Dzulhijjah

Semua tulisan ini hasil dari copas informasi terkait bulan Dzulhijjah di facebook

HURRY UP! Just 4 days more…

“There are no days in which righteous deeds are more beloved to Allaah than these ten days.” The people asked, “Not even jihaad for the sake of Allaah?” He said, “Not even jihaad for the sake of Allaah, except in the case of a man who went out to fight giving himself and his wealth up for the cause, and came back with nothing.”

(al-Bukhaari, 2/457).

Some suggestions to make the Best of the Ten Days:

•►Increase your level of worship during the day and during the night.
•►Try to achieve one khatma of the Qur’an (reading it from cover to cover).
•►Keep your tongue moist with dhikr and praise of Allah wherever you are.
•►Maintain a state of ṭahārah and wuḍū’ at all times.
•►Make most of your dhikr Takbīr (like the one you recite on ‘Id day).
•►Fast a few days while the days are short and cold, particularly the 9th, the day of ‘Arafah.
•►If you haven’t paid for the qurban (sacrificial animal) yet, make sure to do so. Perhaps you should donate one to those who are most in need of it in areas such as Gaza, Syria, Kashmir, Afghanistan, Somalia, and all the Muslim countries.
•►Wake up before Fajr time and pray Qiyam-ul-Layl.
Pray your Fardh salat on time.
•►Make sure you don’t miss any of the Nafl and Sunnah prayers.
•►Give charity and help those who are less fortunate prepare for the Eid day.
•►Share the spirit of the season and be cheerful with all people.

There is so much you can do for the ten days of Dhu’l-Ḥijjah, but you are the one who knows your schedule better than any one else. Make sure to make this season a priority and may Allah grant you all Jannatul Firdous.

Please Share

Foto: HURRY UP! Just 4 days more...

“There are no days in which righteous deeds are more beloved to Allaah than these ten days.” The people asked, “Not even jihaad for the sake of Allaah?” He said, “Not even jihaad for the sake of Allaah, except in the case of a man who went out to fight giving himself and his wealth up for the cause, and came back with nothing.”

(al-Bukhaari, 2/457).

Some suggestions to make the Best of the Ten Days:

•►Increase your level of worship during the day and during the night.
•►Try to achieve one khatma of the Qur’an (reading it from cover to cover).
•►Keep your tongue moist with dhikr and praise of Allah wherever you are.
•►Maintain a state of ṭahārah and wuḍū’ at all times.
•►Make most of your dhikr Takbīr (like the one you recite on ‘Id day).
•►Fast a few days while the days are short and cold, particularly the 9th, the day of ‘Arafah.
•►If you haven’t paid for the qurban (sacrificial animal) yet, make sure to do so. Perhaps you should donate one to those who are most in need of it in areas such as Gaza, Syria, Kashmir, Afghanistan, Somalia, and all the Muslim countries.
•►Wake up before Fajr time and pray Qiyam-ul-Layl.
Pray your Fardh salat on time.
•►Make sure you don’t miss any of the Nafl and Sunnah prayers.
•►Give charity and help those who are less fortunate prepare for the Eid day.
•►Share the spirit of the season and be cheerful with all people.

There is so much you can do for the ten days of Dhu’l-Ḥijjah, but you are the one who knows your schedule better than any one else. Make sure to make this season a priority and may Allah grant you all Jannatul Firdous.

Please Share
 
# Keutamaan Puasa Arafah #

Salah satu amalan utama di awal Dzulhijjah adalah puasa Arafah, pada tanggal 9 Dzulhijjah. Puasa ini memiliki keutamaan yang semestinya tidak ditinggalkan seorang muslim pun. Puasa ini dilaksanakan bagi kaum muslimin yang tidak melaksanakan ibadah haji.

Dari Abu Qotadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)

Imam Nawawi dalam Al Majmu’ (6: 428) berkata, “Adapun hukum puasa Arafah menurut Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah: disunnahkan puasa Arafah bagi yang tidak berwukuf di Arafah. Adapun orang yang sedang berhaji dan saat itu berada di Arafah, menurut Imam Syafi’ secara ringkas dan ini juga menurut ulama Syafi’iyah bahwa disunnahkan bagi mereka untuk tidak berpuasa karena adanya hadits dari Ummul Fadhl.”

