Ringkasan informasi dalam buku “JELAJAH MUSI, EKSOTIKA SUNGAI DI UJUNG SENJA”

  1. Hulu Sungai Musi berada di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) di wilayah Kabupaten Rejang Lebong, Propinsi Bengkulu.
  2. Sungai musi memiliki 8 (delapan) anak sungai, yaitu Sungai Kelingi, Sungai Lakitan, Sungai Rawas, Batanghari Leko, Sungai Semangus, Sungai Lematang, Sungai Ogan dan Sungai Komering.
  3. Sungai musi menjadi lokasi berkembangnya Kerajaan Sriwijaya, kerajaan maritime yang disegani di Asia Tenggara pada abad ke-7 hingga abad ke-13 Masehi. Di daerah hulu sungai musi terdapat kawasan Besemah (pemerintah colonial lewat laporan-laporan mereka menyebutnya Pasemah, dan sejak itu masyarakat luar lebih mengenalnya sebagai Pasemah) yang menggambarkan kebudayaan masa prasejarah, berupa peninggalan megalitik (batu besar). ujar Kepala Balai Arkeologi Palembang Nurhadi Rangkuti (prolog).
  4. Warga Sumsel mulai berpaling dari sungai sejak tahun 1930-an, bersamaan dengan pembangunan jalan yang dilakukan penjajah belanda. Namun, untuk Palembang dan sekitarnya-lebih2 di daerah hilir, di kawasan transmigrasi di lahan pasang surut-hingga kini musi tetap menjadi andalan. Barang kebutuhan pokok, misalnya, masih terus mengalir dari pasar 16 ilir Palembang ke daerah2 pedalaman yang belum memiliki jalan darat, terutama ke kawasan bekas transmigrasi makarti jaya, serta sungsang, dan upang.
  5. PLTA musi merupakan sumber energy sumatera bagian selatan.
  6. Bunga raflesia beda dengan bunga bangkai. Bunga raflesia tumbuh di batang menjalar yang menempel di tanah sebagai tempat tumbuhnya bunga, ditemukan oleh thomas Stanford raflesia bersama temannya Dr. joseph Arnold di pulau lebar, dekat sungai manna, kabupaten Bengkulu selatan pada tahun 1818. Sedangkan bunga bangkai yang di kenal dengan istilah Amorphopallus tumbuh dari umbi, ditemukan oleh odoardo beccari, botanis italia di kepahiang Bengkulu tahun 1878.
  7. Aksara kaganga turut diajarkan pada generasi muda di daerah rejang lebong. Berkembang pesat di sumatera bagian selatan pada abad ke-16 hingga ke-17 masehi sebagai perkembangan dari aksara pallawa dan kawi. Aksara berkerabat dengan aksara di tanah batak dan bugis, sementara bali dan jawa menggunakan aksara hanacaraka. Nama kaganga merujuk pada tiga aksara pertama pada urutan 28 huruf, yaitu ka, ga, nga, dst. Penulisannya unik karena huruf2 di tulis dengan cara ditarik ke kanan atas dengan kemiringan sekitar 45 derajat.
  8. Ada 8 jenis seni bertutur besemah yang nyaris sudah ditinggalkan, yaitu guritan, “tangis ayam”, betembang, tadut atau betadut, ngicik panjang, andai-andai, rejung besemah dan meringit. Seni tutur yang saat ini gencar diperkenalkan kembali adalah gurutan atau geguritan. Isi dari guritan biasanya menggambarkan tentang sejarah perjuangan, sanjungan kepada pahlawan, legenda, kisah hidup seseorang atau cerita rakyat yang diguritkan atau dibawakan dalam bentuk nyanyian. Karena dinyanyikan, cerita-cerita ini menjadi enak di dengar. Salah satu seni tutur yang sulit berkembang adalah “tangis ayam” atau berimbai. Seni ini hanya diungkapkan dalam kondisi kesedihan yang sangat sendu. Dinyanyikan oleh ibu atau nenek pada hari saat teringat kematian anak atau cucunya.
