Tulisan Buya Gusrizal Gazahar

Peristiwa yang berulang untuk ke sekian kalinya. Hanya dengan mendengar belum lagi mengkaji, orang merasa sudah begitu patut menilai ini yang kuat dan ini yang lemah. Ketika ditanya apa ukuran untuk menimbang kuat dan lemahnya suatu ijtihad atau ushul al-fiqh apa yang digunakan, bukannya pertanyaan yang dijawab tapi malah situs internet yang ditunjukkan.
Masya Allah !!! Apakah sudah seremeh inikah ilmu agama di mata umat ?!! Dengan membaca situs internet begitu seseorang sudah menjadi seorang ‘alim yang bisa menentukan pendapat yang kuat dan yang lemah ??? Kalau begitu adanya, tak perlu lagi pesantren, tak perlu lagi belajar bahasa Arab, ushul a-tafsir, ushul al-hadits, ushul al-fiqh dan aqidah tauhid serta tak perlu lagi jauh-jauh ke Mesir dan Saudi untuk menuntut ilmu karena internet sudah cukup menjadi guru. Ketahuilah , belum tentu semua yang didengar dan dibaca itu bisa dijadikan ilmu. Ilmu itu didapat dengan kesungguhan dan pengorbanan, begitu nasehat yang disampaiakn oleh al-Imam al-Syafi’i :
اصبر على مرّ الجفا من معلّم…فإنّ رسوب العلم في نفراته
و من لم يذق مرّ التعلّم ساعة…تجرّع ذلّ الجهل طول حياته
و من فاته التعليم وقت شبابه…فكبّر عليه أربعا لوفاته
ذات الفتى و الله بالعلم و التقى…و إذا لم يكونا لا اعتبار لذاته
Bersabarlah atas pahitnya sikap kurang mengenakkan dari guru
Karena sesungguhnya endapan ilmu adalah dengan menyertainya
Siapa yang belum merasakan pahitnya belajar meski sesaat
Maka akan menanggung hinanya kebodohan sepanjang hidupnya
Barangsiapa yang tidak belajar di waktu mudanya
Bertakbirlah 4x atas kematiannya
Eksistensi seorang pemuda –demi Allah- adalah dengan ilmu dan ketaqwaan
Jika keduanya tidak ada padanya, maka tidak ada jati diri padanya”.

Kalau hanya sekedar mendengar belum lagi mengkaji, bersabarlah untuk menahan diri bersikap seoerti orang yang begitu mendalam dan mampu menimbang dalil. Ingatlah pesan Nabi saw:
عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“dari Hafsh bin Ashim, dia berkata, Rasulullah saw bersabda: Cukuplah seseorang (dianggap) berbohong apabila dia menceritakan semua yang dia dengarkan” (HR. Muslim)

Jika Rasul saw mengingatkan para shahabat dalam hal ini, padahal mereka adalah pembawa sunnah, nah… coba renungkan tentang diri kita yang baru mendengar tanpa ilmu alat yang cukup.
Para ulama menasehati kita dengan nasehat berharga:
لأن ليس كل ما تسمع صحيحاً ، فكيف تنطلق بين الناس تحدث بكل شيء تسمع؟ بل و كيف تبدي آراءً و تحلل أزمات بناءً على ما سمعت لا ما بحثت و استقصيت و دريت؟
“Karena sesungguhnya tidak semua yang engkau dengar itu benar. Maka bagaimana engkau akan berkecimpung di tengah manusia menceritakan setiap apa yang pernah engkau dengar ?! Bahkan bagaimana engkau akan mengurai berbagai kasus berdasarkan apa yang engkau dengar, bukan berdasarkan apa yang yang telah engkau bahas, engkau dalami dan engkau kaji ?!!!”.

Karena itu wahai kaum muslimin, beradablah kepada orang-orang yang belajar agama apalagi kepada para ulama karena perjalanan mereka adalah jihad, keberadaan mereka dalam naungan malaikat bahkan ikan di air pun ikut memintakan ampun buat mereka sebagaimana yang dikatakan Rasulullah saw:
عن أبى دردائ قال سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَبْتَغِي فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضَاءً لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْمَاءِ وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ.
“Abu Darda’ berkata, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Siapa yang menempuh jalan mencari ilmu, akan dimudahkan Allah jalan untuknya ke sorga. Seungguhnya Malaikat menghamparkan sayapnya karena senang kepada pencari ilmu. Sesungguhnya pencari ilmu dimintakan ampun oleh yang ada di langit dan bumi, bahkan ikan yang ada dalam air. Keutamaan orang berilmu dari orang yang beribadah adalah bagaikan kelebihan bulan malam purnama dari semua bintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris Nabi. Nabi tidak mewariskan emas dan perak, tetapi ilmu. Siapa yang mencari ilmu hendaklah ia cari sebanyak-banyaknya”. (HR. al-Tirmidziy dan Abu Daud)

Hormatilah mereka (para ulama) karena ilmu dan amal yang mereka bawa ! Hormatilah dengan sikap ketaatan dalam ketaatan kepada Allah swt dan Rasul saw. Jangan hargai mereka dengan sebatas amplop yang diberikan !!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s