Palembang

Banyaknya ragam acara yang diadakan di daerah ini seharusnya membawa pengaruh yang signifikan terhadap penghasilan masyarakatnya. Karena dalam setiap acara tentunya akan banyak pihak yang turut terlibat demi suksesnya suatu event, apalagi event yang diadakan termasuk event bergengsi bukan event kelas teri. Tapi anehnya, tetap saja pihak2 yang sudah berduit yang menikmati masuknya tambahan rupiah dalam celengan harta karun yang mereka timbun, tidak merata pada semua lapisan masyarakat. Padahal salah satu factor yang membuat tingginya tingkat criminal di suatu daerah juga disebabkan oleh jauhnya gap yang menjadi pemisah antara si kaya dan si miskin. Meskipun propinsi ini memiliki perputaran uang yang sangat tinggi tiap jamnya, sangat mudah di tebak perputaran uang tersebut tidaklah sampai separonya terjadi kembali didaerah ini. Bersilih gantinya perpindahan kekayaan hanya terjadi pada segelintir orang, yang tentunya kebanyakan mereka pun membagi-bagikan uangnya pada rakyat luar negeri di bandingkan saudara tanah airnya.

Karena itu, meskipun aku termasuk dalam golongan yang turut mengais rupiah di daerah Sumatara Selatan ini, sampai sekarang opini ku tentang kejamnya kehidupan di daerah Sumsel belumlah berubah, padahal jangankan penduduk local yang datang berkunjung, tak sedikit turis mancanegara turut bertamu ke Bumi Sriwijaya ini. apakah karena alasan sekedar jalan2 L, menghadiri acara ataupun berbincang terkait “perampasan” kekayaan daerah yang sangat menggiurkan namun berselubung investasi ataupun alasan2 lainnya.

Sangat tidak mungkin banyak orang mau menghadiri beragam acara yang berlangsung di Bumi Sriwijaya ini kalau lah propinsi ini tidak memiliki daya tarik. Dan untuk saat ini kita akan mencoba menulis satu-per satu event2 yang pernah diadakan di propinsi ini, baik dalam skala nasional maupun internasional. Tak bisa dipungkiri, meskipun penduduknya cenderung kurang ramah, ternyata Propinsi ini sukses beberapa kali pernah menjadi tuan rumah ajang nasional maupun internasional. Tidak hanya di kota Palembang saja tempat pelaksanaannya, tapi juga di beberapa daerah kabupaten lain. Sebut saja acara SEA GAMES tahun 2011 lalu, Palembang termasuk salah satu tuan rumah satu-satunya di Sumatera selain Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jakarta yang semuanya berlokasi di pulau Jawa. Jambore Nasional tahun 2011 di Danau Teluk Gelam kab. Ogan Komering Ilir (yang tentunya tidak di publish pemerintah betapa banyak peserta yang kehilangan harta benda karena di curi warga setempat, tempat pelaksanaannya saja bergelar kota Duta -ajang latihan pencopet pemula berlatih), PON pada tahun 2004, lomba Musi Triboattoan yang diikuti berbagai negara, serta Islamic Solidarity Games yang kabarnya di hadiri 23 negara islam dunia dan baru saja usai September 2013 kemarin.

Sedikit cuplikan informasi tentang acara Musi Triboatton dari situs http://events.goindonesia.com/?event=musi-triboatton-2013

“Kolaborasi antara olahraga dan pariwisata, ternyata sangat membantu perkembangan pariwisata di Indonesia. Lomba triathlon, renang, lari, dan balap sepeda, semua sukses dilaksanakan di Indonesia. Sekarang giliran Sungai Musi di Sumatera Selatan yang kembali menjadi tuan rumah untuk Musi Triboatton 2013.

Tidak hanya dari Indonesia, acara ini juga akan diramaikan oleh peserta dari luar negeri. Negara-negara tersebut antara lain, Australia, Brunei Darussalam, Kamboja, Jepang, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Vietnam, dan masih banyak lagi.

Nantinya, para pendayung akan melalui 6 etape yang terdiri dari 5 kabupaten dari hulu ke hilir sungai. Etape ini akan dimulai dari Kabupaten Empat Lawang, Kabupaten Musi Rawas, Kabupaten Musi Banyuasin, Kabupaten Banyuasin dan Kota Palembang.”

