Humor Katanya

Bersyukur sekali di kontrakan yang sekarang kami tidak memiliki televisi. Kotak ajaib yang bagi kebanyakan orang merupakan salah satu kebutuhan, ternyata sebaliknya bagiku saat ini lebih cocok menjadi barang rongsongkan. “Lho, memangnya kenapa? Bukankah banyak orang yang rela menghabiskan cukup banyak uang yang mereka miliki untuk kemudian dibelanjakan demi mendapatkan barang ini? bahkan dalam satu keluarga, terkadang tak cukup hanya satu televisi. Kalau bisa bahkan setiap penghuni memiliki televisinya masing-masing, mengingat beragamnya siaran acara yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan mereka. “. Memang sih, banyak alternative pilihan yang bisa kita pilih ketika memiliki televisi. Yang doyan music ada channel khusus acara music, yang doyan sinetron hampir semua stasiun televisi local  menyajikannya (hampir bukan berarti semua), yang doyan serial drama korea ada chanel tersendiri, buat anak-anak mereka yang masih mau menonton film kartun pun cukup banyak channel yang memberikan tontonan buat usia anak-anak, yang menginginkan kajian islami turut serta juga ada channel yang menjawab kebutuhannya. Tapi mengingat kebanyakan masyarakat menerima acara televisi yang di dominasi oleh stasiun lama, maka sudah sama tahu kalau ragam siaran yang dihadirkan pemain lama ini untuk kemudian diterima masyarakat luas lebih banyak di isi dengan siaran yang tidak bermutu; aku pun merasa lebih beruntung kalau kita tidak memiliki televisi.

Coba saja kita mampir ke rumah tetangga, rumah saudara, warung, kantoran dan lain-lain, kebanyakan masyarakat kita menyaksikan televisi bukannya untuk memperkaya wawasan, malah menambah beban pikiran. Hampir semua channel televisi menyediakan menu andalan menikmati sajian “santapan bangkai saudara” yang tak mengenyangkan tapi menjadi menu andalan favorit, mempersulit diri agar rela menerima informasi yang saat ini cukup sulit dikatakan berita, mengingat  keraguan tingkat kevalidan dan keabsahannya warta tersebut, membuat mata lelah dengan tayangan yang tak pernah capek mengajak retina mata agar selalu terjaga, hingga telinga pun tak pernah bosan menjalankan fungsinya menangkap suara yang tak jelas intonasinya.

Terkadang turut merasa sedih melihat keponakanku yang masih kecil ternyata lebih hafal dengan lirik lagu, gaya iklan, nama penyanyi dibandingkan dengan ajaran agama. Mereka tak sengaja mendapatkan informasi tersebut. Si kotak ajaiblah yang telah membuat mereka ikut terseret pengaruh zaman. Contoh acara televisi yang saat ini ternyata ikut digandrungi keponakanku adalah acara “Yuk Keep Smile”.  Acara yang awalnya saat bulan Ramadlan berjudul “YUK KITA SAHUR” ini enggak tau kenapa ternyata sukses besar. Diselingi dengan percakapan2 yang lebih sering berisikan penghinaan terhadap fisik saudara untuk membuatnya menjadi lelucon ternyata menjadi hiburan tersendiri bagi pemirsa. Entahlah, apakah selera humor masyarakat sekarang yang makin menurun atau selera humorku yang terlalu tinggi.

Dulu, ketika menonton acara humor, biasanya aku pun bisa beberapa hari mengingat alur kisah lelucon tersebut. Karena memang isinya sengaja di konsep (meski bukan tekstual) untuk menghibur orang lain dan sekaligus menyalurkan bakat. Bukan dadakan seperti kebanyakan acara humor saat ini. ketawa orang saat ini jika salah seorang pemain sukses menghina rekan pemainnya, yang mungkin lebih pendek, lebih hitam, tidak ganteng atau alasan terkait fisik lainnya. Padahal pelawak zaman dulu malah jarang yang ganteng, yang tinggi secara fisik, yang putih kulitnya, tapi itu semua tidak menjadi tolak ukur karya mereka. Karena kebanyakan mereka memang sehari-harinya tipe orang yang humoris. Profesi pelawak adalah bawaan karena sehari-hari mereka suka bergurau.

Entahlah, beberapa stasiun televisi terkenal saat ini sepertinya ikutan latah membuat program acara yang tak jauh beda dengan acara YKS, tentunya dengan nama yang berbeda, tapi masih dengan pemain lama. Saya tidak habis fikir, apakah memang kebanyakan masyarakat saat ini sedemikan stressnya hingga tidak lagi bisa membedakan mana yang acara humor dan mana yang berisi penginaan. Dan para pemain pun seperti takut kehilangan uang kalau mereka tidak pasrah saja menghina atau dihina rekan kerjanya. Sampai bergaya bencong pun mereka semua mau. Waduh, ga habis piker deh. Menurut sebagian besar penggemarnya cowok ganteng, ternyata banci juga. Persis banget menjelma menjadi sosok wanita jadi-jadian. Idih, ga banget deh.

Terkadang, saat mampir tempat saudara dan berkesempatan menonton acara televisi, ternyata malah bersyukur ga punya televisi. Lha, mau mutar channel A, acaranya bencong2an, channel B, juga sama, channel C, ga jauh beda. Sepertinya kebanyakan penghias televisi adalah para bencong. Padahal Allah sangat murka dengan perilaku seperti ini.

“Allah melaknat wanita-wanita yang menyerupai (dalam berpakaian dan bersikap) pria, dan juga pria-pria yang menyerupai wanita. (H. R. Bukhari dari Ibnu Abbas)

Apapun nama acaranya, selagi masih memakai pemain yang bencong atau perempuan telanjang, sepertinya lebih baik untuk tidak menonton ulah mereka. Jadi, hidup tanpa televisi, lebih sehat kok.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s