Minangkabau, Sulit Air & Perantauan

GambarTulisan ini merupakan isi dari kolom artikel/opini di majalah SUARA SAS Periode 2007-2009 Edisi No. 3 oleh Drs. H. Hamdullah Salim. Sengaja ama tulis soalnya termasuk sejarah tentang kampung sendiri. Kalopun udah ama baca tetap saja ama ga bisa ingat semua isi tulisannya. Silsilah keluarga besar ja udah sering ortu ama certain ga juga ama ingat semua apalagi ini cerita kampung yang dengar pun jarang. Apalagi ini di majalah yang udah cukup lama juga terbitnya. Ga mungkin dunk ama bawa mulu majalah ini kalo mau baca ulang. So tulis ulang aja. Selain jadi arsip semoga bisa menjadi tambahan info bagi warga sulita khususnya. Yuk ikuti ulasan lengkapnya.

Sulit air dengan Batang Katialonya sebagai salah satu terminal akhir pelayaran sungai dari Selat Malaka ke pedalaman Minangkabau, adalah daerah tujuan perdagangan, pada masa jalan raya bahkan kendaraan bermotor belum lagi dikenal. Sungai adalah satu-satunya sarana perhubungan, yang menghubungkan satu negeri dengan Negara lainnya, apalagi di sepanjang Batang Katialo, di tanah dan pasirnya ada butiran-butiran emas. Bukan hanya Batang Katialo, bahkan Minangkabau dikenal sebagai penghasil emas yang utama, baik yang ditambang maupun yang didulang di sungai-sungai, terutama pada sekitar abad ke- 15 dan 16. Sedangkan Selat Malaka adalah pusat lalu lintas perdagangan, yang ramai didatangi para pedagang yang datang dari seluruh penjuru dunia, dari dulu sampai sekarang. banyak di antara para pedagang tersebut yang kemudian menetap di Sulit Air , menjalin hubungan perkawinan dengan para pendatang sebelumnya, maka berlakulah ketentuan: –adat kapalnya berlabuhan, adat dagangnya bertepatan, jauh mencari suku dekat mencari hindu. Maka kelompok-kelompok pendatang yang sudah bercampur baur dengan para pendatang sebelumnya, membentuk suku dan penghulu-penghulu baru, yang gelarnya mengingatkan kita darimana mereka berasal, seperti: Aceh, Malako (Malaka), Palembang. Dapatlah dibayangkan betapa ramainya Sulit Air di masa lalu itu, di suatu zaman yang orang tua-tua kita dinamakan masa wilayah taraguong (terbesar, kebesaran).

Pada masa butiran-butiran emas di sepanjang Batang Katialo semakin menyusut dan berkurang-kurang juga, padi yang di tanam di sawah tidak mencukupi lagi untuk menghidupi penduduk yang semakin berkembang biak, maka kedudukan Sulit Air sebagai daerah tujuan perantauan juga semakin surut. Hal ini seiring dengan semakin berkurangnya peranan sungai sebagai sarana perhubungan dan mulai dibangunnya jalan raya bahkan jalan kereta api pada masa permulaan abad ke-20. Dalam kondisi demikian, peranan Sulit Air sebagai daerah tujuan perantaun berhenti, bahkan kemudian justru orang-orang Sulit Air-lah, yang mulai secara angsur-angsur meninggalkan kampung halaman yang mereka cintai itu, pergi merantau ke negeri orang. Kepergian seorang lelaki Sulit Air ke perantauan, bila berhasil kembali ke Sulit Air (biasanya pada bulan puasa), dan sesudah hari raya Idul Fitri kembali lagi ke rantau asa yang membawa kemenakan, saudara lelaki, atau isterinya (bila merasa ekonominya sudah cukup kuat), begitu seterusnya, satu-persatu meninggalkan Sulit Air. Seperti halnya jalur sungai yang digunakan orang-orang dari daerah lain untuk pergi merantau ke Sulit Air, maka jalur itu pula yang digunakan orang Sulit Air untuk pergi merantau. Maka dapatlah dimaklumi, kota-kota di Riau seperti Teluk Kuantan, Lubuk Jambi, Cerenti, Basrah, Batu Rijal, Rengat, Tembilahan, kemudian Pekan Baru, Tanjung Pinang, menyeberang ke Semenanjung Melayu (Malaysia dan Singapura sekarang) adalah kota-kota yang banyak didiami perantau-perantau dari Sulita. Baru kemudian melebar ke Bengkulu, Kepahiyang, Lubuk Linggau, Lahat, Palembang, daerah Sumsel, kemudian menyeberang ke Pulau Jawa, terutama setelah masa kemerdekaan. Pada waktu penulis masih kecil, populer sebutan “ka ilie” sebagai pengganti pergi merantau, yang mengingatkan orang-orang yang pergi merantau, dengan menghiliri Sungai Katialo, Ombilin, Sinamar, Kuantan, Dan Rengat. Pada kurun waktu itu belum ada jalan raya, belum ada oto (mobil), paling-paling yang ada baru pedati yang di tarik kerbau dan bendi yang di tarik kuda. Pada awal abad ke-20, yang ada baru jalan kereta api mulai dari Teluk Bayur, Ke Padang, Pariaman, Padang Panjang, Bukit Tinggi, Singkarak, Solok, sampai ke Sawahlunto Dan Muaro Sijinjung, yang panjang seluruhnya 245 kilometer. Perhatikanlah bagian-bagian kota Bukittinggi dan Padang pada awal abad 20, belum terlihat oto, yang ada hanya pedati dan bendi. Pada masa itu “Inyiak Haji Rasul” atau “Inyiak DR” bila hendak pergi dari Maninjau ke Padang Panjang menggunakan bendi dan puteranya Hamka sering hanya berjalan kaki saja.

