Jadi…

Gambar

Seiring berkembangnya zaman, tingginya mobilitas yang tinggi juga ikut serta menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup kita. Ada banyak hal yang menuntut kita untuk berpindah dari satu daerah ke daerah lainnya. Apakah dengan alasan tugas bagi para pegawai yang memiliki berbagai istilah, seperti mutasi, rotasi, perjalanan dinas, kunjungan kerja, survey, pemeriksaan, atau pun istilah lainnya yang mengharuskannya berpindah nomaden atau permanen ke daerah lain. Atau alasan menyambung tali silaturrahin suatu keluarga yang cenderung berbeda daerah domisilinya, yang dengan berbagai sebab mengharuskannya “migrasi” sesaat untuk mengunjunginya, atau bagi para pelaku usaha yang juga sangat bergantung akan pentingnya kelancaran jalan raya demi lancarnya ketersediaan pasokan barang-barang yang dibutuhkannya, para pelajar yang juga tak sedikit untuk memilih berkelana ke daerah yang lain dalam melanjutkan pendidikannya, atau ibu rumah tangga yang memilih berbelanja di ibukota demi terpenuhinya semua barang yang dibutuhkannya. Dan salah satu factor penunjang terjadinya mobilitas ini adalah kendaraan. Apakah kendaraan dinas, umum, pribadi, perusahaan, dan lain sebagainya, yang kesemuanya diperlukan demi suksesnya migrasi penduduk ini.

Begitu juga halnya dengan penulis, yang sudah menjadi kegiatan harian harus “migrasi” sesaat ke kota Palembang demi melanjutkan usaha yang  digeluti. Tentunya kendaraan umum masih menjadi alternative yang penulis pilih untuk berpergian (Angkutan Mahasiswa atau Travel gelap). Meskipun berbagai alasan bisa muncul kenapa masih banyak juga masayarakat memilih kendaraan umum, namun menurut penulis memang sepatutnya masyarakat lebih gemar menaiki kendaraan umum. Di antara alasannya, pertama, membantu memperpanjang habisnya bahan bakar yang produksinya kian menurun, membantu mengurangi kadar polusi yang sangat tinggi di propinsi ini, membantu pemerataan ekonomi, mengurangi banyaknya jumlah kendaraan yang lalu lalang di jalan raya dan juga membantu mengurangi tingkat kecelakaan yang tingkat kecelakaannya selalu naik setiap tahun.

Nah, sebagai salah satu pengguna setia jalan raya, maka tentunya hal yang lumrah kalo liat-liat juga apa yang sedang terjadi saat itu. Dan yang paling sering ama temui dan menjadi momok para pemilik kendaraan apalagi kalo bukan razia yang diadakan polisi dan berujung dengan acara tilang kendaraan tersebut. Dan ini sangat lumrah ama liat di sepanjang jalan mulai dari pangkalan Ampera hingga jalan Sudirman. Kalo di pangkalan yang paling sering kena tilang itu motor, padahal kalo diliat dari segi kelengkapan kayaknya cukup deh, tapi ga tau juga tuh kenapa kena tilang, seringnya guyonan para sopir itu bilang polisi itu lagi cari makan siang. auh ah, bikin kesal ja kebanyakan ulah polisi zaman sekarang. Gambar

Dikit-dikit main tilang, dikit-dikit ngambil pungli, padahal keamanan kok rasanya semakin sulit ya sekarang. Padahal polisinya  rajin banget keliling nyari mangsa. Huff, kalo lagi naik angkutan khusus mahasiswa lebih sering bikin ama ngomel-ngomel. Hampir setiap mobil yang ngetem itu ntar dimintain dulu jatahnya setiap kali mangkal. Kalo di Sudirman mereka menjemput langsung duit haramnya, nah kalo busnya  lewat Air Mancur maka di maintain lagi duitnya. Dah pernah ama bilangin ke sopirnya ga usah di kasih, kan ga da undang-undangnya, sopirnya ga mau nurut. Ntar ga bisa jalan pula ia berdalih. Saking keselnya pernah tu ama kirim sms ke Tribun Sumsel laporin ulah oknum nakal ne, ya biasa jawaban cantiknya selalu bilang jangan di beri dan kalimat cantik lainnya sih, padahal hampir tiap hari kerjaan polisi sekarang kayak gitu. Belum lagi ngambil pungli di simpang untuk setiap truk batubara yang lewat. Secara sekarang batubara udah mulai berani lagi nongkrong di jalan Negara, polisi n preman pun juga sangat setia buat nagih “jatah haram” mereka. Ga sadar, atau goblok kali ya orang-orang tu. Padahal yang namanya uang haram itu pasti panas ketika di pegang, kok masih mau-maunya memegang uang haram tersebut. Merasa cerdik dalam mendapatkan harta, padahal sebenarnya mereka telah merencanakan sendiri malapetaka buat diri sendiri, keluarga dan orang sekitarnya. Karena Allah itu Maha Adil, setiap yang merasa dirinya berkuasa saat ini terhadap orang lain, sadarlah bahwa sebenarnya hanya Allah Yang Maha Berkuasa. Jadi, jangan memaksa orang untuk memberikan yang bukan hak kita, karena yang namanya bukan hak kita, maka ia tidak akan berkah di tangan kita.   

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s