Kaya Vs Kaya'(nya)

Seiring bertambahnya jumlah hari ku berdiam diri di daerah Sumatera Selatan, semakin ku sadar betapa kayanya propinsi ini dengan hasil olahan alam, baik yang tanpa perlu penanganan khusus ataupun butuh banyak prosedur berat untuk mendapatkannya. Aneka kekayaan yang sangat berlimbah berada di daerah ini, namun mirisnya ternyata tak berimbang dirasakan sebagian masyarakatnya. Sebut saja hasil tambang yang butuh penanganan khusus berupa batu bara, minyak bumi, panas bumi agar bisa di dapat, hingga hasil alam yang tumbuh subur di tanah yang Allah amanahkan.

Ada berbagai jenis sayur-sayuran yang tumbuh melimpah di daerah Pagar Alam, lengkap dengan Kopi dan teh Dempo yang cukup terkenal (grade I dan grade II tentunya di ekspor ke luar negeri), hutan sawit dan karet  beserta pabrik untuk mengolah hasil alam tersebut yang banyak di temui di sekitar Muara Enim, Prabumulih, PALI, Ogan Ilir, banyak deh hasil alam ini ditemukan. Bahkan mungkin hampir semua kabupaten Sumsel memiliki lahan yang luas untuk ditanami hasil kebun. Hasil kayu di sekitar daerah ini juga cukup tinggi, buktinya ada pabrik pulp dan kertas berdiri kokoh di daerah yang sepertinya masuk kabupaten Muara Enim. Itu baru hasil dari darat, belum lagi lewat sungai Musi yang dengan delapan anak sungainya memberikan banyak hasil jenis ikan, makanya ga heran kota ini tak pernah berhenti memproduksi olahan hasil ikan, lha ikannya saja sangat mudah untuk didapatkan. Belum lagi pasir yang juga di kuras rakyat meski belum terindustrisasi -seperti hasil tambang yang memiliki nilai ekonomi tinggi- tapi turut serta dalam meningkatkan penghasilan masyarakat.

Karena daerah “jajahanku” masih minim, maka tidak semua daerah yang ku ketahui hasil alamnya. Tapi setidaknya bisa disimpulkan bahwa Sumsel ini memang kaya dengan hasil olahan alam, karena untuk hitungan kasat mata seharusnya taraf hidup rakyat daerah ini tinggi bukan? Gimana ga, hampir semua hasil alam berada di daerah mereka, kurang apa lago coba. Sayangnya, ternyata tidak demikiam. Sangat mudah untuk mengetahui sejauah mana pencapaian keberhasilan ekonomi yang telah berhasil di raih suatu daerah. Tanpa melihat laporan kuangan akun pendapatan masing-masing kita pun juga bisa membaca sendiri untuk kemudian menilai “sudah berpihak kah pemerintah kepada rakyatnya?”

Meskipun berlatar pendidikan ekonomi, namun ku lebih tertarik dengan kenyataan sehari-hari yang ditemukan dibandingkan dengan angka-angka pada laporan. Karena seperti diketahui pembuatan laporan keuangan lebih cenderung kepada kebutuhan pemakainya, bukan menampilkan fakta sebenarnya. Karena itulah ku lebih tertarik untuk “menganalisa” angka-angka di lapangan yang bisa bercerita banyak hal dibandingkan membaca laporan keuangan.

Tak bisa dipungkuri, pundi-pundi rupiah yang dihasillkan daerah ini tak kalah jauh dibandingkan Jakarta ataupun kota besar lainnya di Indonesia, namun seperti kebanyakan kota-kota besar di Indonesia juga, pundi-pundi tersebut ternyata tidak berputar di dalam negeri, melainkan malah ke luar negeri. Hampir semua kekayaan alam daerah ini di produksi untuk warga luar negeri, baik hasil tambang maupun hasil kebun.

