Daerah-Daerah Yang Telah Ku Kunjungi

Gambar

Saya selalu menyarankan ini, jika kalian masih muda, punya banyak waktu luang, tidak memiliki terlalu banyak keterbatasan, maka berkelilinglah melihat dunia. Bawa satu ransel di pundak, berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, dari satu desa ke desa lain, dari satu lembah ke lembah lain, pantai, gunung, hutan, Padang rumput, dan sebagainya. Menyatu dengan kebiasaan setempat, naik turun angkutan umum, menumpang menginap di rumah-rumah, selasar masjid, penginapan murah meriah, nongkrong di pasar, ngobrol dengan banyak orang, menikmati setiap detik proses tersebut.

Maka, semoga, pemahaman yang lebih bernilai dibanding pendidikan formal akan datang. Dunia ini bukan sekadar duduk di depan laptop atau HP, lantas terkoneksi dengan jaringan sosial yang sebenarnya semu. Bertemu dengan banyak orang, kebiasaan, akan membuka simpul pengertian yang lebih besar. Karena sejatinya, kebahagiaan, pemahaman, prinsip-prinsip hidup itu ada di dalam hati. Kita lah yang tahu persis apakah kita nyaman, tenteram dengan semua itu. Nah, kalau kalian punya keterbatasan, lakukanlah dalam skala kecil, jarak lebih dekat, dengan pertimbangan keamanan lebih prioritas. Itu sama saja. Lihatlah dunia, pergilah berpetualang, perintah itu ada dalam setiap ajaran luhur.

*Tere Liye (copas status Darwis Tere Liye tgl 13/10/2013)

Bermula dari tulisan darwis tere liye inilah akhirnya ama pun menuliskan kembali ulasan singkat sebagai tangapan atas tulisan tersebut. Karena Jalan-jalan ataupun bertualang ternyata telah menjadi salah satu hal yang ama suka dan mendekati kebutuhan. Meski dengannya tak sedikit juga rupiah yang perlu disediakan untuk kemudian dihabiskan, tapi berkelana memang tak jarang membuat kita lebih mengenal dan menyenangkan, karenanya meskipun sebagian besar daerah yang ama datangi adalah dengan uang sendiri (kan ada juga orang yang bisa berkelana karena alasan perjalanan dinas ataupun nama lainnya yang membuat mereka pun bisa berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya). Karena dengan uang sendiri jualah makanya tak perlu ragu dalam memutuskan berapa lama ama Diantara beberapa daerah yang telah ama kunjungi, yaitu:

  1. Propinsi  Sumatera Barat

Sebagai orang yang bersuku Minangkabau tentunya akan memalukan kalau ama tidak mengenal ranah ini. karenanya berkelana diseputaran ranah yang rancak bana ini bukanlah hal yang asing. Hampir sebagian daerah di Sumatera Barat telah ama jelajahi. Mulai dari Nagari Sulit Air tempat ama dilahirkan tepatnya di Kabupaten Solok, dengan pesona Gunung Papan, Janjang Saribu, Sungai Batang Katialo tak lupa untuk mencicipi kuliner setempat apalagi ketika ada hajatan, maka bisa langsung melihat rangkaian samba duo baleh yang disajikan berupa samba ayam itam dengan rahasia galundinya, gulai patai kacang yang maimbau, salada yang menyegarkan, bada sapek nan mangigik, kue kubang-kubang yang satu aja udah kenyang, inai-inai, lamang tapai jo lamang bareh yang manis masam, kue sagun, panyaram, bubur, godok, goreng pisang, hampir semua menu enak tradisional hadir juga di kampung kami.

