Alhamdulillah

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang masih memberikan nikmat kepada ama, sehingga berbagai macam nikmat yang lainnya pun bisa ama rasakan seiring dengan pertambahan usia uni. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada nabi Muhammad S.A.W bersera keluarga, sahabat, tabi’in dan tab’i tabi’in. berada di usia yang sudah seperempat abad ini termasuk menjadi suatu kesyukuran bagi ama. Karena tak semua manusia yang dilahirkan diberikan kesempatan yang sama untuk bisa mencapai usia ini. namanya rahasia Allah, tentu kita tak pernah tau kapankah ajal kan menjemput kita. Namun, kematian itu pasti, karena setiap yang bernyawa tentu mengalaminya.

Mengikuti poka kehidupan yang bisa dipelajari, maka setiap yang diberi nikmat umur panjang tentu mengalami yang namanya fase kelahiran, menjadi bayi yang menggemaskan, lalu tumbuh menjadi anak-anak kebanggan orang tua yang sayangnya saat ini seringnya lebih banyak terpengaruh lingkungan sekitar daripada ajaran orang tua dalam tumbuh kembangnya dan beranjak remaja. Lalu mulailah kehidupannya penuh warna oleh berbagai faktor. Mulai mengenal perasaan yang berbeda terhadap lawan jenis, mulai merasa bebas dari aturan orang tua, mulai merasa bisa menentukan kehidupan sendiri, mulai mencari kawan bercerita, dan berbagai hal lainnya ang terkadang ada juga orang yang tak mengalaminya. Dan Lumrahnya setelah remaja memasuki fase menjadi dewasa, dimana satu persatu persoalan yang namanya hidup mulai terasa. Mulai terasa ada beban yang menghampiri, mulai merasa butuh orang lain untuk berbagi, mulai merasa jenuh dengan aktivitas kehidupan, mulai, mulai dan mulai muncullah beraneka problema. Namun tak semua yang usianya dikatakan telah dewasa ini bisa dikatakan orang dewasa, karena fase ini termasuk fase yang hadirnya melalui proses panjang menjalani kehidupan yang tentunya tak semudah yang digambarkan. Akan ada masa tertentu ia akan mengalami suka duka dalam ritme kehidupan. Karena begitulah kodratnya. Dan sejatinya, tak semua orang sanggup ketika masa-masa duka tersebut menghampirinya. Kebanyakan orang lebih siap menyambut masa sukanya saja, dan jarang yang mau bertahan ketika putaran roda itu terjadi. Padahal, ketika kedukaan itu datang, maka akan butuh pribadi yang tak gampang goyah dalam menghadapinya, sehingga akan banyak ditemukan pembelajaran yang ketika kelak menghadapi cobaan lagi, ia sudah pernah punya pengalaman dalam menghadapinya meskipun dengan versi yang berbeda. Karena begitulah putaran kehidupan, suka dan duka itu sulih berganti. Akan ditemui masa-masa membahagiakan dalam kehidupan, namun tak terasa nikmat tanpa adanya kedukaan yang datang. 

Salah satu hal yang identik dengan label dewasa adalah menikah. Jadi akan sering ditemui pertanyaan “kapan menikah” bagi orang-orang yang secara usia di anggap telah mampu membina sebuah keluarga. Bagaimanapun juga, menikah termasuk sunnah agama yang tentunya telah dijelaskan kenapa ia begitu dianjurkan. Namun, ternyata lagi-lagi tak semua orang yang secara umur dikatakan dewasa bisa melalui fase ini. karena perkara jodoh termasuk perkara ghoib. Setiap orang tak pernah tahu dengan siapa ia akan berjodoh dan kapan masanya. Sehingga, banyak juga orang yang tak sabar dengan ketentuan ilahi ini dengan mencoba mencuri start lewat pacaran. Sayangnya seribu sayang cara ini jarang yang efektif menghasilkan keluarga yang didambakan.  Jadi tak heran kalo mendengar kisah ada orang yang pacaran sekian tahun lamanya namun hanya bertahan membina sebuah keluarga dalam hitungan yang tak sampai dengan usia “pengenalan” yang mereka jalani. Atau kalaupun usianya lebih panjang dari saat “pengenalan” tersebut biasanya ada factor tersembunyi yang membuatnya harus bertahan. Apakah karena perasaan yang tak ingin berpisah meskipun hidupnya tak bahagia, atau buah hati yang masih butuh sosok utuh pada orang tuanya, atau bayangan kesulitan ekonomi ketika harus berpisah, atau malu pada saudara or keluarga, atau, atau, dan atau lainnya. Intinya secara umum kebanyakan orang yang menikah saat ini lewat “pengenalan” pun ternyata tak pernah mengenal satu sama lainnya.

