“Bukittinggiku…Seribu Pesona dengan Berjuta Tanda Tanya…?”

Oleh: Erison J Kambari

26 Desember 2008 pukul 15:24

berjalan menelusuri jantung kota…
sepatah kata yg sering mengguman di ujung bibirku,adalah….”KENAPA..?”

KENAPA disebut Jenjang Empat Puluh..? padahal jumlah sesungguhnya Seratus..
KENAPA dinamai Jenjang Minang…? padahal letaknya persis di Kampung Cina…
KENAPA dibilang Kacang Goreng…? padahal kacang itu tidak diproses goreng pakai minyak,tapi disangrai/ direndang dengan pasir…
KENAPA disebut Lapek Bugih…? padahal asli buah karya amai-amai kita sendiri…

Lalu….

KENAPA di Simpang Kangkung harus tegak mengangkang pertokoan megah..? padahal dulu mata bisa lepas memandang ke puncak Jam Gadang dari arah jalan Sudirman…

KENAPA plaza megah berdiri gagah di sisi Jam gadang….? padahal tak sedikit pedagang Pasar Atas yg terpekik dan menjerit….

KENAPA ruko tegak dan berserak di penjuru kota seperti tanpa kajian…..?
di atas parit Pasar Bawah ada ruko bersusun…di sejengkal tanah belakang Bioskop Eri juga berbaris ruko-ruko…..di badan jalan Surau Gonjong juga ruko terhampar….di gerbang masuk terminal Aur Kuning juga disempitkan oleh ruko2 tambahan nan basalingkik…

KENAPA orang2 penting YTh di kotaku seperti histeris dan menggelinjang-gelinjang dalam euforia pembangunan kota….ruko..ruko..dan ruko…
PADAHAL…Pasar Wisata/Pasar Putih yg dulu dikoar2kan kini tinggal bau pesing,dan menjadi pusat jejalan pedagang pakaian,tas dan sepatu bekas….padahal juga,Pasar Banto yg tlah disulap menjadi BTC (Banto Trade Center) yg super megah,tetap saja sunyi sepi dan tak luput menjadi tempat melepas hajat sesaat….Pasar Bawah tetap saja dengan kekhasannya, basalemak dan basalengkang pengkang…Los lambuang yg kita harap bisa menjadi Icon Kuliner Kota Wisata, ternyata tak mengandung daya tarik yg memukau…..

Derap langkah kotaku yg semula serempak dentang talempong dan ratok bansi…agaknya kini tlah berkisar jauh……Aku tak tahu, irama apa yg tlah mengiringi tarian kotaku ini, sementara yg kulihat bukittinggi-ku trus menari dan menari….Dalam detak Jam gadang yg tak kenal kata surut, kotaku trus menggeliat dalam irama tanpa notasi dan birama yg semakin tak beraturan….
Atau…benarkah Bukitinggi-ku tengah berada di bibir jurang,dan dinamai Kota Yang Tengah Menggeliat Dalam Tarian SAL-PIT-MAS…? (Asal Pitih Masuak)….Entahlah..

Sampai kapan aku harus mengguman kata KENAPA?

Menjelang sore,masih melangkah di jantung kota, tangan2 pengemis kembali menggapai gapai,berjejal di sela langkahku diringi jeritan ayat2 suci sekenanya….pepohonan yg rimbunnya luar biasa dan kurang ditata membuat kotaku serasa di tengah rimba…..

Menjelang maghrib..senandung Adzan dari Mesjid Agung Tengah Sawah membuat aku kembali berangan…angan akan seonggok rumah suci yg tegak megah dan mewah di tengah kota…Sampai saat ini tak satupun mesjid kota yg bisa kubanggakan pada saudara2ku di kota lain….

Satu-satunya bangunan megah di kotaku yg berani kubanggakan pada banyak orang,adalah seonggok bangunan bergonjong yang tegak gagah di atas Bukit Gulai Bancah….Kantor Balai Kota namanya….
itupun yg kubanggakan cuma gedungnya..dan bukan orang2 di dalamnya….
maaf saja…!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s