Setuju Banget Dengan Status Bang Tere Liye

Kenapa orang sekolah tinggi2 saat ini? Kenapa anak2 usia 5-6 tahun sudah dikursuskan, sudah dijejali dgn banyak kegiatan? Biar besok lusa mudah mencari pekerjaan, memenangkan persaingan, mudah cari uang, jadi kaya raya.

Jika demikian tujuannya, maka jangan salahkan siapapun hanya itulah yang akan diperoleh. Ambisi duniawi. Entah dimana akan diperoleh kebahagiaan dan kecintaan belajar.

*Tere Liye

Pendidikan adalah masalah terbesar anak-anak kita, bukan kemiskinan. Banyak sekali anak2 dari keluarga miskin yg bisa mengalahkan kesulitan dgn pendidikan yg baik.

Dan pendidikan yang baik, bukan hanya memberikan jalan keluar kemiskinan, tapi juga melengkapi mereka dengan ahklak dan kebermanfaatan.

*Tere Liye, status  per 30 Oktober 2013

Biar tidak keliru paham, orang2 DO, orang2 berhenti sekolah, yang ternyata besok lusa SUKSES, rasa2nya, tidak ada satupun yang DO atau berhenti sekolahnya karena malas, menggampangkan pekerjaan, menunda2, dsbgnya.

Mereka DO karena sudah menemukan passion di luar sekolah, kesibukan lain, pekerjaan, membantu keluarga, tanggung-jawab, semangat, tekun, habis2an, karena itu terpaksa terbelengkalai-lah sekolahnya. DO. Orang2 seperti ini (silahkan baca riwayat mereka), bisa sukses meski tidak punya ijasah, sekolah.

Tapi kalau kita DO, putus sekolah, nilai jelek, karena malas, kelayapan, menghabiskan waktu nggak jelas, menunda2, jalan di tempat, maka berbeda sekali kasusnya.

Tenang, nggak usah buru2 membela diri, karena hanya kita yang tahu persis kita masuk dalam definisi yang mana, dan tidak akan tertukar golongannya. Saya hanya membantu berpikir.

*Tere Liye
**selamat hari sumpah pemuda

Kalaupun nilai2 di sekolah kita tidak cemerlang, IP-nya biasa2 saja, malah nyaris DO, bukan berarti kita tidak bisa sukses saat kerja kelak.

Kerja keras, ketekunan jauh lebih penting. Nah, apakah kalian memiliki kerja keras, ketekunan tersebut?

Jika jawabannya punya, sungguh punya, maka saya hendak bertanya: “Kok bisa IP, nilai2 kalian jelek padahal mengaku punya kerja keras, ketekunan?” Tidak masuk akal.

*Tere Liye

Sejak kapan TK itu menjadi syarat masuk SD?

Siapapun guru SD yang bilang begitu, sekolahnya mewajibkan demikian, Kepseknya bilang begitu, maka telah melanggar UU Sisdiknas No. 20/2003, penjelasan Pasal 28 ayat 1 ditulis: Pendidikan anak usia dini diselenggarakan bagi anak sejak lahir sampai dengan enam tahun dan bukan merupakan prasyarat untuk mengikuti pendidikan dasar.

Barangsiapa SD yang mewajibkan hal ini, maka pelakunya melanggar UU. Silahkan download UU ini di internet, cari yang lengkap hingga lampiran penjelasan, lantas print. Jika ada SD yg macam2, kasih tunjuk ke guru/kepseknya, biar mereka paham. Melanggar UU adalah tindakan serius.

Hari ini, ada2 saja orang bikin peraturan, yang sebenarnya simpel.

*Tere Liye, status per 28 Oktober 2013

*Periode emas anak2

Anak2 usia 0-6 tahun adalah periode emas. Itu masa2 yang sangat penting. Apakah di momen2 ini perlu pendidikan? Ya iyalah. Sungguh butuh. Anak2 diajarin pipis di kamar mandi (tidak pakai pampers), diajarin makan sendiri, diajarin bertanggung-jawab, diajarin bersosialisasi, diajarin seni, bahkan yg lebih penting lagi diajarin agama, cara shalat, menghafal bacaan shalat, dsbgnya.

Penting.

Apakah PAUD, playgorup, TK itu penting? Ya iyalah, penting.

Tapi jangan bablas, jangan berlebihan. Nyaris semua ahli pendidikan di dunia sepakat, bahwa usia 0-6 tahun adalah masa2 belajar yang menyenangkan, bukan masa2 belajar yang dipaksa, dinilai, diberi angka, dan sungguh terlalu ditest/diuji lulus atau tidak. Tanyakanlah ke orang2 yang paham, pasti jawabannya sama.

Lantas kenapa sekarang malah sebaliknya? Banyak orang tua yang mengotot anak2nya cepat baca, cepat nulis, cepat berhitung? Karena dunia ini kejam. Mereka memang selalu bilang yang terbaik bagi anak2nya, tapi tidak tahu apakah itu sungguh baik atau tidak. Anak2 usia 6 tahun sudah dipaksa kursus siang malam. Sudah dipaksa sekolah pagi sore. Kenapa? Biar masa depannya cerah, bisa berkompetisi, dsbgnya. Tidak ada yang bisa memaksa orang tua kalau mereka mau begitu, terserah, itu anak2 mereka juga.