Ada juga yang menikah tanpa perasaan apa pun. Lahir alami ketika saatnya datang. Pada perjalanannya ada yang berhasil menerima kondisi orang yang tak dikenalnya tersebut, sehingga baginya bukanlah penghalang ketika perbedaan itu muncul menjadi pemecah keluarga yang telah di bangun. Namun, lahir juga cerita merasa tak cocok dengan kehidupan bersama yang telah di pilih. Sehingga, lagi-lagi perpisahan pun harus terjadi.

Ama tak pernah memiliki pengalaman membina sebuah keluarga. Namun, dari kisah orang lain kita bisa belajar betapa menikah itu bukan perkara “aku suka kamu lalu kamu juga suka aku, ya udah kita nikah aja”. Ada banyak tanggung jawab yang muncul ketika ijab qabul telah dilafazkan. Yang ternyata tanggung jawab ini menjadi beban yang tak semudah pengucapannya. Ada kewajiban dan hak bagi setiap suami or istri yang telah memutuskan untuk menjalin ikatan pernikahan. Menyatukan dua hati bukanlah perkara yang gampang. Kita akan mengenal kembali sosok yang belum kita tahu kepribadiannya. Syukur-syukur kalo sifatnya ga jauh beda, tapi tetap saja akan muncul berbagai perbedaan dalam menyikapi suatu hal. Karena kodratnya cara berfikir wanita dan pria itu tak sama. So, konflik adalah hal yang lumrah muncul. Bagi yang memahami perbedaan ini mungkin ketika pertikaian pun harus terjadi, setidaknya ia telah memiliki ilmu cara menyikapinya, namun terkadang emosi itu membuat orang lupa. Sehingga meskipun tahu penyikapan terbaiknya bagaimana, ia tidak akan ingat karena emosi telah mengalahkannya.

Menikah itu bukan perkara mudah. Meskipun masalah hati sudah teratasi, namun akan banyak konsekuensi yang harus siap dijalani. Akan ada orang yang harus kita patuhi bagi seorang istri dan aka nada orang harus ia bombing bagi suami. Dan resiko dari melalaikannya sungguh berat. Menjadi istri atau suami juga bukan hal yang mudah. Karena itu butuh kesiapan mental, kesiapan ilmu, kesiapan hati, dan kesiapan banyak hal lainnya agar tidak kaget kalo terasa drastic kehidupan yang dilewati dengan kehidupan semula. Ama tidak punya pengalaman tentang menikah. Jadi tak banyak juga yang bisa ama tulis.

Lanjut ke fase selanjutnya, diharapkan dari setelah menikah ini selain menjadi seorang istri atau suami adalah menjadi seorang ayah atau ibu. Lagi-lagi fase ini tidaklah mudah. Ibu itu bukan hanya melahirkan dan membesarkan anak saja, namun juga harus mengajari anaknya tentang pencipta dan tugasnya sebagai hamba. Pun ayah, tugasnya tak hanya memberi nafkah lahir saja, tapi bagaimana nafkah batin anak pun juga terisi. Dan ini sungguh sungguh sungguh tidak mudah. Apalagi di zaman sekarang. Sudah pun berusaha orang tua melindungi anaknya, tetap saja aka nada pengaruh luar yang di luar kuasanya. Karena itu butuh banyak bekal ketika memutuskan menjadi seorang ayah dan seorang ibu. Karena efek didikan itu jangka panjang. Orang tua akan merasakan buah dari kasih sayangnya ketika ia pun ditakdirkan menjadi tua. Maka, anak-anak yang telah di didik menjadi anak yang sholeh, di hari tuanya orang tua anak tersebut tetap bisa menjadi penyejuk matanya. Sama halnya ketika anak tersebut masih dalam asuhannya. Dan inilah salah satu nikmat memiliki anak yang sholeh, di dunia ia menjadi penyejuk mata, di akhirat pun menjadi sumber amal jariyah. Penegasan lagi, menjadi orang tua yang bisa melahirkan anak yang sholeh lagi-lagi bukan perkara mudah.

Karenanya tak jarang ama temui orang tua yang di hari tuanya begitu bersedih. Seolah-olah lebih menginginkan kematian sesegera mungkin menghampiri agar kesedihannya tidak semakin berlarut. Punya anak tapi anak tak merasa punya orang tua, punya cucu tapi tak ada yang mau bermain menghabiskan masa tuanya dengan mereka, punya teman tapi tak ada tempat becerita kisah hidup mereka. Merasa kasihan, kenapa tak ada orang-orang yang ia sayangi disampingnya. Lagi-lagi buah yang manis itu tak hanya dihasilkan dari biji yang bagus, tapi juga harus di tanah yang subur, dengan sinar matahari dan air yang seimbang juga. Ama juga belum memiliki pengalaman di masa tua, jadi tak banyak kisah yang ama bisa ceritakan. Belajar dari sekitar, semoga bisa mengambil ibroh yang tersirat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s