Handeh, Lah Bukak Rental Lo Ama

pado dak do gai ado tulisan menerima ketikan do, tapi banyak juo yang datang untuak ngetik. mentang2 nampak komputer di kodai ama, tu lah disangko se tampek rental. kadang moto kopi gai. dak di baco dek urang kali spanduk kodai ama ko. yo lah, dari pado main game se karajo ama, jadi juo lah ganti kesibukan. hehehe. ko ketikan yang paliang banyak ama ketik. ciek ngetik se nyo, dak ngeprint. yo bana lah urang e. sabanyak antah ama ketik, dak jo di print langsuang do. ko baru separo ketikan e

BAB VII

PERMINTAAN AKAN UANG

Teori permintaan uang sebenarnya dapat dijelaskan dengan menggunakan teori tentang alokasi sumber-sumber ekonomi yang sifatnya terbatas. Pada prinsipnya, dengan sumber ekonomi yang terbatas, manusia haruslah memilih alokasi yang memberikan kepuasaan sebesar-besarnya (dus, prinsip ekonomi). Apabila mereka ingin memperbanyak konsumsi misalnya, maka jumlah kekayaan (yang terdiri dari pendapatan dan kekayaan lainnya) akan semakin kecil. Demikian juga apabila mereka ingin memiliki salah satu bentuk kekayaan yang lain akan menjadi lebih sedikit. Kekayaan dapat diujudkan dalam bentuk uang, surat berharga, deposito atau barang.

Kenyataan bahwa seseorang/masyarakat menyimpan uang kas tentu ada manfaatnya, seperti misalnya dapat dipakai sebagai alat pembayar, sangat likuid serta aman, dalam arti tidak susut nilainya dalam bentuk uang (kalau berbentuk barang, apabila ingin cepat ditukarkan dengan uang seringkali nilai barang itu turun). Hal inilah yang nantinya menjelaskan mengapa seseorang memegang uang kas.

 

7.1. TEORI PERMINTAAN UANG KLASIK

Teori permintaan uang klasik tercermin dalam teori kuantitas uang. Pada awal mulanya teori ini tidak dimaksudkan untuk menjelaskan mengapa seseorang/masyarakat menyimpan uang kas, tetapi lebih pada peranan daripada uang. Dengan sederhana Irving Fisher merumuskan teori kuantitas uang sebagai berikut :

MV = PT

Dimana :

M = Jumlah uang beredar

V = Perputaran uang dari satu tangan ke tangan dalam satu periode

P = Harga barang

T = Volume barang yang diperdagangkan

Beberapa versi teori ini adalah :

Pertama, dengan mengganti volume barang yang diperdagangkan (T) dengan output riil (O), sehingga formulasi teori kuantitas menjadi :

MV = PO = Y

Dimana :

Y = PO = GNP nominal

V = Tingkat peputaran pendapatan (income velocity of money)

Kelemahan pertama adalah bahwa dalam kenyataannya V tidaklah tetap. Baik di Negara maju (amerika serikat) maupun Negara berkembang, V cenderung tidak konstan. Sebagai contoh, besarnya V di Indonesia selama tahun 1970 sampai dengan 1983 adalah sebagai berikut :

Table 7.1

Tingkat Perputaran Uang (V) di Indonesia

1970-1982

Tahun GNP Harga Berlaku

(GNP Nominal)

(Miliar Rp)

Jumlah Uang Beredar

(M)

(Miliar Rp)

Tingkat Perputaran

Uang/Pendapatan

(V = GNP )

M

1970

1971

1972

19873

1974

1975

1976

1977

1978

1979

1980

1981

1982

3.189,5

3.604,1

4.419,8

6.500,0

10.209,4

12.085,7

14.984,2

18.355,2

21.879,3

30.541,0

43.435,0

52.1021,1

57.675,1

210,7

270,2

360,3

530,3

784,3

1.027,1

1.427,9

1.815,4

2.110,9

2.488,3

3.384,7

4.995,0

5.998,0

15

13

12

12

13

12

10

10

10

12

13

10

9

Sumber: Nota Keuangan dan RAPBN 1983/1984

Tabel di atas menunjukkan tingkah laku V atau k selama 1970-1982. Selama periode tersebut terlihat bahwa V tidaklah konstan, oleh karena itu teori permintaan uang harus dapat menjelaskan timbulnya perubahan ini.

Kelemahan kedua, bahwa teori klasik mengabaikan pengaruh tingkat bunga terhadap permintaan uang. Teori kuantitas uang menggangap bahwa permintaan akan uang kas tidak dipengaruhi oleh tingkat bunga (sebab, motif utama memgang uang adalah untuk transaksi, yang besarnya tergantung dari pendapatan).

7.2. TEORI PERMINTAAN UANG KEYNES

Keynes, dalam teorinya tentang permintaan akan uang kas, membedakan antara motif transaksi (dan berjaga-jaga) serta spekulasi. Jadi dia juga mengakui adanya motif transaksi, hanya saja yang lebih penting (dalam arti pengaruhnya terhadap kegiatan ekonomi) adalah motip spekulasi.