 Puas di Sulit Air kita pun beranjak sedikit ke Danau Singkarak dengan ikan bilihnya yang tiada pengganti di tempat manapun, Danau Ombilin yang menjadi persinggahan perantau yang ingin ke Bukittinggi atau Batu Sangkar, Danau Atas Danau Bawah dengan hamparan padang tehnya untuk menikmati pesona teh di  Sumatera Barat. lanjut ke Padang Panjang wahana bermain airnya anak-anak sambil menikmati parkedel jagung dan sate. Meskipun kelak ternyata sate gubuk di Padanglah yang lebih ama sukai biar dagiang, lontong atau kuahnya enakan di Simpang Malintang. Padahal Pariaman juga terkenal dengan sate kuah merahnya, tapi ama ga terlalu suka banget, selagi masih ada pilihan sate pada umumnya ama lebih suka milih sate yang biasa. Palingan sala lauk yang enak disana. Katanya Gulai Baga juga enak. Gulai ne termasuk menu khasnya orang Piaman, tapi karena pake gomuak alias lemak. Meskipun pake daging juga, hati juga, ama ga mau nyicip. Jeroan gitu lho. Lemak ku kan udah berlebih J. lanjut ke Bukittinggi dimana Jam Gadang berdiri dengan gagahnya, Ngarai Sianok yang membuat kita selalu ingin mancogok, Lubang Japang dengan kisah misterinya, Janjang Saribu Koto Gadang yang mambuek batiah gadang, dengan Nasi Kapau yang maimbau, sanjai yang rasonyo mambuai, dakak-dakak yang buek gigi raso badatak, karak kaliang yang indak bagai kaliang. Agam pun tak mau kehilangan dari daftar ia punya Puncak Lawang yang kerap dijadikan arena paralayang, Danau Maninjau dengan pesona petak sawah dan tambat ikannya, Pantai Tiku beserta sejuknya air kelapa muda, ikan janiah di Baso yang emang gede-gede banget ikannya. Waktu ama kesana dengan ortunya katanya ikan disana ga boleh dimakan, terus kalo lebaran ikan yang sebenarnya dulu manusia tapi karena ga dengar nasihat ortu makanya dikutuk jadi ikan saat lebaran memperlihatkan wujud aslinya. Katanya segede ikan duyung, tapi karena ga pernah liat jadi ga tau. Tapi kalo ukuran memang guide banget dibandingkan lumrahnya ukuran ikan. Apalagi pake embel2 sakti. Jadi adek-adek ama tu kalo pengin kesana sebenarnya buat meyakinkan diri seberapa saktikah ikan tersebut. Salah satu referensi tentang ikan janiah ini bisa klik http://www.harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=18087:di-bukik-batanjua-sungai-janiah&catid=39:lancong&Itemid=191

Gambar

Dah mo masuk Kamang ne, ga da salahnya mampir sejenak melihat pohon durian, siapa tahu lagi musim dan ada yang siap untuk dicicipi, di tambah dengan pesona alam yang masih alami pasti membuat mata ga jenuh memandang. Apalagi kuliner nasi kapau juga dekat dari sini, semakin dimanjakanlah diri ini. Payakumbuh pun tak ingin ketinggalan cerita. Objek wisata Ngalau dan Harau yang tak membuat galau, hingga kuliner khas rendangnya yang kemudian pun bermetamorfosis menjadi kuliner rending beras rendang, rendang telur, ada juga galamai, kue serikaya yang enak banget karena cukup deh kandungan lemaknya berkat santan kental yang menjadi bahan utamanya. Ada juga kelok 9 yang menjadi jalan utama bagi warga yang ingin ke Pekanbaru atau sebaliknya datang dari Pekanbaru menuju  Sumatera Barat. Jangan lupa menyempatkan diri mencicipi sate Danguang2 yang khas disana. Mungkin kabupaten yang belum ama kunjungi untuk mampir di  Sumatera Barat adalah Dharmasraya, Pasaman, dan Kepualauan Mentawai. Kalau sekedar lewat Dharmasraya udah pernah, soalnya kalo ke Jambi dari Padang ama lewat sana, tapi ga pake turun, jadi ga tau juga sebenarnya tentang daerah disana. Kalo ke Batusangkar ama juga punya keluarga disana, jadi karupuak peyek dan bada yang enak pun menjadi menu andalan yang harus kami bawa kalo kesana. Sawahlunto juga sekedar mampir, soalnya ama lebih banyak menghabiskan waktu di daerah Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung. Tepatnya di Nagari Unggan yang termasuk daerah perbatasan dengan Riau. Soal makanan, hmm lezat deh disini, termasuk buah-buahannya. Mo nyari songket handy made pun juga ada disini, meski di Bukittinggi termasuk juga pusatnya. Apalagi kerajinan perak, Koto Gadang yang sekarang populer dengan Great Wallnya adalah tempat yang tepat. Pesisir Selatan juga udah sempat beberapa kali kesana menikmati keindahan pantai dan enaknya durian, Lubuk Sikaping juga dilalui karena ingin menyaksikan langsung pesona Puncak Lawang dengan Kelok Ampek Puluah Ampek yang menyuguhkan Danau Maninjau sebagai objeknya. Solok Selatan tentu aja juga sering dilewati karena rumah kami di Kerinci, jadilah setiap ke rumah dari Padang mo ke Kerinci selalui melewati Muaro Labuah yang cukup ngeri juga dengan kelok letter W nya, terlebih saat hujan.