Ibnu Muflih dalam Al Furu’ -yang merupakan kitab Hanabilah- (3: 108) mengatakan, “Disunnahkan melaksanakan puasa pada 10 hari pertama Dzulhijjah, lebih-lebih lagi puasa pada hari kesembilan, yaitu hari Arafah. Demikian disepakati oleh para ulama.”

BACA SELENGKAPNYA >> muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/keutamaan-puasa-arafah.html

— bersama Dinda Ayoenda dan 4 lainnya.

Foto: ‎# Keutamaan Puasa Arafah #

Salah satu amalan utama di awal Dzulhijjah adalah puasa Arafah, pada tanggal 9 Dzulhijjah. Puasa ini memiliki  keutamaan yang semestinya tidak ditinggalkan seorang muslim pun. Puasa ini dilaksanakan bagi kaum muslimin yang tidak melaksanakan ibadah haji.

Dari Abu Qotadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)

Imam Nawawi dalam Al Majmu’ (6: 428) berkata, “Adapun hukum puasa Arafah menurut Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah: disunnahkan puasa Arafah bagi yang tidak berwukuf di Arafah. Adapun orang yang sedang berhaji dan saat itu berada di Arafah, menurut Imam Syafi’ secara ringkas dan ini juga menurut ulama Syafi’iyah bahwa disunnahkan bagi mereka untuk tidak berpuasa karena adanya hadits dari Ummul Fadhl.”

Ibnu Muflih dalam Al Furu’ -yang merupakan kitab Hanabilah- (3: 108) mengatakan, “Disunnahkan melaksanakan puasa pada 10 hari pertama Dzulhijjah, lebih-lebih lagi puasa pada hari kesembilan, yaitu hari Arafah. Demikian disepakati oleh para ulama.”

BACA SELENGKAPNYA >> muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/keutamaan-puasa-arafah.html‎
 
It is the responsibility of every Muslim, man and woman, old and young, to revive these ten days until they become for our community like the last ten nights of Ramadan.

Ibn al-Qayim explained that the best nights of the year are the last ten nights of Ramadan while the best days of the year are the first ten days of Dhul hijjah.

Our lives are short and our accountability great. We cannot afford to let golden moments like these pass by without expending ourselves in the worship of Allah. So let our mosques and homes resound with wave after wave of the takbeer of Allah until they resemble the market places of Medina in the era of the companions.

As the Islamic year draws to a close, let us revive the ancient ritual of our forefather Ibrahim. And as the pilgrims set out for Hajj, hoping to return pure from sins like the day they were born, let us remember that we too have worship that will tire us and consume us, but will illuminate our faces on the day that we meet our Lord…Insha Allah!

— bersama Shayan Arif dan 38 lainnya.

Foto: It is the responsibility of every Muslim, man and woman, old and young, to revive these ten days until they become for our community like the last ten nights of Ramadan. 

Ibn al-Qayim explained that the best nights of the year are the last ten nights of Ramadan while the best days of the year are the first ten days of Dhul hijjah. 

Our lives are short and our accountability great. We cannot afford to let golden moments like these pass by without expending ourselves in the worship of Allah. So let our mosques and homes resound with wave after wave of the takbeer of Allah until they resemble the market places of Medina in the era of the companions. 

As the Islamic year draws to a close, let us revive the ancient ritual of our forefather Ibrahim. And as the pilgrims set out for Hajj, hoping to return pure from sins like the day they were born, let us remember that we too have worship that will tire us and consume us, but will illuminate our faces on the day that we meet our Lord...Insha Allah!
 
 

Keutamaan Amal Shaleh Pada Sepuluh Hari di Awal Bulan Dzulhijjah

Kategori: Fiqh dan Muamalah

18 Komentar // 16 November 2009

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ. يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ : وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ.