Meski efeknya jelas-jelas merugikan banyak masyarakat -Bayangkan jalur lalu lintas super padat Pangkalan, Ampera, dan Jalan Sudirman terpaksa di tutup (dua hari kalau ga salah) karena termasuk rute jalur bagi peserta lomba. Semua warga Palembang umumnya apalagi Sumsel khususnya pasti mahfum betapa super sibuknya lalu lintas di sekitaran jembatan Ampera. Situasi normal saja pejalan kaki tidak memiliki wilayah untuk mereka bisa berjalan karena bertumbuknya sepeda motor yang naik ke jalur trotoar (yang padahal adalah hak pejalan kaki) karena membludaknya pengendara roda dua atau roda empat yang jumlahnya selalu meningkat. Jadi daripada mereka pengguna sepeda motor turut terjebak macet, biasanya mereka pun menerobos jalan lewat naik ke trotoar yang cukup tinggi sebenarnya, apalagi sekarang jalan super sibuk itu di tutup. Gimana gap using coba. Jalaur hulu ke hilir terpaksa mutar lebih jauh, apalagi kalau pengguna jalan itu juga tidak tahu kalau jalan yang biasanya mereka gunanakan terpaksa di tutup untuk warga. Kebayang kan gimana rasanya berjam-jam terjebak di jalan- hanya segelinitr orang yang tidak merasakan capeknya terjebak macet yang merasakan manisnya rupiah yang diterima. Rakyat kena macetnya, pemerintah atau pejabat terlibat tau enaknya. Tinggal bikin peraturan, turunkan aparat kepolisian, kasih uang, beres deh. Ga banget deh! 

Dan termasuk acara ISG yang jumlah pesertanya saja sudah bikin takjub (http://www.antaranews.com/berita/396896/presiden-buka-isg-palembang)

“Palembang (ANTARA Newsra) – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Minggu malam membuka Islamic Solidarity Games (ISG) III 2013 di Stadion Sriwijaya Kompleks Olahraga Jakabaring Palembang.

Acara berlangsung mulai pukul 20.00 WIB tersebut dihadiri oleh Presiden Islamic Solidarity Sports Federation (ISSF) Pangeran Nawaf bin Faisal bin Fahd, Ketua Panitia ISG III Palembang Rita Subowo dan Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo dan Gubernur Sumsel Alex Noerdin.

Dalam acara pembukaan yang dihadiri 16.000 peserta dan penonton itu juga menampilkan defile 44 kontingen yang totalnya berjumlah 1.400 orang atlet dan ofisial.”

Kebayang ga sih berapa duit yang masuk ke saku panitianya. Catat acaranya diadakan hampir seminggu, dan ga mungkin juga pihak yang telah datang itu sekedar datang buat ikut lomba, pasti juga mereka pergi jalan2 meski tidak ke semua daerah atau kabupaten. Bahasa simpelnya, pastinya mereka yang datang ke kota ini bakal ngabisin duit yang mereka bawa, kalaupun tidak semua, setidaknya masih cukup besar nominalnya.

Cukup banyak acara bergengsi yang diadakan di Bumi Sriwijaya ini, dan itu semua bukan dengan anggaran yang sedikit. Hampir tiap tahun Kota peempek ini menghasilkan rupiah yang bertumpuk sebagai feedback dari acara beken yang berlangsung. Sayangnya kemewahan pesta tersebut hanya dirasakan oleh segelintir orang.  Contoh acara terbaru yang spanduk kemeriahan acara masih terlihat hingga saat ini yaitu ISG (Islamic Solidarity Games). Karena kesuksesan acara tidak bisa dipisahkan dari tersampaikannya informasi ini pada masyarakat luas, maka sangat wajar kalau panitia acara menghabiskan banyak dana untuk promosi yang dilakukan dalam berbagai cara. Salah satu pihak yang paling berperan adalah jasa percetakan. Mulai dari penyediaan buku pedoman acara, sablon bendera berbagai Negara, spanduk ikut mensukseskan yang biasanya juga sebagai ajang promosi pejabat propinsi dan Pemda yang di pasang hampir di semua daerah, spanduk berbagai jenis perlombaan, baju berlogo acara, tanda pengenal panitia, peserta dan anggota official lainnnya, merchandise bertemakan acara, surat menyurat / undangan yang menyertakan kop surat dan amplop senada, kenangan-kenangan, piagam atau trophy dan sejenisnya, dll. Yang ringkasnya ngabisin duit Negara.

