BERADALAH DI ANTARA HARAP DAN CEMAS

Oleh : Buya Gusrizal Gazahar

Ibadah apapun dalam Islam tak jauh berbeda satu dengan yang lain, ia merupakan cara mendekatkan diri kepada Allah Pencipta sekalian makhluk, untuk membersihkan diri serta berharap mendapatkan keridhaaan dan segala janji yang akan mengantar orang yang melaksanakannya kedalam kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Itu tentu saja perwujudan dari kebenaran dan kejujuran iman yang telah bersemayam dalam hatinya Namun dari banyak khabar dalam wahyu Allah dan yang diriwayatkan dari RasulNya tentang manfaat ibadah, begitu banyak pula berita yang mencemaskan kita tentang kegagalan seseorang setelah melakukan ibadah tersebut.

Mulai dari urutan pertama rukun Islam yaitu syahadatain, ada berita gembira dari Allah swt dalam firmanNya;
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (فصلت ٣٠)
“ Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.(QS. Fusshilat 41 :30)

Namun dalam ayat lain seperti berikut ini, ada kekhawatiran akan kebenaran ucapan kita dalam syahadat apakah hanya sebatas memasukkan diri kita ke dalam golongan kaum muslimin atau benar-benar telah mengantarkan keimanan ? Walaupun demikian masih ada hiburan untuk hati kita dalam keislaman, yaitu Allah tidak akan mengurangi amalan kita jika konsekwen dalam ketundukan kepada Allah dan Rasul.
قَالَتِ الْأَعْرَابُ ءَامَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (الحخرات ١٤ )
“ Orang-orang Arab Badwi itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada merek): a”Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: “Kami telah tunduk (Islam)”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. al-Hujurat 49:14)

Dan yang sangat mengkhawatirkan apabila yang dinyatakan oleh Allah dalam ayat berikut ini terjadi pada diri kita. Na’udzu billahi min dzalik.
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ ءَامَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ (البقرة ٨)
“ Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman”. (QS. al-Baqarah 2:8)

Urutan kedua rukun Islam adalah sholat. Allah swt menyatakan secara nyata faedah sholat untuk orang yang mengerjakan dan semestinya didambakan oleh yang melakukan sholat tersebut, sebagai berikut;
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ (العنكبوت ٤٥)
“ Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS al-‘Ankabut 29: 45)
Namun bila ia fahami apa yang diperingatkan Rasulullah saw berikut ini, timbul kecemasan dalam hati terhadap hasil sholat yang telah dilakukannya di sisi Allah swt.
من لم تنهه صلاته عن الفحشاء والمنكر لم يزده بها من الله الا بعدا ( رواه ابن كثير عن ابن عباس فى تفسيره عند تفسير أية ٤٥ من سورة العنكبوت )
“ Siapa yang tidak dicegah oleh sholatnya dari kekejian dan kemunkaran, sholatnya itu berarti hanya menambah kejauhannya dari Allah”(diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dari Ibnu Abbas)
dan beliau tidak menyalahkan ucapan Khalid Ibn Walid berikut ini;
فَقَالَ خَالِدٌ وَكَمْ مِنْ مُصَلٍّ يَقُولُ بِلِسَانِهِ مَا لَيْسَ فِي قَلْبِهِ (رواه البخارى فى المغازى)
“ Khalid berkata, “ betapa banyak orang yang sholat mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak di dalam hatinya’.(diriwayatkan oleh Bukhary dalam kitab maghaziy)

Setelah sholat, urutan ketiga adalah zakat. Alangkah harapnya seorang yang berzakat dengan janji Allah swt terhadapnya dalam firmanNya berikut ini;
قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ (سباء ٣٩)
“ Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya”. (QS. Saba` 24:39)
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (البقرة ٢٦١)
“ Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS. al-Baqarah 2:261)
Tapi begitu cemasnya seorang yang telah berzakat (muzakkiy) apabila zakatnya tak berarti di sisi Allah karena diiringi dengan hal-hal yang telah diperingatkanNya dalam al-Qur`an sebagai berikut;

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِين (البقرة ٢٦٤)
“ Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”. (QS. al-Baqarah 2:264)

