Sambungan Ringkasan informasi dalam buku “JELAJAH MUSI, EKSOTIKA SUNGAI DI UJUNG SENJA”

  1. Persoalan perkebunan kelapa sawit di Sumsel seharusnya tak hanya terpaku pada upaya menambah lahan seluas-luasnya. Perluasan Perkebunan kelapa sawit mesti juga memperhatikan aspek lingkungan, terutama dampaknya pada daerah yang dilewati aliran Sungai Musi. Banjir di sejumlah kabupaten yang dilewati aliran Sungai Musi menunjukkan bahwa maraknya perkebunan kelapa sawit telah ikut menimbulkan dampak negative bagi lingkungan.
  2. Warga Desa Sungai Angit, Kec. Babat Toman, Kab. Musi Banyuasin, Sumsel turut menguasai bisnis kilang minyak mulai dari hulu sampai hIlir. Pekerjaan menambang minyak tanah itu di sebut molot dalam bahasa setempat. Sumur minyak ini merupakan warisan Stanvac, perusahaan asal USA yang melakukan eksplorasi dan eksploitasi pada ratusan sumur minyak di daerah tersebut pada awal abad ke-20. Lalu ketika Belanda takluk, sumur eksploitasi tersebut di ambil alih oleh Jepang. Dan di zaman Jeang inilah warga belajar bagaimana memproduksi BBM secara sederhana karena Jepang langsung memasak minyak mintah untuk keperluan perang saat itu.
  3. Jika cianjur di jabar memiliki padi pandan wangi, Klaten, Jateng memiliki padi rojolele, Musi Rawas di Sumsel memiliki pada yang mereka sebut Dayang Rindu. Namun, padi Dayang Rindu ini akan sulit ditemukan diluar daerah asal, bahakan di pasar Musi Rawas sendiri.
  4. Adalah hal yang lumrah menemukan aktivitas tambang pasir dengan berbagai pipa paralon di daerah Sumsel. Terutama di daerah anak Sungai Musi.
  5. Meski Sungai Musi berlimpah dengan air, namun melimpahnya air tak berarti banyak bagi warga sekitar desa upang 2, Kec. Makarti jaya, Kab. Banyuasin. Pertanian di daerah ini sering didera kekeringan, dan layanan air minum sangat minim.
  6. Pasar kalangan (pasar desa mingguan) adalah istilah untuk pasar yang hanya diadakan pada hari tertentu. Istilah kalangan ini lumrah juga saya temukan di berbagai tempat di kabupaten yang berbeda.
  7. Kapal tongkang termasuk salah satu jenis angkutan laut yang sangat berarti bagi masyarakat sepanjang DAS Sungai Musi. Selain sebagai sarana berpergian dengan membawa berbagai hasil jenis barang dagang, termasuk diantaranya untuk membawa pasir hasil tambang.
  8. Peranan Sungai Musi sebagai saran transportasi mulai ditinggalkan sejak tahun 1930-an. Saat itu bersamaan dengan pembangunan jalan raya yang menghubungkan Palembang dengan kota2 lain di Sumsel yang dilakukan penjajah Belanda. Keberadaan jalan ini turut mengubah perilaku masyarakat terhadap sungai. Rumah mereka yang awalnya menghadap ke sungai diubah menjadi membelakangi sungai.
  9.  Untuk jarak tempuh yang relative dekat, biasanya warga sekitar DAS menggunakan ketek (perahu ukuran kecil) sebagai sarana transportasi. Namun, untuk jarak jauh tersedia berbagai jenis kendaraan air, seperti speedboat, taksi air, kapal tongkang.
  10. Di Sungai Musi, Palembang, terdapat juga aktivitas penyelaman mencari harta karun di Sungai Musi, terutama saat musim kemarau. Di antara kawasan yang sering dijadikan lokasi menyelam antara lain, perairan Tangga Buntung, Benteng Kuto Besak, kawasan perairan Pabrik Pupuk Sriwidjaja (Pusri), Pertamina Di Plaju dan Sungai Gerong, 16 Ilir. Sejak era Kerjaan Sriwijaya, Kesultanan Palembang Darussalam, Penjajahan Colonial, hingga pascakemerdekaan, Sungai Musi menjadi lalu lintas niaga. Sehingga beragam benda bernilai sejarah sering ditemukan dalam aktivitas menyelan tsb. Diantaranya botol merkuri, uang timah, uang tembaga, arca dan perhiasan emas-perak.
  11. Banyak hal yang mulai berubah di sepanjang DAS Sungai Musi. Selain wabah banjir menjadi agenda tahunan yang dialami warga, berbagai jenis makhluk air pun turut sulit ditemukan. Diantaranya udang satang dan ikan seluang.
