IWAPSA

Atas dasar situasi dan kondisi PSA GANDO pada tahun 1985 seperti disebutkan diatas, yang antara lain mendorong empat orang Ibu bersahabat karib para alumni PSA yakni Ibu Rosma Rozali, Ibu Dahniar Zein, Ibu Aminah Amran dan Ibu Syamsariana Muluk, pada tgl 3 s.d 5 mei 1985 mengadakan reuni alumni pelajar puteri PSA dengan dukungan para Ibu dan remaja IPPSA, bertempat di villa “Rosma” Evergreen Puncak, yang diikuti oleh lebih kurang 200 peserta yang berdatangan dari seluruh perantauan dan Sulit Air. Yang unik dari reuni ini antara lain adalah para Ibu-Ibu tsb diwajibkan berlilit dan berbaju kurung, persis seperti pakaian mereka waktu muda remaja bersekolah di PSA GANDO Sulit Air tempo doeloe.. keputusan-keputusan yang diambil reuni ini antara lain adalah membentuk perkumpulan baru yang diberi nama ikatan wanita alumni PSA (IWAPSA) yang diketuai oleh Ibu Dahniar Zein. Ketua I, II dan III Ibu Rosma Rozali, Ibu Rasyidah Kahar dan Ibu syamsariana mulik. Sekretaris umum I, II dan III adalah Ibu As Nurdin, Ibu Yul Rainal, dan Ibu Redhawaty Nasrul. Bendahara umum I, II dan III adalah Ibu Elly Shambazy, Ibu Jalinah Hasan, Ibu Nurma Syamsul dan Ibu Rina Zamril. Bidang pendidikan: Ibu Wustqamardiah Salim, Ibu Aminah Abbas dan Ibu Arnita Yurnalis. Bidang sosial: Ibu Jalinus Marjohan, Ibu Darwisah Karim, Ibu Upik Elfa, Ibu Halimah Sabaruddin dan Ibu Aida Mustafa. Bidang humas: Ibu Zamzoma Jalin, Ibu Nurhayati, Ibu Yuniar Abu, Ibu Rafida Harlis, Ibu Nurlela Saleh, Ibu Djamimah, Ibu Malijar, Ibu Nurhayati Sy. Bidang kesenian: Ibu Resmiati dan Ibu Nurdiana Zainuddin. Pembantu umum: Ibu Siti Aisyiah Hutan Kayu dan Ibu Nurma Dt. Bijo. Agaknya sebagian besar Ibu-Ibu Sulit Air yang banyak disebut pada masa itu sudah masuk dalam pengurus IWAPSA ini. keputusan teRp.enting yang diambil di dalam reuni tsb adalah kebulatan tekad untuk membangun gedung sekolah PSA GANDO yang baru sebagai pengganti gedung yang dirasakan sudah tidak sesuai dengan kebutuhan masa.

Pembangunan gedung PSA GANDO yang baru

Maka untuk itulah dibentuk IWAPSA yang melibatkan demikian banyak Ibu-Ibu Sulit Air dan dibentuk pula perwakilan IWAPSA di daerah-daerah, kemudian berganti nama menjadi “Gema PSA” (Agustus 1987). Reuni juga memutuskan reuni tsb sebagai reuni alumni wanita PSA I karena direncanakan akan diadakan reuni sekali dalam dua tahun. Untuk menggugah kecintaan alumni PSA terhadap almamaternya PSA GANDO, maka diterbitkan media organiSASi “Suara PSA” (Februari 1987). Karena nama tsb ada kemiripan dengan nama media resmi “Suara SAS” yang diterbitkan oleh DPP SAS, maka pada penerbitan kedua diganti namanya menjadi “Gema PSA” pada bulan Agustus 1987. Penulis waktu itu bekerja di Kanwil I DeppaRp.ostel Sumut-Aceh di Medan, bulan Juli minta cuti berlIbur di Jakarta karena ada pertemuan keluarga besar AKSA. Waktu mampir menemui uni Rosma di jalan Ampera no. 107 Kemang, beliau minta penulis belum boleh kembali ke Medan sebelum menyelesaikan naskah-naskah bagi “Gema SAS”, menyempurnakan naskah-naskah yang sudah masuk (Ny. Dahniar Zein, Eka Aurihan Dt. Ending Pahlawan, Ny. As Nurdin Zainal, Rosmiati, dll). Karena buru-buru disiapkan dan tidak sempat lagi dikoreksi serta dibicarakan dengan IWAPSA, pada halaman pertama, diterbitkan saja penrbitnya IWAPSA, redaksinya penulis dan pimpinan umum/penanggung jawabnya Ny. H. Rosma R. yang mengharukan penulis, sewaktu beliau menandatangani naskah sambutan beliau untuk dimasukkan ke dalam naskah tsb tangan beliau gemetar sekali hingga tanda tanganya walau jelas tapi berserabutan karena beliau sedang sakit, pembicaraan banyak menyinggung PSA. Dan itulah pertemuan penulis dengan beliau yang terakhir. Dan “Gema PSA” itu yang terakhir pula terbitnya.

IWAPSA melaksanakan kebulatan tekadnya, membangun gedung PSA yang baru. Gedung yang lama dibongkar, dibangun gedung baru dengan bangunan beton bertulang 12 (dua belas) local berlantai dua. Pembangunan gedung PSA GANDO yang baru ditandatangani oleh sebuah panitia pembangunan yang diketuai oleh Ibu Dahniar Zein bersama Ibu Rosma Rozali. Ketua pelaksananya Bapak Zainal Abidin Kamil (satu-satunya yang lelaki dalam kepengurusan), sekretarisnya Ibu As Nurdin dan bendaharanya Ibu Elly Shambazy. Dibantu oleh Ibu-Ibu yang lain, yakni Ibu Rasyidah Kahar, Ibu Rohani Taher, Ibu Syamsariana Muluk, Ibu Nurma Syamsul, Ibu Djalinah-Hasan, Ibu Nurlela Saleh, Ibu Aminah Amran, Ibu Jalinus Marjohan, Ibu Aminah Abbas, Ibu Halimah Ahmad Dan Ibu Rasyidah Yunus. Semuanya Ibu-Ibu yang berdiam di Jakarta, kecuali seorang yang berdiam di Sulit Air yakni Ibu Rasyidah Yunus (Ibunda Erni Nurdin, Mertua Ketum DPP SAS yang sekarang) yang sejak dulu memang terkenal sebagai pengurus dan aktivis PSA GANDO di Sulit Air bersama a.l Muhammadiyah Taher. Inilah masa berjayanya Ibu-Ibu Sulit Air, namun sebagin besar mereka sudah wafat (semoga Allah memuliakan maqam di alam barzakh). IWAPSA mendatangkan tukang-tukang dari Jakarta di bawah pimpinan Zainal Abiding Kamil, yang di tahun 1974 juga mengepalai pembangunan Masjid Raya yang baru dengan sponsor RORA. Pembongkaran dan pembangunan PSA GANDO yang baru dan bertingkat di mulai tgl 17 Maret 1986 dan selesai pada pertengahan februari 1987. Inilah hasil karya IWAPSA yang gemilang, yang patut dikenang dan dibanggakan. Peresmiannya dilakukan oleh Ny. Nelly Adam Malik (Isteri Mantan Wakil Presiden RI) pada tgl 21 Februari 1987 dalam suatu upacara yang meriah di Sulit Air. Hadir dalam upacara tsb antara lain Wakil Gubernur Sumbar Drs. Sjurkani, Bupati Solok Drs. Arman Danau. Juga tampak Ibu Yusuf Singadikane (Mantan Isteri Gubernur Jambi) yang adalah juga mertua tokoh Sulit Air Irsal Yunus SE. pada momentum peresmian ini diadakan beberapa perlombaan yang cukup unik, seperti perlombaan membuat samba itam, perlombaan balilik dan para alumni dari perwakilan-perwakilan IWAPSA beRp.akaian seragam baju kurung dan balilik dengan warna putih (juara I dari Sulit Air yang tak tercatat namanya, juara II Ibu Rasyidah Kahar dan juara III Ibu Elly Shambazy).