Selain factor ekonomi, adat juga merupakan penyebab utama orang-orang Minang banyak yang pergi meninggalkan tanah pusakanya. Hasil penelitian Dr. A. Mude dari “Flinders University” Adelaide Australia, tahun 1976 mengungkapkan, bahwa yang menjadi motivasi orang-orang minang pergi merantau adalah” ekonomi (61,1%), mencari pengalaman baru (13,9%), tradisi (5,4%), ketidakpuasan hidup di desa (4,2%), adat (3%), dan lain-lain (10%). Jika dapat disimpulkan, secara garis besar penyebabnya hanya ada 2 yaitu, ekonomi dan adat (tradisi). Pada waktu penelitian itu dilakukan (1976), ketentuan-ketentuan adat Minangkabau di Sumbar sudah banyak yang bergeser atau tidak berlaku lagi, bahkan ditinggalkan. Kebanyakan orang tidak lagi berdiam di Rumah Gadang sebagai symbol kebesaran adat di bawah kepemimpinan penghulu, anak lelaki tidak lagi tidur di surau, seperti pada masa kejayaan adat. Pada masa-masa awal, (masa Batang Katialo dan tanah Sulit Air pada umumnya tidak lagi banyak memberikan kehidupan dan penduduk berkembang semakin banyak) factor adatlah yang menjadi motivasi utama orang Sulita merantau.

Dalam system adat Minangkabau yang murni, lelaki memikul tanggung jawab yang berat, tapi tidak berkuasa atau tidak punya hak untuk memiliki harta yang telah berhasil diperolehnya. Mereka tidak punya rumah tempat tinggal, tidak punya sawah ladang yang diusahakan sendiri, semuanya punya kaum (suku). Harta yang berhasil diraih dijadikan harta pusaka. Yang menjadi kepunyaan sendiri adalah yang melekat di tubuh. Di rumah orang tua, badan tidak berkuasa, sebab sejak dari kecil, sudah dibiasakan tidur di surau. Setelah besar, setelah mempunyai isteri dan anak-anak, status awak hanya sebagai rang sumando, yang diibaratkan bak debu diatas tungku, dihembus dikit aja sudah terbang berhamburan. “sadalam-dalam payo, inggo dado itiak; sakuaso-kuaso urang sumando, inggo pintu biliek”, kekuasaannya hanya dibilik isterinya, di salah satu ruangan di Rumah Gadang, selebihnya nyinyik mamak yang berkuasa. Namun sebagai nyinyik mamak di rumah ibunya, si lelaki hanya berkuasa sebagai pengatur, pengelola dan pengembang, bagaimana mengusahakan harta itu hingga menjadi banyak, namun yang menjadi pemiliknya bukan dia, tapi saudara atau kemenakannya yang perempuan. Pada masa dulu, di Minangkabau, yang ada hanyalah sebutan rumah ibu, rumah isteri, rumah dunsanak atau kemenakan perempuan, tidak ada yang merujuk kepada nama yang bergender lelaki. Apa sebab demikian, tidakkah hal ini bertentangan dengan syariat Islam?

Ahli adat Minangkabau IDRUS HAKIMY DT. RAJO PENGHULU, dalam bukunya “Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak Di Minangkabau”, mengatakan bahwa nabi Muhammad SAW telah bersabda; “ kaum ibu adalah tiang rumah tangga dan Negara. Kalau rusak kaum ibu, maka rusaklah rumah tangga dan Negara”. Agaknya yang beliau maksud adalah hadist yang berbunyi; “al mar’atu imaadul bilaadi, idzaa sholulat sholulat, wa idzaa fasadad fasadad”, yang artinya “wanita itu tiang Negara, bila ia baik, maka baiklah Negara itu, bila ia rusak, maka rusaklah Negara itu.”

Ada lagi hadits yang menyebutkan “al jannatu tahta aqdamil ummahaatii”, sorga itu terletak di bawah kaki ibu, yang maksudnya bila seseorang anak ingin masuk sorga, jalankan syari’at Islam, dan jangan lupa berbakti kepada ibu-nya. Rasulullah SAW berjuang mengembalikan derajat kaum ibu yang hina-dina, yang jadi permainan dan budak kaum lelaki pada masa itu (jahiliyah), yang jadi sumber kehancuran budi pekerti (akhlak) manusia, menjadi kaum yang berkedudukan mulia dan terhormat.

Maka dalam hukum adat Minangkabau, menurut beliau, kaum ibu menduduki tempat yang khas dan mulia. System keturunan orang minang bukan dari ayah, dari garis keturunan ibu (matrilineal), si suami berdiam di rumah isterinya (matrilokal). Pemanfaatan sumber ekonomi sawah, ladang, rumah, dan sebagainya dititikberatkan untuk kaum ibu. Tugas kaum ibu amat berat, tapi gerak dan kebebasan yang dimiliknya, baik menurut adat ataupun agama, tidaklah seperti lelaki. Berkaitan dengan kodratnya yang demikian itu, maka kaum ibu perlu menguasai sumber ekonomi keluarganya, pemeliharaan harta pusaka, namun pengawasannya tetap di pegang oleh saudara lelakinya yang di sebut ninik-mamak, demikian juga dalam berurusan dengan pihak luar. Menggadaikan harta hanya dapat berlangsung bila sudah didizinkan oleh ninik-mamak. Bila terjadi perceraian, isteri bersama anak-anaknya tetap berada di rumah, di sawah ladang, yang telah ditentukan menjadi miliknya itu, yang berangkat meninggalkan rumah adalah suami yang menceraikannya. Adat Minang menganggap hina kaum ibu yang pergi bergelandangan meninggalkan rumahnya, menumpang-numpang di rumah orang lain; duduk-duduk di lapau, tidur di surau atau kedai-kedai seperti halnya kaum lelaki.