Sebut saja usaha pertambangan batu bara yang sebagian besar di ekspor ke luar negeri, namun sayangnya meski pengusahanya untung besar, sebagian besar rakyat dirugikan akibat rusaknya jalan karena di lalui truk batu bara yang jumlahnya ribuan dengan muatan puluhan ton per truknya. Dan rutenya dari Kabupaten Muara Enim-Prabumulih-Indralaya-Palembang. Dan kalau terdengar informasi kecelakan sepanjang jalan ini tentu tak aneh, bukankah banyak jalan rusak akibat kelebihan muatannya kendaraan yang membuat kualitas jalan yang udah buruk menjadi makin rusak. Hebat kan, daerah awal hingga tujuan akhir itu ratusan KM lho jaraknya, wajar kan kalau macet di sepanjang jalan ini adalah hal yang lumrah. Karena itu sejak mulai sering datang ke Sumsel akupun tidak suka dengan Gubernur yang ternyata terpilih kembali menjadi Gubernur. (silahkan Tanya pada warga sekitar, apa sih hasil yang mereka dapat dari sekian banyak penghasila yang telah di dapat dari hasil alam)tidak hanya lewat truk. Kereta api Babaranjang (batu bara gerbong panjang#rada ragu) juga menjadi pemandangan harian. Dari stasiun Tanjung Enim kereta yang panjangnya lebih sekilo meter pun melanjutkan perjuangan temannya agar bisa sampai berbarengan pada tangan eksportir. Jadilah stasiun di Belimbing ,Tugu nanas dan Gelumbang sering macet akibat panjangnya kereta api yang lewat.

Lanjut ke hasil alam berupa minyak dan panas bumi yang hampir semua daerah di Sumsel ini menghasilkannya. Sayangnya lagi-lagi minyak tersebut dikuasai oleh warga asing, sedangkan warga Negara asli hanya mendapatkan ampasnya. Meskipun gaji karyawan di perusahaan minyak dalam hitungan sebagian masyarakat yang lain tinggi, belum lah sebanding dengan hasil alam yang telah dikuasai oleh asing. Tidak tanggung2 gaji 20 juta per bulan bisa di dapat oleh pekerja yang off share. Namun, ternyata oleh “Cina Hitam” uang sejumlah 2 juta pun bisa mampir kemana2 sebagai hasil potongan yang tidak sah. Padahal meskipun gaji bekerja di perusahaan minyak itu tinggi, resiko yang di tanggung juga cukup tinggi.

Istilah manda sering ku dengar di daerah ini. nginap di perusahaan 20 hari, ga bisa keluar area, monoton dengan pekarjaan yang sama, ntar baru 10 hari berikutnya ia bisa keluar dari lokasi. Bukan seperti jam kerja sebagian besar orang yang di mulai dari hari Senin-Jum’at. Sabtu Minggu ataupun istilah tanggal merah tidak berlaku kalau kita bekerja mandor. Jadwal kerja hitungan hari, bukan berdasarkan nama hari.  Gaji yang di perolah sebenarnya tidak seimbang dengan keletihan yang dirasakan. Karena mandor itu siang malam kita disana dengan aktivitas yang jauh berbeda dengan keseharian kita. Tidak punya sinyal, jauh dari keluarga, harus focus dengan kerjaan, pemukiman kita di dalam hutan, namanya juga daerah minyak, rata2 yang tinggal disana ntar pada hitam akibat bercamburnya panas bumi dan panas cuaca.

Minyak dan gas termasuk hasil alam yang dari dulu hingga sekarang masih di garap secara serius. Meski kabarnya hampir sebagian besar kekayaan alam tersebut telah di jual kepada pihak asing, tetap saja ujung2nya hasil alam ini bukanlah dirasakan oleh masyarakatnya, tapi hanya segelintir pihak. Sebut saja daerah Pendopo, Prabumulih, Indralaya adalah sedikit kawasan industry minyak dan panas bumi di daerah Sumsel.

Ada juga pabrik pulp dan kertas yang melahirkan truk dan tronton yang dengan jumlah besar turut memperparah kondidi jalan raya. Lagi-lagi hanya pengusaha yang untung.  Karena tentunya pengusaha tidak akan mau ganti rugi kalau ternyata ada warga yang tertimpa musibah karena efek dari perusahaan yang ia didirikan.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s