Pada intinya, kalau acara ini memang salah satunya bertujuan untuk meningkatkan pendapat masyarakat setempat, maka tentulah pengusaha percetakan yang berpusat di kawasan Mir Senen hingga Pasar Cinde merasakan ciprakannya. Sayangnya tidak, menjelang acara diadakan yang terlihat sibuk membayangkan rupiah yang mengalir hanyalah pengusaha hotel berbintang. Karena jangankan kamar yang di booking, lantai pun turut di sewa. Malah di media massa ku sempat membaca berita tentang batalnya utusan kerajaan arab Saudi karena keingginannya menyewa hotel tidak diizinkan pemilik hotel. Secara sangat banyak penonton lain yang turut meminta fasiltas lebih sebagai bentuk keprivasian mereka. Sedangkan sekian ratus jumlah hotel ternyata banyak tak sesuai level mereka. Sangat mencengangkan, tariff hotel per kamarnya yang membuat decak kagum saja ternyata masih kalah jauh dibandingkan ukuran masyarakat luar negeri. Luar biasa! Pihak hotel berbintang lima ternyata malah kekurangan kamar. Sedangkan pengusaha yang disebutkan di atas ternyata tidak merasakan sama sekali kemewahan acara ini. karena menjelang acara aku pun mampir ke Serelo, tidak terlihat kesibukan yang lazimnya muncul seperti saat kampanya Pilgub kemarin. Dan untuk memastikannya aku pun bertanya pada salah satu pemain lama. Dan jawabannya memang tidak ada yang menerima tender dalam acara ISG ini. kabarnya semua kebutuhan terkait acara ini langsung dikerjakan di Jakarta, bukan di Palembang. Jadilah pejabat yang punya jaringan ke pengusaha Jakarta lah yang merasakan kemeriahan acara, bukan warga kota Sungai Musi.

Meskipun contoh ini lebih pada kampanye pelaksanaan acara ISG kemarin, tapi setidaknya dapat memberi gambaran betapa banyaknya uang yang masuk ke propinsi ini hanya dalam kemasan acara. Karena skala apapun acara yang diadakan, sebagian besar yang datang tentunya akan menginap di hotel/penginapan (tentunya ini akan menguntungkan si pemilik hunian), jangankan beberapa hari, sehari saja penduduk daerah lain berkunjung ke kota ini, maka mereka akan berusaha matia-matian (lebay dikit) mencicipi makan khas daerah ini. baik peempek, model, tekwan, mie celor, laksan, dll. Meskipun tidak semuanya bisa dicicipi langsung, setidaknya kerupuk kemplang dan peempek termasuk dalam buah tangan yang paling sering di buru. Malah, kalau sempat mampir ke daerah Prabumulih dan sekitarnya, tentulah tak lupa untuk membawa nenas yang menjadi icon kota yang makin melejit ini. aatau kalau mampir ke Pagar Alam, dekat Gunung Dempo tentunya ga lupa bawa kopi dan teh yang terkenal itu. Atau kalau masih berlebih juga duitnya datang sekalian ke darah Ogan Ilir untuk beli kerajinan perak yang lagi2 juga terkenal.

 Itu baru acara yang cakupannya luas. Acara yang cakupannya terbatas juga sering diadakan di daerah ini. sebut saja Pekan Ilmiah Mahasiswa Ilmu Tanah bulan Mei 2013 kemarin yang diadakan di Indralaya dan Palembang meski terbatas pada mahasiswa konsentrasi ilmu tanah, setidaknya mereka berkumpul bersama di daerah ini. dan Tak hanya mahasiswa yang berkumpul, pengusaha karet se-dunia pun turut hadir saat acara Konferensi Karet Internasional September kemarin.