Sebaliknya, karena yang memiliki segala sesuatu adalah wanita, yang dimiliki lelaki pada hakikatnya hanyalah apa-apa yang melekat pada batang tubuhnya, menjadi motivasi yang kuat bagi lelaki Minang untuk pergi merantau pada masa dahulu. Para remaja lelaki yang belum beristeri, tidak boleh tidur di rumah ibunya yakni di rumah gadang, tapi di surau milik kaum, belajar mengaji, adat-istiadat, pepatah-patitih, berlatih pencak silat untuk memperthankan diri bila diserang musuh. Daripada tidur di surau, maka setelah mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai agama, adat, sastra dan pencak silat, maka kebanyakan mereka pergi merantau ke negeri orang. Mereka pergi dengan sedikit bekal, bermodalkan apa-apa yang ada di badan itu, terkanal dengan sebutan, “tulang yang delapan kerat”, 4 kerat di lengan dan 4 kerat di kaki.

Bila kita renungi dalam-dalam, ketentuan-ketentuan adat yang berlaku pada masa yang sudah lama silam itu, ternyata banyak hikmahnya. Lelaki Minang sejak dari kecil telah dididik dan dilatih bekerja keras untuk menjadi orang yang mandiri, memiliki dasar-dasar agama islam yang kokoh-kuat, adat dan sopan santun yang mengutamakan budi pekerti yang luhur (akhlaqul karimah), dan keberanian untuk menempuh gelombang kehidupan. Didikan dan pelatihan di surau itulah yang menimbulkan keberanian pergi merantau. Bahkan dapat dikatakan merantau adalah bagian dari ajaran adat, sebagai ‘inisiasi’ (masa peralihan) kedewasaan yang harus dilalui lelaki Minang.

Selain surau, ada lagi tempat laki-laki Minang untuk mematangkan kedewasaan dan meluaskan wawasan, yakni lepau (warung). Di surau anak-anak muda belajar mengaji, adat-istiadat, berpetatah-pettih, di lapau mereka maota (mengobrol) kesana-kemari, menceritakan atau mengomentari atau membahas berbagai informasi yang masuk, termasuk kabar angin(gossip), sampai pada masalah kemasyarakatan, masalah perempuan, dan masalah politik. Selain lepau, di Sulit Air tempat mengobrol anak-anak muda yang terkenal adalah Pangka Titi. Pangka titi berfungsi sebagai tempat berjanji dan bertemu untuk membicarakan sesuatu, sebagai ‘parlemen informal’nya masyarakat Sulita. Ada pameo, tempat “tuok ongku” (tuanku) di surau, tempat parewa di lapau. Jika lelaki muda hanya di surau sepanjang waktu, di sebut “pokieh” (faqih=ahli agama) dan bila hanya terlihat di lepau, di sebut parewa (perusuh). Selain itu, tentu saja ada yang tidak terlihat, baik di surau atau di lepau, yang dianggap sebagai “orang sawah”. Yang di anggap ideal, yang diincar untuk dijadikan ‘calon menantu’ adalah anak muda yang selain rajin mengaji di surau, juga terlihat bercanda dan berdebat di lepau atau di Pangka Titi. Ada terlihat di Pangka Titi menunjukkan orang bermasyarakat. Namun untuk kesempurnaannya maka si anak muda perlulah pergi merantau, mencari ilmu, harta dan pengalaman. Walau pintar mengaji, rajin beribadat, tahu adat-istiadat, mahir pula bersilat, berpetatah-petitih dan bersenda gurau, tanda lai orang bermasyarakat, tapi bila tidak ada “kepiang di saku”, denan apa “anak orang” akan dilamar? Maka bertemulah dengan apa yang diungkapkan sebuah pantun terkenal, yang banyak diresapkan anak-anak muda yang berhal demikian:

Karatau madang di hulu

Babuah babungo balun

Marantau bujang daulu

Di rumah baguno alun

 

Maka surau, lepau dan rantau, merupakan tiga institusi yang mendewasakan lelaki Minang. Sebenarnya tiga pilar inilah yang menjadi keberhasilan anak-anak Minang pada masa dahulu. Yang menyebabkan mereka menjadi orang-orang besar dan terkenal dan terkenal mengharumi nama bangsa dan tanah air sebagai sastrawan, budayawan, ulama atau penyebar Islam, usahawan, negarawan, pada hampir separoh lebih abad ke-20. Bandingkanlah dengan anak-anak muda Minang zaman sekarang yang tidak lagi merasakan kehidupan di surau dan lepau, dan kebanyakan lahir dan hidup di perantauan, yang tidak mengenal Surau, Lepau, Pangka Titi, Tepian Sungai tempat mandi dan bercanda, sawah ladang tempat bekerja, tanah lapang tempat bermain dan berpencak silat mengukir prestasi, yang semuanya memainkan peranan sendiri-sendiri dalam membentuk kepribadian dan pedewasaan diri anak-anak Minang di tanah pusakanya.