Puasa sebagai rukun keempat dijanjikan oleh Allah untuk membentuk diri pelakunya menjadi hamba Allah yang bertaqwa sebagaimana firmanNya berikut ini;
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (البقرة ١٨٣)
“ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS. al-Baqarah 2:183)
namun Rasulullah saw mengatakan;
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَكَمْ مِنْ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ (رواه أحمد وابن ماجه والدارمى)
“Dari Abi Hurairah, beliau berkata: Rasulullah saw bersabda. “betapa banyak orang puasa yang tidak mendapatkan melainkan haus dan lapar dan betapa banyak orang yang mendirikan malam dengan ibadah yang tidak mendapatkan melainkan bergadang malam”. (diriwayatkan oleh Ahmad Ibnu Majah dan al-Darimiy)

Ibadah haji adalah rukun kelima yang menjadi dambaan seumur hidup seorang muslim. Harapan semakin hari semakin menggunung karena keyakinan akan apa yang dijanjikan oleh Rasulullah saw berikut ini;
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ وَالْعُمْرَتَانِ أَوِ الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ يُكَفَّرُ مَا بَيْنَهُمَا (رواه الامام أحمد فى باقى مسند المكثرين رواته ثقات والحديث صحيح ورواه الشيخان فى كتاب الحج)
“Dari Abi Hurairah, beliau berkata: Rasulullah saw bersabda, haji mabrur tiada balasannya melainkan syurga dan dua umrah atau umrah keumrah menghapuskan dosa antara keduanya”. (HR. Imam Ahmad dari Abu Hurairah, shahih dan diriwayatkan juga oleh Bukhari Muslim dalam kitab haji)
ابن عمر قال : جَاءَ رَجُلٌ مِنَ الأنْصَارِ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ؛ كَلِمَاتٌ أَسْأَلُ عَنْهُنَّ، قَالَ: «اجْلِسْ»، وَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ ثَقِيف، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَلِمَاتٌ أَسْأَلُ عَنْهُنَّ، فَقَالَ صلى الله عليه وسلم: «سَبَقَكَ الأنْصَارِيُّ». فقالَ الأنْصَارِيُّ: إِنَّهُ رَجُلٌ غَرِيبٌ، وإِنَّ لِلْغَريبِ حَقًّا، فَابْدَأ بِهِ، فَأَقْبَلَ عَلَى الثَّقَفِيِّ، فَقَالَ: «إِنْ شِئْتَ أَجَبْتُكَ عَمَّا كُنْتَ تَسْأَلُ، وإِنْ شِئْتَ سَأَلْتَنِي وَأُخْبِرُكَ». فَقَالَ: يَا رَسولَ اللَّهِ، بَلْ أَجِبْنِي عَمَّا كُنْتُ أَسْأَلُكَ. قَالَ: «جِئْتَ تَسْأَلُنِي عَنِ الرُّكُوعِ، وَالسُّجُودِ، وَالصَّلَاةِ، وَالصَّوْمِ». فقَالَ: لا وَالَّذِي بَعَثَكَ بالْحَقِّ مَا أَخْطَأْتَ مِمَّا كانَ فِي نَفسِي شَيْئاً. قالَ: «فَإِذَا رَكَعْتَ، فَضَعْ رَاحَتَيْكَ عَلَى رُكْبَتَيْكَ، ثمَّ فَرِّجْ بَيْنَ أَصَابِعِكَ، ثمَّ امْكُثْ حَتَّى يَأْخُذَ كلُّ عُضْوٍ مَأْخَذَهُ، وإذَا سَجَدْتَ فَمَكِّنْ جَبْهَتَكَ، وَلَا تَنْقُرْ نَقْراً، وَصَلِّ أَوَّلَ النَّهَارِ وَآخِرَهُ»، فَقَالَ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، فَإِنْ صَلَّيْتُ بَيْنَهُمَا؟ قالَ: «فَأَنْتَ إذاً مُصَلِّي، وَصُمْ مِنْ كلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَ عَشْرَةَ، وَأَرْبَع عَشْرَةَ، وَخَمْسَ عَشْرَةَ». فَقَامَ الثَّقَفِيُّ، ثمَّ أقْبَلَ عَلَى الأنصارِيِّ، فقَالَ: «إنْ شِئْتَ أَخْبَرْتكَ عَمَّا جِئْتَ تَسْأَلُ، وإِنْ شِئْتَ سَأَلْتَنِي فَأُخْبِرُكَ»، فقَالَ: لَا يَا نَبيَّ اللَّهِ، أَخْبِرْنِي عَمَّا جِئْتُ أَسْأَلُكَ. قَالَ: «جِئْتَ تَسْأَلُنِي عَنْ الحَاجِّ مَا لَهُ حِينَ يَخْرُجُ مِنْ بَيْتِهِ، وَمَا لَهُ حِينَ يَقُومُ بِعَرَفاتٍ، وَمَا لَهُ حِينَ يَرْمي الْجِمَارَ، وَمَا لَهُ حِينَ يَحْلِقُ رَأْسَهُ، وَمَا لَهُ حِينَ يَقْضِي آخِرَ طَوَافٍ بالْبَيْتِ»، فقَالَ: يَا نَبيِّ اللَّهِ، وَالَّذِي بَعَثَكَ بالْحَقِّ مَا أَخْطَأْتَ مِمَّا كَانَ في نَفسِي شَيْئاً. قَالَ: «فَإِنَّ لَهُ حِينَ يَخْرُجُ مِنْ بَيْتِهِ أنَّ رَاحِلَتَهُ لَا تَخْطُو خُطْوَةً إِلَّا كُتِبَ لَهُ بِهَا حَسَنَةٌ، أوْ حطَّتْ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ، فَإِذَا وَقَفَ بِعَرَفَةَ فَإنَّ اللَّهَ عزَّ وجلَّ يَنْزِلُ إِلَى السَّماءِ الدُّنْيَا، فَيَقُولُ: انْظُرُوا إِلَى عِبَادِي شُعْثاً غُبْراً، اشْهَدُوا أنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ ذُنُوبَهُمْ، وإِنْ كانَ عَدَدَ قَطْرِ السَّمَاءِ وَرَمْلِ عَالِجٍ، وإِذَا رَمَى الجِمَارَ لَا يَدْرِي أَحَدٌ مَا لَهُ حَتَّى يُوَفَّاهُ يَوْمَ القِيَامَةِ، وإِذَا حَلَقَ رَأسَهُ فَلَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ سَقَطَتْ مِنْ رَأْسِهِ نُورٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وإِذَا قَضَى آخِرَ طَوَافِهِ بالْبَيْتِ خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ». (رواه ابن حبان فى صحيحه رقم 1507)
“Ibnu Umar berkata, ‘seorang laki-laki dari golongan Anshar datang kepada Nabi saw, ia berkata,’ya Rasulullah beberapa kalimat yang ingin saya tanyakan ? Rasulullah berkata, ‘duduklah!. Kemudian datang seorang laki-laki dari Tsaqif berkata, ‘ya Rasulullah beberapa kalimat yang ingin saya tanyakan? Rasul berkata, ‘engkau telah didahului oleh orang anshar ini. Maka berkata orang anshar, ‘sesungguhnya ia dari jauh, untuknya ada hak, maka dahulukanlah ia! Maka Rasulullah menghadap kepada laki-laki dari Bani Tsaqif tersebut terus berkata, ‘jika engkau suka saya akan jawab apa yang hendak engkau tanyakan atau engkau kemukakan dulu pertannyaanmu kemudian baru saya beri tahu jawabanya. Maka ia menjawab, ‘ya Rasulullah saya ingin engkau jawab apa yang hendak saya tanyakan. Rasulullah berkata, ‘engkau datang hendak menanyakan tentang ruku’, sujud, sholat dan puasa’. Orang tersebut menjawab,’sungguh demi Yang Mengutus engkau dengan kebenaran (Allah), tak meleset sedikitpun dari apa yang tersimpan dalam sanubari saya’. Maka Rasulullah berkata, ‘apabila engkau ruku’ letakkanlah dua telapak tanganmu di lututmu, renggangkan jari-jarimu kemudian tenanglah sampai anggota badanmu menmpati tepat posisinya’. Dan pabila engkau sujud letakkanlah keningmu dan janganlah tergesa-gesa. Dan sholatlah pagi dan sore ! Orang tersebut berkata, ‘ya Rasulullah jika saya sholat antara waktu itu? Rasulullah menjawab, “ jika demikian berarti engkau betul-betul orang yang sholat. Dan puasalah setiap bulan pada tanggal tiga belas, empat belas dan lima belas. Setelah itu laki-laki dari Tsaqif tadi berdiri(pergi). Kemudian Rasulullah menghadap laki-laki anshar sambil berkata, jika engkau mau saya jawab pertanyaan yang membuat engkau datang, atau engkau ingian bertanya dahulu baru saya jawab? Laki-laki anshar itu menjawab, ‘tidak ya Nabi Allah, ceritakanlah kepada ku pertanyaan yang hendak saya kemukakan. Rasulullah bersabda, ‘ engkau datang hendak menanyakan tentang orang yang berangkat pergi haji, apa yang didapatkannya bila ia keluar dari rumahnya, pa yang didapatkannya ketika ia berdiam(wuquf) di Arafah, apa yang didapatkannya ketika ia melempar jamarat, apa yang didapatkannya ketika ia mencukur rambutnya dan apa yang didapatkannya ketika ia telah selesai menunaikan thawaf terakhirnya (wada’) di Baitullah ? Laki-laki anshar itu menjawab, ‘ya Nabi Allah, demi Yang Mengutus engkau dengan kebenaran (Allah) tak sedikitpun berbeda dengan apa yang tersimpan dalam hati saya. Rasulullah bersabda, “untuk orang yang berangkat haji ketika keluar dari rumahnya, setiap langkah yang dilangkahkan kendaraannya mendatangkan satu kebaikan baginya atau menhapus satu kesalahan darinya. Ketika ia wuquf di ‘Arafah, maka sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla turun ke langit dunia berkat, ‘lihat hamba-hambaKu kusut dan berdebu, persaksikanlah, sesungguhnya telah Aku ampuni dosa mereka walaupun sebanyak tetasan hujan dari langit dan pasir di pantai. Apabila ia melempar jamarat tak seorang tahu apa yang didapatkannya kecuali setelah diberikan dengan sempurna kelak di hari kiamat. Apabila ia mencukur rambut (tahallul), ia akan mendapatkan dengan setiap helai rambutnya yang gugur dari kepalanya cahaya kelak di hari kiamat. Dan apabila ia telah selesai menunaikan thawaf terakhirnya (wada’) di Baitullah keluarlah ia dari dosanya sebagaimana ia baru dilahirkan oleh ibunya. (HR. Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya no. 1507)
Hanya saja apabila terbayang oleh siapa yang berangkat menuaikan ibadah haji apa yang disampaikan oleh Rasulullah berikut ini, kecemasan tak kuasa ia tolak dari sanubarinya. Apa yang tersebut dalam peringatan Rasul, sebagai penyebab hajinya tertolak, seolah-olah telah pernah melumuri dirinya.
روِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: «إذَا خَرَجَ الْحَاجُّ حَاجًّا بِنَفَقَةٍ طَيِّبَةٍ، وَوَضَعَ رِجْلَهُ فِي الْغَرْزِ فَنَادَى: لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ. نَادَاهُ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، زَادُكَ حَلاَلٌ، وَرَاحِلَتُكَ حَلاَلٌ، وَحَجُّكَ مَبْرُورٌ غَيْرُ مَأْزُورٍ، وَإذَا خَرَجَ بِالنَّفَقَةِ الْخَبِيثَةِ فَوَضَعَ رِجْلَهُ فِي الْغَرْزِ، فَنَادَى: لَبَّيْكَ، نَادَاهُ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ لاَ لَبَّيْكَ وَلاَ سَعْدَيْكَ زَادُكَ حَرَامٌ، وَنَفَقَتُكَ حَرَامٌ، وَحَجُّكَ مَأْزُورٌ غَيْرُ مَبْرُورٍ (رواه الامام المنذرى فى الترغيب والترهيب وقال رواه الطبراني في الأوسط، ورواه الأصبهاني من حديث أسلم مولى عمر بن الخطاب، مرسلاً مختصراً)
“Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, beliau berkata: Rasulullah saw bersabda, ‘apabila seorang yang hendak menunaikan ibadah haji keluar dengan nafaqah yang baik(halal) dan ia telah letakkan kakiknya di pelana tunggangannya, maka ia berseru, labbaikallahumma labbaik (ya Allah aku penuhi panggilanmu). Seseorang akan berseru dari langit, aku perkenankan seruanmu dan aku kabulkan permitaanmu. Bekalmu halal, kendaranmu halal, haji engkau mabrur tiada dosa. Dan apabila ia keluar dengan nafaqah yang kotor(haram), ia letakkan kakinya di pelana tunggangannya maka ia berseru labbaik, maka seseorang berseru di langit, tidak diperkenankan seruanmu dan tidak dikabulkan permintaanmu. Bekalmu haram, nafaqahmu haram, hajimu mendatangkan dosa tiadak mabrur ”. (Diriwayatkan oleh Imam al-Mundziriy dalam al-Targhib wa al-Tarhib, ia berkata diriwayatkan oleh al-Thabraniy dalam al-Awshath dan diriwayatkan oleh al-Ashbahaniy dari hadits Aslam Maula Umar Ibn Khattab secara ringkas dengan sanad yang mursal)
