(Di salin ulang dari kolom kementar pada suara sas maret 2013 s/d juli 2013 hal 45-46)

KOPI LUWAK

Dalam masyarakat kita, musang termasuk binatang yang dibenci. Diburu dan dibunuh kalau ketemu. Konotasi nama ini kian jelek. Coba perhatikan beberapa pepatah yang menyebut nama musang. Musang berbulu ayam, artinya orang jahat berbuat selaku orang baik. Musang terjun, lantai terjungkat, artinya terdapat tanda-tanda kejahatan yang telah diperbuat. Hidup seperti musang, artinya seorang pencuri atau orang yang jahat budi pekertinya, siang hari dia tidur entah dimana, malam hari merayap atau menyusup mencari mangsanya. Musang kapalo itam, orang yang kerjaannya mencuri ayam atau perbuatan-perbuatan yang hanya pantas dilakukan binatang jahat. Disebut kepala hitam karena yang berkepala hitam itu hanya manusia, bukan musang!

Komentator pikir, duh hinanya musang dalam pandangan manusia. Padahal kalau kita mau beRpikir lurus, musang itu memakan ayam memang sudah karakternya, yang diberikan Tuhan kepadanya dan memang itu salah satu makanannya, maka tugas kita menjaga agar ayam kita jangan sampai diterkam musang. Dan itu hanya terjadi di desa-desa yang rebannya kurang kuat atau lupa menutupnya di malam hari. Musang tidak memakan apa-apa yang dimakan ayam, dia tidak doyan padi, cacing, dsb. Berbeda dengan sebagian manusia yang menyikat apapun yang dapat dimakan atau menghasilkan uang, tak peduli halal atau haram. Kita memakan daging ayam dan memakan pula apa yang dimakan ayam, yakni nasi. Dan tidak pernah musang itu memakai bulu ayam, tidak pernah pula musang menyaru menutup kepalanya hingga tidak pernah musang itu hidup seperti sebagian manusia, yang berbuat kejahatan siang dan malam, tidak kenal waktu. Tapi pepatah-pepatah itu memang perlu juga, untuk memudahkan kita dalam memahami cara-cara berlangsungnya perbuatan jahat dengan mengkiaskan musang dalam memburu mangsanya ayam.

Dengan semakin majunya ilmu pengetahun, pandangan manusia terhadap musang kini sudah mulai berubah, dari diburu menjadi dipelihara, dari hina menjadi mulia, dari tidak berharga menjadi demikian berharga. Komentator baru saja menonton sebuah tayangan di sebuah stasiun televise, yang meliput kegiatan seorang pengusaha kopi, dengan memelihara demikian banyak musang dalam kandang-kandang yang demikian bagus di Medan. Musang-musang itu selain dijaga dan dirawat betul kesehatannya juga diberi makan yang demikian banyak setiap hari. Apa makannya? Makannya adalah biji-biji kopi, yang seekor musang mampu memakannya 3 s/d 5 kg per hari. Kemudian ditunggu musang itu mengeluarkan kotorannya (berak), yang berupa biji-biji kopi yang sudah “dimasak” di dalam perutnya tsb. Biji-biji kopi tsb kemudian di jemur dan direndang menjadi bubuk-bubuk kopi pilihan dan dinyatakan sebagai bubuk-bubuk kopi nomor satu di seluruh dunia karena demikian sedapnya. Saat ini tidak ada kopi yang dapat mengalahkan keenakan kopi musang atau lebih populer dengan sebutan kopi luwak. Boleh anda lihat di toko-toko, harga satu kilogram kopi luwak mencapai Rp 1,4 juta per kg.

Dari segi yang lain, komentator terkenang akan kejadian masa kecil di Sulit Air. Kalau petani lewat melintasi orang yang sedang manonggok di tonde atau di bawah pokok-pokok kayu rimba, maka petani itu cepat-cepat berjalan sambil mamokok lubang hidungnya, takut tercium bau yang tidak dikehendaki. Tapi kalau petani itu lewat melintasi kerbau atau sapi yang tengah hajat di mana saja, maka petani itu tersenyum dan berhenti, ditunggunya sampai hewan itu selesai buang hajat, kemudian dimasukkannya kotoran hewan tsb ke dalam kombuiknya untuk dijadikannya pupuk. Nah, kalau sudah sampai di sini rundingan, coba anda jawab, mana yang lebih hina manusia atau hewan? Sekarang bukan hanya kotoran kerbau atau sapi yang dihargai orang, tapi juga kotoran musang yang memakan biji-biji kopi, yang mampu mendatangkan gemerincingan dolar dan membuat pemiliknya jadi kaya.