  12. Pertengahan abad ke-19 di sepanjang DAS Lematang banyak ditemukan tanaman kapas. Saat itu, kawasan lematang Ilir terkenal sebagai pusat budidaya kapas di Karesidenan Palembang, yang kala itu mencakup Sumsel, Jambi, Bengkulu, serta sebagian Lampung dan Bangka Belitung. Menurut catatan HP Kuyper (1906), setengah dari produksi kapas karesidenan Palembang dihasilkan dari daerah ini. dalam catatannya katoecultuur in Palembang, Kuyper antara lain menggambarkan, “berkat besarnya luas penanaman kapas, rute pelayaran melalui (sungai) Lematang dari Palembang ke Muara Enim juga menjadi perdagangan terpenting dari hIlir ke hulu.” Awal dari kemerosotan sosial-ekonomi ini dimulai sejak tercabik-cabiknya kawasan hutan di kawasan ini oleh aktivitas pemegang hak pengusahaan hutan (HPH) pada paruh pertama 1970-an. Berawal dari hIlir-mudik kapal2 motor berwarna kuning menyala dengan logodan nama perusahaan yang ditulis sangat mencolok: PT Swoody! MenghIlirkan ratusan kayu gelondongandi sungai lematang. Sejak saat itu pula kehidupan masyarakak kian sulit, banjir merusak padi di sawah tadah hujan penduduk, ikan2 makin susah di dapat, dan panen tak lagi sebagus dulu. Kini pun proses menuju degradasi itu masih berlanjut.
  13. Banyaknya pipa2 gas yang ditanam dalam tanah disebagai besar daerah Sumsel ternyata tak berimbas banyak terhadap taraf ekonomi penduduk, meski banyak warga yang kehilangan lahan sawah di sepanjang jalur pipa yang telah dibebaskan PN Gas. Karena kebanyakan pipa tersebut hanya sekedar “numpang lewat”. Tidak lebih! Namun, meski hanya “numpang lwat, kelak ketika terjadi kebocoran atau bahakan ledakan, merekalah yang pertama kali menanggung beban.
  14. Rumah panggung termasuk bagian terpenting dalam kehidupan masyarakat Sumsel, terutama yang bermukin di tepi Sungai Musi dan delapan anak sungainya, serta daerah lain yang memiliki sungai besar. Bahkan, mereka yang tinggal jauh dari sungai pun turut membangun rumah panggung dengan fungsi mengamankan diri dari serangan binatang buas. Pilihan rumah panggung tentunya tak lepas dari kondisi tanah di kawasan pantai timur Sumsel yang umumnya berupa lahan basah seperti rawa, dan hanya sedikit sekali tanah kering. Apalagi sejumlah jenis kayu yang tumbuh di wilayah tersebut (kayu unglen/unglin/besi dan kayu nibung) cocok untuk dijadikan tiang penyangga rumah dan mampu bertahan puluhan tahun. Tanah kering umumnya dimanfaatkan untuk menempatkan barang sacral dan tempat ibadah, seperti masjid dan klenteng atau candi, serta pemakaman.
  15. Sanisitas masih menjadi persoalan serius di sekitar tepi sungai sungai. Air sungai dijadikan warga untuk mandi, mencuci pakaian dan perkakas dapur, serta kakus.
  16. Rumah rakit menjadi bukti sejarah masuknya peradaban Melayu dan dimulai sejak era Kerjaan Sriwijaya hingga Kesultanan Palembang Darussalam menjadi tempat hunian etnis Tiongha. Pola hunian ini berakhir Mei 1998, saat kerusuhan rasial meledak di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk di Palembang, yang memaksa semua etnis Tiongha meninggalkan rumah rakit dan mengungsi ke Seberang Ilir dan menetap disana
  17. Rumah rakit menjadi salah satu ikon dari konsep Water Front City-nya koa Palembang, yang bertahan sejak ratusan tahun silam. Peter JM Nas, professor dari Universitas Leiden, Belanda menjuluki kota Palembang sebagai The Venice Of The East.
  18. Bukit Siguntang termasuk daerah yang menyimpan banyak benda sejarah.  Diantaranya arca Budha Sakyamuni, stupa dari batu pasir, 1 prasasti yang di tulis salam aksara Pallawa dan berbahasa melayu kuno, , 1 prasasti yang di tulis salam aksara Pallawa dan berbahasa Sansekerta dan 1 pinggan emas dengan tulisan berupa ajaran Budha.
  19.  
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s