Again, Again and Again

Again, Again and Again

Ranah Minang, tak pernah habis kalimat untuk membahasnya. Selalu saja ada hal baru yang bisa dijadikan topic pembahasan. Meskipun tak jarang topic yang dibahas bukanlah hal yang baru, namun karena selalu di kemas dengan apik dan cantik, walhasil jadilah ia topic yang dapat dibidik. Wisata kuliner, destinasi wisata kuliner dan budaya yang tiada duanya, watak berdagang yang menyaingi orang Cina, banyaknya tokoh politik dan tokoh Islam yang dilahirkan serta diperhitungkan keberadaannya, serta berbagai rangkaian agenda tahunan yang selalu berhasil mendatangkan jumlah wisatawan domestic dan mancanegara yang meningkat jumlahnya tiap tahun seperti yang tahun ini baru saja digelar n ingin ama berkomentar saketek apalagi kalo bukan Tour de Singkarak. Sepertinya acara ini termasuk yang paling meriah pelaksanaannya di Sumbar, coz jangankan instansi terkait, kabupatenn kota yang turut dijadikan destinasi lomba pun harus saling bersinergi agar konsep yang direncanakan bisa berlangsung sesuai dengan yang diharapkan, tanpa melihat apakah kabupaten or kota tersebut hanya sebagai tempat start atau finish semata. Waktu ama masih di Padang aja ngeliat langsung acara tu emang sukses menghidupkan perekonomian masyarakat. Pemilik modal berlomba membangun hotel mewah agar bersedia dikunjungi oleh peserta, coz waktu acaranya di Batusangkar n Pariaman (intinya lokasi acara yang belum memiliki fasiltas hotel berbintang) pesertanya ga nginap di lokasi bersangkutan, melainkan ngungsi ke Bukittinggi or Padang demi mendapatkan hotel yang sesuai dengan kriteria mereka. Jadinya pengusaha yang awalnya berharap dapat pemasukan tambahan dengan menginapnya peserta di daerah mereka akhirnya harus menghitung rugi yang tak nyata hanya karena tempat menginap yang tersedia belum memenuhi kriteria peserta. Kalo update dengan informasi di berbagai  media massa terasa banget deh pemberitaan acara ini yang di kemas wah. Bikin kita yang ga liat langsung itu pengin liat langsung.

Meskipun demikian, dari sekian hari rangkaian road show balap sepeda yang diadakan  ga pernah sekali pun yang ama tonton, padahal waktu startnya di kantor gubernur ama ada disana kok liat langsung sibuknya panitia n warga berdiri disepanjang lintasan menunggu para peserta datang, plus sabar menantinya para pengendara karena rute yang biasanya mereka lewati bakal ditutup dan silahkan berkeliling mencari alternative jalan lain.  Untung saat masih melihat persiapan ini itu di lokasi ama disadarkan oleh salah seorang uni kalo pemain sepeda tersebut kan pake pakaian ketat, mana kebanyakan pesertanya bule pula, masak mo liat mereka balapan, Oh no! kanai berang lo ambo beko ketahuan nonton acara tu. Akhirnya berubah haluan. Yang awalnya pengin liat langsung seperti apa acara yang menghebohkan media Sumbar dan nasional ini menjadi pergi bersilaturrahim sekaligus malapeh salero ke tempat uni di FSI ini.

Sebenarnya ga cocok juga para peserta make pakaian minim gitu di daerah Ranah Minang, coz ga Minang banget kalo bersepeda pake pakaian minim gitu. Tapi mo gimana lagi, udah jadi standar Internasional she pakaian tersebut, malah kalo di suruh pake training ntar merekanya pula yang protes sambil dikomentari pula oleh komentator yang gaje omongannya. So ga bisa ngapa-ngapain deh sang tuan rumah. Kalo dikesampingkan masalah kostum menurut ama keren lah mereka tu. Menjelajahi Sumbar yang terkenal dengan wilayah berbukit-bukit ne bahkan beberapa curam dengan sepeda plus bisa menyaksikan langsung berbagai ragam kesenian Sumbar yang emang mencetar itu dengan dikemas secara rapi. Yang urang Minang bana se alun tantu bisa mancaliak langsuang sabanyak tu jenis kekayaan alam dan kesenian Sumbar, iko yang sakali datang se bisa langsung tau banyak jo khazanah yang ado di Minang.  Ckckck, ama yang kalo mo jalan-jalan se lah pakai kendaraan berminum minyak se dak tolok gai  tu lo pai ka sado t4 rancak tu dengan jangka waktu singkat. Apolai iko jo sepada, ndeh litaknyo lai. Suailah jo sajian yang diberikan panitia. Kan sudah urang tu balapan beko nyo duduak manis bak tuan rajo mancaliak kesenian Sumbar yang menghibur sambia malapeh salero mangicok makanan terlezat se dunia. Indak na ama pai mancaliak tapi lai juo bisa tau, Soalnyo sado koran pada waktu momen ko pasti meliput acara Tour de Singkarak ko. Malah bisa jadi yang liat langsung pun di lokasi bisa ga tau ada kejadian yang diliput oleh wartawan bersangkutan. Kan ga mungkin juga semua penonton yang datang di beri akses yang sama tentang liputan selama acara berlangsung. So tinggal duduk manis baca Koran, maka, ndak ka luput gai awak jo kejadian yang terjadi salamo acara tu dek saking banyaknyo official yang datang berlomba membuat berita dengan bahasa dan media mereka.

