Hayoo (copas isi FB Darwis Tere Liye 11 November 2012)

*kekacauan paham

Siapa di sini yang sering sekali ditanya: “kapan menikah?”

Ada yang menerima pertanyaan ini dengan santai, nyengir, tertawa, “Belum dapat jodohnya.” atau “Makanya cariin, dong.”, Ada juga yang menerima pertanyaan ini sedikit formal, tersenyum tipis, mengangguk pelan, “Insya Allah segera.” Ada juga yang jengkel sekali menerima pertanyaan ini. Bahkan dalam titik ekstrem, membuat malas berangkat kondangan, atau menghadiri acara keluarga–tempat di mana modus pertanyaan favorit ini sering muncul. Kenapa orang2 suka sekali bertanya: “kapan menikah?”, “kapan nyusul?” Kenapa orang2 rese sekali pengin tahu? Kepo?

Siapa di sini yang sering ditanya: “kapan punya momongan?”

Ada yang menerima pertanyaan ini dengan santai, nyengir, atau tertawa. Ada yang biasa-biasa saja, formal. Dan hei, saya harus terus terang, ada juga yang sepulang dari acara tersebut, setelah menerima pertanyaan tersebut, setiba di rumah, langsung berurai air-mata. Tidak hanya marah, tapi mereka sedih. Bagi pasangan tertentu, belum memiliki anak adalah situasi yang berat. Di tanya mertua, di tanya tetangga, di tanya teman, tidak cukupkah pertanyaan itu? Banyak pasangan yg bertahun2 belum punya anak, jadi enggan sekali datang ke resepsi, acara keluarga, atau apa saja yang memiliki potensi munculnya pertanyaan itu dari tamu2 undangan lainnya.

Bukankah menikah, jodoh atau memiliki anak, kelahiran itu rahasia Tuhan? Tentu saja orang tidak bisa menjawabnya dengan persisi. Tapi kenapa orang2 masih saja menanyakannya?

Saya sering menyaksikan teman sendiri, kerabat, kenalan, yang sedih dan jengkel atas pertanyaan ini. Sayangnya, saya juga tidak tahu jawaban baik mengatasinya. Honestly, bagi saya pertanyaan2 itu biasa-biasa saja, tapi adalah fakta, banyak yang terganggu, bukan? Dan saya paham rasa terganggu itu.

Tanpa kesimpulan. Maafkan saya, catatan ini tanpa kesimpulan solusinya.

Tetapi, ijinkan saya menutup notes ini dengan hal simpel. Kalian pernah datang ke pemakaman? Pernah datang ke acara menguburkan kerabat, keluarga? Duhai, di acara tersebut, kenapa tidak ada seseorang yang tiba-tiba bertanya ke orang lain, “kapan nyusul yang mati?” Kenapa tidak ada yang sambil sumringah, mencoba memecah situasi dengan percakapan ringan, “hallo om, pak, ibu, kira-kira kapan nyusul masuk kuburan?”

Nyatanya tidak ada, bukan? Bukankah mati juga misteri Tuhan? Sama dengan jodoh, kelahiran? Ini benar2 kekacauan paham yg belum sy mengerti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s