Dalam masyarakat Minang, seorang lelaki Minang yang belum beristri disebut buyung atau bujang. Sebagai bujang, statusnya rendah, tidak dibawa serta dalam rapat atau perundingan, paling-paling hanya untuk disuruh-suruh, membantu suatu pekerjaan. Untuk membebaskan diri dari status yang demikian, selain pergi merantau adalah menikah. Namun tidaklah mudah untuk menikah, apalagi mengharapkan gadis cantik yang didambakan. Si orang tua tidak akan membiarkan anak perawannya dikawinkan dengan anak muda yang tidak mempunyai pekerjaan (pangadok) atau kekayaaan. Untuk memperoleh harta atau kekayaan, apalagi bagi negeri seperti Sulit Air yang telah kehilangan sumber pencariannya di sepanjang Batang Katialo, sawah-sawah yang lebih banyak mengharapkan tadah hujan, di tambah dengan penduduk yang semakin berkembang biak juga, maka tidak ada pilihan bagi anak-anak muda tersebut selain pergi merantau mengadu nasib.

Maka saat melepas si buyung pergi merantau, meninggalkan tanah kelahiran dan tanah pusakanya, merupakan saat-saat yang dramatis dan mengharukan bagi si anak dan bundanya, melahirkan pantun-pantun yang indah:

Sikujur dan batang kapas

Kembanglah bunga parawitan

Kalau mujur bunda melepas

Bak ayam pulang ke pautan

Laguah laga bunyi padati

Padati nak urang ka padang

Ganto kabau babunyi juo

Walau sapiriang dapek pagi

Sapiriang dapek patang

Minagkabau dikana juo

 

Besar di kampung di anggap sebagai besar yang dibesarkan orang. Besar di perantauan barulah besar yang sesungguhnya, tumbuh karena kemampuan diri sendiri. Kampung halaman di Ranah Minang di anggap sebagai pusat kehidupan, sedangkan rantau adalah sebagi tempat mencari. Hasil pencarian itulah yang akan di bawa pulang untuk menunjukkan kedewasaan diri. Untuk meningkatkan martabat kaum, setidaknya untuk keperluan beristri, membiayai perkawinan, memasuki kehidupan berumah tangga.

Apo guno kabau batali

Usah dipawik di pamatang

Pawikkan sajo di tangah padang

Apo gunonyo badan mancari

Iyo pamagang sawah jo ladang

Nak mambela sanak kanduang

 

Dulu, pulang ke kampung halaman itu biasanya dilakukan di Bulan Ramadhan, sambil menyempurnakan amalan-amalan ibadah  bulan puasa, setelah idul fitri kembali merantau, begitu seterusnya. Dulu terkenal pameo “mancari 11 bulan, mahabihkan sabulan”. Kebiasaan pulang setiap bulan puasa dan menghabiskan harta di Sulita dengan tujuan tersebut makin lama makin memudar. Seperti halnya orang-orang Minang lainnya, orang-orang Sulita mulai mengusahakan rumah dan tempat tinggal yang tetap, membeli atau membangun rumah di tanah rantau, bahkan kebun, villa dan sawah segala; perlahan-lahan istri, anak, kaum keluarga di boyong ke perantauan. Karena kebanyakan kaum keluarga sudah berada di perantauan, maka tradisi pulang sekali dalam setahun pun semakin meluntur, tidak ada yang akan di lihat lagi; lebih-lebih bila di tambah pula dengan kesulitan ekonomi yang dialami di perantauan.

Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa adat menjadi salah satu penyebab utama orang-orang Minang pergi merantau meninggalkan tanah kelahiran mereka, baik dalam pengertian positif maupun dalam pengertian negative. Dalam pengertian negative, Bila mereka pergi meninggalkan Minang karena tidak senang dengan adatnya, misalnya sebagai lelaki tidak boleh memiliki rumah (rumahnya di surau atau di lepau), apalagi bila mereka perbandingkan dengan adat atau kelaziman di negeri orang. Yang termasuk dalam golongan ini cenderung tidak pulang-pulang, larut di rantau orang, sebagai “parantau cino”, sebagai dilukiskan dalam pantun:

Tenggi mancanguiklah wa-ang batuang

Indak den tabang-tabang lai

Tingga barangkiklah wa-ang kampuang

Indak den pulang-pulang lai

 

Sungguhpun demikian, tidak berarti mereka membenci Minang, mereka tetap menciantai minang dan bangga menjadi orang Minang. Hal inilah yang disebut “minang complex” yang oleh Buya Hamka dalam bukunya “adat minangkabau menghadapi revolusi”, dilukiskan antara lain sebagai berikut:

rasa cinta kepada keindahan minang, tetapi hati iba dan sedih karena keindahan itu hanyalah buat di lihat-lihat saja. Di rumah ibu-bapa badan tak berkuasa, sebab sejak kecil sudah diajar tidur ke surau. Di rumah istri pun tak berkuasa, sebab “orang bermamak”, awak Cuma orang semenda. Maka timbullah pepatah yang terkenal: “kasih kepada kampung hendaklah ditinggalkan”

Sedang golongan yang lain pergi merantau bukan karena benci kepada adat, justru ajaran adat itu yang dijadikan motivasi yang kuat untuk pergi merantau, seperti telah disebutkan di atas, yakni untuk merubah nasib, memperoleh sebanyak mungkin uang di perantauan untuk dibawa pulang, dengan maksud untuk melangsungkan pernikahan seperti telah disebutkan di atas; juga untuk menebus sawah dan ladang yang tergadai; untuk membangun rumah gadang, mesjid atau surau, untuk membangkit batang tarandam, menghapus arang yang tercoreng di kening.