Menurut media “Gema PSA” No.2/1987, anggota dan simpatisan IWAPSA yang pulang ke Sulit Air dalam rombongan-rombongan berjumlah 151 orang, yakni utusan dari 13 perwakilan/cabang IWAPSA: Solok 15 orang, Padang 20 orang, Bukit Tinggi 10 orang, Pekan Baru 40 orang, Teluk Kuantan 2 orang, Palembang 1 orang, Baturaja 3 orang, Teluk Betung 3 orang, Tanjung Karang 2 orang, Pendopo 1 orang, Jakarta 50 orang, Bandung 1 orang, dan Yogya 1 orang. Pembangunan gedung PSA yang baru itu menelan dana sebesar Rp. 119.176.276,- terdiri dari bahan baku bangunan Rp. 71.912.970, gaji/upah tukang Rp. 28.170.950, listrik Rp. 1.023.875, perawatan peralatan Rp. 847.550, dan biaya umum yakni perjalan pulang pergi tukang dari dan ke Jawa Rp. 5.954.550, solar/perawatan kendaraan/truk Rp. 3.156.800, biaya lainnya termasuk makan-minum tukang selama di Sulit Air Rp. 1.100.000 dan biaya peresmian gedung baru PSA Rp. 4.000.000. menurut Ibu Elly Shambazy (dalam rapat YPPSA tgl 18 Mei 2013 di rumah Ibu Yeti Taher, Jakarta), uang pembangunan gedung PSA yang baru itu berasal dari sumbangan ke-13 perwakilan IWAPSA, kekurangaannya ditutupi oleh Ibu Rosma R. benar juga kalau dikatkanan momentum upacara peresmian gedung PSA yang baru ini (21 Februari 1987) sudah dianggap sebagai reuni IWAPSA II karena dihadiri oleh demikian banyak alumni PSA, yang kemudian disusul pula dengan peresmian berdirinya Aliyah PSA tgl 22 Juli 1987, yang mengerahkan demikian banyak, orang, dana dan waktu yang cukup besar. Bila demikian halnya maka seharusnya reuni IWAPSA III diselenggarakan pada tahun 1989.

MADRASAH ALIYAH PSA

Dengan telah dibangunnya gedung PSA Gando yang baru tsb, maka BPP-PSA bersama IWAPSA melangkah lagi ke muka yakni memanfaatkan sebagian gedung itu untuk madrasah aliyah PSA yang diresmikan oleh kakanwil departemen agama sumatera barat pada tanggal 22 Juli 1987. Kakanwil depag sumbar membantu PSA dengan menempatkan seorang pegawai ngeri sipil (pns) yakni Drs. Yuliasman Khas sebagai kepala sekolah madrasah aliyah PSA yang pertama, berarti gajinya sepenuhnya dibayar oleh Negara. Kurikulum madrasah aliyah PSA sepenuhnya mengikuti kurikulum  adrasah aliyah negeri (man). Selain Drs. Yuliasman Khas, ada 5 sarjana lainnya yang direkrut untuk memperkuat sekolah yang baru tsb, yakni Drs. Anwar Sadat, Drs. Hamdi, Drs. Khaidir, Drs. Zainal Ma’rif dan Thamrin BA. Guru-guru aliyah lainnya: Drs. Miswardi,  Irdizon BA, Wildenis, Drs. Basril, Yahuda, Bismi Aziz, Herman Effendi, Syafri Dahlan BA, Ade Karnelis, Nurman Is BA, Nurkayanti dan HM Salim AmaNy.

Dengan menempuh langkah-langkah tsb, sebenarnya ada satu keinginan besar yang tengah dipersiapkan dengan rapih oleh BPP-PSA dan IWAPSA yakni hendak menjadikan madrasah tsanawiyah dan aliyah PSA menjadi madrasah tsanawiyah dan aliyah negeri. Gagasan untuk menegerikan PSA Gando itu sebenarnya sudah muncul sejak tahun 1960-an, ketika nurdin amir Dt. Rajo diateh masih menjadi kepala insspeksi pendidikan agama kab. Solok. Sebab dengan penegrian tsb, biaya penyelenggaraan  pendidikan PSA Gando yang demikian besar, terutama gaji guru-gurunya, dapat ditanggung sepenuhnya oleh Negara (APBN). Namun, cita-cita tsb kandas di tengah jalan, tidak terwujud, apa sebab? Selain masih menimbulkan kontroversi, sebagian tokoh Sulit Air merasa tidak tega menyerahkan sekolah kebanggaan mereka kepada Negara. Dalam perkembangan lebih lanjut, perjuangan BPP-PSA yang kemudian diperkuat dengan lahirnya IWAPSA bagai hendak mengulangi sejarah lama roda pedati, yakni PSA kembali menghadapi pasang surut. Tokoh-tokoh PSA baik dari BPP-PSA maupun IWAPSA yang menggerakkan semua pembangunan dan perubahan tsb adalah alumni PSA yang sudah tua, mulai uzur, seorang demi seorang pergi meninggalkan dunia yang fana ini, memenuhi panggilan Al Khaliq! Sebelum mereka pergi, seharusnya sudah mulai alih generasi, setidaknya menyisipkan alumni dan pecinta PSA yang lebih muda, potensial dan kreatif di kepengurusan hingga terjadi transformasi pengalaman dan pengkaderan. Namun ini rupanya kurang disadari dan tidak terjadi. Perlu diinsyafi, generasi penerus yang seharusya menggantikan mereka, termasuk anak-anak mereka sendiri, kebanyakan bukan alumni (pernah menjadi murid) PSA seperti mereka, hingga kecintaan, kebanggan dan kerinduan mereka kepada PSA, tidaklah emosional dan sehebat mereka.

