Nuruddin Zanky

Ulasan singkat dari tayangan Khalifah Trans7, tanggal 3 Agustus 2013

Di kenal sebagai pemimpin yang adil. Menapaki jejak Umar Bin Khottob dan Umar Bin Abdul Aziz. terlahir di masa umat Islam terpecah akibat ambisi kekuasaan. maka dengan keadilan ia menyatukan negeri2 kaum Muslim dalam satu barisan. Ia telah merintis pembebasan negeri Palestina dan membebaskan negeri ini dari tirani Salib. Ialah yang menjadi guru besar dari sang pembebas Al Quds, yakni Sholahuddin Al Ayyubi, dan menjadikan sang murid mencapai impiannya. Ialah Nuruddin Zanky.

Lahir tahun 511 H, Nuruddin Mahmud Zanky tumbuh di masa umat Islam terpecah belah. Banyak negeri umat Muslim yang memisahkan diri dari kekuasaan kekhalifan abbassiyah di Irak. Namun beruntung Nuruddin Zanky dibesarkan ayahnya Imaduddin Zanky, Pemimpin di Aleppo, di Syam atau Suriah. Seorang ayah yang memiliki kesholehan dan memikirkan masa depan umat. Itu sebabnya Nuruddin Zanky dididik dengan bekal ilmu agama dan kepemimpinan yang baik.

Ini yang kemudian banyak membekali dirinya menjadi pribadi yang matang dan sholeh ketia dia dewasa. Saat sang ayah wafat, Nuruddin Zanky diangkat mengganti kepemimpinan sang ayah pada tahun 541 H di usianya yang ke-30 tahun. Sejak menjadi pemimpin di Aleppo di Syam, ia langsung memaklumkan perang melawan kaum Salib yang banyak menguasai negeri Muslim. Dan syarat bisa menguasai baitul maqdis yaitu, berbuat baik pada umat dan manusia, dan yang kedua persatuan umat Islam.

Kawasan Antokia, Utara Syiria, mengawali upaya pertama melawan kaum Salib yang semakin kokoh mencekam negeri2 Muslim. Tahun 1148 terjadi perang Salib II memasuki kawasan syiria, dipimpin raja Louis VII dan konred III mencoba menyerang Damaskus. Namun, pasukan Salib segera meninggalkan Damaskus sebelum pasukan Nuruddin tiba. Sementara Nuruddin Zanky melanjutkan perlawananannya di frontline pasukan Salib di kawasan utara. Sejak dinobatkan menjadi pemimpin di Aleppo, Nuruddin membangun negerinya seperti yang dicontohkan Khalifah Ar Rasyidin. Ia begitu mengagumi kepemimpinan Umar Bin Abdul Aziz (cicit Umar Bin Khottob), khalifah yang dikenal alim dan adil, meski hanya memimpin selama 28 bulan. Sedangkan Nuruddin Zanky memimpin selama 29 tahun.

Dari rasul turun pemimpin Umar Bin Khottob, kemudian cicitnya Umar Bin Abdul Aziz. Umar Bin Abdul Aziz dikagumi oleh Nuruddin Zanky. Dan kelak Nuruddin Zanky langsung mendidik Sholahuddin Al Ayyubi, yang namanya bergema hingga hari ini. Inilah rangkaian dari kekaguman pada orang2 hebat, maka lahirlah generasi2 hebat.

Memimpin negeri dengan terobosan2 baru yang kesemuanya demi rakyatnya dan itu semua tidak lepas dari peran ulama. Maka ia mengembalikan peran agama dalam mengurus agama, dan ia berhasil membuktikannya. Ia menjadikan dirinya sebagai pelayan rakyatnya, dan mendirikan Darul ‘Adl agar bisa menampung keluhan semua rakyatnya dan agar tidak ada gap antara ia dan rakyatnya. Ia banyak memikirkan masa depan negeri dan rakyatnya. Itu sebabnya pendidikan menjadi hal penting dan serius baginya. Ia sadar betul bahwa bangkit dan besarnya masyarakat Islam berpangkal pada ilmu pengetahuan. Bahkan ia membuka majelis ilmu secara rutin. Hingga ia di kenal juga sebagai pemimpin yang alim tentunya selain politisi atau ahli strategi perang. Kebijakan lain yang mengejutkan dan menggembIrakan rakyat ialah dihapuskannya pajak yang selama ini mencekik rakyat. Kebijakan yang dikritik karena selama ini merupakan sumber pemasukan Negara. Namun ia berhasil membuktikan pertumbuhan positif negeri di wilayah pemerintahannya. Bahkan ia meminta pada semua ulama di setiap khutbah jum’atnya untuk menyampaiakan permohonan maaf Negara pada rakyatnya karena selama ini telah meminta pajak dari mereka.

Dan ini bukan mimpi masa lalu. Ini bisa dihitung. Bukankah sebagai orang beriman kita tahu bahwa sumber yang barasal dari syariat itu halal, dan yang halal itulah yang berkah. Dan Nuruddin Zanky bisa membuktikannya selam 28 tahun memimpin tanpa pajak. Pemasukan Negara di dapat dari pengusaha yang baik berupa infak, shodaqoh, zakat, wakaf, rampasan perang, jizyah, sumbangan orang2 kaya negeri yang di control tanpa ada deal apapun dibaliknya. Dan terbukti ia mampu membawa kemakmuran pada masyarakatnya. Malah melebihi dari penetapan pajak yang sebelumnya diterapkan bahkan hingga 45% yang mencekik rakyatnya.

