Benarkah ini Tanah air beta?

Gambar*Kenapa televisi masih saja

1. Kenapa televisi masih sj memakai host pelawak, yg lucu juga kagak, yg sering malah lawakannya menyakiti orang lain. Terussss sj dipakai. Di mana2, acara apapun. Kenapa? Kita ini ikut bertanggung jawab tdk sih dgn yg namanya etika, moralitas?

2. Kenapa televisi masih sj mau memakai artis yg pernah kena skandal super-duper heboh, sampai jadi trending topic dunia. Bukankah baru beberapa waktu lalu itu terjadi? Jadi contoh buruk seluruh remaja? Lantas sekarang? Santai sj dipakai lg di mana2? Kita ini ikut bertanggung jawab tdk sih dgn pendidikan keluarga, remaja?

3. Kenapa televisi masih sj mau memakai narasumber yg jelas2 asal mangap, pembela sejati koruptor, pengacara2 yg tutup mata dgn apapun lawan bicaranya ngomong, politisi yg hanya bisa teriak2? terus diundang, terus diberikan forum utk bicara. Kita ini ikut bertanggungjawab nggak sih dgn menyebarkan kebaikan?

4. Kenapa televisi malah memberikan kesempatan pd hal yg sia2? Acara setan2an, banci2an, lucu2an mengenaskan, acara apalah?

Sy tdk tahu jawabannya. Sy lg berpikir. Menghela nafas. Jangan2 kitalah penyebabnya. Kita menonton acara2 tersebut. Ratingnya wahid, iklannya banyak, lanjuttt.

*Tere Liye, 24 Oktober 2013

Sesuai banget postingan bg Tere-Liye kali ini dengan unek-unek yang sekarang di rasa. Meski menonton televise bukan nama kegiatan harian dalam keseharian sekarang-malah dalam waktu seminggu mungkin tidak menyaksikan satupun siaran televise, tetap saja merasa sehari dalam seminggu melihat aneka suara dan gambar muncul dari kotak ajaib televise terasa membosankan dan menjenuhkan. Mau menyaksikan dari jam berapapun kok sepertinya terasa mubazir waktu. Mutar channel A dia sarat kepentingan golongan A, ganti channel B, topiknya tak jauh dari menyebakan fitnah, tukar channel C, acaranya tak berbobot. Hampir sebagian besar stasiun televisi sekarang tidak bisa dijadikan sarana pendidikan, malah lebih banyak menjadi saran pengumbar nafsu lewat tayangan iklan dan acara tv yang sama sekali tak mendidik, kecuali TVRI, yang sayangnya tak banyak orang yang mau memilihnya bergema di rumah-rumah warga. Ingin menonton berita, sayangnya berita dalam televise tidak lagi objektif, sebagian besar ditunggangi kepentingan golongan tertentu yang kemudian fakta pun menjadi terbalik dengan yang disajikan. Sudah menjadi rahasia umum berita yang disiarkan di televise apapun tidak bisa langsung diyakini kebenarannya meskipun mereka menyampaikan dalam topiknya berita tersebut actual, dapat dipercaya. Jadi, jika ingin selalu dikelabui silahkan saja mendengarkan terus warta yang disajikan penyiarnya. Anda jujur, maka andapun akan gugur.

Ingin menonton siaran komedia, sepertinya bukanlah kesegaran yang terasa, malah makin penat jiwa ini mendengarnya. Sesuai dengan postingan bg Tere-Liye. Untuk tulisan yang pertama dan kedua kita gabungkan saja contoh kasusnya. Serial “Fesbukers di Antv”. Dari sudut humor, bagi yang punya selera humor yang bagus sepertinya setuju dengan pendapat bahwa “lelucon bagi mereka itu ternyata tak lucu”. Apanya yang lucu menertawakan fisik orang lain, apanya yang lucu menghina orang lain, apanya yang lucu meminta orang lain bertindak kebanci-bancian. Tidak ada yang lucu. Tidakkah mereka takut akan ancaman lelaki yang menyerupai perempuan, apalagi sampai di rias semirip mungkin. Tidakkah mereka sedih kalau kekurangan yang mereka miliki ternyata menjadi bahan tertawaan orang lain, tidakkah mereka sadar, budaya bersentuhan, bergandengan, berciuman yang mereka tayangkan tidak kan membuat mereka menanggung dosa orang lain yang turut meniru perbuatan mereka setelah menyaksikannya. Apa yang lucu? Bahkan dalam acara comedian pun bukanlah lelucon yang dihadirkan, tapi pamer tubuh, sebar dusta, tebar pesona, dan tingkah polah gila lainnya yang ternyata bagi sebagian orang di sebut lucu.