Pakar Belanda Josseline De Jong, sebagaimana di kutip Azyumardi Azra dalam bukunya “surau”, mengatakan bahwa gerakan merantau orang-orang Minang telah di mulai sejak abad ke-16, bahkan mungkin sejak awal abad ke-15. Daerah perantauan orang Minang demikian jauh. Antara tahun 1410-1415, diberitakan bahwa seorang bangsawan Minang bernama Rajo Bagindo bersama dengan pengiring-pengiringnya dari Pariaman telah sampai di Kepulauan Sulu, Mindanao, Philipina Selatan sekarang. Nasib peruntungannya mujur sekali. Karena budi pekertinya amat elok, tutur bahasanya halus dan menawan hati, cekatan dan cerdas pula, telah menarik perhatian raja, lalu dia diterima menjadi menantu raja. Hebatnya lagi, dia kemudian menjadi raja dan dialah yang menurunkan raja-raja Kerajaan Sulu. Waktu Buya Hamka berkunjung ke Philipina tahun 1960, beliau ditemui oleh seorang senator Philipina bernama Alonto, yang juga tokoh seorang muslimin Philipina, dan ternyata Alonto adalah salah seorang keturunan Rajo Bagindo, yang berasal dari Pariaman itu.

Di antara anggota rombongan Rajo Bagindo, ada yang menetap di Serawak dan adap pula yang menetap di Brunei, yang antara lain menyebabkan susunan negeri berdatuk-datuk, masih terdapat di kedua kawasan tersebut sampai sekarang, meniru kebiasaan di Minangkabau. Cerita-cerita perihal anak keturunan m\Minangkabau yang berpengaruh semacam ini, ditemui pula di Negeri Sembilan dan Naming (Malaysia), di Goad An Tallo (Sulsel), di Kendari (Sultengg), di Aceh Barat (Meulaboh, Tapak Tuan), di Barus, Singkel, dan Sibolga (pantai barat Sumatera). Juga di Batubara, Labuhan Ruku, Indrapura, Tanah Datar (semuanya daerah pantai di Sumatera Timur), sampai ke Bengkulu dan Lahat di Sumatera Selatan, sampai ke Kampar dan Kuantan di Riau, menyeberang sampai ke Perak, Selanggor, Pahang dan Kuala Lumpur. Sampai sekarang di negeri atau tempat-tempat yang disebutkan itu, ditemui komunitas-komunitas penduduk keturunan Minangkabau, yang datang ke sana pada abad-abad yang sudah lama lewat itu. Sama halnya dengan komunitas warga Sulita yang sekarang banyak berdiam di Malaysia, Singapura dan Australia, yang sebagian sudah menjadi warga Negara bangsa-bangsa tersebut.

“trio 3 datuk” yakni DT. DITIRO, DT. RIBANDANG DAN DT. PATIMBANG, penyebar agama Islam di Sulsel dan Nusa Tenggara pada abad ke-17, semuanya adalah orang Minangkabau. Pahlawan nasional Tengku Omar Jihan Pahlawan dan isterinya Cut Nya’ Dien, adalah keturunan orang Minangkabau. Malah bahasa pergaulan yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat Meulaboh dan Tapak Tuan adalah bahasa minang. Susunan negeri di negeri Sembilan dan Naming, menurut adat Minang. Di negeri-negeri yang disebutkan di Sumatra timur tersebut dia atas, pada zaman Belanda dikepalai oleh seorang datuk, yang berasal dari Minangkabau. Di Barus dan daerah Pesisir Timur, masih di pakai terus gelar suku seperti Tanjung, yang dulu ketika baru datang dari Minangkabau berdasarkan garis keturunan ibu (matrilineal), kemudian berdasarkan garis keturunan ayah (patrilineal), sesuai dengan adat Tapanuli.

Salah satu perang yang terkenal melawan penjajah Belanda adalah Perang Paderi, yang berlangsung tidak kurang dari 16 tahun (1821-1837), yang pertempuran pertamanya di mulai di Sulit Air pada tanggal 28 april 1821. Dalam perang tsb terkenal nama pahlawan Tuanko Rao. Gerakan paderi yang di pimpin oleh Tuanko Rao menyerang dan kemudian memerintah Mandailing (Tapsel) pada tahun 1821. Beliaulah yang mengislamkan Mandailing, mengubah masyarakatnya menjadi masyarakat Islam yang reformis sesuai dengan paham Wahabi yang disebarkan Gerakan Paderi. Pendudukan Mandailing oleh Tuanko Rao baru berakhir pada tahun 1837. Raja Gadombang dengan para kuria-nya dan bantuan pasukan Belanda berhasil mengusir Kaum Paderi dari Mandailing, namun agama Islam tetap dipegang teguh dengan kokoh kuat sebagai keyakinan dan petunjuk hidup sampai sekarang. Dalam beberapa dasawarsa kemudian, kembali orang-orang Minangkabau berdatangan ke Mandailing. Minagkabau yang pada permulaan abad ke-20 menjadi pusat pendidikan modern di Sumatra, mengirimkan guru-guru potensial ke Mandailing, sekolah-sekolah Islam di Mandailing kebanyakan di pimpin oleh ulama Minangkabau. Dalam kaitan ini Johannes Keuning, sebagaimana di kutip Usman Pelly dalam bukunya” urbanisasi dan adaptasi, peranan misi budaya Minangkabau dan Mandailing” mengatakan:

kehadiran guru-guru Minangkabau di berbagai sekolah di Mandailing, mungkin merupakan kunci guna memahami kenapa, dalam waktu kurang dari dua dasawarsa (20  tahun) setelah perang Padri, Mandailing telah memeluk Islam. Di bawah pengaruh guru-guru Minangkabau, Mandailing telah ‘terperangkap’ ke dalam ‘situasi Minangkabu’, terutama dalam kehidupan beragama mereka. Agama bagi orang Mandailing, sebagaimana juga bagi orang Minangkabau, merupakan sendi utama dari kehidupan mereka”.

