“Menjadi Pendengar Yang Baik”

Oleh : Gusrizal Gazahar

Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah meminta Ibnu Mas’ud ra untuk membacakan ayat Al-Qur’an dengan berkata:
اقرأ علي (bacakanlah kepadaku(Al-Qur’an)).

Ibnu Mas’ud ra menjawab:
أقرأ عليك وعليك أنزل (sayakah yang akan membacakannya kepadamu ? sedangkan ia diturunkan kepadamu !)

Rasulullah saw menjawab:
إني أحب أن أسمعه من غيري (sesungguhnya aku ingin mendengarkan dari orang lain) Ibnu Mas’ud ra akhirnya membacakan surat al-Nisa’ sampai ayat ke-empat puluh satu yaitu:
فَكَيفَ إِذا جِئنا مِن كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهيدٍ وَجِئنا بِكَ عَلىٰ هٰؤُلاءِ شَهيدًا
“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)”.

Tiba-tiba(dalam riwayat Imam al-Bukhariy) beliau berkata:
حَسْبُكَ الْآنَ (sudahlah, cukup !).

Ibnu Mas’ud pun menoleh kepada Rasulullah saw dan ia melihat air mata bergulir membasahi pipi Rasulullah saw.

Kaum muslimin !!!
Subhanallah !!! Beginilah sikap Rasulullah saw. Kelembutan hati, kerendahan hati, ketakutan akan beratnya tanggung jawab dan istiqamah dalam memikul amanah, itulah yang ditampilkan oleh riwayat ini.

Hari ini tak jarang kita lihat ketika ayat-ayat Allah swt dibacakan bukannya berlinang air mata karena kelembutan hati dan ketakutan kepada Allah swt malah yang terjadi, lantunan ayat tuntas sendirinya sedangkan pendengar sibuk pula dengan urusannya. sikap itu bahkan ditunjukkan oleh mereka yang diamanahkan untuk memimpin umat dalam acara seremonial yang mereka buat. Semestinya mereka jauh lebih takut dibandingkan masyarakat ‘awwam karena dalam ayat-ayat itu, untuk mereka tidak sedikit peringatan atas akibat amanah yang dilalaikan.

Memang ada yang berlagak akomodatif dengan serius mendengarkan siapa dan apa saja sampai terpaku dan terharu sehingga tak bergerak sama sekali tapi di dalam hatinya, jangankan akan tergerak untuk mengamalkan malah bantahan dan sanggahan yang terbersit walaupun berhadapan dg kebenaran yang tak diragukan.

Berbagai kalimat mengelak dengan menggunakan kata, “memang benar, tapi… namun… hanya saja…dan seterusnya.

Ini tentu bukanlah pendengar yang baik seperti yang terlihat dari sikap Rasulullah saw dalam cuplikan perjalanan hidup beliau.
Namun aneeeeh sekali, entah sampai kapan kondisi ini akan terus terlihat dari orang-orang yg mengaku umat Muhammad saw ??? Wallahu a’lam wa huwa yahdiy man yasya’.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s