Merantau

Meskipun ada film Indonesia yang berjudul Merantau, tentu saja kali ini bukan tentang film yang ingin dibahas. Lirik lagu yang cocok untuk tulisan sekarang sepertinya lagu milik Ades Sadewa yang berjudul sama

Meninggalkan tanah kelahiran karena alasan tradisi atau tuntunan ekonomi bukanlah hal yang asing lagi bagi masyarakat Minangkabau. Terlepas dari daerah manapun asalnya di ranah Minang, hingga kini pergi merantau masih menjadi salah satu fase yang banyak dijalani para warganya. Tidak hanya pada kaum lelakinya, satu per satu kaum ibu atau bundo kanduang pun ikut serta meninggalkan tanah kelahirannya, tentu saja bukan karena alasan tidak memiliki rumah tempat tinggal atau sawah ladang yang bisa diusahakan karena itu semua milik kaum. Tapi, merantau pada kaum wanita juga banyak terjadi karena alasan ikut suami dan pekerjaan.

Seiring perkembangan zaman, mencari nafkah ternyata tidak sekedar kewajiban kaum lelaki saja. Di berbagai keluarga rakyat Minang-dan sama dengan beberapa keluarga daerah Indonesia lainnya-, para wanita juga diharuskan bisa mencari nafkah sendiri. Ada yang memang karena tidak ada laki kaum lelaki yang bisa ditopang untuk menggantungkan kebutuhan hidupnya, ada juga karena kaum lelakinya belum, tidak bisa bahkan tidak mau lagi berusaha, dan trend yang muncul sekarang, karena wanita pun ingin berkarya di luar sana selain rumahnya. Terlepas dari berbagai alasan yang bisa muncul, terkadang karena alasan penempatan tempat kerja yang jauh di seberang sana, membuat kaum hawa ini pun turut serta membuat rumah di kampung terasa makin sepi.

Pada banyak kasus, merantaunya kaum hawa ini biasanya terjadi karena alasan ikut suami. Karena memang di banyak daerah, sulit bagi para suami untuk mencukupi kebutuhan hidup rumah tangganya kalau hanya mengandalkan pekerjaan lumrah yang biasanya ditemukan di kampung halaman. Meski sebenarnya bertani, berladang, nelayan, ataupun pekerjaan lumrah lainnnya di kampung sendiri bisa memberikan kesempatan yang lebih baik, tapi tak banyak orang bisa bertahan dengan beratnya pekerjaan ini. sehingga mencoba peruntungan menjadi pegawai pemerintah, swasta, atau berwiraswasta di kampung orang menjadi salah satu alternative yang di pilih. Dan ketika merasa cocok dengan salah satu profesi ini, tentunya memboyong istripun tak dapat dihindari. Sehingga istri yang mungkin saja dahulunya selalu tinggal di kampung halaman, akhirnya mencoba peruntungan di rantau orang karena ikut suami, baik merantau yang skala kecil beda kampung halaman, skala menangah yang beda pulau, hingga merantau skala tinggi karena beda negara. Setidaknya ia merantau dengan pendamping hidup yang berkewajiban memenuhi kebutuhan hidupnya, baik financial, keamanan, dan kebutuhan lumrah lainnya.

Pada kasus lain, tak sedikit wanita Minang yang harus meninggalkan kampung halaman karena ternyata tempat yang bersedia menerimanya untuk bekerja dan berkarya jauh di rantau orang. Beginilah salah satu resiko menjadi pegawai, mau pegawai swasta atau pemerintah, tak jarang dalam salah satu klausul kontraknya tertulis “ketika di terima bekerja, maka harus mau ditempatkan di daerah manapun”. Bagi orang tua yang memang tidak mempermasalahkan dimanapun tempat tinggal atau bekerjanya si anak, mungkin tidak akan menjadi penghalang bagi si anak untuk merantau sendiri. Namun, ternyata cukup banyak juga orang tua Minang yang tidak mengizinkan anak perempuannya untuk merantau karena alasan bekerja. Cukup kaum lelaki saja yang pergi merantau, dan si anak gadih tinggal dengan mandeh di rumah. Menjadi salah satu dilemma juga, ketika si anak merasa bisa bertahan di rantau orang dengan bekerja dan orang tua tidak yakin untuk melepaskan anaknya. Memaksakkan kehendek yang berkemungkinan melukai hati orang tua, atau menjadi anak yang berbakti dengan mengorbankan perasaan di hati. Sulit memang, namun begitulah kehidupan. Penuh dengan berbagai pertimbangan yang membuat kita sering bimbang.

Terlepas dari setuju tidaknya orang tua melepas anak perempuan bekerja ke rantau orang, sebenarnya kembali pada si anak. Kalau tinggal dengan orang tua saja ia seperti belum bisa mandiri, apalagi kalau tinggal di sendiri di tempat yang asing baginya. Wajar saja kalau orang tua merasa berat melepaskan si anak. Masih di rumahnya sendiri saja untuk makan butuh orang lain untuk menyediakannya apatah lagi kalau ia harus hidup sendiri di rumah orang, saat tinggal dengan orang tua hampir semua keperluan hidupnya masih mengandalkan bantuan orang lain, bagaimana sulitnya ia kalau harus sendirian kelak menyiapkannya. Tentu saja orang tua ini super was-was ketika ingin melepaskan anaknya. Apalagi ia anak perempuan satu-satunya di keluarga, terbiasa dengan hidup yang serba ada, wah, sangat sulit malah untuk dilepas menjajaki negeri orang sendirian.

Merantau memang memiliki plus minus. Plusnya ia bisa mengenal kampung orang, mencoba hidup berbaur dengan masyarakat baru yang mungkin dari bahasa, pakaian, suku, adat, kebiasaan, makanan hingga cuaca yang mungkin beda jauh dengan kampung asalnya, berlatih untuk bisa mandiri karena tentu saja ketika memutuskan untuk merantau ia harus bisa mengerjakan hal-hal lumrah kehidupan sendiri, membuat semakin bersyukur dengan kampung halaman sendiri ketika merasakan banyak hal berbeda dalam artian negative, menambah wawasan, nambah kenalan dan saudara, serta kalau sesuai judul ini mencoba mengais rezeki. Negativenya mungkin karena kita tidak berada di kampung lai tentunya akan merasa kehilangan tetangga disana kalau selama di kampung halaman kita dikenal ramah dengan mereka, rumah semakin sepi karena anggotanya berkurang, harus menyisihkan sebagian rezeki untuk ongkos pulang agar siap sedia dengan kabar yang didengar. Karena itu selagi bisa dan berkemampuan tidak ada salahnya mencoba menjajaki ranah rantau, seperti perkataan Imam Syafi’I “bertualanglah, engkau akan menemukan pengganti yang engkau tinggalkan”. So, merantau? Hayoo…

Tinggallah kampuuaaang oi ranah Minang

Gunuang Singgalang ondeh lai ka manjagooo

Oh mande kanduang tolong jo do’a

Antah pabilo ondeh kito basuo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s