Para nenek di sekitar rumahku

Tidak semua wanita bisa menjadi istri. Tidak semua istri bisa menjadi ibu, dan tidak semua ibu bisa menjadi nenek. Eh, apa pula ini? yup. Setidaknya begitulah kondisi nyata yang ama temukan dalam seperempat abad usia yang Allah berikan. Meski dalam setiap poin memiliki tugas dan tanggung jawab yang berbeda, namun kewajiban yang melekat ternyata sangat tidaklah mudah untuk bisa dilaksanakan. Mulai dari resiko harus patuh pada suami bagi seorang istri ketika dalam hal yang tidak dalam rangka bermaksiat kepada Allah, resiko bisa melahirkan generasi yang kuat pada seorang ibu, resiko untuk bisa membimbing keluarga agar tetap dalam ketaatan pada seorang ibu, mertua atau nenek. Semuanya berat dan berisko, karenanya dengan ilmu lah kesemua peran tersebut bisa ia jalankan, meski tak sedikit pula rintangan yang tetap ditemukan meskipun telah memiliki ilmu tadi. Tapi, setidaknya mereka punya pegangan dalam bersikap. Ah, aku kan belum merasakan satupun poin yang telah disebutkan, sepertinya semakin banyak menulis bukanlah solusi terbaik.

 Poin pertama, tidak semua wanita bisa menjadi istri. Ini mungkin suatu kondisi yang bukanlah mudah-bagi siapun wanita, dari golongan manapun ia dilahirkan, berapa banyak pun harta yang ia kumpulkan, atau seindah apapun fisik yang telah Allah berikan-untuk di terima. Karena fitrahnya Allah menciptakan makhluknya berpasangan, dan secara naluri wanita membutuhkan pendamping dalam hidupnya-meski pada kenyataannya wanita memang bisa bertahan ketika ia memang belum ditakdirkan memiliki pendamping. Walaupun nanti pada akhirnya ia belum diberikan kesempatan memiliki suami yang baik, yang bertanggung jawab, yang perhatian atau malah tidak bisa diharapkan sama sekali menjadi imam, namun dalam beberapa curhat dan kisah aku menyimpulkan ternyata mereka tetap lebih menginginkan suami dari pada hidup menyendiri. Wallahu ‘alam

Meski masih bisa di hitung jumlah wanita yang hingga akhir usianya belum diizinkan menyandang gelar istri, ternyata butuh kesabaran luar biasa untuk bisa menerimanya. Aku yang hanya sebagai penonton pun sampai tak tega kalau harus bertanya mengapa ia belum menemukan pendamping hidup. Namun, kembali pada masalah jodoh itu mutlak Allah yang menentukan. Meski semua manusia bersepakat untuk menikahkannya dengan seseorang, kalau Allah berkehendak pernikahan itu tetap tidak akan terjadi, maka ia pun juga tidak akan menikah. Semoga, dengan tidak menanyakan masalah kenapa ia tidak memiliki gelar istri dalam hidupnya-meski kalau ada jenjang pendidikan atau iuran yang bisa menjanjikan ia bisa memperoleh gelar tersebut tentu ia akan berusaha meraihnya-bisa mengurangi sedikit kesedihan yang ia rasakan.

