(Di salin ulang dari kolom kementar pada suara sas maret 2013 s/d juli 2013 hal 46-47)

Jengkol lebih mahal dari pada ayam

Dalam komentar yl (Suara Sas edisi 04/2013) berjudul “jengkol penyembuh berbagai penyakit” ada komentator katakan “…yang kita tahu, bila seseorang Sulit Air sedang diamuk marah dan lapar pula lagi, kemudian disajikan di depan hidungnya samba joriang minyak tanah awak, tentulah marahnya berubah menjadi senyuman, setidaknya marahnya reda seketika. Anda orang Sulit Air yang kalau diharuskan memilih samba joriang minyak tanah awak daripada gulai ayam…” nah, apa yang komentator katakan itu ternyata bukan bualan besar, bukan carito kancie palomak ota, kenyataan sehari-hari yang membuktikan dan bukan hanya terjadi di Sulit Air, bahwa kini (pertengahan 2013) harga jengkol lebih mahal daripada ayam.

Dalam harian “Indopos” yang terbit pada 31 Mei 2013 berjudul “jengkol lebih mahal daripada ayam”, diberitakan bahwa “bagi penggemar jengkol, siap-siap mengeruk kantong lebih dalam. Pasalnya, sejak sepekan ini harga jengkol mengalami lonjakan mencapai Rp 50 ribu per kilogram dari harga sebelumnya Rp 25 ribu. Harga ini pun mengalahkan harga daging ayam yang mencapai Rp 26 ribu/kilogram.” Diceritakannya bahwa Teguh, 33 thn, warga Pengasinan, Rawalumbu Bekasi, teRpaksa tidak mampu lagi berjualan sate jengkol karena harganya melonjak 100%. Sementara jualan kikil saja dulu, katanya seusai berjualan di pasar baru bekasi. Mahalnya harga jengkol tsb disebabkan tidak adanya pasokan dari Palembang karena jengkol dari sumatera selatan itu yang biasa di jual di pasaran. Sejak sepekan terkahir ini jengkol yang ada kiriman dari Kalimantan. Dan pada waktu catatan ini di buat (5/6/12), komentator Tanya harga jengkol di lapak langganan di pasar kramat jati, Jakarta timur, ternyata harganya ¼ kg Rp 15.000,- haa? Uang Rp 15.000,- hanya dapat seperempat kilo jengkol? Basisuruik komentator dibuatnya, tidak jadi beli. Pohon-pohon jariang mungkin sedang marah besar atau mogok beRproduksi, biar puasa jering dulu, menunggu sampai kemarahan itu mereda! Mungkin karena melihat harga jengkol naik, saudara kontannya petai juga ikut naik, Rp 8.000-10.000,0 per papan. Tadinya Cuma Rp 2.000,- per papan. Nah, kirai bona!

Komentator pikir, kehidupan warga di Jakarta dan sekitarnya ini banyak bergantung dari pasokan makanan yang datang dari sumatera. Jeruk, durian dan sayur mayor dari Tanah Karo Medan, duku dari Baturaja dan Palembang, nenas dari Prabumulih, ikan bilih dari Danau Singkarak, dan jengkol juga dari Palembang, dan juga Lampung. Sekarang ini kehidupan kita tengah memasuki era kuliner, dimana keenakan makanan dan minuman semakin didambakan manusia-manusia masa kini dan dimana-mana bermunculan restoran, rumah makan, café bagai cendawan di musim hujan, dengan segala resep dan variasi makanan, dari yang modern sampai kepada yang kuno-kuno. Ini sudah beberapa kali komentator sentil di dalam “Suara Sas” ini, termasuk selera dan perhatian orang terhadap jengkol yang semakin lama semakin meningkat, bernafsu dan si joriang dan si pete pun Nampak semakin genit karancak-rancak an dengan mematok harga semakin tinggi.

Maka inginlah komentator mengusul kepada Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) di Sulit Air yang kabarnya semakin maju berkarya, bagaimana kalau tanah Sulit Air yang demikian luas itu, di tempat-tempat yang memungkinkan sepanjang penelitian, di tanam pohon jengkol dan pohon petai secara besar-besaran hingga menjadi penghasil jengkol dan petai terkenal, jadi sumarak nagari, mambangkik batang tarandam. Kalau perlu hartawan dan ilmuwan  Sulit Air turun tangan, bantu para petani kita menanam jengkol dan petai Sulit Air. Sebab komentator katakana demikian, dalam “Suara SAS” yl sudah komentator sampaikan hasil penelitian para ahli, ternyata jengkol makanan sehat penyembuh berbagai penyakit, dibuat orang berbagai macam makanan yang enak dari jengkol dan dijual sampai ke hotel-hotel berbintang, harganya kini sampai dua kali harga ayam, dan di Sulit Air dulu banyak sekali tumbuh batang jengkol. Pokoknya, jengkol dan petai pun kini mampu memberikan masa depan yang cerah dan ceria bagi orang-orang yang mau mengembangkan atau membudidayakannya. Komentator merasa tidak nyaman baru-baru ini membaca berita di Koran nasional adanya ibu-ibu yang ditahan di bui karena sengketa lahan pertanian di Sulit Air dan kepingin benar membaca berita bahwa Sulit Air menjadi penghasil dan pemasok jengkol dan pete terkenal!

