sekali yang mereka berikan untuk negara. Boleh jadi, besok lusa, kita outsource saja DPR/DPRD malah lebih baik. Dan partai politik, mereka juga bisa kita outsource, yang jika tidak becus, bisa dipecat segera. Asyik kan? Dan mereka cukup dikasih UMP saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s