Belum dengan pemainnya yang sudah jelas bikin skandal, menyesatkan, memperburuk moral pemuda bangsa, ternyta semakin sering dihadirkan dengan berbagai macam jenis acara hingga tayangan komersil yang seakan-akan menyampaikan pesan bahwa dia itu baik, idaman setiap wanita, incaran para mertua, beritanya di tunggu penggemarnya. Huff, negeriku. Sudah hilangkah orang-orang yang memang layak untuk diteladani? Sudah habiskan negeri ini dengan jiwa tulus berbakti, sudah musnahkah nurani yang menjadi tempat berfatwanya hati? Mengapakah semua ini semakin menjadi.

Tak sedikit tokoh hebat di negeri ini yang penuh bakti, tak sulit menemukan insane-insan yang peduli dengan masa depan pemuda bangsa ini, tak kekurangan orang negeri ini untuk bangkit kembali. Namun, kenapa mereka tak pernah dihadirkan? Mengapa jangankan untuk menghadirkan, menyebut nama mereka pun tak akan sudi, mencoba membagi semangat mereka apa lagi.

Meskipun diri ini belum lah baik, namun melihat pelaku kejahatan di negeri ini tetap saja disanjung, tetap dieluk-elukan, tetap diharapkan kehadirannya membuatku muak. Sangat banyak artis yang terlibat tindakan asusila-pemerkosa, pelaku adegan cabul, pemakai narkoba, penyiksa keluarga dan orang lain, perusak wanita,perampas milik orang lain, banyak sudah kejahatan yang telah dilakukan oknum (sepertinya sekarang sudah mayoritas, bukan lagi segelintir orang pelakunya) ini. tapi tak kan pernah orang-orang membuangnya, malah akan kembali menghadirkan wajah-wajah mereka sesering mungkin untuk mengaburkan citra buruk mereka salami ini dengan memolesinya lewat tayangan baru yang mempertontonkan betapa hebatnya mereka dan patut untuk diteladani kebobrokannya.

Sedih rasanya, melihat kaum generasi muda negeri ini ternyata lebih menyukai “idola” palsu yang dihadirkan si kotak ajaib. Meski negeri ini punya lembaga yang akan memilah siaran yang boleh ditayangkan atau tidak, sepertinya ia ibarat patung polisi di tengah jalan, yang meskipun secara fisik ia ada, tapi orang-orang tidak menyadarinya apalagi akan takut padanya. Sangat banyak siaran, acara, iklan dan tayangan-tayangan yang sebenarnya tidak layak untuk sampai ke satelit, apalagi kalau kemudian harus ditayangkan ke setiap televisi rakyat.

Dan parahnya lagi, pada sinetron atau film yang katanya bertemakan Islam ternyata tak ada unsur agama Islamnya, malah memperburuk akidah masyarakat. Islam tidak hanya sekedar pemain berjilbab atau laki-laki berbaju koko. Lagian siapa pula Islam itu dilihat dari segi pakaian. Islam itu jelas dalam rukun Iman dan rukun Islam. Muak rasanya melihat pemeluk agama lain turut serta dalam film yang kata mereka bernuansa Islam. Hello, pada bego, buta atau idiotnya udah parah. Ngapain seh, bikin film yang membawa sebagian ajaran Islam untuk kemudian dipraktekkan oleh pemeluk agama lain. Kurang kerjaan banget deh. Makin parah katanya digambarkan kondisi kehidupan santri dan ustadz di pondok pesantren, tapi ujung-ujungnya selalu menonjolkan khalwat. Geram lah dengan dunia sinetron sekarang. Seperti kehilangan ide saja untuk membuat suatu karya yang bermanfaat dengan orang-orang yang memang berbakat. Sejak bulan Ramadlan ama tau film 3 Serumput mencari surga (ih, judulnya aja ga mau ngingat, biarin kalo salah) bikin ama frustasi. Ngapain juga Gading yang jelas-jelas beragama kristen ini turut main di film yang katanya (kebanyakan katanya) serial Ramdlan. ga punya lagi ya muslim yang bisa dijadiin pemeran dalam tayangan yang disajikan. Sampai bapaknya pun ikut turut serta disana sebagai aktor. Sepertinya mereka memang orang liberal yang sengaja membuat karya untuk melemahkan akidah masyarakat lewat dunia perfilman. Dan sayangnya, ternyata masyarakatpun menyukainya, betapa gawatnya kondisi negeriku…

sedikit nasihat dari FB muslim.or.id

Nasihat Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Seputar Televisi #

Beberapa hari yang lalu syaikh abdulmuhsin alabbad ditanya : “saya tinggal dimadinah bersama anak dan istri,istri saya ingin membeli televisi untuk anak kami,maka saya menyetujui dan mensyaratkan untuk menonton acara keagamaan dan anak-anak saja. Kami memohon nasehat dari anda.”

Jawab syaikh ringkas: “selama anakmu masih kecil dan tidak memintanya maka sibukkanlah dia dengan mainan lain. Belikanlah dia permainan lain yang tidak membawa madhorot”

Via: Akh Febrian Fariyansyah

Dan kesimpulanku pun mengerucut menjadi lebih baik hidup tanpa televisi di rumah!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s