Kendaraan umum yang bisa dijadikan solusi untuk menuju berbagai lokasi diatas ama kasih tau juga. Tapi dengan keberangkatan dari Padang semuanya. Kalo mo ke Padang panjang dan Bukittinggi bisa naik travel Tranek Mandiri dan ANS, kalo ke Payakumbuh naik travel Ayah, Yudha Transport. Poolnya di Ulak Karang, tapi kalo mo nunggu yang udah ada penumpangnya, maka berdiri saja di dekat kampus UNP Air Tawar. Kalo mo ke Maninjau naik Lubuk Basung Ekpress yang di Air Tawar juga poolnya tapi agak jauhan dikit. Ke Pesisir Selatan kalo waktu perdana kesana naik bus di dekat Teluk Bayur, tapi karena sekarang udah main travel so tinggal calling sopirnya. Ke Pariaman ada travel Terang Bulan. Di kampus UNP juga banyak kok bus-bus yang ngetem dengan tujuan ke Pariaman. Ke sawahlunto ama ga pernah naik kendaraan umum, tapi kalo ga salah dekat Plaza Andalas pool mobil kesana. Waktu ke Sijunjung naik Tampalo. Tapi poolnya di loket Rinai yang menuju Kerinci. Kalo ke   biasanya karena pulang ke Kerinci, jadi ga pake naik travel yang khusus tujuan kesana. Dan untuk ke kampung kami Sulit Air tacinto, maka kudu naik Jasa Malindo, Dirgantara atau buslainnya ke Solok dulu, tapi kalo mo langsung juga ada kok travel Transmitra yang sama poolnya dengan Malindo tapi hanya satu trayek pulang pergi sehari. Siang dari Padang. Subuh dari Sulit Air. Mungkin ini aja dulu destinasi awal di daerah Sumbar. Kalo mo jalan-jalan dengan edisi lengkap dari pemandangan alam berupa lembah, gunung, ngarai, sungai, danau, air terjun, pantai, laut hingga dengan kuliner yang mak nyuss, dari menu yang renyah, pedas, garing, gurih, manis, komplit deh, hingga mo bawa oleh-oleh kerajinan tangan yang berupa rajutan, songket, perak, hingga cantiknya pakaian adat beserta rumah adatnya lengkap dengan rangkiang, sawah yang hijau dan kuning beserta sapi yang menghiasi perkampungan, ditambah dengan penduduknya yang agamis. Cukup deh. Ga bakal rugi kalo mo liburan ke sumbar. O ya, sepertinya orang Minang suka punya anak banyak, jadi kalo mo ngafal plat kendaraannya, ingat. BA, banyak Anak!

Gambar

2. Propinsi  Sumatera Selatan

Ini termasuk daerah yang paling banyak juga ama kunjungi. Soalnya sebagian besar keluarga sekarang dah pindah kesini. Awalnya di kota Palembang, trus mulai satu persatu lainnya ikut pindah tapi ke daerah. Daerah pertama adalah Kayu Agung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), trus masuk lagi keluarga yang lain dan milih tempat di Tanjung Raja. Ga lama kemudian masuk lagi family yang lain kali ini milih di Prabumulih. Hingga beberapa kabupaten lainnya mulai kami jelajahi. Ada di Ogan Ilir (Indralaya), Banyu Asin (Sungai Lilin Dan Betung) dan kami di Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) Pendopo. Jadi beberapa karakter khas warga Sumsel pun udah mulai tau. Kalau Kayu Agung itu bergelar kota duta coz rawan copet. Pencopet pemula banyak lahir disana, udah hati-hati bisa kecopetan, apalagi emang teledor L terus hampir disemua daerah orang sini gemar bertuja (berbunuhan pake senjata tajam), buktinya senjata tajam ini dijual bebas dipasaran dengan berbagai ukuran, yang kecil hingga yang gedenya menakutkan. Pernah dengar cerita langsung sopir truck sini yang ketika ke Jawa ia membeli sembako tak lupa di punggungnya ia selipkan senjata untuk jaga-jaga. Dan benar saja, ketika ia pun dihadang oleh preman, senjatanya langsung ia ambil dari punggungnya. Iih ngeri deh, nyimpan senjata aja di dalam pakaian dekat badan sendiri. Tak jarang hal sepela aja bisa berakhir dengan kematian. Sepertinya menjadi lumrah kalo dapat informasi kematian dengan cara dibunuh. Di kota Palembangnya juga tak aman. Jadi meskipun Palembang pernah menjadi tuan rumah beberapa  acara, baik level nasional atau internasional, ga aneh ntar kalo pendatang tersebut mengalami tindakan criminal. Minimal kemalingan. Dan ga kalah ngerinya dengan daerah PALI yang menjadi tempat dibukanya toko kami. Pencurian dengan pembunuhan bukanlah hal asing. Ngeri deh. Tapi namanya juga berusaha mencari rezeki, tetap berdo’a semoga kasus criminal tersebut jauh-jauh dari kami. Aamiin.