7.2. 1. Permintaan Uang untuk Tujuan Transaksi

Individu atau perusahaan memerlukan uang kas untuk membelanjai transaksi karena mereka piker bahwa pengeluaran ini sering terjadi lebih dahulu dari uang masuk (dari pendapatannya). Pengeluaran ini seringkali tidak bisa dipikirkan terlebih dahulu, sehingga sangat diperlukan adanya uang kas di tangan. Meskipun seandainnya pengeluaraan dan penerimaan itu dapat diperkirakan dengan tepat, namun uang kas di tangan tetap diperlukan. Sebab, penerimaan yng diharapkan mungkin tidak jadi diterima, atau pengeluaran untuk transaksi yang sangat penting perlu dilakukan sebelum penerimaan datang.

Keynes menyatakan, bahwa permintaan uang kas untuk tujuan transaksi ini tergantung dari pendapatan. Makin tinggi tingkat pendapatan, makin besar keinginan akan uang kas untuk transaksi. Seseorang atau masyarakat yang tingkat pendapatannya tinggi, biasanya melakukan transaksi yang lebih banyak dibanding seseorang atau masyarakat yang pendapatannya lebih rendah. Ketergantungan permintaan uang untuk transaksi terhadap pendapatan dapatlah digambarkan sebagai berikut :

Gambar 7.1

Permintaan Uang untuk Transaksi

Y

P

L1

L1

L1

 

Permintaan uang untuk transaksi (riil) ditunjukkan dengan L. meskipun hubungan antara permintaan uang untuk transaksi dengan pendapatan riil (Y/P) digambarkan dengan garis lurus (L1 L1), namun dalam kenyataanya tidak lurus demikian. Dari sini jelas bahwa Keynes mengikuti jejak kaum klasik (paling tidak Marshall) bahwa permintaan uang untuk transaksi tergantung dari pendapatan. Namun Keynes berbeda dengan kaum klasik dalam hal penekanan pada motif spekulasi dan peranan tingkat bunga dalam menentukan permintaan uang untuk spekulasi.

7.2. 1. Permintaan Uang untuk Tujuan Spekulasi

Permintaan uang untuk tujuan spekulasi ini, menurut Keynes ditentukan oleh tingkat bunga. Makin tinggi bunga makin rendah keinginan masyarakat akan uang kas untuk tujuan atau motif spekuasi. Alasannya, pertama apabila tingkat bunga naik, berarti ongkos memegang uang kas (opportunity cost of holding money) makin besar/tinggi, sehingga keinginan masyarakat akan uang kas akan makin kecil. Sebaliknya, makin rendah tingkat bunga makin besar keinginan masyarakat untuk menyimpan uang kas. Kedua, hipotesa Keynes bahwa masyarakat menganggap akan adanya tingkat bunga”normal” berdasar pengalaman, terutama pengalaman tingkat bunga yang baru-baru terjadi. tingkat bunga normal artinya suatu tingkat bunga yang diharapkan akan kembali ke tingkat bunga normal ini manakala terjadi perubahan.

Apabila tingkat bunga kenyataanya di bawah normal, masyarakat akan memperkirakan tingkat bunga akan naik kembali pada tingkat bunga normal tersebut. Harga surat berharga diperkirakan turun (sebab tingkat bunga naik) sehingga mereka akan menjual surat berharga dan dengan demikian keinginan memgang uang kas naik.

Ketergantungan permintaan uang kas untuk spekulasi terhadap tingkat bunga dapatlah digambarkan sebagai berikut:

Gambar (a) menunjukkan adanya hubungan negative antara tingkat bunga (r) dengan permintaan uang untuk spekulasi (L2). Gambar (b) menunjukkan adanya apa yang oleh Keynes disebut “liquidity trap” bagian horizontal dari permintaan uang kas pada tingkat bunga yang begitu rendah (menurut ukuran pengalaman- pengalaman masa lalu), elastisitas permintaan uang kas menjadi tak terhingga besarnya. Masyarakat tidak akan memegang surat berharga pada tingkat bunga ini (rL) karena mereka memperkirakan bahwa keuntungan/pendapatan dari memegang surat berharga pada tingkat rL lebih rendah daripada kerugian yang timbul karena kenaikan tingkat bunga di masa datang.

Implikasi dari adanya hipotesa liquidity trap ini adalah bahwa tingkat bunga rL tidak bisa turun lagi, padahal mungkin rL ini dirasa terlalu tinggi untuk menunjang tingkat kesempatan kerja penuh (full employment).

Bagi seorang individu, permintaan uang untuk tujuan spekulasi merupakan fungsi (yang terputus) dari tingkat bunga. Artinya, bagi individu selalu ada perkiraan adanya tingkat bunga “normal”. Apabila tingkat bunga yang berlaku di bawah/lebih rendah dari tingkat normal ini dia memperkirakan akan naik lagi ke tingkat normal tersebut, sehingga dengan demikian dia akan mengujudkan semua kekayaannya dalam bentuk uang kas. Sebaliknya, Apabila tingkat bunga yang berlaku di atas/lebih tinggi dari tingkat normal, dia memperkirakan akan turun balik ke tingkat normal lagi di kemudian hari, sehingga dengan demikian semua kekayaannya akan diujudkan dalam bentuk surat berharga. Oleh karena itu bagi seorang/individu kurva permintaan uang untuk spekulasi sebagai berikut:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s