Poin kedua, tidak semua istri ternyata bisa menjadi ibu. Meski telah menyandang status seorang istri, lagi-lagi tidak sulit menemukan bahwa ternyata salah satu tujuan pernikahan untuk mendapatkan keturunan tidak serta merta Allah berikan pada setiap pasangan. Meski di luar sana lebih banyak manusia yang menolak kehadiran seorang anak apalagi akan membesarkannya, apakah karena hasil hubungan tidak halal atau ketakutan materi dan kepayahan lainnya, tapi tak sedikit pula pasangan yang berjuang ekstra keras untuk bisa mendapatkan keturunan. Bagi yang memiliki karunia harta berlimpah, maka menghabiskan semua kekayaan yang dimilikipun bukan penghalang agar bisa mendapatkan keturunan-tapi ternyata tak semua mereka lagi-lagi Allah izinkan untuk memiliki keturunan meski mereka telah bersungguh-sungguh dalam berusaha-yang akan mengubah hidup mereka. Cara ini biasanya ditempuh oleh pasangan yang telah berbilang tahun berganti namun belum juga Allah amanahkan pada seorang istri untuk bisa menjadi seorang ibu karena telah lahir seorang insane dari dalam rahimnya. Sehingga, aku yang belum menikah pun turut menjadi segan ketika ingin bertanya apakah sudah menjadi seorang ibu pada teman-temanku yang telah menikah, namun belum juga mendengar kabar tentang kelahiran anak yang didambakan. Meskipun dalam beberapa kasus ternyata, Allah mengujinya dengan mengambil kembali titipan tersebut saat ia baru saja datang ke dunia atau malah belum sempat sama sekali. Meskipun belum pernah mengalaminya, namun dari mendengar kisah sudah bisa membuatku turut bersedih akan beratnya ujian yang ia terima, dan semoga saja mereka ikhlas dengan ketentuan yang Allah tetapkan.

Dan ke poin terakhir sekaligus menjadi inti dari tulisan kali ini. tidak semua istri bisa menjadi nenek, dalam artian ia telah memiliki istri dan berhasilkan membesarkan seorang anak yang kelak turut memberikannya seorang cucu buah dari pernikahan anaknya. Sebagai pendatang baru, tentunya tak banyak kisah yang bisa kuceritakan dengan nenek-nenek yang ada disekitarku. Tapi dari pengamatan dan kisah yang di dapat, semoga saja tidak keliru. Di mulai dari tetangga sebelah kanan persis di sebelah dinding. Karena kami satu atap meski beda ruangan, setidaknya menatap keseharian hidupnya bukanlah hal yang mustahil terjadi. Pertama bertemu mungkin tak mengenakan langsung kesan yang diterima, karena sebelum bertemu sudah banyak informasi yang kami dapat, kalau kelak kami akan memiliki tetangga yang mulutnya tajam, suka marah, cerewet yang kebangetan. Intinya informasi yang diterima semuanya negative. Karena tidak ada keperluan yang penting, minggu pertama terasa biasa saja. Hari berganti dan satu per satu kejelakan yang berbagai pihak sebutkan ternyata terbukti.  Meski tidak langsung ke kami imbasnya. Lanjut lagi waktu berganti, dan mungkin inilah efek dari ketajaman mulutnya, aku yang memang seatap dengannya langsung marah mendengar ia memfitnah kami lewat cerita yang ia sampaikan pada keponakannya. Di tuduh mencuri, masuk ke kamar, menggangunya, oooo, meski ia sudah tua namun aku tak sedikitpun hormat akan sikapnya yang keterlaluan kali ini. padahal beberapa kali aku pernah menolong berdiri hingga tanganku pun terasa sakit karena beratnya beban yang harus kuangkat dengan kondisi stamina yang sebenarnya belum kuat. Lupakan kebaikan yang pernah kuberikan, tapi menuduhku dan adikku dengan fitnah murahan seperti itu aku tidak bisa menerimanya. Semua orang bilang dia kaya silahkan, tapi sepersen pun uangnya tidak pernah ku minta, malah keluarganyalah yang berhutang pada kami dalam masalah tunggakan uang listrik yang hingga sekarang pun belumlah lunas, semua orang membanggakan kekayaannya silahkan, tapi kami bukanlah penjilat yang butuh pada hartanya. Toh meskipun dia kaya raya, tidurnya tetap di atas lantai tanpa kasur -yang mungkin orang miskin saja tidak akan semiris itu tempat beristirahatny dengan baju yang maaf saja bajuku tetap lebih baik dari pakaian yang ia kenakan. Bukan maksudku menghina, tapi meskipun ia kaya raya tidak akan pernah orang baru percaya ketika melihatnya pertama kali dengan kondisi seperti itu. Dan jujur saja, aku pun tak terlalu memperdulikannya, bahkan ia pun terang-terangan melanggar ucapannya sendiri ketika berkata tidak akan pernah meminta bantuanku lagi, namun pada esoknya beberapa kali ia pun melontarkan permohonan bantuan padaku. Tak perlu terlalu panjang kisahnya, toh aku pun tidak menyukainya sejak pertama bertemu karena telah turut menebar racun dari nikotin dan konco-konconya yang ia sebarkan, entahlah apakah itu sebagai pelampisan atas kesendirian yang ia rasakan, tanpa anak, tanpa kawan, tanpa saudara. SENDIRI

