Hohoho

Menonton tayangan Upin Ipin dari masa ke masa membuat takjub. Semakin banyak pelajaran yang bisa di petik dari program ini. Mulai dari ajakan gemar makan buah, mengajar agar teliti, memberi tahu jenis Lemang yang ternyata bisa di buat dari kantung semar (dan saat nonton acara Si Bolang ternyata di Kerinci juga ada menu makanan ini yang hingga sekarang masih tetap ada), menjelaskan banyak manfaat dari pohon kelapa-yang dalam hadits nabi Muhammad SAW disebutkan tentang muslim itu ibarat batang kurma yang maksud dari hadits ini bisa di lihat dari kegunaan pohon kelapa yang dari akar hingga pucuknya semua berguna-, pun teknologi sekarang yang marak dengan penggunaan tablet dan yang paling seru tentang munculnya Ultraman.

Semua judul yang ama saksikan bagus-bagus. Mengajar kita agar tidak lupa dengan budaya Melayu, mengajak kita agar tetap melestarikan budaya, termasuk dalam benda yang saat ini sangat jarang manusia menggunakannya seperti yang judulnya “Terompah Opah”.

Khusus yang judulnya tentang Ultraman, kalaulah adiak uni paling ganteng menyaksikan tentunya makin seru nonton bareng dengan dia. Secara 6 tahun yang silam begitu rutinnya ia menonton film ini silih berganti dengan “Power Ranger” sebelum pergi sekolah. Dan hasilnya kaset bajakan yang dari awal sudah tidak bagus kualitas gambarnya makin lama makin rusak karena sering di putar, terlebih setiap di putar pakai gangguan dengan utak atik aneka tombol ”next, back, forward, pause atau start”.

Setidaknya adiak uni paling ganteng juga pernah tahu bahwa zamannya kecil tidak jauh berbeda dengan zaman uni abangnya dahulu. Karena tak banyak anak SD sekarang yang tahu dengan film2 ini. Meski ceritanya fiksi, namun setidaknya masa seragama putih merah dahulu kami punya tayangan tersendiri yang memang untuk usia kami. Bukan tayangan sinetron yang ama heran kok bisa anak SD sudah hobi nonton sinetron atau serial sejenis lainnya yang dahulu malah itu tontonannya ibu-ibu. Ga ngerti deh…

Meski sudah berjamuran kembali tayangan anak-anak yang memang untuk anak-anak, tetap saja tayangan usia mereka ini tidak terlalu mereka gemari. Malah yang gemar itu orang dewasa. Contoh film ‘Mahabrata’, seharusnya bukan anak-anak yang menjadi sasaran film ini, tapi anehnya malah banyak anak-anak yang suka dengan tayangan ini. ‘Masha and The Bear’ yang seharusnya cocok untuk anak-anak malah orang dewasa yang menggemarinya bukan anak-anak.

Anak-anak yang ama maksud disini adalah anak SD bukan balita yang mereka belum mengerti soal tontonan. Mungkin zaman semakin cepat menua, sama halnya dengan semakin dewasanya anak-anak sekarang, sehingga tontonan yang seharusnya bukan untuk mereka sekarang telah menjadi lumrah untuk mereka nikmati.

Semoga pihak-pihak yang masih peduli dengan pelestarian budaya tetap tidak kehabisan ide cerita untuk menyajikan tontonan yang berkualitas. Meski tetap saja kalangan dewasa yang lebih banyak menikmatinya, semoga mereka pun bisa mewariskannya pada generasi di bawah mereka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s