Beberapa bulan sesudah peresmian aliyah PSA tsb, tepatnya pada tagl 26 Januari 1988, tokoh penggerak IWAPSA Ibu Hj. Rosma wafat. Kepergian beliau benar-benar merupakan duka yang dalam bagi PSA karena beliaulah yang paling perhatian dan bantuannya kepada PSA Gando, nagari dan masyarakat Sulit Air pada umumnya. Pada rapat istimewa kerapatan adat nagari (kan) bersama kepala desa (kades) se Sulit Air di balairungsari koto gadang Sulit Air tgl 11 oktober 1987 yang juga dihadiri pengurus DPP SAS dan pengurus IWAPSA, kan bersama para kades (kepala desa) se Sulit Air, menganugerahkan gelar Ibu pembangunan Sulit Air kepada Hj. Rosma dan Ibu pendidikan Sulit Air kepada Ibu Hj. Dahniar Zein. Pemberian gelar tsb disampaikan oleh AB Dt. Bagindo Rajo selaku ketua kan Sulit Air, sebagai kepala kenagarian Sulit Air, sesuai dengan system pemerintahan desa pada waktu itu. Kepergian Ibu Hj. Rosma disusul pula oleh tokoh-tokoh IWAPSA maupun BPP-PSA lainnya yang satu persatu meninggalkan dunia yang fana ini. salah seorang yang masih diberi karunia umur yang panjang oleh Allah adalah Ibu Elly Shambazy yang masih tetap setia setiap bulan, baik secara pribadi maupun melalui arisan balai lamo-nya terus memberikan bantuan keuangan kepada PSA Gando, justru pada saat-saat PSA tengah menghadapi masalah keuangan yang sangat serius, terutama dalam pembayaran gaji guru-gurunya. Beliau pulalah yang baru-baru ini memberikan bantuan laptop senilai rp 150,- juta untuk PSA Gando. Ada lagi yang aktif membantu yakni Ibu as nurdin ditambah Ny. Arnita rasyid.

YPPSA  bangkit kembali

Tidak lama setelah Ibu Hj. Rosma meninggal dunia, ketua umum Hj. Dahniar Zein segera menyadari bahwa beliau juga sudah semakin tua dan semakin uzur untuk menggerakkan roda organiSASi. Maka beliau bicarakan tentang masa depan PSA Gando dengan ketua umum DPP SAS Drs. Rainal Rais (yang kebetulan juga adalah putera  sulung keluarga Rais-Rosma) dan beberapa teman lain yakni Ny. Syamsariana Bahar, Syamsuddin Yusuf, dan Ny. Rina Zamril. Maka kelimanya bersepakat untuk mendirikan sebuah yayasan yang diberi nama “Yayasan Pembina Pendidikan Sekolah Agama” (YPPSA) Sulit Air. Terang nama inil adalah nama yayasan lama yang didirikan oleh H. Rais Tamim di tahun 1964, yang kemudian berhasil merenovasi gedung PSA Gando. Wajar pula bila Ibu Dahniar Zein memilih nama itu karena beliaulah yang jadi wakil ketua YPPSA di tahun 1964, Syamsuddin Yusuf penulis I dan Syamsariana Muluk sebagi salah seorang anggotanya. Dapat pula kita simpulkan, Dahniar Zein aktif pada semua perkumpulan yang berbau PSA, mulai dari YPPSA, kemudian BPP-PSA, IWAPSA dan terkahir membangkitkan kembali YPPSA.