Untuk pilihan makanan disini sebenarnya cukup banyak tersedia, tapi ga mudah menemukan makanan yang enak. Kalopun enak harganya itu lho, membuat nafsu makan pun menjadi hilang karena besarnya jumlah rupiah yang harus dikeluarkan. kota Ampera ini terkenal dengan menu hasil olahan ikan. Ada peempek, tekwan, model, kemplang, laksan dan climpungan, banyak deh pilihan mo nyari makanan yang enak (tapi termasuk miskin tempat wisata alam, paling gunung dan sungai. Ga da pantai, apalagi lembah L). Kalo peempek keluarga ama biasanya milih peempek Vico yang di depan PIM, tapi harganya euy, muahal banget. Ga kuat ama ngabisinnya kalo beli sendiri. Jadi kalo peempek pilih yang harga 2 ribuan satuannya atau bikin sendiri. Kalo model dan tekwan ama suka yang punya Pak Mus dekat Serelo. Murah meriah dan enak, mie celornya juga. Kalau roti dulu yang merek Valencia, tapi karena yang bikinnya orang Cina, jadi ragu kehalalannya. So sekarang ga da lagi beli roti tu. Kalau waktu bulan Ramadlan kemarin baru tau ama ternyata ada juga yang namanya laksan, climpungan. Hampir semua menu khas sini hasil olahan ikan. Wajar aja, kan daerah Sumsel ini kaya dengan sungai, jadi ikan pun termasuk komoditas andalan. Daerah Indralaya, tepatnya di Tebing Gerinting yang langganan macet adalah salah satu contoh daerah yang menawarkan hasil olahan ikan dalam bentuk kemplang (kerupuk yang dibakar dengan bara). Hampir semua rumah disana adalah home industry yang memproduksi kemplang dan beberapa kue lainnya. Mo nyari perhiasan hasil kerajinan juga tersedia di Tanjung Batu. mo beli pasir dalam jumlah banyak datang aja ke Sungai Pinang. Mo meneliti sumber daya alam berupa minyak dan gas juga bisa, jadi gampang menghafal plat kendaraannya BG (banyak Gas). banyak sekali hasil alam daerah ini, mo riset karet dan sawit pun juga bisa disini. Tapi karena sekarang mobil batu bara diperbolehkan kembali melintasi jalan Negara, jadilah kemacetan hal yang lumrah dan utama di propinsi ini. kemanapun mo pergi kayaknya susah menghindari yang namanya macet. Sepantauan ama di Jakabaring saja yang tidak macet daerah terkenalnya. Jadi terkadang sering dongkol kalau mo ke Palembang tu, seringnya di Indralaya itu maceeeeeeeeeeeeet. Belum lagi kalo di jalan lurus ada kecelakaan atau mobil rusak, waduh tambah panjang deh macetnya. Jadi kalo pernah dengar orang yang jarak tempuhnya sebenarnya ga sampe sejam dengan kendaraan tapi ternyata baru nyampe esok harinya jangan bilang ga mungkin. Karena disini mungkin terjadi dan ama pernah ngalaminya. Udah ah, Karena sekarang ini menjadi daerah rantau ama, maka cukup disini saja dulu pembahasaannya.

3. Propinsi Lampung

Kalau ke Lampung sekedar mampir lewat tentu sudah sering, karena kalo dari Sumatera ingin ke Jawa, tentu saja harus melewati Lampung. Tapi tentu saja ga siip rasanya datang ke suatu daerah tapi ga nyobain jalan-jalan dan berinteraksi dengan warga disana. dan akhirnya lewat acara FSLDK tahun 2008 ama pun mulai mengetahui ternyata begini lo karakter orang Lampung. Ga bisa dipukul rata memang, tapi perdana ama nyampe disana tepatnya di stasiun Tanjung Karang sudah disambut dengan anak kecil yang bergaya punk dengan logat bahasa yang kasar. Padahal masih subuh waktu kami nyampe disana. apalagi kalo mo mampir pula di terminal Rajo Basa, maka akan lebih banyak lagi perasaan kaget yang muncul melihat kerasnya warga disana. dan keluarga besar ama pun melarang kalo mo jalan-jalan ke Lampung, alasannya ga jauh beda dengan Sumsel. Rawan! Tapi waktu lebaran kemarin kami kesana itu ceritanya beda. Kan silaturrahim tempat keluarga, jadi ga bakal pergi ke terminal atau stasiun. Cukup datang langsung ke Natar dan kemudian pergi untuk kemudian nyebrang. Karena tempat yang kami tuju adalah keluarga dan tetangganya pun masih urang Sulita, jadi ga ngeri deh selama disana. tapi keripik nangka dan keripik pisang disana enak. Sayang aja di luar daerah susah nyarinya. Harus kesana langsung untuk membelinya tentunya ga ekonomis, jadi silahkan mencari menu lain yang banyak tersedia di pasaran. Padahal lampung itu sebenarnya cantik juga. Ada pelatihan gajah di Way Kambas, terus kata adek ama kita bisa liat lumba-lumba sambil megangnya juga di laut. Tapi karena factor keamanan, maka ama pun tidak ingin memasukkannya dalam senarai daerah yang ingin dikunjungi (kembali).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s