Ikan gariang

Maafkan pembaca, komentator ini orang nyinyir, maklum sudah tua. Berkali-kali bicara tentang Batang Katialo di Sulit Air. Tentang kerinduan kepadanya, tentang anak-anak gadis yang mandi berkendut-kendutan dan bersimburan-simburan di dalamnya, tentang anak-anak lelaki yang remaja yang mandi-mandi bertungkuk-tungkukan di tebing batunya di Lubuok Sunok, tentang ikan barau yang melesat cepat di permukaannya atau ikan mansai yang melesat cepat dipermukaannya atau ikan mansai yang meloncat-loncat berkilat-kilatan di dalam lukah ketika hendak dibangkik dari dalam sungai, pokoknya macam-macamlah. Semuanya cerita masa dahulu kala, maso sisuok, bulan jintan tahun katumba, percuma berulang-ulang mengatakannya, buat apa, karena toh anak-anak muda masa sekarang tidak bisa melihatnya benar-benar ada di Batang Katialo. Nah, bagi yang belum bosan, ada sedikit info tentang ikan gariang, salah satu ikan favorit Batang Katialo masa dahulu yang digemari anak nagari karena rasanya gurih bila digoreng, digulai maupun dipanggang.

Diberitakan Koran nasional Kompas, bahwa berdasarkan penelitian populiasi ikan gariang ( Tor Tambrides) Di Sungai Lubuk Paraku, Lubuak Kilangan, Padang , semakin menurun. Ini  juga dibenarkan oleh penduduk setempat, tidak Nampak lagi ikan gariang yang biasanya berseliweran di sekitar lubuk. Dulu bahkan di sekitar pinggiran sungai saja banyak terlihat ikan gariang. Besar dugaan, dulu ikan gariang itu banyak bermain di bawah dan sekitar batu-batu besar, namun sejak tahun 1974, sedikit demi sedikit batu-batu di ambil terus menerus untuk keperluan pemecah gelombang di pantai Padang. Nah, jika demikian penyebabnya adalah perubahan dan pengikisan eko system air di sekitar Lubuk Paraku itu. Menurut Depci Ardadi, aktifis penggiat Perhimpunan Alam Terbuka Bivac Jungle yang dibenarkan Kelompok Pecinta Alam Dan Lingkungan Hidup Raflesia  FMIPA Universitas Andalas, ikan gariang merupakan spesies arus deras yang cenderung berenang melawan arus deras untuk proses reproduksi. Itulah sebabnya ikan gariang banyak berdiam di hulu-hulu sungai. Komentator piker ini cocok betul dengan kondisi Batang Katialo yang terletak di salah satu hulu batang Indragiri-Kuantan-Ombilin, banyak dan besar-besar batunya, serta airnya mengalir sangat deras. Itulah sebabnya salah satu alat penangkap ikan yang sangat efektif di Batang Katialo dulu adalah lukah, yang dipasang di empengan-empengan air deras, hingga ikan barau, silimang, mansai dan gariang, suka berenang memasuki air deras itu dan terjebak di dalam lukah. Maka dapatlah dimaklumi, bila kini habibat ikan gariang, begitu juga barau, silimang dan mansai sudah langka di batang katialo, maka tentulah penyebabnya, selain sering diburu dengan cara-cara zalim dan membunuh sampai ke bibit-bibitnya dengan racun, uci, bahkan bom, juga karena kali kebanggaan warga Sulit Air itu tidak lagi dalam dan deras airnya, banyak berbatu-batu seperti masa dahulu kala.

Komentator menginsyafi, peranan sungai yang semakin menyusut peranannya dalam kehidupan manusia terutama karena kemajuan tekhnologi yang disalahgunakan dan ulah tingkah manusia yang tidak menghargai dan tidak merawat lingkungan hidup (eko syste) tidak hanya terjadi di Sulit Air, tapi juga di seluruh persada nusantara, bahkan di sebagian besar dunia. Hanya secercah harapan dan do’a semoga ada juga diantara putera-puteri Sulit Air, kalau tidak kini nanti, yang cinta kepada Batang Katialo sebagai warisan lelhuhurnya yang dititipkan Allah, yang punya kemampuan merevitalisasi Batang Katialo hingga kembali Berjaya sesuai dengan zamannya nanti. Aamiin. Hamdullah Salim.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s