Diantara status Ust Felix Siauw terkait kebijakan Bu Menteri BUMN dan tradisi Natal

“tato boleh, celana cingkrang dilarang, jenggot nggak boleh, kerudung boleh sebatas leher” | sekarang manusia sudah berlagak seperti Tuhan

memang aneh, toleransi mati-matian ketika berurusan dengan non-Muslim, sampai-sampai kebablasan | tapi dengan Muslim? mati-matian memaksa

harusnya kalau konsisten toleransi, biarkanlah orang dengan keyakinannya | dengan kerudung syar’i, dengan identitas keislamannya

“ini masalah uniformitas, seragam, kebijakan institusi” | apapun masalahnya, kita tetap beragama bukan? Islam pun punya aturan

dan ini menjadi jelas bagi kita, bahwa memang harus syariat Islam yang diterap | karenanya masalah begini tak akan terulang lagi

st felix

 

Renungkan sabda Nabi Muhammad

“Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka” (HR Abu Dawud, Ahmad)

Berkenaan hadits ini, Ibnu Taimiyah menulis

“Minimal, hadits ini menetapkan adanya keharaman meniru-niru ahlu-kitab (nasrani-yahudi), meskipun pada dzahirnya (dapat) menjadikan kafir orang yang meniru-niru kepada mereka…”

Apa maksudnya bertasyabbuh? ialah meniru-niru dan menyerupai baik dalam niat keyakinan ataupun dalam amal perbuatan yang tampak

Menurut Al-Munaawiy dalam kitab Faidlul-Qadiir, meniru-niru ini termasuk keyakinan dan kehendak, mapun ibadah atau kebiasaan

Dalam praktik modern, meniru-niru ini bisa jadi memakai benda khas, atau kebiasaan khas, seperti kalung salib, V-Days, tahun baru, atau dalam bulan-bulan ini, berpakaian ala sinterklas, mengucap selamat natal, dan semisalnya, ini semisal toleransi kebablasan

Padahal toleransi cukup hanya biarkan penganutnya laksanakan ajarannya, bukan malah ikut dan larut dalam keyakinan dan ibadah mereka

Lalu bagaimana bila bekerja diharuskan memakai atribut khusus natal? | dalam kondisi apapun, tidak ada tawar menawar akidah

“yang penting kan hatinya tetap iman, walau luarnya pake topi sinterklas” | meniru-niru bukan hanya urusan hati tapi juga urusan amal

“demi cari makan buat anak dan istri” | justru itu, memberi makan anak istri harus dengan cara yang baik

“non-Muslim juga pake peci dan ucap salam pas lebaran” | mereka nggak punya syariat, kita punya, tuntunannya dari nabi lengkap

“tapi itu kan cuma pakaian, bukan aqidah” | makanya, cuma pakaian kan, kenapa harus dipaksa-paksain ke Muslim untuk pakai?

“tapi itu kan cuma pakaian?!” | kalau pakaian sehari-hari sih ok, ini pakaian sudah khas, khas perayaan natal, maka jelas hukumnya

masih nekad juga dan anggap enteng meniru-niru ini (tasyabbuh)? | coba simak hadits berikut ini

“Kamu akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu ikut memasukinya.”

Para sahabat lantas bertanya, “Apakah yang anda maksud orang-orang Yahudi dan Nasrani, ya Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?”

(HR Bukhari)

Yang namanya godaan itu ya dari kecil, nggak langsung gede, penyimpangan itu dari yang kecil yang jadi membesar tanpa sadar

Toleransi itu sederhana, “bagimu agamamu, bagiku agamaku”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s