Masih dalam tahap pengenalan

Sekarang sudah masuk bulan ke-5 kami tinggal di pendopo. Masih cukup baru untuk ukuran mukim di suatu daerah. Karenanya banyak hal yang kemudian baru diketahui seiring bergulirnya waktu. Mulai dari harga sembako disini yang tergolong mahal (semua pendatang mengakuinya) malah makin melonjak tajam ketika hari raya dan banyaknya pesta yang diadakan warga sekitar, pasar yang ramainya hingga tengah hari saja, selepas itu mulai banyak yang nutup toko, tindak criminal yang cukup tinggi, daerah yang hampir semuanya pakai “talang” didepannya yang ternyata berarti kampung, membludaknya warga H-3 lebaran di pasar ( lebaran idul adha yang pernah dicobain lebaran disini, apalagi kalau lebaran idul fitri kemarin ya, tentunya makin susah ama bergerak di pasar), pasar yang jam 7 itu baru mulai aktivitas, padahal dah banyak daerah juga yang ama kunjungi, tapi baru disini yang menemukan aktivitas di pasar itu paling singkat. Buka mulai jam 7-an, nutup jam 12-an. Sangat banyak toko yang seperti itu. Kalaupun ada beberapa yang tidak seperti itu sepertinya mereka pengusaha yang tekun. gudang energi tapi rutin sekali lampu mati. berkali-kali dalam sehari dengan rentang waktu yang sangat lama lumrah sekali terjadi disini. ga heran kalau sebagian besar warga pasar memiliki genset dirumahnya. bisa rugi banyak mereka kalau tokonya gelap selalu, padahal ramenya pasar cuma setengah hari, dima juo kabajua bali. Dan sekarang yang baru ama tahu ternyata kalau ada yang walimahan acara walimatul ‘ursy di bagi-bagi. Setelah akad nikah pagi emang ada langsung acara pesta tapi hanya hingga tengah hari. Dari tengah hari hingga sore hari relative senyap. Baru mulai habis ashar lagi acara pestanya di mulai. Baru tau karena sebelumnya belum pernah datang ke pesta pernikahan warga sini. Meski pernah diundang sebelumnya, tapi berhubung waktu itu ama lagi tidak di tempat jadi belum pernah lihat. Dan tadi bermaksud menghadiri pesta pernikahan salah satu warga pasar Pendopo juga, jadi udah tetangga, di undang pula, menghadirinya selain sebuah bentuk pengamalan sunnah tentunya juga untuk menyambung silaturrahim sesama warga. Kami datang setelah dzhuhur. Karena belum pernah berkunjung ke rumahnya, jadi tuan rumah pun sepertinya belum mengenal kami. Jadilah kami pulang kembali setelah melihat sudah pada kosong kursi-kursi yang disediakan karena tidak diduduki undangan. Malu dunk kalo maksaan diri tetap masuk ke rumah, lha wong sana aja ga ada. Pas udah nyampe di toko di tanyain Andri dari mana. Setelah bilang niatnya mo menghadiri pernikahan azizah, tapi karena udah pada sepi akhirnya balik lagi. Andri pun bilang kalo disini ya begitulah adatnya. Acara pesta dilanjutkan kembali ntar sore. Ooo, baru tahu. Ya udah. Ntar lagi kami coba datang kesana.

Setelah dirumah ternyata ada bibi sebelah. Sambil ngobrol2 diajakin pergi bareng ke kondangannya azizah. Awalnya bibi mau tapi ia ke rumah dulu ganti baju. Trus jawabnya ga jadi, soalnya dak katek kado. Pakai kado kami aja jawabku, ya udah mau bibinya. Ternyata ayuk ita juga belum pergi, ya udah janjian bareng. Kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing. Eh, pas mau pulang bibinya ngomong ga jadi, soalnya tetangga beliau parak rumah dak pergi jugo. Dak lemak kami dak katek kado, udah ditawarin lagi pakai kado kami tetap ga mau. Ayuk ita ternyata harus ke rumah sakit dulu mandiin nenek. Yach, ga jadi deh. Berarti emang dengan ayat doank perginya.

Jam lima sore kesana udah pada rame disitu. Benar kata andri ternyata pakai jam-jaman acara disini. Waktu ngisi buku tamu langsung dikasih kue (biasanya di tempat  lain souvenir). Terus mo makan, eh liat sambalnya jadi males makan. Benar kata ayat “lebih enakan makan di rumah disbanding tempat hajatan”. Bukan ga bersyukur, tapi selera kami selama ini memang minang poenya. Siapapun yang punya hajatan di ranah minag sepertinya tidak ada yang tidak enak menunya, meskipun ala kadarnya. Trus ada basa-basinya lagi. Tarok kue, agar2, kerupuk, banyak deh. Yang pesta kemarin termasuk orang berada, lha yang berada ada menunya terbatas gitu apalagi yang hidupnya susah. Sepertinya tidak akan tertarik lagi untuk makan di rumah warga sini. Kalaupun ntar ada yang ngundang ya sekedar datang aja, tanpa nyicipin makanannya. Tambahan lagi, waktu ayat nyicip kuenya baru dikit udah di tarok lagi di kursi. Pas pulang ama tanyain ga enak juganya. Iya, jawabnya. Baunya aja udah kecium kalo rotinya ga baru. Hmm, salero minang kami emang dak ka basobok di rumah warga siko. Untuang lai banyak urang minang dipasa. Jadi kalau lebaran batamu lai samba awak juo yang kalua. Alhamdulillah  

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s