Tapi dalam sistem yang lebih besar, harus ada peraturan lugas agar semua hal tidak bablas, berlebihan.

Persyaratan ijasah TK untuk masuk SD adalah yang bablas. Catat baik2, tidak semua orang mampu menyekolahkan anak2 mereka di TK. Kita harus melindungi keluarga2 ini. Hei, kalau kalian merasa bisa menyekolahkan anak di Singapore, di Amerika atau kursus di Mars, ketahuilah, 30 juta orang di Indonesia ini penghasilannya hanya 10.000/hari. 30 juta orang jumlahnya. Kalau kita makan di kedai fast food sekali duduk 100.000, maka itu setara 10 hari kerja mereka. Bagaimana mereka ini? Tidak boleh SD karena tidak bisa TK? Aduh, nurani mana yang kejam begitu.

Dan terlepas dari itu, harus diketahui semua orang, pendidikan paling dasar (SD) memang tidak membutuhkan prasyarat apapun. Namanya juga pendidikan paling dasar. Apakah anak2 harus sudah bisa berhitung, menulis dan membaca? Ini keliru sekali, fatal. Saya tahu, bisnis PAUD, TK itu besar nilainya. Saya juga tahu, memang lebih asyik, kalau saya guru SD, kalau semua anak2 sudah bisa baca, tulis dan berhitung saat masuk, tapi jangan lupakan, anak2 usia 0-6 tahun itu memang tidak diciptakan untuk jadi profesor semua. Jangan begitu terlalu melupakan prinsip2 guru yang mulia.

Semua orang boleh punya pendapat. Silahkan. Ini jaman kebebasan. Tapi ingat baik2, bahkan dalam UU Sisdiknas No. 20/2003, bagian Penjelasan Pasal 28 ayat 1 ditulis: Pendidikan anak usia dini diselenggarakan bagi anak sejak lahir sampai dengan enam tahun dan BUKAN merupakan prasyarat untuk mengikuti pendidikan dasar. Itu UU, produk hukum tinggi di negeri ini, tidak bisa kita kangkangi begitu saja. Juga silahkan baca peraturan pemerintah, peraturan kementerian soal PAUD, TK, playgroup dsbgnya, jelas sekali ditulis: itu periode bermain2, periode mengenalkan dunia pendidikan dengan menyenangkan. Sama sekali bukan belajar berhitung, menulis, membaca lantas di test ini, di uji ini. Tapi kenapa banyak guru/kepsek/sekolah yang tidak tahu? Maka semoga kalian tahu setelah saya merilis catatan ini. Dan kasih tahu orang lain biar pada tahu. Itu UU sudah 10 tahun, seharusnya sosialisasinya sudah sampai galaksi planet Avatar.

Tapi kenapa orang tua sendiri yang maksa agar anak2nya yg baru usia 4 tahun, 5 tahun bisa membaca, berhitung, menulis? Sekali lagi, dunia ini kejam, dek. Jangankan usia 4-5 tahun, usia 0-6 BULAN saja saking kejamnya, industri susu formula mau merangsek habis2an, jika tidak ada regulasi. Kita selalu bilang: yang terbaik bagi anak2 kita, hingga lupa, boleh jadi si kecil itu menjalaninya sambil tertawa riang karena kita paksa.

Maka, kalau ada SD yang mewajibkan murid2 barunya harus sudah bisa baca, hitung, ditest, dsbgnya, punya ijasah TK+PAUD, dll, maka JANGAN masukkan anak2 kita ke sana. Kita harus cemas sekali dengan pemahaman guru2 di SD itu.
Syarat masuk SD itu hanya satu: cukup umur. Carilah SD dengan guru2 yang cemerlang sekali pemahamannya soal ini, guru2 mulia yang mau repot mengajari anak2 kita membaca, menulis. Mau mengajari anak2 kita, tiada lelah dan mengeluh, bukan guru2 yang malah berseru ketus kepada anak usia 6 tahun: “anak ini kok belum bisa baca sih? sana balik ke TK lagi.”

Pilihlah SD dengan guru2 yg tulus. Masih banyak kok guru2 yang hebat itu.

Pun sama, pilihlah PAUD, TK, playgroup yang punya guru2 dengan pemahaman tulus. Tahu posisi dan letaknya. Kalau dia minimal pernah mengambil sarjana pendidikan PAUD, pasti paham sekali hal ini. Bukan TK yang dikit2 iuran wajib, dikit2 jalan2 wajib, dikit2 semuanya uang (sorry buat yang tersinggung, kalau kalian tidak melakukannya kalian pasti tidak akan tersinggung; nah kalau tersinggung memang kuch kuch hota hai deh).

