Napak tilas 1435 H

2 hari sudah tahun 1436 Hijriah dimasuki, tentunya ada banyak kisah di tahun sebelumnya. Dan saat ini ama ingin menulis tentang beberapa poin yang terjadi.

Awal tahun di mulai dengan perjalanan dari Palembang ke Padang, Sungai Penuh, Padang lagi untuk selanjutnya ke Malaysia dan Singapur, Pulang ke Sungai Penuh lagi berbagi kisah perjalan dengan orang tua untuk selanjutnya kembali ke Palembang. Perjalanan yang banyak kisah, terutama kesudahannya.

Mulai belajar bahasa Arab lagi, meski cukup lama tidak mengulang pelajaran dasar, Alhamdulillah tidak terlalu sulit untuk memulainya kembali, meski akhirnya tetap tak berlanjut alias putus di separo jalan.

Jalan2 kembali, mencoba merasakan nuansa yang orang banyak banyak menyukainya, dan kesimpulannya ternyata memang beda.

Tahun ini merupakan tahun yang paling banyak ama jalan2 lintas daerah. Ga nyangka aja, Allah memberikan begitu banyak rezeki, sehingga selalu saja terkumpul dana untuk berpergian. Lebaran di Kayu Agung, lanjut ke Jakarta kembali, curi start ke Bandung duluan, balik ke Kali Deres, dan selanjutnya menunggu jadwal kepulangan di Jakarta untuk memulai aktivitas kembali di Palembang. Rasanya tahun inilah dari segi materi ama paling berlimpah, tidak hanya lewat pemberian dari orang tua, juga rezeki dari jalan yang ga disangka.

Kalau untuk negeri ini, akhir tahun di isi dengan pesta pora selebriti dan pejabat Negara. Berita pernikahan artis yang pakaiannya saja dengan harga ratusan juta, di luar nuansa glamor acara. Plus ditayangkan langsung berhari2 oleh berbagai stasiun televisi. Padahal ama ga punya televise, tapi tetangga sebelah mutar acara den gan volume tinggi hingga saat sholat pun ama mendengar berita gossip. Plus keesokan harinya lagi2 ditampilkan pesta pora oleh pejabat no 1 di Negara ini. Pesta pora disaat banyak warga negaranya yang masih sulit mendapatkan makanan, pesta pora di saat daya beli masyarakatnya rendah, pesta pora di saat banyak anak mengalami gizi buruk karena tak punya kemampuan untuk mendapatka makanan bergizi, malah segelintir orang menunjukkan kekayaannya. Ah, sepertinya kisah2 seperti ini selalu berulang setiap tahun. Semoga saja masih ada pemimpin yang sadar bahwa kepemimpinannya akan dipertanggungjawabkan, dan insan2 yang di beri harta melimpah pun sadar bahwa kelak titipan itu akan ditanyakan sumber dan penggunaannya. Semoga bergantinya waktu membawa kebaikan yang lebih baik lagi.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s