Mau acara hiburan juga bukanlah hal yang asing diadakan di Bumi Limas ini. sebut saja Opera Van Java yang cukup tinggi rating siarannya itu bisa ditayangkan live di Bumi Sriwijaya saat calon Gubernur Incumbent menggunakan uang Negara sebagai promosi dirinya. H. Rhoma Irama juga pernah di undang memberikan tausiyah sebagai salah satu cara kampanye calon gubernur. Belum lagi acara music yang live dari berbagai tempat. Jadilah Benteng Koto Besak termasuk tempat yang paling populer untuk dijadikan sebagai lokasi acara hiburan apapun (kecualai olahraga). Selain letaknya yang strategis sehingga mudah di jangkau dari daerah manapun, keberadaan sungai Musi dan jembatan Ampera  sebagai latar tentunya memberikan keindahan tersendiri.

Acara lomba olahraga pun kerap diadakan di Gelora Sriwijaya Jakabaring, mengingat lengkapnya fasilitas cabang olahraga ini. terlebih tim sepak bola Sriwijaya FC juga termasuk dalam tim yang diperhitungkan secara nasional, makin ramailah kawasan Sport Center Jakabaring ini dikunjungi, untuk arena lomba ataupun sekedar latihan. Dan dalam pengamatan ku, inilah satu-satunya wilayah Sumsel yang kita bisa berkendara secara nyaman. Jalannya masih bagus, suasana masih sepi kendaraan mondar mandir, dan cukup cantik. Intinya hanya dikawasan ini saja bisa merasakan nikmat berkendara.

Industry perhubungan pun tak luput dari ciprakan rezeki. Mau transportasi udara, darat, serta laut, semuanya turut merasakan. Belum lagi pedagang yang berlokasi di pasar 16. Sebagai satu-satunya pusat perbelanjaan terlengkap di hulu hilir Palembang, tentulah pedagang disana juga bisa ketiban rezeki. Meskipun banyak butik, mall, ataupun aneka pusat perbelanjaan lainnya yang menjamur tumbuh, namun di Pasar inilah semua kebutuhan anda tentang merchandise Palembang bisa di dapat. Namun, hati-hati saja, kalau ingin membeli sesuatu yang perlu di timbang, sudah mahfum dimana-mana, kebanyak timbangan masyarakat pasar kita saat ini tidak akur lagi. Begitu juga di pasar sini. Jadi, jangan kecewa kalau ternyata saat di timbang kembali dengan timbangan pribadi, selisih 2 ons atau lebih adalah lumrah terjadi. Meskipun demikian, tentu kita tahu penghasilan yang di peroleh tidak dengan jalan yang halal meskipun yang diperjualbelikan adalah barang yang halal, tetap saja ia tidak halal. Karena itu sangat wajar menemukan kondisi masyarakat yang sering membuat “takjub”. Karena penghasilan yang mereka peroleh dengan cara yang “menakjubkan”.

Itu baru kejadian di pasar. Saat kita naik kendaraan umum pun juga sering muncul cara2 menakjubkan ini. kasus mengoper penumpang karena trayek yang awalnya kita naiki ternyata sepi penumpang, dan tidak mau rugi, sopir pun memberi “mandate” sesama sopir lain untuk membawa penumpangnya bersama sopir lain. Saat kita tidak mau mereka berkilah ntar ga perlu pakai bayar ongkos lagi, padahal ujung2nya kernet angkutan yang ditugasi menjalankan “mandate” tetap memaksa kita membayar ongkos dengan alasan, kernet sebelumnya tidak memberikan ongkos ganti.

Belum lagi kalau naik angkutan umum lagi kita di minta bayar utuh meskipun jarak tempuh kita separo jarak trayek yang sebenarnya. Kelebihan sosok uang sering tidak dikembalikan kalau kita memberi uang berlebih, sebaliknya kekurangan uang sering di tagih kalau kita membayar ongkos sesuai dengan jarak trayek kita sebenarnya. Karena itu jangan salahkan aku yang tidak pernah mau memberikan jawaban “ya” kalau teman2ku mengatakan ingin jalan2 kesini juga. Lebih baik tidak. Toh, daerah ini bukanlah daerah yang ramah pada pendatang.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s