Kelimanya kemudian membenruk kepengurusan YPPSA yang baru tsb dengan Drs. Rainal Rais sebagai ketua umum, Dahniar Zein sebagai wakil ketua umum, Syamsulbahri Nur sebagai ketua bidang organiSASi, Nasrullah Salim Dt. Polong Kayo SH sebagai ketua bidang pendidikan dan pengembangan, dan Drs. Yunirman Bahar sebagai ketua bidang usaha. Drs. Hamdullah Salim sebagai sekretaris I, Drs. Zainal Ilyas sebagai sekretaris II, Ny. As Nurdin sebagai sekretaris III. Syamsariana Bahar sebagai Bendahara I, Bendahara II Nurlela Saleh. Anggota: Syamsuddin Yusuf, M. Taher Taim, Ir. Adiwartsita Dt. Rajo Masyur, Muslim Mar Ash, Ir. Aditiawarman Zein, Sabaruddin Rasyad Dt. Samarajo, Muchlis Listo, Nazlir Ahmad dan Jalinus Marjohan. Kemudian keberadaan YPPSA ini dan kepengurusannya mereka aktekan pada notaries Ny. Yeti Taher pad tgl 1 Juli 1988, Jl. Panglima Polim Raya No. 100, Jakarta Selatan, dengan nomor 6/1988.

Tidak disinggung dalam akte pendirian tahun 1988 tsb hubungannya dengan YPPSA tahun 1964, BPP-PSA 1977 maupun IWAPSA 1985. Juga tidak disebutkan tentang hubungan antara YPPSA dengan SAS, Mubes SAS atau DPP SAS sekalipun, walaupun ketua umum Drs. Rainal Rais pada waktu itu juga ketua umum DPP SAS. Tujuan YPPSA didirikan adalah untuk membina sekolah-sekolah agama di Sulit Air dst, tidak disebutkan secara spesifik Gando, walau yang dimaksud dengan PSA tsb tentu saja PSA Gando. Jadi jelas YPPSA tidak menyebut bahwa PSA Gando adalah miliknya atau berada di bawah pengelolaannya. Jadi yayasan ini sebenarnya adalah yayasan terbuka dan sukarela, yang berusaha mencarikan dan mengumpulkan dana untuk PSA Gando. Jadi statusnya sebenarnya juga sama dengan IWAPSA, malah IWAPSA sebenarnya lebih kuat kedudukannya karena yang membangun gedung PSA Gando tsb adalah IWAPSA, namun tetap saja dikatakan IWAPSA Gando itu adalah milik masyarakat Sulit Air. Disinilah peliknya, sekaligus sebagai pencerminan semangat keikhlasan maysarakat kita dalam membangun, memang mereka membantu, namun atas dasar lillahi ta’ala semata, tapi bukan untuk menjadi pemiliknya. Bila yang memiliki PSA Gando adalah masyarakat Sulit Air, maka secara hukum pemiliknya tsb adalah penduduk Sulit Air yang diwakili oleh Wali Nagari, BMN dan KAN Sulit Air di tambah warga Sulit Air di perantauan yang diwakili oleh SAS (DPP SAS).

Namun kalau kita lihat orang-orang yang didudukkan di dalam kepengurusan YPPSA tsb jelas merupakan gabungan orang-orang BPP-PSA (Syamsulbahri Nur, Nasrullah Salim Dt. Polong Kayo, Syamsuddin Yusuf, Sabaruddin Rasyad) dan IWAPSA Ibu Dahniar Zein, Syamsariana Muluk, Ibu Elly Shambazy, Ibu Rina Zamril, Ibu As Nurdin Ibu Jalinus Marjohan) di tambah aktivis-aktivis SAS di bawah ketum DPP SAS Drs. Rainal Rais. Penulis sendiri waktu itu masih ada di Medan dan Yunirman Bahar di Bandung, baru beberapa waktu kemudian diberitahu kami masuk dalam kepengurusan yapPSA. Walau tidak disebut dalam akte, penulis dapat menyimpulkan bahwa YAPPSA memang dirancang untuk melanjutkan sekaligus mengintegrasikan cita-cita BPP-PSA dan IWAPSA yang terasa mulai menyurut peranannya. Namun BPP-PSA sebagaimana juga kebanyakan organiSASi atau perkumpulan Sulit Air lainnya yang pernah lahir dalam masyarakat Sulit Air dibiarkan begitu saja tanpa ada pemberitahuan pembubaran. Bukti pengintegrasian tsb, setidaknya terlihat pada surat NO.30/YP.PSA/KP/1997 tanggal 1 Juni 1997 (ada pada dokumentasi penulis) yang dIbuat oleh Nasrullah Salim Dt. Polong Kayo kepada YPPSA maupun IWAPSA pusat. Beliau tulis bukan atas nama BPP-PSA (sebagai Sekretaris I) tapi sebagai ketua YPPSA bidang pendidikan yang menyampaikan laporan perkembangan PSA dan beberapa saran penting kepada pengurus YPPSA.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s