Refleksi di Seperempat Abad Usiaku

Banyak hal tentunya yang terjadi dalam usiaku yang ke-25 tahun. Mulai dari adaptasi aktivitas baru di daerah baru yang tentunya membuat banyak hal baru serta merta turut terjadi. Intinya, banyak hal serba baru deh. Namun, bermula dari serangkaian aktivitas baru yang mulai rutin ama jalani ini pulalah yang membuat hal baru lainnya turut terjadi dan seakan-akan berdampingan dengan yang namanya rutinitas, namun sayang ama tak menginginkannya. Yup, ternyata di tahun ini ama mengalami sakit yang baru di umur ini ama alami sekaligus dengan rangkaian pengobatan yang baru juga dunk ama dapatkan . tak cukup dengan keluhan sakit yang baru, ada juga ternyata keluhan lain yang meski tak baru tapi malah seakan menjadi kondisi rutin juga. Weleh2.

Ga tau kenapa, setidaknya empat kali sudah yang namanya sakit menjadi hal yang seolah lumrah di usia 25 tahun ini. Mulai dari demam yang karena pola makan saat cawu pertama yang memang amburadul, cawu kedua yang karena kesalahan pemakaian obat kumur yang berimbas pada gusi bengkak, hingga cawu ketiga yang melengkapi rutinitas mingguan selama sebulan untuk mengunjungi yang namanya rumah sakit.

Sebelumnya, ama termasuk orang yang paling jarang sakit. Bahkan untuk demam yang termasuk penyakit lumrah sekalipun. Tapi ternyata, inilah salah satu penyakit yang beberapa kali dalam setahun ama alami. Mulai dari demam biasa, demam disertai batuk, atau demam yang rasanya untuk jalan pun harus dipaksakan. Hmm, di saat sudah mulai bebas menentukan mau beli apa pun, kok rasanya malah makin turun imunitas tubuh. Dulu bermandikan hujan gerimis hingga berhari-hari ga memberi pengaruh signifikan pada tubuh. Sekarang baru tiga hari basah karena rintik hujan ternyata telah memberi reaksi perlawanan pada tubuh.

Ama ingat kembali, semenjak berada di Sumsel, yang namanya mondar mandir kulur kilir seperti menjadi bagian yang lumrah sekali. Bahkan bisa tiap hari kulur kilirnya, disertai ransel yang biasanya beratnya melebihi daftar belanjaan dapur, serta tentengan di tangan kanan dan kiri. Dari yang jaraknya bisa ditempuh sejam perjalanan dengan kendaraan , hingga yang paling cepat lima jam perjalanan bahkan tak jarang lebih. Belum lagi kalau kulur kilir tersebut ditemani cuaca yang sering berubah, ditemani asap rokok selama perjalanan serta polusi yang sangat tinggi di daerah ini, komplit deh pemicu eksternalnya. Tentunya ragam factor ini turut memberi imbas pada daya tahan tubuh ama. Secara kalau udah mulai kulur kilir biasanya pola makan dan tidur pun sering menjadi berantakan.

Akhirnya, dalam kisaran bulan saja, nama ama pun sudah terdaftar di dua rumah sakit swasta yang berbeda. Perdana di rumah sakit bertaraf Internasional yang karena sakit waktu itu membuat berat badan ama turun significan (secara kalau demam biasa biasanya ga akan ngaruh langsung ke berat badan), dan yang kedua rumah sakit swasta yang ante rekomendasikan mengingat rumah sakit yang sebelumnya ama datangi cukup mahal biaya pengobatannya dan factor tertentu yang membuat ama seharusnya tak akan berobat kesana lagi. Secara rumah sakit yang kedua ini pelayananannya tak mengecewakan dan harga pun lebih murah dibandingkan rumah sakit yang bertaraf Internasional  dan lebih aman tentunya.

Ada harga ada mutu. Begitu juga criteria rumah sakit. Untuk rumah sakit perdana, tidak sampai 2 jam ama berada disana, 700ribu Rupiah pun habis seketika. Beda jauh dengan rumah sakit yang kedua yang bahkan di kunjungan yang ke empat kalinya (semoga ini yang terakhir kalinya, capek deh mondar mandir kesana mulu) kocek yang keluar pun masih belum mencapai nominal seperti di rumah sakit perdana. Tentunya hal ini wajar, mengingat dari segi apapun yang bisa menjadi criteria perbandingan kedua rumah sakit ini jauh berbeda. Mulai dari bentuk atapun ukuran tiket, tampilan gedung, petugas rumah sakit, kemasan resep obat, hingga pengunjung yang datang. Yang tidak beda jauh sepertinya hanya dokter. Mengingat meski di kedua rumah sakit ini ama berkunjung ke dua dokter di setiap rumah sakitnya, kedua dokter ini sepertinya memang memiliki keahlian dalam ilmu yang disandangnya, meski ternyata beda gender beda pelayanan. Sama saja, mau rumah sakit internasional ataupun tidak perbedaan gender ternyata memberikan pelayanan yang sangat berbeda.

Padahal kalau cewek, tentunya lebih nyaman berobat dengan dokter yang cewek juga, namun di kedua rumah sakit ini malah ternyata dokter cowoklah yang lebih ramah. Secara ama datang sebagai pesakitan tentunya kedatangan ama dengan keluhan yang pengennya cepat diobatin, eh, malah pada balik nanya. Udah gitu, ga mau jelasin sampai tuntas lagi. Padahal ama datang kan pake bayar uang konsultasi. Kok malah enakan di dokternta terima duit, ga enak di ama keluhan ama belum tuntas.

Tapi ga papa. Semoga menghitung hari di usia baru menurut kalender masehi, ama tidak akan mengunjungi rumah sakit lagi sebagai pesakitan yang memang harus mendapatkan penanganan medis, karena tabungan ama sudah semakin menipis malah nyaris habis. Semoga kualitas tidur ama kedepan juga lebih baik lagi, mengingat di usia ini juga ama cukup sering mengalami gangguan saat tidur. Yang ujung2nya dini hari juga baru bisa terlelap. Padahal kalau dalam kondisi normalnya fisik ama akan memberikan reaksi ketika ia kurang istirahat, tapi gimana mau istirahat, rangkaian kata menari indah dalam fikiran ama yang membuat ama tetap sadar untuk berdiskusi dengan diri sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s