  9. Meski tidak memiliki areal kebun kopi yang luas, kota pagar alam identik sebagai daerah penghasil dan tempat perdagangan kopi. Bahkan, identitas yang disandang kota yang dipagasri dataran tinggi bukit barisan itu tersohor sejak zaman penjajahan belanda. Sebagian besar biji kopi yang diproduksi daerah2 di hulu daerah aliran sungai musi, seperti kabupaten lahat dan empat lawang di propinsi sumsel serta kab. Kepahiang dan rejang lebong di prop. Bengkulu selalu mengalir ke pedagang dip agar alam. Kopi robusta dan arabika yang dihasilkan ini memiliki aroma khas. Wangi bubuknya bahkan sudah terasa sebelum diseduh dengan air panas. Setelah dihirup, nikmat kopi langsung terasa karena tak lengket di tenggorokan.
  10. Salah satu rumah tradisional dip agar alam adalah baghi. Dengan 15 tiang kayu peyangga bangunan yang masing2 berukuran 30cmx30cm; 6 tiang penyangga rumah berbentuk bulat, masing2 diameter sekitar 60 cm; dan papan kayu rumah dengan ketebalan sekitar 5 cm. rumah baghi yang di ukir di sebut sebagai rumah tatahan (ukiran) dan yang tidak di ukir disebut gilapan.
  11. Di pagar alam, para istri memiliki kekuasaan lebih tinggi dibandingkan lelaki dalam perdagangan sayur, mulai dari hulu hingga ke hilir terkait hasil kebun keluarga mereka. Jadi jangan heran melihat banyaknya juragan sayur perempuan di daerah ini.
  12. Pekerja pemetik teh di kaki gunung dempo pagar alam berasal dari jawa. Warna coklat mengilat, arom teh  yang tajam, dan rasa yang lebih sepat adalah cirri khas teh  asal gunung dempo. Dan 90% hasil produksinya di ekspor khusunya india dan eropa. teh ini di olah di PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII Pagar Alam, yang pembangunannya di mulai pada 2 mei 1929 oleh sebuah perusahaan belanda.
  13. Berbagi lahan dengan petani karet adalah salah satu tradisi lama yang masih berkembang hingga saat ini di musi rawas. sejak tahun 1990-an System ini dinilai menguntungkan kedua pihak. Pemilik tanah tidak akan memiliki lahan kosong yang terlantar, sebab sudah ditanami karet, dan penggarap pun dapat memiliki kebun karet setelah mengolah dan menanami lahan dengan karet hingga usia 5 tahun. Dan perjanjian atas dasar kepercayaan bukan di tulis dalam bentuk perjanjian.
  14. Di sepanjang daerah aliran sungai musi berikut anak-anak sungainya terdapar areal perkebunan sawit luas yang tersebar di banyak lokasi. Seperti tanjung raya, kab. Empat lawang, kab. Musi rawas, musi banyuasin, sampai ke banyuasin.
  15. Salah satu penyebab peluapan sungai musi adalah pembukaan perkebunan sawit yang membuat sungai meluap pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Hal ini karena tanaman sawit tidak mampu menahan air.
  16. Keberadaan kebun sawit juga turut menyumbang kerusakan jalan yang cukup parah di jalan penghubung lintas tengah dan lintas timur wilayah sekayu, kab. Muba hingga betung, kabupaten banyuasin. Dan tentunya juga turut menambah kemacetan di jakan raya.
  17. Desa sungai angit, kecamatan babat toman, kab. Muba merupakan salah satu daerah yang menguasai bisnis minyak. Kilang produksi bensi, minyak tanah, dan solar dimiliki warga dan dijual dengan harga lebih murah karena dimasak secara tradisional. Meski kalau nekat menggunakannya pada kendaran akan membuat mesin cepat panas.
  18. Karet merupakan komoditas yang paling dominate petani di pedesaan Sumsel serta daerah lain di sumatera dan Kalimantan. Setelah berproduksi, setiap hari bisa menghasilkan uang. Kkika dipupuk dan dirawat teratur, kebun itu akan menghasilkan getah yang lebih banyak. Akibatnya banyak anak usia SD & SMP yang lebih memilih menjadi penyadap karet daripada sekolah. Bahkan usia sekolah pun sudah berani mengambil kredit motor karena memiliki penghasilan dari menyadap karet.
  19.  Bersambung dulu
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s