Pada permulaan abad ke-20, hampir seluruh Pantai Utara Sumatera Bagian Timur (yang kemudian poluler dengan sebutan Sumatera Timur, kini bagian dari Sumatra Utara), telah dijadikan Belanda sebagai lahan perkebunan Tembakau, Karet, Kelapa Sawit, Teh, Kopi dan Coklat. Sebagai contoh, luas perkebunan tembakau pada tahun 1870 hanya 2.240 ha telah ,meningkat menjadi 580.000 ha di tahun 1939; perkebunan karet yang hanya 176 ha di tahun 1902 menjadi 284.213 menjelang tahun  1932. Untuk mendukung proyek besar-besaran itu pemerintah Belanda menempuh kebijakan “pintu terbuka” dengan mendatangkan buruh-buruh dari seluruh pelosok tanah air, bahkan juga dari luar nusantara, seperti Penang, Cina dan Singapura. Pada kurun waktu inilah terjadinya gelombang perantauan (migrasi) besar-besaran ke Sumatera Timur,berasal dari bebagai etnik (suku) bangsa, seperti Jawa, Minang, Melayu,  Batak Toba, Batak Angola, Batak Karo, Banjar, dsb.

Perusahaan-perusahaan perkebunan tidak memperkerjakan penduduk setempat yakni Melayu, Batak Simalungun dan Karo karena mereka di anggap malas, tidak bisa dipercaya. Mereka pun tidak mau menjadi buruh tetap yang diupah murah, apalagi merasa tanah mereka telah di rampas secara paksa oleh perusahaan-perusahaan tsb. Sebagian besar yang menjadi buruh perkebunan-perkebunan besar tsb adalah para perantau yang didatangkan dari Pulau Jawa dalam bentuk perjanjian, yang kemudian masyur dengan sebutan ‘koeli ordonnantie’ (ordonansi atau undang-undang kuli) yang dikeluarkan oleh pemerintah Belanda. Calon-calon buruh (kuli) sebelum diberangkatkan dari Jawa, harus mengikat diri dengan menandatangani surat kontrak untuk bekerja beberapa tahun. Perjanjian ini juga terkenal dengan sebutan “poenale sanctie” (penguataan hukum), yang melanggar di ancam dengan hukuman pidana. Tujuan pokok dikeluarkannya undang-undang ini adalah untuk menjamin tersedianya buruh yang banyak, murah dan menguntungkan bagi perkembangan perusahaan-perusahaan yang bermodalkan asing itu. Dalam pelaksanaannya, undang-undang ini telah memberikan penderitaan lahir batin kepada para perantau dari Jawa tsb. Pada tahun 1929, lebih dari 300.000 orang Jawa yang sebagai perantau menjadi kuli kontrak di perkebunan-perkebunan Sumatera Timur dan lebih dari 100.000 orang yang jadi kuli merdeka.

Orang-orang Cina dari Penang dan Singapura tidak tahan menjadi buruh perkebunan tsb, kemudian masuk ke perkotaan, memasuki berbagai sector perdagangan, dengan membuka toko, meminjamkan uang atau jadi pedagang. Inilah yang menjadi awal keberuntungan bagi orang-orang Cina dan lalu mendominasi perekonomian di Sumatera Timur sampai sekarang. Sedangkan orang-orang yang berasal dari Minangkabau, yang merasa dirinya “orang beragama dan beradat” mana mau di atur menjadi buruh perkebunan cara yang demikian itu, mereka berkonsentrasi pada perniagaan kecil-kecilan, saudagar atau pengrajin. Orang-orang Minang yang berpendidikan memasuki dunia profesi dengan semangat wiraswasta. Sedangkan orang-orang Batak umumnya memasuki birokrasi pemerintahan, menjadi orang “terhormat”, yang tetap menjadi kecenderungan mereka sampai sekarang.

Pada masa jayanya perkebunan ini pulalah bertumbuhnya dengan pesat kota Medan, yang pada tahun 1823 penduduknya baru 200 orang (demikian kecil bila dibandingkan dengan padang pada waktu itu). Namun pada tahun 1905, penduduk Medan telah meningkat menjadi 14 ribu orang, tahun 1930 menjadi 76 ribu orang,  tahun 1942 (menjelang pendudukan Jepang) 85 ribu orang. Sesudah kemerdekaan, angka itu meningkat terus menjadi 479.098 jiwa di tahun 1961, tahun 1973 meningkat lagi menjadi 1.107.509, dan pada tahun 1981 sudah mencapai 1.294.132 jiwa jiwa, diperkirakan menjadi kota besar ke-3 atau ke-4 di Indonesia sesudah Jakarta, Surabaya dan Bandung. Padahal di awal abad ke-20, Medan itu hanya kota terbesar ke-5 bukan di Indonesia, tapi di pulau Sumatra. Hal ini dengan jelas penulis temui dalam sebuah buku tua “kitab ilmoe boemi” karangan CH. F. H. Dumont dan R. Soekardi, terbitan Batavia, tahun 1924 (hadiah Herman Jaya putera kakekku, di Imogiri). Dalam buku tsb, pada halaman 62 disebutkan ada 5 kota besar di pulau Sumatra pada waktu itu, yakni Palembang berpenduduk 60.000 ribu orang, Padang berpenduduk 41.000 ribu, Fort De Kock, Bukittinggi tidak disebutkan jumlah penduduknya, Padang Panjang, juga tidak disebutkan jumlah penduduknya, dan Medan berpenduduk 33.000 orang. Jadi 3 dari 5 kota besar pulau Sumatra ada di Ranah Minangkabau!

