Masyarakat Peminta

Entah dari mana permulaan fenomena ini, yang jelas sekarang menjadi pemandangan lumrah menyaksikan para sopir kendaraan diperas oleh sesama masyarakat. semeter demi semeter “posko” pungutan liar (pungli) hadir di sepanjang jalan yang sering saya lewati. Saya masih bertanya-tanya, latar belakang apa yang membuat gemarnya masyarakat Muara Enim dan Prabumulih khususnya membuat kebijakan baru yang mengharuskan para sopir truk batu bara paralangganannya menyetorkan nominal tertentu pada warga yang tak pernah letih meminta dengan paksa disana, dari usia anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua mereka semua terlibat meminta. Kalau dikatakan ini peraturan baru tentunya tidak mungkin, peraturan bukanlah di buat demi kepentingan oknum- meski faktanya sering demikian, kalau karena alasan terganggunya kenyamanan mereka di jalan raya akibat kapasitas truk yang sering kali melebihi muatan yang diizinkan sehingga banyak jalan yang mereka lewati menjadi rusak, semua warga pengguna jalan pun mengalami hal yang sama tapi tidak serta merta membuat mereka memberhentikan satu per satu truk bermuatan batu bara agar menyetorkan nominal tertentu pada warga.

Gambar

Mau naik travel ke Palembang atau Prabumulih, semua sopir travel dan penumpangnya sama-sama berkomentar bahwa fenomena meminta pungutan yang dilakukan di sepanjang jalan tugu Nanas sekitarnya bukanlah tindakan yang dibenarkan. Memang banyak masyarakat yang dirugikan karena bertebarannya mobil batu bara yang bermuatan belasan hingga puluhan ton itu membuat jalan raya yang menjadi hak pakai semua warga berkurang kualitasnya. Namun, dengan meminta uang kepada para sopir yang lewat untuk sebagian warga yang berdiri di sepanjang jalan tersebut juga bukanlah tindakan yang diizinkan apalagi dibenarkan. Anehnya fenomena ini sepertinya tidak akan pernah berakhir, mengingat kawasan Sumsel terkenal dengan anarkisnya masyarakat disini. Meski para sopir tersebut juga orang Palembang asli yang bukan mustahil mereka pun akan saling bertuja, tapi ketika kita berada di kampung orang lain tentunya keberanian kita pun akan menyusut, meskipun di kampung kita sendiri kitalah premannya.

Miris rasanya melihat kenyataan masih banyaknya warga Negara ini yang senang sekali meminta harta orang lain yang bukan haknya. Tidakkah mereka sadar bahwa “uang panas” itu tidak akan pernah membuat hidup mereka menjadi aman. Namanya saja uang panas, tentunya hanya bisa di pegang  sesaat dan bukan dalam jangka waktu lama. Mau beralasan kesulitan ekonomi pun tidak akan bisa menjadi alasan mereka boleh melakukan pungutan tidak resmi ini. setiap harinya ribuan jumlah truk batu bara yang melintas di sepanjang jalan kabupaten Muara Enim dan Prabumulih dan memang sangat potensial membuat jalan rusak. Tapi, melintasnya truk-truk tersebut juga tidak lepas dari peran pemerintah dan pejabat keamanan setempat yang katanya memang telah mengizinkan kembali truk batu bara untuk melewati jalan Negara. Padahal, belum setengah tahun masyarakat merasa lega karena batu bara tidak akan menambah daftar panjang kemacetan di Propinsi Sumsel, ternyata kebahagiaan tersebut hanya demi alasan politik menjelang pilkada demi mendapat citra, toh selepas pilkada kesemrawutan yang menjadi pemadangan harian kembali terjadi . Faktanya, tanpa perlu tulisan AABKL di setiap truk batu bara, semua mobil tambang ini akan bebas berjalan di jalan manapun. Meski sempat juga melihat spanduk yang menyatakan warga sana menolak truk batu bara melintas di daerahnya, tetap saja ujung-ujungnya semua truk batu bara bebas melintas. Dan slogan pengusaha selalu untung, rakyat selalu buntung sepertinya memang sangat-sangat lumrah.

Terlepas dari resiko macet di sepanjang jalan Muara Enim, Prabumulih, Indralaya, Palembang, karena banyaknya kendaraan yang lalu lalang setiap menitnya, sebenarnya kekhawatiran akan gemarnya masyarakat menjadi kaum pemalak lah yang lebih ditakutkan. Karena ditegaskan lagi, meminta pungutan tak resmi di jalan-jalan utama memang sering terjadi. Waktu masih tinggal di Indralaya, saya menyaksikan sendiri pemandangan rutin setiap paginya pak Polisi yang bertugas di simpang komplek Nusantara meminta uang pada setiap truk, fuso, tronton, yang lewat di jalan tersebut. Jalan ini sangat strategis sekali, karena tidak sampai satu KM lagi akan sampai di terminal Indralaya, di tambah lagi di sekitar lokasi ini berdiri megah kampusnya kebanggaan warga Sumsel, Universitas Sriwijaya, jadi memang wajar ada satu dua orang polisi yang bertugas setiap paginya mengingat banyaknya kendaraan yang berlalu lalang dengan urusan mendesak di pagi hari. Anak-anak sekolah, mahasiswa kuliah, ibu-ibu ke pasar, membuat angkot, bentor, motor, mobil pribadi menjadi sangat sibuk, di tambah lagi kehadiran kendaraan rodaempat, enam, delapan serta bus-bus besar lainnya  yang lewat. Memang sangat wajar kemacetan bisa terjadi, dan untuk itulah polisi ditugaskan. Dan ditugaskannya mereka kesana adalah untuk mengatur jalan raya agar semua masyarakat merasa nyaman berkendara, bukan malah dengan mencuri kesempatan dengan mencuri secara halus uang yang dimiliki para sopir bus. Heran deh, tidak merasa malu apalagi merasa bersalah dengan tindakan mereka yang dilihat banyak oleh masyarakat, “basuluah matohari, bagalanggang mato urang banyak”atas  pungli yang mereka lakukan. Kok tidak langsung di tegur? Hello, saya ini pendatang disini, tidak punya backingan apalagi kekuasaan, bukankah yang tidak bersalah pun bisa masuk penjara di zaman ini. meski kita menghendaki kebaikan bagi mereka, mereka merasa tidak suka, bisa saja malah kita yang menjadi pesakitan.

Saya hanya merasa kasihan, bagaimana tidak sering musibah, ujian di tempat ini begitu kerasnya, ternyata kembali lagi pada kesukaan sebagian orang yang memang mengingkan musibah itu datang menghampirinya meski dengan cara yang tak ia harapkan apalagi ia pikirkan. Tidak pernah merasakan kebahagiaan sepertinya, sehingga menganggap dengan banyak harta lah ia akan bahagia, padahal dengan harta yang di peroleh dengan cara haram itulah ia selalu mengundang penderitaan dalam hidupnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s