Satu lagi nenek yang menjadi tetanggaku di seblah kanan rumah adalah warga keturunan cina, mungkin tidak ada pembahasan khusus yang bisa membantuku untuk mengenalnya, tapi setidaknya ku bisa melihat bahwa keluarganya masih perhatian padanya, bahwa ia masih turut serta membantu dalam berusaha bersama anak dan cucunya. Lebih baik dari pada tetangga seatapku. Lanjut ke tetangga di sebelah kiri. Tinggal sendiri karena suami lebih dahulu kembali pada suami, tanpa anak apalagi cucu. Tapi bersemangat dalam mencari harta duniawi. Meski punya panti asuhan, tapi entahlah, dari informasi yang ku dengar cukup berlebih dermawan yang membantu panti tersebut, malah kami yang menjadi tetangganya saja sering mendapat aneka makanan dan sembako karena banyaknya bantuan yang dermawan lain berikan. Tak banyak juga yang bisa kuceritakan tentang nenek ini, karena ku lebih memilih untuk menjaga jarak agar tidak terlontar hal yang tidak mengenakan kelak. Tapi, setidaknya nenek ini pernah membantu kami ketika pertama kali ku kesini. Lanjut ke nenek yang sebeahnya. Dari segi usia sebenarnya sudah masuk usia senja, tapi karena satupun anaknya belum menikah, jadi jangankan ada yang memanggilnya nenek, merasakan menjadi ibu mertua pun belum Allah izinkan. Hmm, ga tau juga, apakah mereka memang nyaman dengan setiap harinya berdua dengan pasangannya dan sang anak juga sibuk dengan kehidupannya. Beruntung ortu kami tidak akan pernah kesulitan menghubungi kami katika membutuhkan teman bercerita. Sepertinya memiliki banyak anak adalah keinginanku kalau Allah mengizinkanku menikah dan mempercayakan titipan-Nya padaku. Nenek terakhir yang ada di sebelah kiriku, meski ia di beri ujian stroke, setidaknya setiap hari ia memiliki anak, cucu, menantu dan suami yang selalu setia mewarnai hari-harinya. Selalu… setiap hari ku melihat keramaian di rumah mereka, meski mereka tak satu rumah, namun kebersamaan di antara mereka selalu terjaga. Dan akupun turut senang melihatnya. Dan nenek terkahir yang aku sebenarnya belum sempat berkata langsung dengannya, namun dari penuturan cucunya, aku pun menilai nenek ini bahagia di usianya yang menginjak 80 tahun. Karena cucunya yang sudah memiliki keturunan saja senang menceritakan betapa neneknya hingga sekarang masih kuat jalan ke masjid untuk sholat, betapa mereka tak perlu khawatir kalau selama setengah hari mereka akan meninggalkan si nenek sendirian di rumah karena yang lain harus ke pasar demi mencari nafkah, dan meski tak memiliki kekayaan berlimpah seperti nenek-nenek yang menjadi tetangga persisku, namun akupun ingin ketika di beri usia panjang memiliki kisah yang lebih baik dibandingkan nenek yang masih misterius sosoknya ini. tidak menyusahkan anak cucu, masih bisa mandiri melakukan aktivitas harian, memiliki hunian yang penuh kehangatan. Semoga…

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s