Income masyarakat golongan tertentupun meningkat drastic. Tentu saja, lah pesertanya paling banyak dari luar negeri bukan penduduk local. Meskipun tetap saja masyarakat kelas atas yang lebih banyak menikmati hasilnya, tapi tak sedikit juga rakyat miskin yang giat juga memperoleh keuntungan yang lumayan. Teman ama yang sering di minta jadi MC waktu level kampuspun ikut kecipratan, apalagi yang bisa memainkan kesenian daerah, wah kena cipratan juga dong. Yang punya usaha penginapan, kuliner, kesenian, biro perjalanan, percetakan, media massa adalah contoh pihak-pihak yang dengan gembira mengumpulkan rupiah demi rupiah yang di dapat. Makanya pemprov Sumbar juga bersemangat dalam menyukseskan acara ini tiap tahunnya, biar kedepannya lebih banyak lagi peserta yang datang. Tapi semoga yang merasakan peningkatan pendapatan itu ga itu -itu mulu, yang rakyat biasa pun semakin banyak juga merasakan manfaat ekonomi dari acara yang emang tujuannya meningkatkan pendapatan masyarakat kecil. Jangan hanya pada pemilik modal besar saja sosialisasi acara dilakukan, malah rakyat kecil pun jauh-jauh hari dikabarkan agar mereka pun bisa kreatif melihat peluang jauh hari sebelum acara tersebut diadakan.

Dari hitungan ekonomi emang terbukti masyarakat Minang mendapatkan keuntungan yang tak sedikit. Tapi dari segi budaya kayaknya perlu mendapat perhatian lebih. Pertama karena emang pakaian yang dikenakan peserta balap sepeda bukanlah pakaian yang mencerminkan kehidupan rakyat Minang, malah pergi mandi ke tempat umum pun kayaknya ga berani juga pemuda Minang mengenakannya, apalagi ini bakal berkeliaran sepanjang jalan bahkan menembus kabupaten or kota yang berbeda. Silau lo beko anak gadih Minang mancaliaknyo. Dak datang pai mancaliak acaranya seru, datang pai mancaliak awak penonton ko yang maraso malu. Tu dilemma se lai.

Kedua, sebagian besar peserta dari luar negeri tersebut bukanlah orang Muslim. Dan ketika mereka berkunjung ke Padang, tentu saja hotel mewah yang menjadi tempat singgah mereka selama beberapa hari. Meski hanya beberapa hari, tetap saja membawa pengaruh yang tak sedikit seperti hitungan harinya. Ama pernah liat sendiri sibuknya para suster di daerah sekitar Hotel Ambacang yang kini nama hotelnya berubah menjadi Alena tersebut silih berganti masuk hotel untuk  memberikan buah tangan pada peserta yang datang. Ga tau juga sekedar buah tangan atau memang nitip dibeliin trus dianterin ke hotel. Padahal kalopun pengunjung hotel itu sendiri yang mau beli oleh-oleh gampang kok. Toh disekitar hotel banyak kok toko-toko yang menyediakan oleh-oleh khas Minang. Toko non muslim malah yang paling dekat dengan hotel tersebut. Semoga memang pengunjung yang tak memiliki waktu lebih meski sekedar untuk membeli oleh-oleh, bukan karena mereka ingin para susternya bebas berkeliaran di sekitar sana. Karena cukup aneh juga bisa melihat para suster banyak berkeliaran di Padang.

Ketiga, jangan sampai acara yang katanya level Internasional tersebut bisa membuat misionaris semakin memiliki power. Karena kaget juga waktu dikabarin kalo di Padang orang-orang  Lippo Group bakal mendirikan SILOAM yang nyata-nyata emang misionaris otak di belakang layar tersebut. Ga mungkin dunk mereka mau ngabisin duit yang jumlahnya tak sedikit ini di daerah rawan bencana kalo tanpa ada maksud terselubungnya. Dari dulu masalah Kristenisasi emang ga habis-habisnya di Sumbar. Sudah sangat sering mendengar kasus Kristenisasi ini. Ada yang lewat penculikan ntar ujung-ujungnya di baptis, ada yang lewat kerasukan, lewat motif nikah, ada yang lewat kepedulian social berselubung penyebaran agama, bahkan lewat Al Qur’aan yang didalamnya Injil. Sangat banyak motif yang mereka sebarkan demi menggoyahkan keyakinan orang Minang. Itu baru trik yang ketahuan di ranah Minang. Lewat media nasional pun ga kalah canggih. Bikin film yang dusta belaka tentang adanya gadih Minang yang doyan babi, melekatkan predikat Putri Indonesia itu ada di Sumbar, dan usaha-usaha lainnya demi menggeser gelar Minang itu suku ataupun daerah yang penduduknya agamis.

Hmm ga tau lah. Emang benar pergeseran nilai budaya itu emang telah lama terjadi. Tahun 2010 kalo ga salah lagu Febian karyanya Agus Taher yang berjudul  Minangkabau menceritakan betapa  mengkhawatirkannya Minang saat ini. Bahkan yang dulunya tak lakang kini pun mulai lapuk. Korupsi merajelala, kamanakan mabuak putau, Surau tuo samakin sunyi, serta kutipan syair lainnya yang jelas-jelas menunjukkan betapa mengkwatirkannya Minangkabau. Mandeh Takuik kok Hilang Minang tingga KABAU. Itu belum seberapa. Tahun 2012 kemarin sangat banyak berita nasional (catat skala nasional lho bukan local lagi) yang meliput tragedy tenda biru di Taplau (berhari-hari malah di liput secara nasional), kasus amukan massa ke café yang ternyata menyediakan penari telanjang dalam pelayananannya, kasus-kasus amoral yang kejadiannnya waktu itu bertubi-tubi media massa local menyebarkan aib-aib rang Minang kini. Ga tau juga kok bisa hamper tiap pecan selalu timbul masalah amoral yang bikin kita terkejut ini ternyata terjadi di bumi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Meski kini tak di Padang lagi, semoga Minang tak tinggal KABAU.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s