Maka benarlah Ibnu Kholdun, yang mengatakan bahwa, “pajak tidak akan membuat kaya negerinya, malah membuat terhenti pembangunannya”. Dan gedung2 tidak berkembang serta pengusaha menyembunyikan hartanya.

Kebijakan2 yang dibuatnya disukai rakyatnya, malah ia bisa merebut kembali wilayah2 yang dikuasai oleh pasukan Salib. Inilah yang membuat Nuruddin yakin untuk bisa menyatukan negeri Muslim yang membentang dari Sungai Eufrat di Irak, hingga Sungai Nil di Mesir. Sejarah mencatat, Nuruddin berhasil mengembalikan 52 kota di wilayah Syam ke tangan umat Muslimin. Dan puncaknya ia dapat menyatukan seluruh wilayah Syam yang berpusat di Damaskus. Maka saaat ia memindahkan pusat pemerintahannya ke Damaskus, masyarakat Damaskus pun amat bergemberi menyambut kedatangan Nuruddin.

Disinilah Sholahuddin Al Ayyub yang masih remaja mulai memperhatikan dan mengangumi kepemimpinan Nuruddin yang mampu membawa keadilan pada rakyatnya. Ada satu misi mulia yang di emban Nuruddin, menyatukan negeri2 Muslim yang terpecah menjadi negeri2 kecil. Tujuannya untuk membebaskan Palestina dari kaum Salib. Untuk itu ia menutup dua jalur strategis masuknya pasukan Salib. Jalur Syam sudah di tutup, ketika ia mampu menguasai Damaskus dan memusatkan kekuasannya di Damaskus. Maka jalur kedua yang paling strategis adalah Mesir. Itu sebabnya ia berusaha menyatukan Syam dengan Mesir, namun Mesir yang di kuasai Dinasti Fatimiyah berhaluan Syiah menjadi pekerjaan tersendiri bagi Nuruddin.

Diutuslah Asaduddin Syurtu dan Sholahuddin Al Ayyub untuk menyatukan dan mengembalikan akidah umat Mesir. Nuruddin begitu dalam memikirkan Palestina. Melalui tangan Sholahuddin Al Ayyub, Nuruddin berhasil meyatukan Syam dan Mesir sekaligus menutup dua pintu akses menuju Palestina. Dan diangkatlah Nuruddin menjadi sultan untuk wilayah Syam dan Mesir.

Untuk bisa membebaskan Palestina, maka Syam dan Mesir harus disatukan. Maka ketika musuh2 Islam tidak pernah ridho Syam kembali ke pangkuan Islam dan Mesir dalam keadaan nyaman. Ketika Syam dan Mesir bertemu dalam pertemuan imani, seperti seorang Nuruddin membimbing Sholahuddin Al Ayyub, maka seperti itulah Allah mengembalikan bumi Palestin pada umat Islam. Biidznillah

Meski keinginan terbesarnya membebaskan Palestina sudah semakin dekat, maka takdir berkata lain. Ajalnya ternyata lebih dekat mendekatinya. Tanggal 1 Syawal tahun 569 H, atau hari Idul Fitri, Nuruddin mengelar pesta rakyat atas khitan putranya. Seluruh rakyat bergembira dan menikmati syukuran yang diadakan sang pemimpin. Ternyata kegembiraan itu menjadi kegembiraan terakhir rakyat bersama pemimpinnya. 10 hari kemudian, tepat tanggal 11 Syawal 569 H, Nuruddin menghembuskan nafas terakhirnya. Seluruh rakyat berduka atas kepergian pemimpin yang mereka cintai.

“Ada seorang di Syam yang merasakan kezoliman. Ia dizolimi lagi oleh seorang pemimpin. Kemudian ia ke luar sambil menangis dan pergi ke kuburan Nuruddin. Karena ia baru saja merasakan kenyamanan hidup ketentraman, keadilan dan sekarang ia pun harus mendapat perlakuan zolim lagi , maka ia pun mengadu kepada Nuruddin. Dan nyampe disana, ternyata ia menemukan banyak orang yang yang sama juga datang ke kuburan Nuruddin mengadukan kezolimin yang mereka alami. Wahai Nuruddin, mana keadilan yang dulu engkau ciptakan. Peristiwa ini sampai ke telinga Sholahuddin Al Ayyub yang posisinya lagi di Mesir, yang saat itu menjadi pemimpin besar. Dan Sholahuddin Al Ayyub menegur pemimpin yang zolin tersebut dan menemuinya. Begitu Sholahuddin Al Ayyub menemui pemimpin tersebut dan orang tersebut telah menyelesaikan masalah ia pun menangis. Sholahuddin Al Ayyub pun kaget kenapa ia menangis lagi. Pemimpin itu pun mengatakan Subhanallah, maha suci Allah yang telah menggantikan pemimpin yang adil dengan pemimpin yang adil. Sholahuddin Al Ayyub tidak melupakan jasa gurunya, “aku ini hanya merupakan hasil didikan Nuruddin Zanky”. “

Tidak sia2 perjuangan yang dilakukan Nuruddin Zanky. Tahun 583 H, Palestina akhirnya berhasil dibebaskan Sholahuddin Al Ayyub, yang merupakan murid langsung Nuruddin Zanky. Murid yang begitu mengagumi Nuruddin Zanky dan menjadikannya sosok inspirasi. Rahimahullah Nuruddin Zanky.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s