Dan tahukan anda, dari 76 ribu lebih penduduk kota Medan di tahun 1930, bagian terbesar adalah orang Cina (35,63%), terbesar kedua Jawa (24,90%) dan ketiga adalah Minangkabau (7,30%), baru menyusul ‘si pribumi’ Melayu (7,06%) sedangkan Dairi (yang terkenal dengan kotanya Sidikalang) yang di tambah dengan Simalangun, Dairi dan Nias yang dekat dengan Medan hanya 2,34%, malah Karo yang terkenal dengan kotanya Kabanjahe, yang lebih dekat lagi dengan Medan hanya 0,19%. Dan pada tahun 1981 dengan penduduk Medan mencapai hampir 1,3 juta jiwa, posisinya berubah: etnik Jawa tetap menduduki posisi teratas (29,41%),ke-2 Batak Toba (14,11%), ke-3 Cina (12,84%), ke-4 Mandailing (11,91%), dan ke-5 Minangkabau (10,93%), sedangkan Melayu (dimana Medan adalah bagian darinya) hanya 8,57%, Karo 3,99%, Dairi 0,24%. Minangkabau walau turun dari peringkat ke-3 menjadi ke-5, namun porsentasenya meningkat dari 7,30% di tahun 1930 menjadi 10,93% di tahun 1981. Dapat pula dikemukakan bahwa orang-orang Minang yang menduduki beberapa jabatan profesional penting di Medan di tahun itu melebihi prosentase 11% tsb, yakni advokat, 36,8%, notaris 29,7%, dokter 20,6% dan wartawan 31,7%. Dari data-data tsb dapat disimpulkan cukup pentingnya kedudukan orang-orang Minang di Medan, baik kuantitas maupun kualitas, baik dulu maupun insya Allah sekarang. Sayang, justru orang-orang Minang yang berasal dari Sulit Air, yang semakin berkurang jumlahnya dan semakin melemah peranannya di kota Medan yang cukup penting itu.

Di masa dahulu bagaimana dan sampai sebarapa jauh peranan yang dimainkan orang-orang Minang yang berasal dari Sulit Air di kota Medan itu? Untuk itu penulis tidak punya data, dan tidak pula penulis ketahui dengan tepat, siapa perintis pertama orang Sulita yang datang merantau ke kota Medan yang bertumbuh dengan demikian cepat pesatnya pada akhir abad ke-19 tsb. Namun, pada bulan april 1934, tokoh Sulita Zainal Abiding Ahmad (mantan wakil ketua IV Parlemen RI), berdasarkan memoarnya, telah merantau ke Medan bersama sahabatnya Syamsuddin Zakaria. Kedua tokoh Sulita ini ZA Ahmad dan Syamsuddin Zakaria bersama H.M Ali Nurdin menerbitkan majalah “Panji Islam” di Medan, yang mula-mula terbit sekali dalam sepuluh hari, kemudian sekali dalam seminggu. Majalah “Panji Islam” pimpinan ZA Ahmad dan “Pedoman Masyarakat” pimpinan Hamka, keduanya terbit di Medan, adalah dua majalah Islam yang paling populer di Indonesia pada tahun 1934 dan 1935. Lalu datang pula M. Jusuf Ahmad memperkuat “Panji Islam”, dengan posisi ZA Ahmad sebagai pimpinan redaksi/penanggung jawab, Syamsuddin Zakaria (kemudian bergelar Dt. Tunaro) sebagai anggota redaksi dan M. Yusuf Ahmad sebagai administrator (tata usaha). ZA Ahmad-Yusuf Ahmad-Syamsuddin Zakaria Dt. Tunaro di tambah Zainudddin Saleh adalah 4 tokoh jurnalistik Sulita Air di masa itu. ZA Ahmad pernah masuk penjara “Sukamulia” Syamsuddin Zakaria yang di anggap berbahaya, demikian juga M. Yusuf Ahmad dan Zainuddin Saleh (mertuanya Arton Arfat, Ketua Umum Yayasan Gumes yang sekarang) pernah pula masuk penjara di Solok, gara-gara memuat tulisan Zainuddin Saleh di dalam majalah “ Al Munawwarah” Sulita yang di pimpin M. Yusuf Ahmad yang dianggap berbahaya oleh Belanda. Dalam grup “Panji Islam” saja, selain ZA AHMAD, SYAMSUDDIN ZAKARIA, M. YUSUF AHMAD, ada orang Sulita lainnya yakni Kasis Ahmad dan Azis Ahmad (kemudian dt. Pamuncak), keduanya adalah adik ZA Ahmad, dan istri beliau Rohana Jamil. Pada masa sebelum pendudukan Jepang, orang Sulita yang terkenal sebagai salah seorang hartawan dan dermawan yang merantau ke Medan dengan seluruh anak kemenakannya adalah Syamsuddin, masih kemenakan HZA Ahmad Piliang Tabuh Nan Gadang, beristrikan Nurma Rauf, Limo Singkek Tengah Sawah.

