88 TAHUN PASANG NAIK DAN PASANG SURUT PSA GANDO

OLEH : HAMDULLAH SALIM

Untuk menambah wawasan, kecintaan dan kerinduan kita warga  kepada PSA Gando sebagai asset nagari yang harus diestafetkan tanggung jawab pelestarian, pembinaan dan pengabdian keberadaannya dari masa ke masa, penulia ajak anda mengikuti kronologis singkat perkembangan PSA (Pendidikan Sekolah Agama) Gando , Solok, Sumatera Barat, dari masa ke masa sebagai berikut.

Pencetus berdirinya PSA

Yang mencetuskan berdirinya PSA di  adalah Labia Muhammad Yassin, murid sekolah Thawallib Padang Panjang dengan dukungan 2 temannya Jamin Hamzah ( Datuk Syaiful Sirin Dt. Rajo Mangkuto ) dan Jamin Yahya dari sekolah yang sama. Ketiganya ingin mewujudkan sekolah model Thawallib di Sulit Air , jadi semacam mini thawallib. Gagasan ini di dukung oleh H. Zakaria ( imam Surau tobiang/ kakek yarsyid effendi), syamsuddin khatib jumat (imam mesjid raya, ayah amir shambazy), yahya lenggang, HM thaher ( kakek dr. happy bone zulkarnain), dll. Thawallib adalah pembaharuan system pendidikan dari pengajian di Surau ( menggunakan rehal tempat AL QUR’AN) ke klassikal ( ruang sekolah, menggunakan bangku, tempat duduk dan papan tulis), dan materi pelajaran bertujuan memurnikan ajaran islam dan terbukanya pintu ijtihad bagi pembaharuan pemikiran islam berpedoman kepada AL QUR’AN dan sunnah rasul, terutama sebagaimana diajarkan trio reformer islam terkenal masa itu “ jamaluddin afghani Muhammad abduh M. rasyid ridha”.

Vereniging studiefonds  ( VVSA)

Trio “ yassin-hamzah” tersebutlah yang menjadi guru-guru pertama sekolah PSA pada tahun 1925, dimulai di Surau Tobiang, kemudian pindah ke Surau Singgodang, lalu pindah lagi ke Surau. Belajar tidak lagi menghadap rahal tapi duduk di bangku panjang mengahap meja, mendengarkan guru yang mengajarkan dan menulis di papan tulis dengan kapur tulis. Jumlah muris mencapai 80 orang dan terus bertambah-tambah juga. Melihat kemajuan pesat itu, Nurdin Dt. Rajo Mansyur Cs mempelopori berdirinya sebuah organisasi yang diberi nama Vereniging Studiefonds  ( VVSA) yang bertujuan untuk membantu mensukseskan PSA dengan membangun sebuah gedung sekolah yang cukup pantas bagi murid-murid yang semakin bertambah tsb. Agaknya VVSA  meniru Studies Fonds Koto Gadang yang didirikan oleh Tuanku Laras Datuk Kayo di Koto Gadang pada tanggal 1 September 1909, yang ditengarai sebagai penyebab banyaknya orang Koto Gadang yang menjadi orang-orang pintar dan terkenal di kemudian hari. VVSA didukung oleh tokoh-tokoh  masa itu seperti HM Taher, Jamin Endah Kayo (Datuk Zarkasyi Nurdin), M. Jalin Sutan Sati (Ayahanda Jurnalis Jalins), Taher Dt. Lenggang Marajo, Asin Sutan Batuah, Jausa Dt. Majo Bongsu (Ahli Adat), Udin Sutan Maruhum, H. Zakaria dll. Selain dari nama-nama tsb. Atas kerja keras pengurus berdatanganlah sumbangan uang dari para pedagang perantau  yang diangkat menjadi komisaris-komisaris VVSA, seperti M. Zein Dt. Sati Marajo (Pekan Baru), Ismail Dt. Rajo Penghulu (Teluk Kuantan), Kahar Sutan Mudo (Padang), Tunut Sutan Mangkuto (Sawahlunto), M. Lebe (Solok), Udin Sutan Maruhum (Padang Gantiang), dll.

PSA Gando, pengurus dan guru-gurunya

Dengan uang yang berhasil dikumpulkan tsb, maka dibelilah sebidang tanah persawahan di Gando, di lokasi pertanahan PSA Gando sekarang dan pada tgl 27 Maret 1926. Ditegakkanlah tiang pertama pembangunan PSA Gando. Amatlah besar jasa Lebai Muhammad Rusyid (imam Surau Botuang) dalam mengerahkan masyarakat , mengangkut batu dan pasir ke lokasi PSA Gando tsb. Tahun 1927 pindahlah murid-murid PSA belajar dari Surau Muruok ke gedung yang baru, yang kemudian populer dengan sebutan PSA Gando. Pimpinan PSA Gando yang pertama adalah Autad Daud (1927-1930). Kemudian dipimpin oleh “Tokoh-Tokoh Limo Panjang Topi Ayia”, yakni M. Salim Amany (1930-1933), Nurdin Thaher  Dt. Mangkuto Rajo dan Nurut Suin (1933-1938) dan Syamsulbahri Nur (1938-Zaman Jepang-Kemerdekaan RI 1945). Inilah pasang naik kejayaan PSA Gando dengan 12 kelas sampai dengan kelas VII. Karena ruang terbatas, terpaksa dibagi dalam kelas pagi dan kelas sore, muridnya pernah mencapai 500 orang. Puteri-puteri  lulusan PSA Gando, menjadi idola dan incaran untuk dijadikan istri bagi pria-pria  yang pulang dari perantauan masing-masing, terutama pada bulan puasa. Dan banyak pula di antara guru-guru PSA yang kemudian kawin dengan murid puterinya setelah murid tsb. Lulus dari PSA Gando. Dari pasangan-pasangan pernikahan yang berlatar belakang sang ibu berpendidikan PSA Gando inlah kemudian melahirkan putera-puteri  yang memiliki dasar-dasar pendidikan ajaran islam yang kokoh kuat.

Selain nama-nama itu, guru-gurunya yang terkenal a.l. Nurdin Amir (Dt. Rajo Diateh), Agus Hamid, Ramli Yunus, Syamsuddin Zakaria (Dt. Tanaro), M. Tamim, Zainuddin Rasyad, Rohana Mandah. Pengurus PSA yang aktif antara lain, M. Thaher Sutan Sati, Jalin Sutan Sati, Lenggang Marajo, Saleh Rajo Mantari, dll. Tamatan PSA Gando yang meneruskan sekolahnya dari kelas VI dan lulus tes masuk ke Normal Islam di Padang a.l. Nurjanah Tiding, Yuliana Jamin (Mertua Drs. Fathullah Salim, baru saja meninggal di Palembang tgl 6 Juni 2013), Ratna Amir (dari kelas VI b), disusuil dari kelas VII yakni Rohana Thaher, Syamsulbahri Nur, Aminuddin Shambazy, Syamsariana Mulik (Ibunda Yunirman Bahar). Semuanya sudah berpulang ke rahmaatullah.

 continued…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s