Garuda Indonesia

Dua perusahaan penerbangan Indonesia yang besar dan sukses sekarang ini adalah “Garuda Indonesia” dan “Lion Airlines”. Garuda bangkit dan menangguk sukses setelah dipimpin oleh Emirsyah Satar sebagai direktur utama (Dirut)nya. Lembaga Riset Internasional yang dipimpin oleh Roy Morgan dan telah beroperasi selama 20 tahun, menetapkan maskapai penerbangan nasional “Garuda Indonesia” sebagai maskapai penerbangan Internasional  atau The Best International Airline. Penghargaan itu diberikan, setelah lembaga itu mengadakan riset dari bulan Februari 2011 s/d Januari 2012 terhadap 3.943 responden, yang diminta menilai produk dan layanan dari sejumlah maskapai penerbangan dunia. 91% dari seluruh responden itu menyatakan sangat puas atas terhadap layanan Garuda Indonesia. Tahun 2011, Garuda Indonesia meraih pendapatan Rp 27,1 triliun, 39% lebih besar dari tahun sebelumnya. Jumlah penumpangnya 12,93 juta orang, naik 36.8% dari tahun sebelumnya, frekuensi penerbangan naik 27% menjadi 130.043 penerbangan. Ditargetkan pada tahun 2015, Garuda Indonesia akan menerbangkan 196 pesawat (Kompas, 8/3/12). Pada hal pada masa-masa sebelumnya, kita kerap mendengar atau membaca bahwa Garuda Indonesia adalah salah satu BUMN merugi, seperti adiknya MeRpati yang kini sudah bangkrut. Pameran Dirgantara International Paris Show tgl 18/6/2013 yl di Paris menganugerahkan 2 penghargaan kepada Garuda Indonesia yakni “the world’s best economy class”. Penghargaan itu diberikan atas survey terhadapa 18 juta penumpang, yang terdiri dari 100 kewarganegaraan.

Tahukan anda, siapakah Emirsyah Satar? Beliau adalah putera Samal Jamal dan cucu kandung wali nagari Sulit Air yang pertama (1911-1912) Jamal Dt. Malin Marajo. Putera-puteri keturunan Jamal Dt. Marajo ini banyak yang menjadi tokoh-tokoh besar dan mengharumkan nama Sulit Air di kelak kemudian hari. Putera puteri beliau tsb adalah Alidar Jamal (Istri Adinegoro, Bapak Pers Nasional), Safar Jamal (Ayahanda Emirsyah Satar), Rabbani Jamal ( Istri Tengku Syahril, Mantan Ketua Ikatan Penerbit Pers Indonesia), Muchtar Jamal (Ibunda Zuraidah Muchtar, Mertua Prof. Dr. Jurnalis Uddin), Zuwir Jamal (Mantan Dubes Di Brunei Darussalam) Dan Yang Terkecil Asnawi Jamal. Karena keberhasilan Emirsyah Satar memimpin Garuda Indonesia, dia disebut-sebut (Juni 2013) sebagai ketua BKPM, menggantikan M. Chatib Basri yang diangkat menjadi menteri keuangan. Kita ucapkan selamat buat Pak Emirsyah, semoga pada saatnya nanti juga berhasil menjadi menteri, menteri pertama orang yang berasal dari Sulit Air. Jangan lupa Sulit Air, Pak, nagari pusaka kita!

Desa Sulit Air di Bali Utara

Komentator sempat terhentak sebentar ketika sebuah running text di stasiun “Metro TV” pada hari Jum’at siang pukul 13.30 berbunyi: MENTERI ESDM OPERASIKAN JARINGAN LISTRIK DAN SUMUR BOR DESA DI DESA SULIT AIR DI BALI UTARA. Semula komentator beRpikir dan bertanya-tanya, apakah memang ada desa bernama Sulit Air di Bali Utara? Tapi setelah komentator baca dan dalamni kembali running text yang terus beRputar itu, maka komentator menduga bahwa yang dimaksudkan oleh berita itu mungkin adalah menteri esdm jero wacik meresmikan pengoperasian JARINGAN LISTRIK DAN SUMUR BOR DESA untuk desa-DESA yang mengalami keSULITan AIR DI BALI UTARA! Nama Sulit Air merawankan hati, mana negeri lain mau menggunakan nama itu, takut dipersepsi sebagai negeri gersang, padahal Sulit Air bukan negeri gersang. Cukup banyak air di Sulit Air. Mana mungkin negeri terluas dan terbanyak penduduknya di sumatera barat adalah negeri yang gersang!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s