Bila  di perantauan medan putra putri Sulita sedang bekerja keras untuk menghidupkan sebuah majalah besar bernama “Panji Islam”, maka di kota perantauan lain yang menjadi saingan Medan yakni Padang, pada kurun waktu yang sama banyak putra putri Sulita sedang berjuang keras menuntut ilmu di “Normal Islam” pimpinan DR. Abdullah Ahmad. Mereka itu antara lain Kaharduddin Yunus, Agsu Hamid, Riva’i Yunus, Ramli Yunus, Salim Amani, Ilyas Latief (dt. Nan Sati), Rohani Taher, Ratna Amir, Nurjanah Tiding, Juli Jamin, Sawiyah Munaf. Di kemudian hari mereka ini dikenal sebagai tokoh-tokoh Sulita.

Sedangkan di Medan, jauh sebelum kedatangan ZA Ahmad Cs, yakni di tahun 1926, sudah ada orang Sulita mendahului masuk ke kota tsb. Yakni Alidar Jamal, mengikuti suami beliau wartawan terkenal Jamaluddin Adinegoro, yang memimpin surat kabar “Pewarta Deli”. ZA Ahmad sendiri dalam memoarnya mengakui bahwa pada masa itu di Medan sebenarnya sudah ada beberapa warga Sulita yang merantau dan berdiam di Medan, namun beliau tidak menyebutkan siapa saja mereka itu. Tahun 1986 waktu penulis menjadi Ketua Umum Sas Cabang Medan, bersama tokoh-tokoh Sulita lainnya seperti Habillah S. J., Nurhayati Amir, Idris (orang Sulita yang sudah lama bermukim Medan), Darmawan Abbas mengadakan sensus anggota, menyusuri seluruh pelosok Medan. Sensus itu berlangsung beberapa hari, karena ternyata banyak sekali warga Sulita yang Medan, yang tidak pernah muncul selama ini, yang sudah lama menetap di wilayah tsb, kawin dengan orang-orang dari etnis lainnya, ada yang menjadi tentara, pedagang kaki lima, nelayan, bahkan pembuat kayu arang dari kayu bakar. Namun ada pula di antara mereka berkedudukan cukup baik, bersedia menyerahkan salah satu rumahnya untuk kegiatan sehari-hari SAS, namun sayang Sas Medan waktu itu sedang membangun Gedung Serbaguna Di Titi Kuning. Ada yang bahasa Sulitanya masih bagus, ada yang sudah bercampur-campur dengan Melayu atau Jawa, ada yang tidak bisa berbahasa Minang sama sekali, namun semuannya dengan bangga menyatakan dirinya orang Sulita, menunjukkan tempat asalnya atau rumah orang yang menurunkannya di Sulita. Terasalah keharuan dan kebanggan dalam diri, batapa besarnya Sulita itu dan banyaknya warganya yang bertebaran di berbagai kota dan pelosok perantauan.

Untuk lebih membuktikan dan meyakinkan kebenaran hal tsb, tidak usahlah pergi jauh-jauh, kelilingilah nagari-nagari atau tempat-tempat di sekitar kota Solok seperti Selayo, Koto Baru, Lubuk Sikarah, Lukah Pandan, Ampang Kualo, Sawah Sianik, Tanah Garam dsb., akan anda temui banyak sekali orang Sulita yang sama sekali atau bahkan tidak pernah pulang-pulang ke Sulita, antara lain karena tidak adanya lagi kontak kekeluargaan dengan keluarga di Sulita, hilang lenyap begitu saja di telan waktu, yang tinggal lagi hanya pengakuan bahwa mereka orang Sulita atau berketurunan orang Sulita. Di tahun 1970 saja, jumlahnya saja diperkirakan sudah sekitar 500-an orang, apalagi kalau dicoba menyelusurinya lagi pada waktu sekarang ini. kebanyakan dari mereka itu adalah keturunan dari orang-orang Sulita yang pada masa dahulu pergi mencari kehidupan dengan bersawah dan bertani di negeri-negeri di kaki dan sekitar lembah Gunung Talang yang terkenal subur dan makmur itu, kemudian membeli tanah, sawah ladang, membuat rumah, menetap, beranak-berketurunan di sana.

 Pada tahun 1955 sampai 1957 penulis berada di Solok, sekolah di SMP Negeri 1 Solok, semua tinggal di Kampung Jawa (rumah Pak Muis Mantari, Mertua Dr. Syahril Sabirin), kemudian di jalan rumah potong dekat pasar (ikut Pak Nurdin Taher Dt. Mangkuto Rajo), pindah lagi ke Jalan Air Mati (masih bersama beliau), dan terakhir di Simpang Air Mati (rumah Mak Panuh). Di masa itu, di depan stasiun kereta api Solok, ada gerobak dorong berisi Sate yang enak sekali rasanya, ramai sekali dikunjungi pelanggan. Pemilik gerobak dorong itu populer dengan Pak Diri, orangnya gemuk hitam, pendiam, senyumnya saja yang banyak muncul. Dan di depan bioskip “Cinema” Solok, di pertigaan jalan ke Padang Sawah Lunto-Koto Anau, pagi-pagi sekali sudah banyak pula orang duduk berkumpul sekitar gerobak dorong berbentuk mobil sedan, orangnya ramah dan kocak. Sebentar-bentar terdengar ketawanya yang segar. Baik Pak Diri maupun Mak Marah, sehari-hari berbicara bahasa Minang gaya Solok yang khas.

 

Iklan

One thought on “Minangkabau, Sulit Air & Perantauan

  1. !!!! Baliak Kakampuang !!!!……pagi pagi lah turun hujan, basah rumpuik sarato hilalang, kok harato bialah baju nan dibadan, tapi isi kapalo untuang – untuang baguno dek urang ….amin……terima kasih ilmunya …mintak doa ciek buk….semoga dapat berkarya dikampuang
    ( Lokasi Penelitian An. Dosen UMMY Solok : Sulit Aia )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s