Asap Lagi Asap Lagi

Semenjak bulan September kemarin sebenarnya asap sudah menjadi pemandangan lumrah. Mengingat saat ini musim kemarau memang menjadi momen bakar membakar bagi sebagian besar penduduk yang memiliki lahan untuk di olah. Meskipun setiap musim kemarau perilaku membakar ini adalah hal yang lazim, namun ternyata cukup berbeda pada tahun ini. Hampir setiap hari akan ditemukan titik api baru di lokasi yang berbeda.

Untuk daerah Sumsel, kabupaten Ogan Ilir termasuk kabupaten yang paling banyak titik apinya. Secara sebagian besar tanah tersebut memang tanah gambut. Sehingga, ketika ada yang menyulut api meski kecil, maka ia akan menjadi pemicu kebakaran, karena memang musim kemarau pohon2 pun gampang untuk di bakar. Maka merata ke Palembang jualah asap tersebut, karena lokasi yang cukup berdekatan. Tak hanya satu kabupaten, ternyata sebagian besar kabupaten yang lain juga mengalami kondisi yang sama karena faktor yang tak jauh berbeda.

Ogan Komering Ilir, kota Prabumulih, hingga PALI, ternyata juga memiliki titik api yang turut memperburuk kondisi udara yang ada. Pendopo yang memang jarang hujan pun ikut mengalami kabut berasap seperti daerah lainnya. Tapi Alhamdulillah tidak separah Palembang. Sabtu kemarin pergi ke Palembang ternyata udara disana benar-benar buruk. Setengah hari saja berkeliaran. Mulut dan hidung rasanya ga enak banget. Udah banyak minum air putih plus penyegar, rasanya masih tetap ga enak. Ya udah, rencana mau berlama-lama di Palembang pun akhirnya kandas. Dari pada ntar muncul penyakit baru, lebih baik pulang ke pendopo. Karena saat baca koran hari sabtu tersebut, cukup banyak masyarakat yang terjangkit penyakit ISPA ( INFEKSI SALURAN PENCERNAAN AKUT).

Wajar saja sudah banyak korban yang terdeteksi, karena ama yang setengah hari saja disana sudah merasakan betapa buruk kualitas udara yang di hirup. Polusi pembakaran hutan, polusi berbagai jenis pabrik, polusi kendaraan yang volumenya di Palembang luar biasa (karena sarana transportasi darat, laut dan udaranya semuanya cukup dan tentunya menggunakan bahan bakar) serta polusi asap rokok yang anak SD saja sudah banyak yang merokok, kalikan saja dengan jumlah penduduknya yang juga sangat padat.

Tapi rada bingung, September kemarin polusi udara ga seperti sekarang parahnya, tapi pemerintah sangat cepat untuk membuat hujan buatan, sekarang sampai udah banyak jumlah korban yang berjatuhan ga da lagi sepertinya upaya pembuatan hujan buatan. Apakah karena kemarin ada acara MTQ Internasional, makanya demi mengurangi kerugian karena batalnya acara mengingat tidak sehatnya kondisi udara saat itu, lebih baik rugi sedikit untuk pengadaan hujan buatan dari pada tidak ada income sama sekali.

Ga tahu deh, sepertinya memang merata kondisi berasap sekarang. Biar di Padang, Jambi, Palembang, apalagi Pekanbaru yang selalu menjadi juara. Semoga manusia semakin sadar bahwa kerusakan ekosistem sekarang adalah ulah tangan mereka. Hanya segelintir oknum yang berbuat, namun dampaknya merata di masyarakat luas.

O ya, musim berkabut sekarang sama boomingnya dengan kasus bullying yang dialami siswi SDS di Bukittinggi. Sama2 bentuk kerusakan, namun dengan cara dan bentuk yang berbeda.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s