Apabila hadits di atas terdapat kelemahan pada sanadnya, namun hadits berikut ini adalah peringatan yang shahih dari Rasulullah saw;
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ ) وَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ) ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ (رواه مسلم كتاب الزكاة والترمذى كتاب تفسير القرآن)
“dari Abu Hurairah, beliau berkata: Rasulullah saw bersabda,’wahai manusia sesungguhnya Allah adalah maha baik, tidak menerima melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah menyuruh orang-orang yang beriman sebagaimana diperintahkan kepada para rasul. Ia berfirman. ‘wahai para rasul makanlah yang baik-baik(halal) dan beramal shalehlah, sesungguhnya Aku maha mengetahui apa yang kamu lakukan (QS. al-Mukminun ayat 51) dan Ia berfirman.’wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik-baik(halal) yang telah kami anugerahkan kepadamu’ (QS.al-Baqarah 172). Kemuadia tersebutlah seorang yang telah menempuh perjalanan jauh(berumur lanjut), kusut dan berdebu. Ia menadahkan tangan ke langit bermohon ya rab(wahai tuhan), ya rab(wahai tuhan) ! Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan pernah diberi makan dengan yang haram, maka bagaimana akan dikabulkan permohonannya. (HR. Muslim dalam kitab zakat dari Abu Hurairah dan juga diriwayatkan oleh Imam al-Turmudziy dalam kitab Tafsir al-Qur`an)
atau barang kali kecemasan lain juga datang menghampiri, yaitu apa yang telah disampaikan oleh Umar Ibn Khattab sepertinya benar-benar telah terjadi dikalangan kaum muslimin !
وَقَدْ قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِي اللَّه عَنْه كَمْ مِنْ مُتَقَرِّبٍ إِلَى اللَّهِ بِمَا يُبَاعِدُهُ وَمُتَحَبِّبٍ إِلَيْهِ بِمَا يُغْضِبُهُ عَلَيْهِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى ” أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا” فاطر الأية 8 (رواه الأمام الدارمى)
“Umar Ibn Khattab pernah berkata, betapa banyak orang mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang akan menjauhkannya dari Allah dan betapa banyak orang yang mencari kecintaan Allah dengan sesuatu yang menimbulkan kebencian Allah kepadanya, Allah berfiman, “maka apakah orang yang dihiasi oleh syaithan amalan jahatnya sehingga ia memandang amalan itu bagus..” QS Fathir ayat 8. (Diriwayatkan oleh al-Darimiy)

Berarti dari isyarat ayat-ayat dan hadits-hadits di atas, di antara yang beribadah ada yang berhasil dan ada yang gagal dalam usaha meraih puncak ibadah dan janji Allah swt serta Rasulnya. Dengan isyarat-isyarat tersebut terbersitlah dua perasaan dalan hati seorang ‘abid (pelaku ibadah) yaitu harap (رجاء) dan cemas (خوف). Harap akan mendapatkan apa yang dicita-citakan dan cemas akan kehampaan ujung amalan. Dua perasaan ini adalah hiasan qalbunya yang tidak boleh salah satupun berpisah darinya. Dua perasaan itu adalah obat yang menyembuhkan penyakit yang akan menghampirinya. Khauf adalah obat dari penyakit ‘ujub (kagum) terhadap amalan yang telah ia lakukan, sedangkan raja` adalah obat penyakit qunuth (putus asa) terhadap rahmat Allah. Maka karena itu wahai ‘abid, jangan pisahkan sedetikpun dua perasaan itu dari qalbumu !!!
وفقنا الله و إياكم لما يحبه و يرضاه
Padang, 7 Ramadhan 1434

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s