Satu, tiga, tujuh, sebelas dan seterusnya

Bukan satu, dua, tiga dan seterusnya

Jiwa-jiwa yang merana itu bukan dalam jumlah angka urut yang bisa berurutan untuk dihitung

Namun ia telah menjadi bilangan deret yang kelipatannya tak selalu bertambah satu

Masih adakah volunteer lain yang kuat untuk merasakannya?

Atau memang harus semua yang ada disekitarnya tanpa pandang bulu ikut rela menerimanya

Bukankah hutan di negeri ini masih banyak untuk didatangi

Tak sulit kalau nomaden dari sana

Toh berteman dengan alam sepertinya lebih baik

Karena alam tak kan terluka ketika ia dicerca

Karena alam tak menetaskan air mata ketika ia dihina

Karena alam masih akan mau menerima siapapun yang datang menghampirinya

Tak kan ada lagi kisah pilu ketika harus pergi

Karena obat kepedihan itu memang harus menepi dari eksistensi

Tak sekali dua kali, tapi berkali-kali

Apakah ini untuk menguji atau untuk membalasi

Sejak awal ia memang tak bernurani

karena itu bukankah lebih baik pergi

entah ke negeri yang penuh duri atau mimpi

toh jiwa ini memang sepatutnya di tempat yang sunyi

karena ia selalu menyakiti

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s