Jangan cemas anak2 kita itu kelak tidak jadi orang karena tidak bisa baca tulis usia 4 tahun. Ketahuilah, orang2 sukses di dunia ini bahkan drop out sekolah formal. ‘Pendidikan’ itu berbeda dengan ‘sekolah’. Pendidikan adalah pendidikan. Pasti pernah menonton film Three Idiots kan? Semua orang terharu nontonnya, pengin jadi Rancho, tapi lupa, saat di dunia nyata, kita ini hanya Silencer yang sibukkkkkkk dengan ukuran material, lantas mudah cemburu serta tidak bahagia ternyata.

Saya menulis buat yang mau mendengarkan saja.

*Tere Liye, status per 26 Oktober 2013

Cukup banyak status bang Tere Liye tulis tentang pendidikan, terlebih perhatian khusus untuk pada anak-anak. Karena memang periode dari bayi hingga memasuki usia sekolah termasuk periode emas. Dan makin salutnya, abang ne termasuk orang cerdas yang dengan kecerdasannya berusaha mengajarkan banyak orang lain dengan suatu hal yang ia mampu dan gemar melakukannya. Yup, menulis. Karena sering kali kekuatan tulisan lebih bisa membangkitkan semangat dari sekedar teriakan. Dan meski tak banyak penulis – Indonesia khususnya- lahir, lebih banyak lagi dari penulis itu yang tidak peduli dengan moralitas pembaca yang membaca hasil pemikirannya.

Meski baru memasuki 2 tahun saya mulai mengenal karya Tere-Liye, setidaknya dari sekian buku yang telah saya baca, semuanya menunjukkan betapa setiap kata yang ia rangkai, kalimat yang ia susun, paragraph yang ia buat semuanya dengan pemikiran yang mendalam agar yang ia hasilkan menjadi karya yang bermanfaat bagi yang membacanya. Tentunya ia tak peduli dengan ancaman tak bakal banyak orang yang mau membeli buku tanpa ada unsur porno didalamnya, karena zaman sekarang sepertinya orang lebih tertarik dengan kepuasan nafsu dibandingkan dengan efek jangka panjang dari tindakannya.

Gampang melihat buktinya, datang saja ke toko ternama apalagi pasar loakan, lihatlah anak remaja sekarang, kalaupun mereka memiliki uang berlebih biasanya mereka lebih tertarik menghabiskan uang berlebihnya tersebut-bahkan mungkin sebenarnya bukan uang yang menjadi haknya-dan lihatlah, lebih banyak yang menghabiskan uangnya untuk membeli buku yang berkaitan dengan pendidikan di sekolahnya atau lebih ke sesuatu yang sebenarnya bukan konsumsi orang seusinya. Lebih tergoda untuk membeli majalah, buku atau parahnya kaset yang didalamnya menyajikan gambar perempuan tanpa busana. Tak sulit menemukannya, sekali lagi tak sulit. Kalaupun tidak menemukan mereka di pasar, maka lihatlah ke warnet-warnet terdekat. Silahkan cek langsung, mereka menghabiskan waktu nongkrong di depan computer untuk yang bermanfaat atau yang sia-sia.

Inilah kondisi nyata penerus bangsa ini. meski di belahan sana, banyak juga yang belajar dengan tekun mengukir prestasi, namun tak sebanding dengan yang lebih suka bersantai ria menghabiskan waktu dengan jangankan membuat dirinya lebih baik, malah dalam usia yang masih sangat dini sudah membuat takdir untuk menyuramkan masa depan sendiri. Tak sekedar dengan suka mencari informasi yang berbau porno, malah ikut menciderai diri dengan menghirup batang per batang kretek dengan jari mungilnya, bagi yang mulai bosan lalu mencoba dengan menghirup lem, dan yang lebih berpunya lagi tak segan-segan untuk langsung “menaikkan” gengsinya dengan narkoba. Ini bukan cerita fiktif, sangat nyata, apalagi di perkotaan. Lalu apakah di pedesaan hal ini tidak terjadi? Tidak bisa juga di bilang tidak, karena tak sedikit dari mereka yang merasa memiliki stock nyawa cadangan, sehingga berani saja membawa kendaraan-terutama motor- dengan ugal-ugalan.

Karena saya pernah beberapa kali menyaksikannya. Dan ternyata tatapan saja tak ampuh untuk membuat anak-anak zaman sekarang sadar akan kesalahan yang telah mereka lakukan. Jangankan untuk takut, merasa terganggu karena kita melihatnya saja tidak. Lalu, apakah karena saya peduli maka saya akan menasehatinya? Ooo, orang tuanya saja sepertinya tidak peduli dengan anaknya, lalu karena perhatian saya pun harus membenarkan kesalahan mereka? Tidak. Karena masyarakat yang dihadapi adalah masyarakat yang merasa terganggu kesenagan anaknya terganggu meskipun kesenangan tersebut malah menyakitkan pada hakikatnya.

Karena itu, meski buku2 bang Ter-Liye ini tidak segempar novel Harry Potter, setidaknya ia telah turut berusaha menjadikan generasi depan lebih memiliki ilmu yang tentu saja berguna dibandingkan hanya sekedar menghayal hal tak kan pernah terjadi. Senang rasanya ketika menemukan masih ada penulis yang tetap mengedapankan moralitas dibandingkan royalty semata.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s