“Tidak ada hari-hari yang pada waktu itu amal shaleh lebih dicintai oleh Allah melebihi sepuluh hari pertama (di bulan Dzulhijjah).” Para sahabat radhiyallahu ‘anhum bertanya, “Wahai Rasulullah, juga (melebihi keutamaan) jihad di jalan Allah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Ya, melebihi) jihad di jalan Allah, kecuali seorang yang keluar (berjihad di jalan Allah) dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak ada yang kembali sedikitpun.”[1]

 

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan beramal shaleh pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Oleh karena itu, Imam an-Nawawi dalam kitab beliau Riyadhush Shalihin[2] mencantumkan hadits ini pada bab: Keutamaan ibadah puasa dan (ibadah-ibadah) lainnya pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah.

Mutiara hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini:

  1. Allah melebihkan keutamaan zaman/waktu tertentu di atas zaman/waktu lainnya, dan Dia mensyariatkan padanya ibadah dan amal shaleh untuk mendekatkan diri kepada-Nya[3].
  2. Karena besarnya keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini, Allah Ta’ala sampai bersumpah dengannya dalam firman-Nya: وَلَيَالٍ عَشْرٍ  “Dan demi malam yang sepuluh.” (Qs. al-Fajr: 2). Yaitu: sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah, menurut pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dan Ibnu Rajab[4], [serta menjadi pendapat mayoritas ulama].
  3. Imam Ibnu Hajar al-’Asqalani berkata, “Tampaknya sebab yang menjadikan istimewanya sepuluh hari (pertama) Dzulhijjah adalah karena padanya terkumpul ibadah-ibadah induk (besar), yaitu: shalat, puasa, sedekah dan haji, yang (semua) ini tidak terdapat pada hari-hari yang lain.”[5]
  4. Amal shaleh dalam hadits ini bersifat umum, termasuk shalat, sedekah, puasa, berzikir, membaca al-Qur’an, berbuat baik kepada orang tua dan sebagainya.[6]
  5. Termasuk amal shaleh yang paling dianjurkan pada waktu ini adalah berpuasa pada hari ‘Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah)[7], bagi yang tidak sedang melakukan ibadah haji[8], karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang puasa pada hari ‘arafah, beliau bersabda, أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ “Aku berharap kepada Allah puasa ini menggugurkan (dosa-dosa) di tahun yang lalu dan tahun berikutnya.”[9]
  6. Khusus untuk puasa, ada larangan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melakukannya pada tanggal 10 Dzulhijjah[10], maka ini termasuk pengecualian.
  7. Dalam hadits ini juga terdapat dalil yang menunjukkan bahwa berjihad di jalan Allah Ta’ala adalah termasuk amal yang paling utama[11].

***

Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, Lc.
Artikel www.muslim.or.id

[1] HSR al-Bukhari (no. 926), Abu Dawud (no. 2438), at-Tirmidzi (no. 757) dan Ibnu Majah (no. 1727), dan ini lafazh Abu Dawud.

[2] 2/382- Bahjatun Naazhirin.

[3] Lihat keterangan Imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab Latha-iful Ma’aarif (hal. 19-20).

[4] Lihat Tafsir Ibnu Katsir (4/651) dan Latha-iful Ma’aarif (hal. 20).

[5] Fathul Baari (2/460).

[6] Lihat keterangan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin dalam Syarhu Riyadhis Shalihin (3/411).

[7] Lihat keterangan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin dalam as-Syarhul Mumti’ (3/102).

[8] Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak puasa pada hari itu ketika melakukan ibadah haji, sebagaimana dalam HSR al-Bukhari (no. 1887) dan Muslim (no. 123). Lihat kitab Zaadul Ma’ad (2/73).

[9] HSR Muslim (no. 1162).

[10] Sebagaimana dalam HSR al-Bukhari (no. 1889) dan Muslim (no. 1137).

[11] Lihat Syarhu Riyadhis Shalihin (3/411).

Dari artikel ‘Keutamaan Amal Shaleh Pada Sepuluh Hari di Awal Bulan Dzulhijjah — Muslim.Or.Id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s